Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 74 Kisah 26 Tahun yang Lalu


__ADS_3

" Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Tanya seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahunan. Dengan balutan gaun yang terlihat elegan dan mewah.


" Semua informasi mengenai nona muda sudah saya kumpulkan nyonya." Jawab pria muda yang memiliki wajah oriental dengan tinggi tubuh mencapai 185 cm. Langsung menyerahkan sebuah amplop coklat di atas meja kerja wanita tersebut.


Tanpa pikir panjang, wanita tersebut langsung menyambar amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa kertas mengenai data identitas seseorang. Dengan seksama ia membaca dari setiap lembar mengenai informasi seorang anak perempuan yang pernah ia titipkan di panti asuhan 26 tahun yang lalu.


Matanya terlihat berkaca - kaca saat membaca setiap inci catatan yang tertera di kertas tersebut.


" Ah, syukurlah dia tumbuh menjadi seorang wanita tangguh yang cantik dan kuat." Ucapnya dengan menitikkan airmata yang tak dapat terbendung lagi.


" Baiklah! Kerja bagus Jo. Terus awasi dia dan laporkan padaku setiap informasi yang terbaru." Ucapnya sedikit lega.


" Baik nyonya." Ucap pria kepercayaan wanita tersebut dengan hormat.


" Satu lagi, tolong kau cari anak itu." Titahnya dengan memegang kepalanya jika mengingat anak yang ia cari.


" Baik nyonya!" Ucapnya berbalik badan meninggalkan ruangan wanita tersebut.


" Haaaah, dasar bajingan cilik! Kemana kau dua hari ini! Bikin sakit kepala saja." Gumamnya dengan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya yang berada di ruangan dengan bertuliskan sebuah nama Direktur Utama Reya Dirgantara bertengger kokoh di atas mejanya.


Bruuuummmmmmm......bruuuuum.........


Suara sepeda motor yang telah di modifikasi terdengar menggelegar memecah kesunyian malam di jalan raya di pinggir hutan. Suasana malam begitu meriah dengan adanya sebuah pertunjukan balap liar yang sering di adakan oleh anak - anak remaja yang telah menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.


Sorak suara penonton tidak kalah dengan suara adu dari motor yang melaju sangat kencang melintasi jalan raya yang memiliki tikungan yang cukup tajam.


Dinginnya malam tak menyurutkan semangat darah anak - anak mudah tersebut untuk menyaksikan balapan tersebut meskipun waktu sudah menunjukkan dini hari.


" Ayoo....... Zero!" Terdengar suara teriakan dari pendukung pembalap idola mereka.


" Yeaaaaahhhhhh....." Sebuah sorakan kemenangan yang begitu puas dari penonton khususnya fans dari pembalap legendaris yang selalu berhasil menguasai jalan raya.


" Good job bro! Aku selalu yakin kau pasti berhasil mengalahkan tikus - tikus kotor itu." Ucap seorang pria berambut ikal dengan gaya fluffy langsung menyambut sang raja jalanan dengan melakukan tos tangan yang terangkat tinggi.


" Pastinya dong! Pertandingan kali ini mungkin akan jadi yang terakhir." Balas pengemudi motor yang berhasil memenangkan pertandingan balap liar.


" Why?" Tanya temannya tidak mengerti.


" Entahlah. Firasatku mengatakan itu." Ujarnya dengan mengedikkan kedua bahunya.

__ADS_1


" Fine...mari kita rayakan kemenangan ini." Ajaknya semangat.


" Untuk kali ini, kalian pergi lah tanpa ku." Ujar pemuda tersebut yang di panggil dengan sebutan Zero Si Pemangsa Jalan Raya.


" Ayolah bro! Gak seru tanpa dirimu." Ujar temannya yang lain.


" Kau ada masalah?" Sambung yang lain.


" Tidak. Kali ini aku lagi malas saja. Aku ingin tidur cepat." Jelasnya sambil melirik arloji yang bertengger di lengannya dengan jarum jam telah menunjukkan ke angka 01.35 dini hari.


" Ok..jika sang Pemangsa Jalan Raya telah berkata begitu. Sebaiknya untuk malam ini kita pulang saja." Ucap pria dengan rambut yang ditata mengikuti gaya Taper Fade.


Melihat temannya menghargai keputusannya, Zero langsung meninggalkan medan balapan yang di iringi sorakan dari kaum hawa.


" Anda sudah puas bermain - main tuan muda?" Sapa seorang pria muda dengan mengenakan jas dengan menundukkan badannya sedikit.


" Kau...? Bagaimana kau bisa menemukan ku?" Tanya nya dengan raut wajah yang kesal.


" Nyonya ingin bertemu dengan anda tuan muda! Besok pukul 09.00 di kantornya." Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Zero.


