
Greb.....sebuah tangan mencekal tangan Freya saat ia hendak pergi.
“ Jangan mati! Bagaimana dengan nasibku hah...” igau Akram dengan wajah yang berkeringat.
“ Kau bermimpi apa sih! Sampai wajahmu seperti itu?” gumam Freya dengan mengamati wajah Akram dengan posisi jongkok dalam jarak yang dekat.
“ Ternyata wajahnya sangat sempurna, melihat wajah tidurnya ternyata sangat adem berbeda sekali saat ia terjaga. Tapi kenapa wajah ini semakin lama seperti tidak asing ya! Di mana aku melihat wajah ini?” ucap Freya dengan posisi berjongkok menghadap wajah Akram. Pegangan tangannya sangat erat yang menyebabkan Freya tidak bisa melepasnya.
Akram sangat terkejut saat membuka mata, wajah Freya yang tertidur dengan posisi terduduk di lantai dengan kepala di sandarkan di pinggir sofa tepat di dekat Akram.
Akram mengamati wajah tidur Freya dengan seksama, wajah yang damai tersebut mengingatkannya kepada seseorang yang pernah menyelamatkan nyawanya.
“ Apa semalaman dia di sini?” gumam Akram.
Karena ada pergerakan yang di rasakan Freya, ia pun terjaga dan melihat Akram sudah terduduk di sofa.
“ Anda sudah bangun tuan?” tanya Freya dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
“ Apa yang kau lakukan di sini hah?” tanya Akram untuk menutupi kegugupannya yang telah diam – diam memperhatikan Freya saat tertidur.
“ Ah, saya terjebak karena seseorang telah menggenggam erat tangan saya tuan.” Ucap Freya dengan mengarahkan pandangannya ke lengannya yang masih di genggam oleh Akram.
Akram mengikuti arah pandangan Freya, dengan spontan ia melepas genggamannya dan langsung beranjak dari posisinya.
“ Apa anda mau sarapan sebelum berangkat tuan?” tanya Freya tanpa balasan.
“ Sudahlah! Aku harus bersiap – siap.” Ujar Freya yang berdiri dari posisinya menuju kamarnya untuk mencuci wajahnya.
Selesai juga, sekarang aku mau mandi deh! Uda bau bawang.” Ujar Freya setelah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan untuk Akram jika ia mau.
Setelah 30 menit, Freya dan Akram keluar dari kamar secara bersamaan.
“ Pagi tuan! Saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda.” Ucap Freya yang menundukkan kepalanya saat Akram berjalan terlebih dahulu.
“ Semangat Freya!”
Sampai di dapur, ia melihat sarapan bagian Akram tidak di sentuh sama sekali.
“ Huft, ya sudahlah, aku makan sendiri saja.” Freya menyantap sarapannya seorang diri. Selesai sarapan ia meletakkan sarapan Akram ke kotak bekal makanan.
Selesai membersihkan peralatan makan dan dapur. Freya berangkat ke kantor dengan membawa bekal yang akan ia berikan kepada Darren.
“ Sayang kan makanan ini, dari papa mubazir.” Ucap Freya sambil menenteng kotak bekal makanan dan menelepon seseorang sambil terus berjalan keluar apartemen.
Sampai di basement, Freya bertemu dengan Dafi namun tidak melihat Akram.
__ADS_1
“ Selamat pagi tuan Dafi! Anda kenapa masih di sini? Bukankah tuan Akram sudah turun terlebih dahulu 15 menit yang lalu.” Sapa Freya.
“ Saya baru tiba nyonya. Tuan sebentar lagi akan tiba!” ucap Dafi.
“ Oh...baiklah tuan, saya pergi duluan. Semoga harimu selalu menyenangkan.” Ucap Freya dengan sebuah senyuman yang tulus.
Dafi hanya menganggukan kepalanya.
“ Selamat pagi tuan!” sapa Dafi saat Akram berjalan menghampirinya.
“ Ehm.”
“ Kau cari tahu latarbelakang Freya dan keberadaan Cleona di rumah sakit.” Titah Akram.
“ Baik tuan.” Ucap Dafi yang terus melajukan mobilnya.
“ Pagi semua!” sapa Freya kepada rekan – rekannya.
“ Pagi Fre!” ucap Arsy.
“ Nih, makanlah!” ucap Freya menyerahkan kotak bekal makanan ke Darren.
