
" Ah...! sial bagaimana ini? bagaimana caranya aku mendapatkan kalung itu?" Gumam Cleona mondar - mandir di depan ruang rawat mamanya.
" Freya....ya Freya! dia pasti masih menyimpan kalung itu. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mendapatkannya! kalau tidak bagaimana nasib mama jika aku tidak ada." sambungnya terasa perih jika melihat kondisi mama angkatnya yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.
Sambil terus berpikir dan menyusun rencana, Cleona dengan setia masih merawat mama nya yang telah mengalami penyakit gagal otak, hidupnya hanya bergantung dari alat - alat yang di pasang pada seluruh tubuhnya. Sementara biaya yang dibutuhkan juga semakin membengkak yang harus ia tanggung sendiri. Suaminya? atau papa angkatnya? tentu saja sudah lepas tangan akan keselamatan sang isteri, ia lebih memilih untuk menyelamatkan perusahaannya dari pada membuang - buang uang lebih banyak lagi untuk kehidupan yang sia - sia sang isteri.
" Hufttt.....maafkan aku Ma! jika suatu saat aku tidak dapat menemani dan menyelamatkan mama lagi." ratap Cleona sedih memandang wajah mamanya yang terlihat sangat pucat.
" Ada yang ingin kau katakan?" tanya Akram setelah mereka kembali ke dalam kafe.
" Tidak ada tuan! saya mohon izin untuk kembali ke kantor! jam makan siang sudah selesai." pamit Freya untuk menghindari Akram.
" Kau tenang saja! aku sudah mengurusnya!" cegah Akram.
" Maksud anda apa tuan?" tanya Freya tidak mengerti.
Drrtttt...drtttt...sebuah panggilan dari Arsy membuat Freya menaikkan alisnya sebelah.
" Frey? benar kau tidak apa - apakan? maaf ya karena aku memaksamu makan di luar kau malah jadi sakit perut. Semoga cepat sembuh ya Frey!" Ucap Arsy dari seberang.
" Eh...!" Freya tertegun mendengar ucapan Arsy, kalau dirinya sedang sakit perut. Ah, sekarang ia baru mengerti maksud dari Akram. Dengan menatap tajam ke arah Akram, Freya spontan melototi Akram yang hanya di balas dengan kedikan bahu yang terangkat ke atas.
" Ah iya, tidak masalah. Aku baik - baik saja, setelah meminum resep dari dokter aku akan membaik kok. Kau jangan merasa terbebani ok!" balas Freya mengikuti permainan Akram.
" Baiklah, selamat istirahat. Sebagai gantinya pekerjaanmu yang belum selesai akan ku kerjakan ya." ujar Arsy.
" Eh tidak perlu, besok aku...."
" Dah..." tuttt potong Arsy mematikan panggilannya secara sepihak.
" Huh, dasar main mati kan saja." omel Freya kesal.
" Huft..kenapa anda seenaknya begitu tanpa memberitahu saya?" lanjutnya.
" Ehm...." dehem Akram menaikkan kedua bahunya.
" Ah, baiklah! saya sebenarnya masih penasaran dengan pertanyaan saya yang belum anda jawab kemarin. Jadi memang benar kalau Dara itu adalah tunangan anda?" tanya Freya to the point.
" Ya meskipun saya kurang jelas apa yang kalian bicarakan tadi. Dari situasi yang saya lihat kalian pasti memiliki suatu hubungan yang spesial, bukan hanya sekedar saling mengenal." sambungnya ingin menuntaskan rasa penasarannya.
" Kalau itu benar, apa yang akan kau lakukan?" ucap Akram menaikkan alisnya.
__ADS_1
" Jadi itu benar? ah...ternyata aku menggantikan posisi isteri dari sahabatku sendiri. Tidak bisa di percaya." Gumam Freya.
" Syukurlah tuan, anda telah menemukan tunangan anda yang sesungguhnya." sambungnya.
" Lalu?"
" Itu berarti kontrak di antara kita berakhir kan?" tanya Freya dengan wajah yang terlihat senang.
" Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
" Bukankah pernikahan kontrak ini anda lakukan karena tunangan anda pergi dan posisi saya hanya sebagai penggantinya lalu kontrak akan berakhir jika anda telah menemukannya." jelas Freya.
" Ehm, tapi itu sebelum kau mempunyai hutang padaku." ucap Akram datar.
