
" Ahhh sia - sia saja! Gimana mungkin aku mencari sprei dari seluruh kamar di hotel ini. Huft..." Kesal Freya telah mencari sprei kotor di kamar mandi tapi tidak ada hasilnya.
" Sudahlah! Kalau sudah terjadi mau bagaimana lagi di sesali pun tidak ada yang berubah. Jika aku hamil gimana dong? Arrgggggggh! Aku benar - benar bisa gila. Tenang Freya! Kau harus tenang!" Ucap Freya mengambil nafas dalam - dalam dan menghembuskannya secara perlahan - lahan.
" Baiklah! Aku akan merawat anakku jika aku hamil. Anggap saja aku beruntung telah mendapatkan bibit unggulan yang limited edition. Hehehehe!" Cengir Freya seketika membayangkan wajah anaknya yang sangat tampan seperti bibitnya.
" Sudah selesai?" Tanya Akram.
" Ckk,,,,,!"
" Percuma saja kau mencarinya tidak akan ketemu. Bersiap - siaplah! Sebelum pulang aku ingin membeli sesuatu. Apa kau mau ikut?" Tanya Akram.
" Huft....baiklah jika anda memaksa. Daripada saya stres berada di kamar terus." Cebik Freya.
" Cih...siapa juga yang memaksa. Dasar percaya diri sekali kau ini." Ketus Akram.
" Heheheehehehe..." Balas Freya dengan cengiran kudanya.
Dengan berjalan mengekori Akram dari belakang, Freya ingin bertanya tapi ia masih merasa malu jika mengingat kejadian malam itu.
" Ehm, memangnya mau kemana sih! Sudah 10 menit berjalan tapi tidak sampai juga." Gumam Freya.
" Nah, kita sudah sampai! Kau tunggu di sini!" Ucap Akram meninggalkan Freya yang masih mencerna tempat yang mereka kunjungi.
" Ini kan tempat penyewaan sepeda motor! Mau apa dia kemari? Jangan - jangan...." Belum sempat Freya menyelesaikan ucapannya terdengar suara motor menghampirinya dengan Akram yang sudah berada di atasnya.
" Ayo naik!" Ajak Akram menyerahkan sebuah helm kepada Freya.
" Ehh....ini..."
Grab... Tanpa meminta izin dari Freya, Akram langsung memakaikan helm yang masih berada di tangan Freya.
" Jangan bengong aja. Ayo naik!" Ucapnya lagi.
" Eh...iya..." Meskipun Freya masih tidak mengerti jalan pikiran Akram dengan rasa canggung ia pun naik di boncengan belakang.
" Nah! Jangan lupa berpegangan! Kalau kau ketinggalan aku tidak bertanggung jawab." Ucap Akram mengingatkan.
" Memangnya kita mau kemana tuan? Kenapa harus menggunakan motor." Tanya Freya
" Aku ingin ke pantai, dan berkeliling kota dengan motor ini. Karena kau pasti lebih nyaman kalau naik motor." Jelas Akram.
" Kenapa?"
" Kenapa?"
__ADS_1
"Iya."
" Ya karena kau kan selalu naik ojol kalau mau pergi ke suatu tempat, bahkan kau sudah memiliki ojol langganan." Cibir Akram yang mengingat kebiasaan Freya lebih suka naik motor dari pada naik bus.
" Ah....itu...saya lebih senang naik motor karena lebih hemat dan cepat. Anda sampai mengingatnya!" Haru Freya sampai Akram memikirkan kenyamanan dirinya.
" Terima kasih!" Gumam Freya pelan.
" Ckk....jangan salah paham! Aku tidak ingin terjebak macet saja. Jangan lupa berpegangan!" Ucap Akram menambah kecepatan menarik gas motornya.
" Eeehhh, pelan - pelan saja tuan!" Ucap Freya mau gak mau harus berpegangan pada pinggang Akram.
Tanpa menghiraukan ucapan Freya, Akram terus melajukan kecepatan motornya. Menyusuri jalan raya yang di suguhkan panorama laut di sepanjang pinggir jalan.
Tanpa di sadari, Freya sangat menikmati perjalanannya dengan di temani hembusan angin yang menyapu rambutnya dan memanjakan matanya dengan pemandangan lautan yang biru.
" Heeemmmm, cuacanya sangat cerah. Hembusan angin laut dan suara deburan ombak membuat pikiran ku merasa tenang." Ucap Freya menarik nafasnya beberapa kali untuk menghirup udara sebanyak mungkin.
