
" Terima kasih tuan Akram! Berkat bantuan anda pemakaman ibu saya berlangsung cepat dan mudah." Ucap Cleona pada tuan Akram setelah pemakaman ibunya selesai.
" Ehm...aku turut berduka cita!" Ucap Akram
" Terima kasih tuan!" Ucap Cleona dengan sedikit menundukkan tubuhnya sampai Akram berlalu dari hadapannya.
" Huft...akhirnya ibu dapat beristirahat dengan tenang dan di tempatkan yang layak. Semoga ibu bahagia di sana." Gumam Cleona merasa lega telah memberikan peristirahatan yang terakhir untuk ibunya.
" Dara! Apa rencana mu selanjutnya?" Tanya bunda Sifa setelah semua pelayat sudah pada pulang.
" Aku akan membuka lembaran yang baru bun dan melanjutkan hidupku sebagai orang biasa. Untuk saat ini aku mendapat pekerjaan paruh waktu di kafe dekat rumah sakit. Dan mungkin aku akan pindah ke kosan yang lebih murah lagi. Apartemen ku saat ini akan aku jual untuk membantu biaya hidupku." Jelas Cleona.
" Bagaimana kau tinggal di panti saja." Tawar bunda Sifa.
" Terima kasih bun! Saya ingin hidup mandiri dan menebus semua kesalahan saya." Tolak Cleona halus.
" Baiklah! Tapi jika kau butuh bantuan bunda, jangan sungkan datang ke bunda ya! Sering - seringlah mengunjungi adik - adikmu di panti." Ucap bunda Sifa.
" Iya bun, terima kasih!" Ucap Cleona memeluk bunda Sifa.
" Kalau begitu bunda permisi pulang ya! Jagalah dirimu baik - baik. Jangan telat makan dan shalatmu." Nasehat bunda Sifa sebelum meninggalkan area pemakaman.
" Iya bun."
Rombongan bunda Sifa pun berpamitan pulang meninggalkan area pemakaman, kini tinggallah Cleona, Freya dan Darren yang masih setia menemani sahabatnya.
" Terima kasih kalian sudah banyak membantu ku. Aku lega ibu dapat beristirahat dengan tenang dan layak." Ucap Cleona dengan memandangi pusara makam ibunya.
" Kau masih ada kami, jadi jangan pernah kau merasa sendirian lagi ya! Kalau kau butuh tempat mengadu andalkan saja kakak kita yang satu ini." Ucap Freya dengan menyikut lengan Darren.
" Apa kakak? Aku mengakui aku sebagai kakakmu?" Tanya Darren sedikit terkejut.
" Ehm, begitulah! Kau kan dua tahun lebih tua dari kami. Benarkan kak?" Goda Freya.
" Ish.....terserah kau saja lah!" Cebik Darren yang merasa di ledeki oleh Freya.
" Hahahahahahaah..." Tawa Freya tidak tahan melihat wajah kesal Darren.
" Ish...apaan sih? Ayo kita pulang!" Ajak Darren.
" Haaahhah, maaf!"
" Kau benar! Selama ini Darren sudah menjadi seorang kakak yang sangat perhatian kepada adiknya. Terima kasih kak! Selama ini kau selalu ada di saat aku sedang membutuhkan tempat sandaran." Puji Cleona.
" Iya benar! Meskipun selama ini kita sering berdebat tapi kau adalah seorang kakak yang hebat bagiku. Kau orang pertama yang selalu menyadari jika aku sedang bermasalah. Terima kasih kakak, sudah selalu ada buat kami." Imbuh Freya.
Blushhh, wajah Darren memerah mendengar pujian - pujian dari kedua adik asuhnya.
" Haaa, wajahmu merah!" Ledek Freya.
__ADS_1
" Apaan sih! Ayo pulang! Apa kau mau menginap di sini?" Seru Darren dengan wajah yang memerah berlalu mendahului Freya dan Cleona.
" Hei tunggu! Dia ngambek!" Ujar Freya yang di iringi sebuah tawa dari mereka berdua.
" Kau antar saja Dara! Aku akan pulang naik taksi. Lagi pula rumah kita berlainan arah kan?" Ucap Freya
" Kau yakin? Ayo kita pulang bersama." Ajak Cleona.
" Kau jangan khawatir, pulanglah dengan Darren, kau lebih membutuhkannya. Maaf aku tidak bisa mengantar mu pulang." Ucap Freya sedih.
" Tidak apa - apa! Terima kasih sudah membantu ku Frey! Aku pulang ya!" Ucap Cleona yang sudah berhasil menenangkan dirinya.
" Baiklah! Hati - hati di jalan." Ucap Darren.
" Ehmmm...semoga berhasil!" Bisik Freya kepada Darren setelah Cleona masuk ke dalam mobil.
