Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 61 Emosi Jiwa


__ADS_3

" Ah apa - apaan rumor ini? Jadi apakah mereka benar - benar memiliki hubungan?" Geram seorang pria muda yang mencengkeram kuat handphone yang ia genggam.


" Ternyata kau seekor rubah yang licik Frey! Pantas saja dengan mudahnya kau dapat move on dari ku. Ternyata kau berhasil menggoda pria kelas kakap." Sambungnya merasa berang setelah memergoki Freya mantan kekasihnya menyimpan seorang pria di kamar kosnya.


" Ckkk....." Geram Freya menghempaskan hanphonenya ke sofa yang berada di ruang kerjanya.


Tok..tok...tok..terdengar sebuah pintu di ketuk dari luar.


Ceklek... Seorang wanita muda yang mengenakan gaun piyama setali dengan panjang di atas lutut.


" Kau sedang sibuk? Makanan sudah siap! Ayo keluarlah!" Ajak Agni wanita yang telah menyandang isteri dari pria tersebut.


" Ehm...baiklah!" Ucap Gio beranjak dari kursinya keluar dari ruang kerjanya.


Gio berjalan menuju ruangannya dengan rasa malas. Saat melewati meja anggotanya ia mendengar pembicaraan mereka yang masih membahas rumor yang sedang beredar. Semakin banyak mendengar hatinya semakin memanas dan dongkol.


Brakk....tanpa di sadarinya ia membanting pintu ruangannya dengan kuat. Entah sangking asyiknya mereka mengghibah mereka tidak menyadari kedatangan Gio dengan raut wajah yang ketat.


Tiba jam pulang kerja, Gio melihat Freya menelepon seseorang sambil tersenyum. Dengan berdecak kesal, ia meninggalkan Freya yang masih asyik bertelepon ria.


Tanpa di sengaja, saat Gio hendak keluar dari sebuah restoran ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenal satu meja dengan seorang pria. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri meja sang wanita.


" Ternyata rumor tersebut benar adanya! Sesuatu yang terjadi secara kebetulan terus - menerus akan menjadi sebuah fakta yang menunjukkan peristiwa yang sebenarnya." Ucap Gio sinis.


Mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka dengan spontan Freya menoleh ke arah asal suara.


" Kau..." Pekik Freya terkejut setelah mengetahui pemilik dari suara tersebut.


" Kenapa? Kau begitu terkejut melihatku hah...apa kau merasa bersalah setelah ketahuan selingkuh?" Ucap Gio.


" Haaah! Apa aku gak salah dengar! Selingkuh? Siapa yang selingkuh hah?" Pekik Freya geram.


" Baiklah? Mungkin inilah sifat aslimu Frey! Benar - benar rubah betina yang licik dalam merayu pria lain." Cibir Gio menghina Freya.


" Aaah...kau...!" Tunjuk Freya tak dapat melanjutkan ucapannya karena emosi yang sudah memuncak di ubun - ubunnya.

__ADS_1


" Lalu bagaimana dengan seorang pria yang masih memiliki kekasih langsung menerima tawaran untuk menikahi putri dari atasannya sendiri alih - alih untuk keegoisan dirinya tapi mengkambinghitamkan ingin melindungi kekasihnya." Potong Akram melanjutkan ucapan Freya yang terputus.


Mendengar Akram yang tiba - tiba membuka suara langsung tertuju ke diri Gio membuat Gio terlihat memerah...


" Itu bukan urusan anda tuan Akram. Kenapa anda masih saja mengganggu wanita yang memiliki kekasih." Ucap Gio dengan penuh percaya diri.


" Maaf tuan Gio! Seharusnya anda tahu diri akan posisi anda. Saya pastikan wanita ini tidak memiliki hubungan dengan pria lain saat saya mendekatinya. Dan anda harus menjaga apa yang telah menjadi milik anda sekarang jangan sampai anda menyesal untuk yang kedua kalinya." Ucap Akram tegas sementara Freya hanya diam melihat perdebatan kedua pria yang ada di depannya.


" Kau...." Tunjuk Gio tanpa memandang situasi yang ada.


" Dan apapun hubungan ku dengan wanita ini bukanlah urusan anda tuan Gio. Fokuslah pada kehidupan rumah tangga anda sendiri." Ucap Akram mengingatkan dengan tegas.


Mendapat serangan yang tak terduga membuat Gio kehabisan kata - kata, ia hanya bisa mengeraskan rahangnya dengan tangan yang terkepal kuat.


" Aku telah salah menilaimu Frey! Kau benar - benar wanita murahan yang rela berperan menjadi pengantin pengganti." Ucap Gio.


Plakkkk. Sebuah tamparan telah mendarat dengan sempurna di pipi Gio dengan meninggalkan jejak merah.


" Kau...." Pekik Gio tidak menyangka mendapat kejutan dari Freya.


