Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 31 Teringat Masa Lalu


__ADS_3

" Kalian darimana?" tanya bunda Sifa saat melihat Freya dan Diandra berjalan menghampiri bunda Sifa yang sudah menunggu sendirian di ruang tunggu.


" Ah, tadi kami cari makanan bun!" jawab Freya.


" Darren mana?"


" Karena kami jumpa di depan, sekalian dia yang membeli keluar." timpal Diandra.


"Oh..."


" Bik Fatma dan anak - anak mana bun?" tanya Freya.


" Mereka sudah pulang, karena sudah sore bik Fatma juga harus menyiapkan makan malam untuk anak - anak." jelas bunda Sifa.


" Oh gitu ya bun. Bunda sudah makan?" tanya Freya


" Sudah tadi siang! bik Fatma juga tadi membawa dessert yang di kirim dari tuan Akram. Tuan Akram benar - benar mewarisi kedermawanan dari kedua orangtuanya yang sedari dulu telah menjadi donatur panti. Anak dan orang tua saling berlomba menjadi donatur terbanyak untuk panti." Jelas bunda Sifa.


" Ah, memangnya sudah berapa lama tuan Akram menjadi donatur panti?" tanya


" Sekitar lima tahun. Kalau kedua orangtuanya sudah hampir 16 tahun bahkan sampai mengalami musibah kebakaran 15 tahun yang lalu." Jawab bunda Sifa.


" Benarkah bun? wah sudah lama sekali ya? Bukankah itu ada hubungannya dengan luka mu Frey?" tanya Diandra.


" Benar honey, kata bunda luka ini aku dapat saat menyelamatkan anak laki - laki dari salah satu donator panti, yang kebetulan saat itu sedang ada kegiatan amal." Jawab Freya masih samar - samar mengingat peristiwa tersebut.


" Kau benar Frey, karena suasananya cukup menegangkan kami tidak terlalu fokus pada keselamatan anak laki - laki tersebut karena memang keluarganya yang langsung menyelamatkannya, Kami hanya khawatir padamu!" Jelas bunda Sifa.


" Jadi sampai sekarang bunda tidak tahu siapa anak laki - laki tersebut?" tanya Freya masih penasaran akan pemilik dari liontin yang selama ini ia simpan.


" Entahlah, bunda juga tidak yakin karena saat kejadian itu ada dua keluarga besar yang merupakan donatur tetap panti dan juga masing - masing memiliki anak laki - laki. Setelah kejadian pihak keluarga tersebut hanya mengirimkan seseorang untuk ucapan terimakasih tanpa memberitahu dari siapa. Informasi yang bunda dengar mereka langsung membawa anaknya ke luar negeri untuk perawatan." jelas bunda Sifa.


" Ehm, sayang sekali ya bun! tentunya dia juga bernasib sama denganku yang sempat mengalami trauma akibat kejadian tersebut." ucap Freya.


" Sudah jelas dong! bagi mereka pasti akan merawat anak mereka dengan sungguh - sungguh agar tidak terjadi trauma yang mendalam bagi anaknya." Ucap Diandra.


" Apa bunda tahu siapa mereka?" sambung Diandra juga merasa penasaran.


" Ehm, kalau tidak salah mereka dari keluarga Ghazalan dan keluarga Xander yang merupakan donatur tetap panti." Jawab bunda.

__ADS_1


" Oh begitu ya bun!" timpal Freya merasa ada titik terang akan anak sosok laki - laki yang pernah ia selamatkan.


" Keluarga Ghazalan dan keluarga Xander ya! ah kenapa baru ini terpikirkan oleh ku sih, kan bisa saja langsung bertanya pada bunda." Gumam Freya merutuki kebodohannya dengan memukul - mukul kepalanya.


" Kau kenapa? kau masih penasaran dengan anak laki - laki tersebut? itu sih bukan urusanmu kan? yang penting anak tersebut masih hidup. Jika kita sudah melakukan perbuatan baik jangan terus kita ingat atau di ungkit - ungkit. Itu bisa menimbulkan sikap riya', benarkan bun?" ujar Diandra.


" Iya, kau benar! Bunda tidak mau membahas kecelakaan tersebut karena bisa mengingatkan kembali. Terutama kau Frey, akibat kau menyelamatkan Dara dan seorang anak laki - laki dari salah satu donatur panti kau mengalami koma selama tiga hari dan luka yang membekas seumur hidup di lengan kananmu." ucap bunda Sifa menitikkan air matanya.


" Eh, bun kenapa menangis?" tanya Freya cemas.


