Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 62 Cangkang yang Kosong


__ADS_3

" Terima kasih untuk hari ini tuan!" Ucap Freya.


" Ehm..istirahatlah! Semoga tidurmu nyenyak!" Balas Akram.


" Iya." Ujar Freya menutup pintu kamarnya dan merebahkan dirinya ke atas ranjang empuknya.


" Huft....benar - benar hari yang berat. Kejam banget kau Gio telah menuduhku dengan keji begitu." Gumam Freya menatap langit - langit kamarnya.


Dengan menghembuskan nafasnya secara kasar, Freya memejamkan mata sambil memijit dahinya yang sudah terasa sesak.


" Bagaimana keadaannya?" Tanya Akram kepada Asistennya melalui telepon.


" Masih tetap sama tuan! Dia masih berkeras menutup mulutnya." Jawab Dafi dari seberang.


" Begitu ya! Baiklah aku akan mengunjunginya." Ucap Akram memutuskan panggilan secara sepihak.


" Ternyata hadiah yang pernah ku berikan pada anda tidaklah cukup tuan William?" Ujar Akram kepada pria paruh baya terkulai lemas pada sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat ke belakang dengan beraninya telah memercikkan api ke hadapannya.


" Cihhhh, dasar bocah ingusan? Berani sekali kau mengancamku hah?" Hardik tuan William.


" Hah, namun sayangnya bocah ingusan yang anda sebut telah berhasil mengalahkan anda." Ucap Akram yang juga mengisi kursi kosong tepat di depan tuan William.


" Hahahahaha,,memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku hah..." Seru tuan William dengan iringan tawa yang cukup keras.


" Baiklah! Kalau anda ingin segera mengetahuinya. Tunggu saja esok hari! Aku yakin anda akan menyukai hadiah dariku." Ujar Akram dingin dan berlalu meninggalkan ruangan tempat tuan William di sekap.


" Cuih...." Decak tuan William kasar.


Setelah mendapat anggukan dari Akram, Dafi pun mulai mengerjakan perintahnya. Dengan segera ia melepas ikatan tuan William dan membawanya ke suatu tempat.


" Ayo jalan!" Titah Dafi.


" Dasar brengsek, mau kau bawa kemana aku hah.." umpat tuan William kesal.


" Anda juga akan segera tahu!" Ucap Dafi tanpa menghiraukan raungan tuan William.

__ADS_1


" Bagaimana kabarmu?" Tanya Freya kepada Dara setelah mereka berada dalam satu meja di sebuah kafe yang sebelumnya Freya membuat janji untuk bertemu.


" Seperti yang kau lihat! Sejak kemunculan mu hidupku menjadi berantakan." Ucap Cleona


" Ah, begitu ya! Apa kau berharap aku meminta maaf yang telah menyebabkan hidupmu berantakan? Namun sayangnya itu tidak akan pernah terjadi." Jawab Freya.


" Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Tanya Cleona.


" Mungkin karena takdir! Malam sebelum hari pernikahan kalian tanpa sengaja aku merusak mobilnya. Setelah pertemuan itu, takdir mempertemukan kami dalam kontrak kerjasama perusahaan yang sedang menyelesaikan suatu proyek peluncuran produk baru perusahaan kami." Jelas Freya.


" Ckk.. kau masih percaya dengan takdir?" Cebik Cleona.


" Tentu saja, sekuat apapun kau berusaha mengambil takdir orang lain tetap saja akan kembali kepada sang pemilik takdir." Ucap Freya.


" Apa maksudmu?"


" Rumor itu! Mengapa kau melakukannya?" Tanya Freya langsung.


" Ck... Apa sekarang kau akan menuntutnya?"


" Sudah tentu untuk mengambil kesempatan dong! Kau pastinya sudah tahu siapa Akram itu. Tanpa membesarkan kisah masa kecil sebagai alasan Akram dengan tulus mencintai ku apa adanya. Itu terbukti aku masih baik - baik saja bukan! Aku tahu ia pasti sudah mengetahui akan kebenarannya! Hanya gara - gara aku tidak dapat menunjukkan kalung liontin tersebut." Jelas Cleona.


" Ckkk... Cukup besar juga rasa percaya dirimu! Jadi begitu cara kau bertahan hidup dengan membohongi orang lain. Benar - benar egois! Mungkin aku tidak tahu bagaimana kerasnya hidup yang kau jalani. Tapi sekeras apapun itu bunda Sifa selalu mengajari kita tetap berada di jalan yang benar." Ucap Freya mengingatkan.


