
" Terima kasih banyak tuan telah mengobati rasa rindu saya terhadap ayam penyet mang Hasim. Sudah lama sekali saya tidak mampir ke kedainya." Ucap Freya dua hari kemudian setelah mereka mampir ke kedai ayam penyet mang Hasim.
" Ehm.... Jika kau rindu mampirlah!" Ujar Akram
" Benarkah! Anda mengizinkan saya?" Tanya Freya tidak percaya.
" Tentu saja! Aku siap mengantarmu." Seru Akram.
" Anda bersedia mengantar saya hanya gara - gara ingin makan ayam penyet?" Tanya Freya tidak percaya dengan pria yang berada di depannya dengan suka rela menawarkan dirinya untuk membuang waktu dengannya daripada lembur di kantor.
" Kenapa? Kau keberatan?"
" Tidak tuan! Saya hanya merasa tidak enak dengan jadwal anda yang padat. Jika anda mengantar saya itu akan menghambat pekerjaan anda." Jelas Freya.
" Jika untukmu, waktu ku selalu luang!" Ujar Akram menghabiskan kopinya dengan sekali teguk.
" Ahhhh,,, begitu ya! Maaf telah merepotkan anda tuan."
" Ehm..."
" Ohya, kemarin padahal kita sudah malam kan datang ke kedai mang Hasim tapi kok masih ada ya! Ah benar - benar keberuntunganku."
" Kenapa?"
" Biasanya kedai mang Hasim selalu tutup jam 5 sore, makanya kalau tidak pesan pasti tidak pernah kebagian." Jelas Freya.
" Begitu ya!" Ucap Akram yang di anggukkan oleh Freya.
' Jelas masih ada dong! Aku menyuruh Dafi untuk memboking terlebih dahulu kedai tersebut.' ucap Akram dalam hati sudah merencanakannya tanpa sepengetahuan Freya.
" Ah, selamat proyek kerja sama kita berhasil! Maaf terlambat memberi selamat padamu." Ujar Akram.
" Terima kasih tuan! Berkat kerja sama dengan perusahaan anda, perusahaan kami mendapat nilai saham yang terus meningkat." Seru Freya.
" Itu berkat kau bekerja dengan baik. Hasil presentasimu berhasil meyakinkan ku." Puji Akram.
" Haaaah...terima kasih tuan!" Ucap Freya terkejut tidak menyangka mendapat pujian langsung dari Akram.
" Ckkk. Akhirnya dia mengakui kecakapan ku dalam berpresentasi padahal sebelumnya dia menolak mentah - mentah." Sungut Freya.
" Sedang apa kau di sana? Kau tidak pulang?" Teriak Akram yang sudah berada di dalam mobil.
" Eh, iya tuan! Sejak kapan dia sudah di sana?" Oceh Freya melajukan langkahnya menuju mobil Akram.
" Ehmmm tuan!" Panggil Freya memecah keheningan di dalam mobil.
" Ehm."
" Boleh saya meminta izin selama dua hari?" Tanya Freya secara hati - hati.
__ADS_1
" Pergilah!" Ucap Akram
" Kau berhak mendapatkannya!" Sambungnya.
" Haaah, anda sudah mengetahuinya?" Tanya Freya terkejut.
" Ehm..."
" Ah, benar saja. Bagi anda apa sih yang tidak anda ketahui." Cebik Freya merasa kecil di mata Akram.
" Begitulah! Jika kau memiliki kekuasaan." Ucap Akram membanggakan diri.
" Ckkk, sombong sekali." Cibir Freya.
" Pufttt...." Senyum Akram melihat wajah kesal Freya yang di matanya terlihat menggemaskan.
Tibalah hari keberangkatan tim divisi pemasaran yang beranggotakan 5 orang. Dengan semangat Arsy menarik kopernya menuju bagian pemberangkatan di bandara yang sudah ada tim lainnya.
" Selamat pagi! Maaf terlambat!" Sapa Arsy
" Untung kau cepat datang, jika dalam 10 menit tidak datang kau akan ketinggalan pesawat." Balas Cakra.
" Iya maaf, tadi di perjalanan ada sedikit masalah." Ucap Arsy menyesal.
" Sudahlah! Yang penting kita semua sudah berkumpul di sini. Jadi sebaiknya kita bergegas." Ucap Gio menengahi perdebatan anggota timnya.
" Baiklah! Pulau Cinta kami datang!" Teriak Cakra bersemangat menarik kopernya untuk chek in.
" Sudah jauh lebih baik! Sekarang dia memulai kehidupan barunya. Makanya aku bisa meninggalkannya selama dua hari ke depan." Jawab Darren.