“ Terima kasih!” balas Darren yang langsung membuka kotak bekal makanan tersebut dan melahapnya.
“ Ish, kau ini kenapa kau harus iri hah...! sudah sering ku bawakan bekal masih kurang juga...!” omel Freya.
“ Iya ya, kan bercanda doang! Serius amat sih!” canda Arsy yang langsung menyalakan komputernya.
Freya pun, kembali ke mejanya dan wajahnya memerah saat matanya menangkap sebuah kartu undangan pernikahan yang mendominan nuansa berwarna hitam dan gold, yang berbalut sebuah pita.
Dengan tangan yang gemetar, Freya mengambil kartu undangan tersebut dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dengan sekuat hati, ia menahan emosinya agar tidak meledak.
“ Fre, kau sudah mendapat surat undangan pernikahan dari pak Gio kan! Punya ku sudah terletak di atas meja, mungkin punya mu dan yang lain juga di letakkan di atas meja.” Ucap Arsy yang menggeserkan kursinya ke samping sedikit.
“ Sudah!” balas Freya singkat.
Untuk menutupi, kegelisahannya Freya langsung mengerjakan pekerjaannya tanpa menghiraukan yang lain. Ia berusaha menyibukkan dirinya agar tidak sempat untuk bersedih.
Ting..sebuah group chat kantor langsung aktif dan terpampang sebuah foto kartu undangan pernikahan atas nama Agni Pramudya dengan Geovanda Jovanka.
Para anggota group chat, sangat antusias untuk memberikan komentar – komentar mereka meskipu hal – hal yang receh agar menghidupkan obrolan chat bersama.
Freya hanya mengamati tanpa ingin memberikan komentar. Untuk mengembalikan konsentrasinya, ia terus mengerjakan pekerjaannya dan menutup group chat.
Ting....sebuah notifikasi pesan dari Darren membuyarkan sejenak konsentrasinya.
__ADS_1
[ Kau baik – baik saja?]
Sebelum membalas, ia melirik ke arah Darren dan mengetik sesuatu untuk membalasnya.
[ Ehm, kau tenang saja! Aku bisa mengatasinya. Apa kau nanti akan ke rumah sakit?]
[ tentu. Butuh bantuan untuk shoping?]
[ Tidak. Terima kasih! aku akan jalan dengan Diandra, besok ia akan kembali dari tournya. Hari ini, aku tidak ke rumh sakit, aku ingin ke panti. Titip salam dengan bunda. Ok.]
[ Baiklah! Bersenang – senanglah. Terima kasih atas sarapannya.]
[ Ehm....]
“ Ah! Cleona kenapa kau menghindariku hah....tidak kah kau berhutang penjelasan padaku.” Gumam Akram yang berada di ruangannya.
Hari ini ia tidak dapat berkonsentrasi karena memikirkan pertemuannya dengan Cleona dan latar belakang Freya.
Pikiran Akram mulai bercabang, ia terus mengingat peristiwa kebakaran 15 tahun yang lalu.
Dengan mata yang terpejam, pikirannya menerawang jauh ke belakang. Entah mengapa hatinya tergerak ingin ke panti.
“ Permisi Tuan!” seru Dafi yang sudah berada di depan Akram.
“ Ah dasar kau, kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.” Ujar Akram kesal tersadar dari lamunannya.
“ Saya sudah berkali – kali mengetuk pintu, tapi tuan tidak ada respon.” Jelas Dafi.
“ Ah....sudahlah! bagaimana hasil penyelidikanmu?”
“ Tidak sulit tuan!” ujar Dafi menyerahkan beberapa amplop berwarna coklat ke tangan Akram.
“ Ehm, kerja bagus. Terima kasih. keluarlah!” ucap Akram.
“ Baik tuan! Saya permisi.”
Dengan tidak sabar, Akram membuka amplop yang bertuliskan nama Freya.
Dengan seksama, Akram membaca seluruh berkas dengan teliti paragraf demi paragraf agar tidak terlewatkan satu kata pun.
Hingga lembaran ketiga, bola mata Akram membulat sempurna saat sebuah paragraf yang benar – benar membuatnya semakin penasaran.
Tanpa membuang waktu, Akram bergegas meninggalkan ruangannya dengan sedikit tergesa.
Saat melewati ruangan Dafi, Akram pun berpesan agar pekerjaan selanjutnya diserahkan kepada asistennya.
__ADS_1