" Tapi kenyataannya tidak semudah yang di ucapkan. Sekarang jalan kita sudah masing - masing jadi...."


" Jadi kembalilah pada posisimu Dara. Sekarang siapa sebenarnya yang menjadi pemeran pengganti dalam rumor tersebut hah..." Potong Freya.


" Ah.... Jika aku membalas rumor tersebut dan membalikkan fakta yang sebenarnya kira - kira bagaimana reaksi netizen terutama para fansmu Dara?" Sambung Freya menggertak Dara.


" Kauu...." Tunjuk Cleona


" Aku tidak menyangka hanya karena memenuhi keegoisanmu ! Kau rela menggadaikan hubungan kekeluargaan yang telah terjalin di antara kita." Ucap Freya mengeluarkan uneg - unegnya yang selama ini ia tahan.


" Hah...kau masih membahasnya? Naif sekali!" Ucap Cleona.

__ADS_1


" Huft....apa pun itu aku hanya berharap kau tidak akan semakin jauh terperosok masuk ke jurang yang lebih dalam lagi. Kembalilah kepada Dara yang aku kenal." Harap Freya.


" Ckk...memangnya kau tahu apa tentang ku hah. Beratnya hidup yang ku jalani, hidup yang berada dalam kendali orang lain harus sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Kau tahu bagaimana rasanya hidup dalam cangkang yang kosong?" Jelas Cleona.


" Yah, meskipun hidupku tak seberat hidupmu tapi aku dapat merasakan bagaimana menjalani hidup di atas panggung yang kecil ini. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Sang sutradara juga pasti sudah tahu peran kita masing - masing. Dan itu tidak akan pernah tertukar meskipun kau memaksanya." Ucap Freya.


" Kau benar! Apa kau sekarang senang karena sudah mendapatkan peran mu? Semoga kau beruntung dengan peranmu yang sekarang." Ujar Cleona.


" Ah, kau sangat menyedihkan Dara. Ups....maaf bukan Dara tapi Cleona. Ku harap hari - hari mu menyenangkan." Harap Freya beranjak dari kursi dan bergegas meninggalkan Cleona yang masih mematung di kursinya dengan wajah yang memerah.


Pandangan Cleona lurus memandang ke depan, kepingan - kepingan memori masa lalunya yang berusaha ia hapus kini terlihat muncul ke permukaan.


Dengan sebuah senyuman yang terukir di bibir tipisnya membuat Cleona merasa dirinya paling menyedihkan.


" Ckk...menyedihkan! Benar - benar menyedihkan." Gumam Cleona dengan air mata yang telah menetes dari pelupuk matanya.


Plakkkkk, sebuah tamparan keras telah mendarat di pipi mulus seorang anak remaja yang masih mengenakan seragam sekolah.


" Dasar anak tidak berguna! Selama ini apa yang kau lakukan hah...kenapa kau bisa mendapatkan nilai yang sangat buruk?" Teriak seorang pria berjas hitam dengan rambut yang tertata rapi setelah berhasil mendaratkan sebuah tamparan ke pipi anaknya.


" Sudahlah sayang! Jangan terlalu keras padanya." Bela seorang wanita yang berambut sebahu berusaha menenangkan suaminya.


Dengan melemparkan sebuah kertas ke hadapan anaknya dengan keras, pria tersebut masih di selimuti rasa amarah yang tinggi setelah melihat nilai - nilai yang tertera di kertas tersebut.


" Baiklah! Aku harap semester depan tidak lagi melihat nilai - nilai yang seperti ini. Sebagai hukumannya selama itu juga kartu kreditmu papa sita dan kau harus memenuhi kebutuhan hidupmu sendiri." Ucapnya dengan keras.


" Dan kau jika aku melihat kau memberinya uang, aku tidak akan segan - segan menarik semua fasilitas yang ku berikan." Ancamnya kepada isterinya.


" Ayo mama obati luka mu!" Ajak wanita tersebut


" Aku bisa sendiri!" Tolak Cleona yang memungut sebuah kertas yang tertera rangkuman nilai - nilai semester yang ia dapat. Angka - angka yang terlihat terdiri dari angka 90 hingga 95. Tanpa menghiraukan mamanya, Cleona beranjak menuju ke kamarnya.


" Cleona!" Panggil mamanya pelan merasa gak berdaya dalam menghadapi suaminya yang sudah melampaui batas.


Dengan menggenggam erat kertas yang di tangannya membuat Cleona menyesali dirinya yang sudah di adopsi oleh keluarga William selama 10 tahun.

__ADS_1


" Dasar brengsek!" Umpat Cleona melampiaskan kekesalannya.


__ADS_2