" Ckkk..." Decak Gio kesal memutuskan pergi dari meja Freya sambil memegang pipinya yang masih terasa panas.


Untung saja suasana di dalam restoran tidak ramai dan meja mereka cukup jauh dari meja pengunjung lainnya sehingga keributan kecil yang mereka buat tidak menyebabkan tontonan gratis bagi pengunjung lainnya.


Dengan nafas yang masih tersengal - sengal. Freya berusaha menenangkan dirinya dan meredakan emosi yang sempat tersulut akibat perkataan Gio yang telah merendahkan harga dirinya.


" Dasar Gio brengsek...!" Umpat Freya dengan air mata yang keluar begitu saja dari pelupuk matanya tanpa bisa ia bendung lagi.


Melihat kondisi Freya yang masih kacau membuat Akram tidak banyak bicara, tanpa menghiraukan izin Freya ia menarik lengan Freya dan membawanya keluar dari restoran.


" Masuklah!" Titah Akram setelah membukakan pintu mobil bagian depan.


Tanpa membantah, Freya langsung menuruti perkataan Akram dan hanya dapat melirik Akram yang telah duduk di balik kemudi.


Freya hanya menurut kemana Akram akan membawanya. Ia berpikir mereka langsung pulang agar dapat menenangkan pikirannya yang sedang kacau.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, tidak ada suara yang terdengar. Freya hanya memandangi pemandangan malam yang hanya terlihat kilauan cahaya lampu dari gedung - gedung yang menjulang tinggi.


Freya mengernyitkan dahinya saat mobil terus melaju di jalanan yang berbeda arah menuju apartemennya. Meskipun ia penasaran namun ia hanya dapat menyimpannya tanpa berani bertanya.


" Keluarlah! " Ajak Akram yang telah memarkirkan mobilnya di tepi jalan raya yang tidak jauh dari sebuah jembatan. Tidak jauh dari jembatan terdapat sebuah jalur rel kereta api.


" Mengapa anda membawa kemari tuan?" Tanya Freya tidak dapat membendung lagi rasa penasarannya.


" Tunggulah 5 menit lagi, kereta api akan melewati jalur rel di sana." Ucap Akram sambil menunjuk ke depan.


" Apa sih maksudnya!" Gumam Freya tidak mengerti.


Tidak lama terdengar suara kereta api melewati jalur rel dengan di iringi suara klakson yang mampu memekak kan telinga.


" Nah, berteriaklah sekuatnya hingga semua hal - hal yang mengganjal di hatimu keluar semuanya. Setelah itu kau lupakan semua permasalahan yang kau hadapi. Buka lah lembaran baru dalam hidupmu." Titah Akram


" Seperti ini. Takdir memang kejaaaaaammmm." Teriak Akram sekuatnya dengan di iringi suara klakson kereta api yang menggema di udara


Mengerti akan maksud Akram, dengan segera Freya juga mengikuti jejak Akram dengan berteriak kencang mengeluarkan uneg - unegnya.


" Giooooooooo brengseeeeekkkkkk....dasa....rrr pecundaaaaaanggggggg." Teriak Freya melepaskan semua bebannya yang berkaitan dengan Gio bersama kereta api yang terus melaju kencang hingga tak terlihat.


Hosh...hosh....hosh....dengan nafas di dada yang naik turun membuat perasaan Freya menjadi lega meskipun hal tersebut menguras habis tenaganya.


" Bagaimana perasaanmu?" Tanya Akram setelah melihat Freya begitu semangat dan kejam dalam mengumpat mantannya.


" Tidak buruk tuan! Saya merasa lega dan lebih baik setelah mengeluarkan semua uneg - uneg saya." Ucap Freya.


" Syukurlah. Ini bisa kau jadikan tempat untuk meluapkan kekesalan dan permasalahan yang sedang kau hadapi. Tentunya saat kereta api juga melintas agar suara teriakanmu dapat beradu dengan suara mesin kereta api." Saran Akram.


" Terima kasih tuan! Sudah membantu saya. Maafkan saya atas kejadian yang memalukan tadi. Saya benar - benar tidak habis pikir pria yang sudah saya kenal selama delapan tahun tidak sepenuhnya saya pahami. Ahhh, saya benar - benar kesal akan perkataannya yang tidak di filter dahulu. Dasar tidak tahu malu." Cebik Freya kesal.


" Syukurlah! Kau baik - baik saja." Gumam Akram dengan di iringi sebuah senyuman.


Freya hanya mengernyitkan dahinya tidak mengerti akan ekspresi yang terpancar di wajah Akram.

__ADS_1


Tidak ingin merusak suasana, Freya hanya menyimpannya di dalam hati dan mengikuti jejak Akram menikmati pemandangan malam di tepi jembatan.


__ADS_2