" Syukurlah! Aku merasa bersalah selama kematian ibunya aku belum mengunjunginya." Ucap Freya.
" Tidak masalah! Aku sudah mengatakan alasanmu. Dia juga mengerti dengan kesibukanmu." Jelas Darren.
" Begitu ya! Baiklah! Setelah berlibur aku akan mengunjunginya." Ucap Freya.
" Berita terkini, telah terjadi kebakaran yang cukup hebat yang melanda sebuah pabrik mebel terbesar di negara ini. Belum di ketahui apa penyebab dari kebakaran tersebut........."
Freya sangat terkejut tanpa sengaja ia melihat berita yang di tampilkan pada layar besar yang berada di ruang tunggu bandara.
" Tuan Akram!" Sontak Freya teringat dengan Akram yang akan mengunjungi pabrik mebel yang letaknya tidak jauh dari bandara.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung meninggalkan ruang tunggu dan tidak menghiraukan teriakan dari teman - temannya.
" Frey, kau kemana? Sebentar lagi kita akan lepas landas." Teriak Arsy sangat terkejut melihat Freya yang terlihat sangat buru - buru dan seketika wajahnya menjadi cemas.
" Sudah, biarkan saja dia!" Ucap Darren.
" Lalu bagaimana dengan Freya?" Tanya Cakra.
__ADS_1
" Kita tinggal saja, dia akan menghubungi kita." Ucap Darren yang diam - diam juga mengkhawatirkan Freya yang pergi begitu saja.
Melihat sikap Freya yang begitu sangat mengkhawatirkan sesuatu membuat Gio merasakan kecemburuan yang tersembunyi.
" Apa yang membuatmu sampai kau begitu khawatir dan membatalkan liburanmu?" Ucap Gio dalam hati dengan tangan yang terkepal kuat.
" Ayo sayang!" Ajak Agni yang menggandeng tangan Gio untuk chek ini dan pemeriksaan.
" Ehm." Balas Gio yang mengikuti kehendak isterinya.
Tap....tap....tap....suara langkah kaki yang begitu nyaring, membuat Freya terus melajukan larinya menuju pabrik mebel yang terkena musibah kebakaran. Sepanjang jalan ia berdoa untuk keselamatan Akram. Ia langsung teringat akan kejadian 16 tahun yang silam di panti.
Dengan berusaha menelepon nomor Akram, namun tidak aktif membuat pikiran Freya semakin kacau. Ia tidak putus asa, langsung Freya beralih menelepon nomor Dafi. Yang hasilnya juga nihil.
" Kenapa tidak aktif semua sih! Ya Allah semoga tuan Akram baik - baik saja." Mohon Freya sepanjang perjalanan.
Tiba di luar bandara, Freya berusaha mencari taksi atau kendaraan yang umum yang dapat ia gunakan, namun entah situasi macam apa yang tak terlihat satu taksi pun.
Freya terus berlari menuju jalan raya, jika ia berlari menuju pabrik akan memakan waktu selama 15 menit yang akan membuang waktunya.
" Hoshhh...hosh.....kenapa tidak ada taksi satupun!" Rutuk Freya semakin kesal.
Namun keberuntungan masih berpihak pada Freya, tidak jauh dari tempat ia berdiri terlihat seorang pemuda dengan sepeda motornya yang terparkir di pinggir jalan.
Tanpa berpikir panjang, Freya langsung mendatanginya.
" Permisi tuan! Boleh kah saya meminta bantuan anda?" Tanya Freya pada pemuda tersebut.
" Eh...tentu saj.....eh bukankah kau..."
" Ayok tuan! Tolong antar kan saya ke pabrik mebel yang ada di dekat bandara ini." Ucap Freya yang sudah berada di tempat duduk belakang motor.
" Kau....berani sekali kau mengaturku hah..." Hardik pemuda tersebut.
" Ckkk, kan tadi saya sudah mjnta izin kenapa tuan hanya diam saja." Teriak Freya.
" Kau...."
" Sudahlah tuan! Maaf atas kelancangan saya." Ucap Freya langsung mengambil alih kemudi.
" Kau.... Dasar bodoh!" Hardik pemuda tersebut kesal melihat sikap Freya yang tidak di duganya.
Tanpa membuang waktu, Freya menarik gas perseneling motor dan melajukan kencang motor tersebut.
" Brum...,.berummmm......bruummmmm....."
Suara motor yang berderit nyaring membelah jalan raya.
" Pegangan yang kuat tuan!"teriak Freya terus menambah kecepatan motornya yang baru saja ia
__ADS_1
Tanpa bisa membantah, pemuda tersebut hanya pasrah duduk dik belakang.