" Eh....itu....tapi kan saya sudah janji akan melunasinya." tegas Freya.
" Benar! kau memang harus melunasinya sesuai dengan perjanjian yang sudah di sepakati." jawab Akram
" Maksud anda, kontrak ini tetap berjalan sampai masa nya habis meskipun anda telah menemukan tunangan anda?" tanya Freya bergidik ngeri membayangkan harus menyelesaikan masa kontraknya selama dua tahun.
" Ehmmmmm."
" Ingat akan hutangmu padaku. Dan bagaimana tanggapan keluargaku jika baru beberapa bulan kita menikah sudah harus bercerai?" tanya Akram memang sengaja masih ingin bermain - main dengan isteri kontraknya.
" ,Ah, begitu ya! anda benar tuan! saya tidak bisa membayangkan kekecewaan yang di rasakan oleh orangtua anda yang begitu baik kepada saya." ucap Freya.
" Kau benar! maka dari itu laksanakan lah tugas mu dengan baik sampai masa nya berakhir."
" Baik tuan!" pasrah Freya harus mengikuti kontrak yang sudah ia sepakati.
" Bagus, jadilah anak yang penurut." Ujar Akram.
" Ck....sementang anda memiliki kekuasaan seenaknya saja menindas orang yang lemah." cibir Freya.
" Ehm...kau tahu kan di dalam dunia bisnis tidak ada yang gratis bukan?" ucap Akram
" Ish....baiklah tuan saya rasa cukup sampai di sini pembicaraan ini. Saya sudah mengetahui jawabannya. Saya masih ada urusan yang lain. Saya permisi tuan." ucap Freya bersiap - siap untuk beranjak dari kursinya.
Namun, saat hendak berdiri ia teringat akan sesuatu yang masih menjadi pertanyaan dalam hatinya.
" Ohya tuan! satu hal lagi yang membuat saya penasaran." lanjut Freya duduk kembali di kursinya.
__ADS_1
" Apa?" tanya Akram yang masih memperhatikan wajah Freya.
" Bagaimana anda tahu kalau saya menguping pembicaraan anda?" tanya Freya
" Semua orang pasti tahu jika kau sangat berisik meskipun kau bersembunyi." jawab Akram tenang.
" ups...apa saya begitu berisik tuan?" tanya Freya
" Kau nilai saja sendiri." Ujar Akram yang bergegas beranjak dari kursinya dan pergi begitu saja meninggalkan Freya.
" Jangan lupa makan malam ku." sambung Akram menghentikan sejenak langkahnya dan meneruskannya kembali.
" Ckkkk dasar. Seenak jidatnya saja tuh orang. main pergi saja .. Aaaah untung ganteng!" gumam Feya.
Setelah memesan makanan untuk di bungkus, Freya pun bergegas pergi juga mengikuti jejak Akram.
" Ah! tidak buruk cuti setengah hari begini." gumam Freya melangkah keluar kafe.
Setelah memanggil ojol langganannya menggunakan aplikasi Kang ojol Freya pun menunggu.
" Ah lebih baik ke rumah sakit ah..siapa tahu Ezra sudah siuman." gumam Freya sambil bersenandung kecil.
" Assalamualaikum bun! bagaimana kabar Ezra? " sapa Freya langsung mencium punggung tangan bunda Sifa.
" Walaikumsalam! kau sudah datang Frey? mana Darren?" tanya bunda Sifa.
" Ah, Darren masih di kantor bun! Freya cuti setengah hari bun?"
" kenapa? kok tumben kau minta cuti?" tanya bunda Sifa.
" itu tadi saat makan siang, Freya tiba - tiba sakit perut terus minta cuti deh!" bohong Freya
" kau baik - baik saja? Kau sudah minum obat?" Tanya bunda Sifa
" Sudah bun! sekalian tadi saat kemari Freya singgah ke dokter dan meminta resep. Nah ini bun, makanlah!" ucap Freya
" Oh! terima kasih Frey." ucap bunda Sifa mengambil sebuah kantong plastik dari tangan Freya.
" Sama - sama bun!" ucap Freya.
" Syukurlah bun! operasi Ezra berhasil dan berjalan dengan lancar!" ucap Freya memandang Ezra yang terbaring lemah dengan cukup banyak alat yang menempel di tubuhnya dari balik tembok kaca.
__ADS_1