" Ah, maaf! bunda terbawa perasaan karena ingatan kejadian tersebut terus melekat di benak bunda." ucap bunda Sifa mengusap air matanya.


" Ehm, baiklah bun! Freya sudah baik - baik saja kok sekarang. Tapi sampai sekarang Freya masih penasaran saja dengan anak laki - laki tersebut meskipun Freya tidak jelas melihat wajahnya. Tapi yang Freya ingat adalah rasa kekhawatiran di wajahnya yang masih membekas di benak Freya. Anak laki - laki yang lebih tua beberapa tahun dari Freya terlihat sangat lemah." Ucap Freya mengenang peristiwa kebakaran 15 tahun yang lalu.


" Syukurlah! kau selalu menunjukkan ketegaran dirimu tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Bunda benar - benar beruntung memiliki anak sepertimu ini." ucap bunda Sifa haru.


" Ini semua berkat didikan dan ajaran bunda hingga Freya terbentuk menjadi wanita yang tangguh. Freya juga merasa beruntung memiliki ibu seperti bunda." balas Freya.


" Ah seperti menonton film drama saja. Kalian membuatku jadi merindukan ibuku. Hiks hiks hiks..." seru Diandra juga merasa terharu akan kehangatan yang di tunjukkan oleh anak dan ibu di depannya.


" Kenapa kau tidak pulang dan menemui ibumu. Sesibuk apapun pekerjaanmu, luangkan lah waktu untuk menemui beliau. Itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami." ucap bunda Sifa menasehati..


" Ah,dasar kau ya! sementang ibumu dekat!"


" Ya justru karena dekat itu, aku rajin menjenguk ibuku, benarkan bun!"


" Ah,,baiklah - baiklah.. besok aku akan ke rumah ibuku." seru Diandra.


" Baguslah, selagi ibumu masih ada. Buatlah beliau bahagia di sisa hidupnya jangan sampai kau menyesal nantinya." nasehat bunda Sifa.


" Iya bun. Kalau begitu selesai operasi Ezra aku langsung ke rumah mama. Karena hari senin aku harus terbang ke Prancis." ucap Diandra.


" Baiklah! yang penting bagilah waktumu sebaik mungkin."


" Iya bun."


Dengan wajah yang terlihat murung, mereka dengan sabar menunggu operasi Ezra dengan di iringi doa dalam hati masing - masing berharap operasinya berjalan lancar dan sukses.


" Hei, ada apa ini? kenapa terlihat murung begitu sih!" Tegur Darren saat melihat ketiga wanita yang merupakan wanita terhebat yang pernah ia kenal saling terdiam dengan pemikiran mereka masing - masing.

__ADS_1


" Ah, kau dari mana saja sih!" tanya Freya yang sudah duduk di sebelahnya.


" Nih, cari makanan! sambil menunggu operasi selesai agar tidak merasa bosan." Ucap Darren sambil mengangkat tangannya memamerkan sebuah kantong plastik yang berisi dengan berbagai macam makanan ringan.


" Huppp." Sambar Freya mengambil alih kantong plastik dari tangan Darren.


" Ah, dasar nafsu kebo. Begitu lihat makanan langsung segar tuh muka." cebik Darren


" Biari, yang penting perut kenyang."


" Ckk.."


Drrrtttt..drttt...


" Ya halo!" ucap Diandra setelah menerima panggilan di handphonenya.


" .......... "


" Baiklah! aku pergi sekarang tapi aku tidak bisa lama karena aku sudah ada janji." jawab Diandra.


" ........ "


" Ok, sekitar 30 menit aku tiba!" klik Diandra menutup panggilannya.


" Kau mau pergi?" tanya Freya.


" Iya, ada klien yang meminta di rias untuk pemotretan. Ya lumayanlah, itung - itung dapat job tambahan." ucap Diandra.


" Baiklah! hati - hati honey. jangan pernah telat makan!" ucap Freya mengingatkan kelalaian sahabatnya jika sudah berurusan dengan pekerjaannya akan melupakan segalanya.


" Ok beb! ah aku mohon maaf belum bisa mentraktir kalian minum." Ucap Diandra.


" Jangan di pikirkan, aku bisa minum berdua dengan Freya." ujar Darren.


" Baiklah terima kasih! kalau begitu aku pamit ya! maaf bun aku tidak bisa menemani di sini sampai selesai." ucap Diandra sedih.


" Tidak apa! kau pergilah!" ucap bunda Sifa.


" Ehm... Assalamualaikum." pamit Diandra sambil mencium punggung tangan bunda Sifa.

__ADS_1


" Walaikumsalam." Ucap mereka dengan serentak.


__ADS_2