" Saya harap anda jangan terlambat. Selamat malam!" Sambungnya datar berlalu begitu saja meninggalkan Zero yang masih mematung di posisinya.


" Kau sudah puas bermain-main?" Tanya seorang wanita dengan anggunnya duduk di sofa maroon yang berada di dalam ruangannya.


" Ada apa mama memanggilku?" Tanya pemuda tersebut yang tak lain adalah Zero.


" Memangnya harus ada alasan khusus agar dapat memanggilmu hah." Ujar nyonya Reya


" Tidak biasanya mama memanggilku sepagi ini? Apa sekarang jadwal mama mulai senggang?"


Tanya Zedan nama asli dari sang pemilik gelar Zero Sang Pemangsa Jalan Raya.


" Dasar anak nakal! Sudah tiga hari kau tidak pulang? Sekarang kau tidak rindu pada mama? Haissshhh, begitu kejam dirimu Zedan. Hiks....hiks...." Ujar nyonya Reya dengan menitikkan air mata yang di paksa untuk keluar.


" Haaah, sudah lah Ma! Jangan akting lagi. Katakan apa yang harus aku lakukan." Tepis Zedan menghentikan air mata buaya mamanya yang memang sengaja di buat - buat.


" Benarkah?" Tanya nyonya Reya dengan wajah yang berbinar.


" Iya. Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran!" Ancam Zedan tidak sabar dengan drama mamanya yang begitu panjang.

__ADS_1


"Kyaaaaa sayang! Terima kasih!" Ucap nyonya Reya girang langsung memeluk tubuh anaknya.


" Apaan sih ma! Main tubruk aja."


" Biari." Oceh nyonya Reya tak menghiraukan tolakan anaknya.


" Ehm baiklah! Mama ingin kau mendekati wanita ini?" Ucap nyonya Reya dengan menunjukkan sebuah foto beserta beberapa data diri wanita tersebut.


" Apa untungnya bagiku ma?" Tanya Zedan memperhatikan foto wanita muda yang terasa tidak asing baginya meskipun ia pertama kali melihatnya.


" Tentu saja ada, kau akan bertemu dengan kakakmu!" Ucap nyonya Reya


" Jadi wanita ini?"


" Ya, mama juga ingin sekali menemuinya. Tapi apakah dia sudi melihat mama yang telah menitipkannya di panti." Ucap nyonya Reya mengenang kejadian 26 tahun yang lalu saat ia harus terpaksa berpisah dari putrinya.


" Ayah, aku mohon!" Pinta Reya saat mengandung anak pertamanya memohon belas kasih dari ayahnya.


" Cih....untuk apa kau meminta maaf atas perbuatan kotormu hah..." Hardik tuan Dirgantara.


" Anak ini tidak bersalah, pernikahan ini tidak salah kenapa ayah begitu kejam padaku." Isak Reya terus memohon dan berlutut memegangi kaki ayahnya yang sudah sangat berang.


" Kau yang salah, kau sudah memutuskan tali darah dengan keluarga ini." Hardiknya.


" Ayah, aku benar - benar mencintainya! Salahkah perasaanku ini? Hanya karena statusnya yang tidak sesuai dengan ayah." Pekik Reya tidak terima akan perbuatan ayahnya yang masih tidak menyetujui pernikahannya dengan seorang staf biasa di kantor Dirgantara Group.


" Hah,anak tidak tahu diri. Kau sudah mencoreng wajah keluarga besar Dirgantara dengan kawin lari bersama pria hina itu, sekarang kau masih berani menunjukkan wajahmu di hadapanku?" Berang tuan Dirgantara.


" Ayah...hiks....hiks.....jangan perlakukan dia seperti itu! Aku mohon......" Mohon Reya sambil berlutut di kaki ayahnya.


" Baik! Aku akan membebaskan si brengsek itu asal kau melenyapkan anak dalam kandunganmu lalu kau bersedia menikah dengan anak tuan Angkasa." Seru tuan Dirgantara.


Bagai berada di tepi jurang yang terjal dan curam dengan di iringi suara petir yang siap menyambar dirinya, Reya tak kuasa menahan air matanya saat mendengar ucapan ayahnya. Bagaimana bisa ia harus melenyapkan darah dagingnya sendiri.


" Ayaaah!" Rintih Reya tak berdaya melawan kekuatan ayahnya.


Tanpa belas kasih tuan Dirgantara langsung meninggalkan Reya yang masih duduk bersimpuh dengan berurai air mata.


" Kau pikirkan itu!" Teriak tuan Dirgantara sebelum meninggalkan ruang kerjanya.

__ADS_1


Hikssss......hikssssss........hiksssssss dunia Reya seketika terasa hancur harus kehilangan orang - orang yang ia cintai. Ia merasa tak berguna yang tidak mampu melindungi pernikahannya.


__ADS_2