Terlena akan hembusan angin yang menerpa wajahnya, membuat Freya mengeratkan tangannya ke pinggang Akram dan menyenderkan kepalanya di punggung Akram.
" Ah, nyaman sekali." Gumam Freya pelan dengan memejamkan matanya tapi masih terdengar oleh Akram.
Mendengar ocehan - ocehan Freya membuat Akram tersenyum puas sudah membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
" Ah....apa? Apa yang anda katakan?" Sentak Freya terkejut saat mendengar Akram mengatakan sesuatu yang sontak membuat Freya langsung tersadar dari posisinya.
Dengan segera Freya langsung mengangkat kepalanya dan menjauhkan tubuhnya dari Akram.
" Barusan anda mengatakan sesuatu tuan?" Tanya Freya untuk memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
" Apa? Memangnya aku mengatakan apa? Kau masih bermimpi ya! kalau begitu cepatlah bangun!" Teriak Akram.
" Hais...padahal saya mendengar anda mengatakan sesuatu!" Dengus Freya kesal.
" Hah, untung saja dia tak mendengarnya." Ucap Akram dalam hati.
" Ayo turun, mau sampai kapan kau terus menempel di punggungku? Hah!" Cebik Akram.
" Ish,,dasar pelit."
" Eh,,,kita di pantai...?" Pekik Freya saat menyadari keberadaan mereka.
" Ehmmm...."
" Ah benarkah! Sudah lama sekali aku ingin pergi ke pantai." Teriak Freya kegirangan seperti baru menang lotre.
__ADS_1
"Ckkk, dasar norak!" Cebik Akram.
" Biari." Ucap Freya yang langsung berlari menuju ke pesisir laut.
Dengan menjinjing sepatunya, Freya berjalan menyusuri pantai dan membiarkan kakinya tersapu oleh ombak.
" Ah, senang sekali rasanya bisa pergi ke pantai. Syukurlah aku masih di beri kesempatan sampai hari ini!" Ucap Freya menikmati udara pantai.
Saat asyik berjalan, tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang.
Buk....pundak Freya tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlainan arah dengannya.
" Auw...." Pekik wanita tersebut.
" Eh...maaf kan saya nona! Saya...." Dengan mata yang membulat dan mulut yang terbuka membuat Freya menjadi kesal.
" Ah, ternyata kau? Saya pikir kau sudah kembali!" Ucap wanita tersebut dengan menggandeng erat tangan suaminya.
" Ah, maafkan saya nona Agni!" Ucap Freya menundukkan sedikit tubuhnya.
" Ah tidak masalah! Ohya selamat ya atas keberhasilan kerja sama kalian!" Ujar Agni memberi selamat kepada Freya.
" Terima kasih nona!"
" Bagaimana keadaanmu? Apa kau...." Potong Gio tampak sedikit khawatir saat mengingat keadaan Freya kemarin malam.
" Apa maksudmu Gio?"tanya Agni merasa ada yang mengganjal di antara mereka berdua.
" Maaf! Saya mohon undur diri. Semoga hari kalian menyenangkan!" Tutur Freya mengalihkan pembicaraan.
" Tunggu Freya!" Teriak Gio tanpa menghiraukan istrinya.
" Jawab pertanyaanku? Apa kau dan dia telah terjadi sesuatu?" Tanya Gio
Mendengar perkataan Gio yang sudah melampaui batas membuat batas kesabaran Freya telah habis.
Ia berusaha menahan dirinya agar menghargai istrinya untuk tidak bersikap bar bar. Dengan tangan yang terkepal kuat, Freya berusaha tak menghiraukannya dan terus melangkah ke depan.
" Apa kalian sudah melakukannya?" Tanya Gio terus merongrong Freya.
" Kau....!" Geram Freya yang bertepatan dengan munculnya suara yang tidak asing baginya.
" Itu bukan urusanmu tuan Gio! Apakah pantas seorang suami menanyakan hal seperti itu kepada wanita lain tepat dihadapan istrinya?" Ucap seorang pria dengan suara baritonnya dan tatapan yang tajam serta dingin.
Ketiga pasang bola mata mereka membulat sempurna saat mendengar dari suara yang tidak asing di telinga mereka. Seketika aura dingin langsung menyergap hati mereka.
__ADS_1