" Apaan sih!" Ujar Darren yang di beri sebuah cengiran dari Freya.
" Daahh."
" Huft,,,, terima kasih ya Allah, akhirnya hubunganku dengan Dara berhasil kembali." Ucap Freya lega.
" Ah iya, akhir pekan ini ya pergi ke pulaunya. Bagaimana caranya ya minta izin pada tuan Akram." Gumam Freya sambil berjalan menuju jalan raya untuk mendapatkan taksi.
Tiinnnm...tiiinnn.....suara klakson mobil berhasil mengejutkan Freya yang berjalan sambil melamun.
" Naiklah!" Titah seorang pria muda menurun kan kaca jendela yang sudah duduk di belakang kemudi.
" Tuan? Kenapa anda belum pulang?" Tanya Freya terkejut.
" Apa aku harus mengulang perkataanku hah!" Ucap Akram menekankan suaranya.
" Eh...iya baiklah!" Tanpa berani menolak Freya pun naik ke mobil Akram.
" Kenapa lama sekali?" Tanya Akram tanpa menoleh ke arah Freya.
" Anda menunggu saya?" Tanya Freya balik.
" Ehmmmm...."
" Apa! Benarkah? Tapi kenapa tuan?" Tanya Freya tidak mengerti.
" Apa kau ingin pulang berjalan kaki? Di wilayah sini sangat sulit mendapatkan taksi." Ucap Akram.
" Oh .. begitu ya! Terima kasih tuan!" Tutur Freya.
" Ah, saya masih penasaran tuan, boleh saya bertanya?" Tanya Freya
" Ehmmmm..."
__ADS_1
" Bagaimana anda bisa tahu jika ibunya Dara tidak dapat bertahan lagi? Saya rasa ini bukanlah kebetulan." Tanya Freya.
" Kau benar! Beberapa hari ini aku memantau keadaannya. Dan tadi pagi aku mendapat kabar bahwa nyonya William sudah tidak ada harapan lagi." Jelas Akram.
" Ehm...begitu ya! Apa anda masih memikirkan Dara?" Tanya Freya
" Kenapa?" Tanya Akram menoleh ke arah Freya
" Ah, tidak apa - apa tuan!" Ucap Freya gugup saat Akram menatapnya.
' Haishhh, tentu saja itu membuatku tidak nyaman jika kau masih memikirkan Dara, benar juga kau sudah dua tahun menaruh perasaanmu padanya sedangkan aku hanya beberapa bulan saja. Ah, apa yang ku harapkan sih!' rutuk Freya dalam hati.
Akram merasakan apa yabg sedang di pikirkan Freya, dengan sebuah senyuman ia pun menggoda Freya.
" Apa kau berharap sesuatu pada ku?" Tanya Akram.
" Haaah, maksud anda apa sih! Berharap apa?" Ujar Freya gugup berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
' Ish apaan sih!' gumam Freya.
Melihat wajah Freya yang terlihat merona membuat Akram menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.
" Kau sudah makan?" Tanya Akram memecahkan keheningan di antara mereka.
" Sudah tuan! Saya masih kenyang." Ucap Freya dengan sebuah cengiran.
Kruuuyukkkkkk.....
" Eh....!" Cengir Freya malu sambil memegang perutnya yang terdengar suara pemberontakan dari penghuni dalamnya yang tidak terima melewatkan makan malam.
" Puftt...hahahaahaha.... Memang kalau mulut bisa berbohong tapi tidak dengan tuh perut." Ucap Akram tidak dapat menahan tawanya.
" Hehehehe..." Freya hanya nyengir untuk menutupi kecanggungannya.
" Ckk...dasar! Ayo kita makan!" Ajak Akram dengan sebuah senyuman yang masih tersungging di bibirnya.
" Bagaimana perkembangan mereka?" Tanya Nyonya Aksara.
" Setelah semuanya terbongkar, hubungan tuan muda dengan isterinya semakin dekat dan sering terlihat jalan berdua nyonya!" Jawab seorang pemuda yang di percaya nyonya Aksara untuk mengawasi anaknya.
" Ehmmm, begitu ya! Ku harap mereka akan menjadi pasangan suami isteri yang sesungguhnya secara alami. Terus kau awasi mereka!" Titah nyonya Aksara dengan sebuah senyuman yang terukir di bibirnya.
" Baik nyonya! Saya permisi." Ucapnya mengundurkan diri.
" Ehmm...." Dehem nyonya Aksara dengan menyeruput secangkir teh melatinya.
" Dasar lambat!" Gumam nyonya Aksara
" Kau masih saja ikut campur dengan urusan anakmu hah!" Ucap seorang pria yang sudah menginjak umur setengah abad lebih namun tubuh dan wajahnya tidak menunjukkan sesuai umurnya. Tengah berjalan mendekati nyonya Aksara yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1