
Sore itu Yesa pulang ke rumah, Ia berpikir kalau arka pasti sudah pulang dan pasti sudah menunggu nya. Namun ternyata dugaannya salah. Rumah sepi tanpa penghuni dan makanan yang ia masak tadi pagi masih utuh tak tersentuh.
Yesa duduk di meja makan sendiri menatap makanan yang sudah dingin, dan mungkin rasanya sudah masam.
"kemana perginya arka ?"
Gumam Yesa sendiri lalu melangkah ke kamar mandi.
Yesa menoleh ke arah jemuran yang sudah kering, terlihat awan sedikit gelap. seperti nya hendak turun hujan.
Yesa kembali terdiam mengingat kejadian lalu saat ia berada di rumah ibu nya, hujan turun begitu saja dan Arka membiarkan jemuran nya kebasahan karena sibuk dengan game nya.
Saat Yesa marah dia malah balik menyalahkan nya, pria itu memang sudah terbiasa seperti itu. enggan di komentari apa lagi di salah kan.
Yesa menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam kamar, Apa arka masih di rumah asila ? tapi untuk apa selama itu ?
Yesa pun penasaran lalu kembali keluar dan berpikir untuk melihat apa yang suami nya lakukan di rumah Asila.
lekas Yesa melajukan motornya menuju rumah asila yang katanya tidak jauh dari stadion.
Arka memang belum pulang dan saat ini ia tengah berada di lapangan hijau bersama asila dan ayahnya.
Mereka asik mengobrol membahas persepak bolaan Indonesia yang tengah naik daun di kanca Asia.
"bang udah mau hujan ? mau pulang ke rumah ?"
Tanya asila senyum manis di hadapan Arka.
"Ya sepertinya mau hujan, Abang pulang dulu !"
Namun Asila malah berlari ke lapangan lalu menendang bola.
"hem,, dasar anak itu !"
ucap ayah asila tersenyum melihat tingkah putri nya yang begitu menggemari sepakbola.
"Bang, ayo tangkap !"
Ujar asila menendang bola ke arah Arka yang langsung cepat tanggap.
Arka terkekeh kecil lalu menggiring bola ke lapangan.
Yesa mencari cari rumah asila dan bertanya pada orang sekitar kompleks tersebut, mereka memberi tahu Yesa dan saat Yesa menghampiri rumahnyab terlihat sepi, tak terlihat mobil arka terparkir di depan rumah itu.
Gegas Yesa melajukan motornya menuju stadion. Yesa tertegun saat melihat mobil arka terparkir di depan nya, lekas Yesa turun dan masuk ke dalam.
Yesa tertegun saat melihat arka tengah bermain bola dengan Asila.
Mereka tampak asyik dan kompak, sesekali tertawa sambil mengejar bola.
Yesa menarik nafas dalam-dalam lalu membalikkan tubuhnya membelakangi mereka.
Kenapa arka begitu asyik dengan asila, sementara dengan nya ia lebih banyak diam dan memilih memainkan ponselnya.
Yesa merasakan tenggorokan nya perih dan mata nya memanas, jujur saja ia cemburu!
Yesa melangkah menuruni tangga dengan keadaan tak menentu, sakit sudah pasti.
__ADS_1
kenapa arka bersikap seakan tidak memiliki dia ?
Arka bersikap seperti seorang pria yang belum menikah, hingga ia bisa dengan bebas berinteraksi dengan wanita manapun.
lalu dia di anggap apa ?
Duar....
Asila terperanjat saat petir tiba-tiba menyambar, gegas ia menarik tangan Arka untuk berlindung.
"Sudah, ayo pulang!"
ajak sang ayah lalu melangkah dari lapangan hijau tersebut.
"Ya, Abang pulang dulu yah !"
Asila mengangguk.
"Ya bang, nanti datang ke rumah ya kalau mau pergi ke malang !"
pinta Asila dan di anggukan oleh arka. pria itu kemudian pamit lalu menghampiri mobil yang terparkir tidak jauh dari motor Yesa.
Arka mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita yang persis seperti istri nya.
Gegas Arka menghampiri karena penasaran dan seperti nya itu memang Yesa.
Rintik gerimis sudah mulai turun, beberapa kali petir menyuarakan gelegar nya membuat keadaan kian pilu.
"Yesa...!"
Yesa menoleh ke arah Arka yang berada di hadapannya.
"Kamu ngapain di sini ?"
"nyari kamu, tapi kamu lagi Asik sama perempuan lain !"
Arka menghela nafas panjang.
"apa sih ? aku cuma main bola sama Asila ?"
Yesa tertegun dengan mata yang berkaca-kaca, arka memang selalu menyepelekan perasaan nya.
"Kamu bilang cuma ?"
Yesa terkekeh kecil lalu menyeka air matanya.
di tengah gerimis seperti itu kedua nya saling bertatap dengan ego masing-masing.
"Kamu selalu menganggap hal itu biasa, aku juga perempuan dan tahu kalau asila tuh suka sama kamu !"
Arka menggeleng kan kepala nya mendengar penuturan Yesa, bagi nya hal itu biasa saja namun tidak bagi Yesa. ia tidak bisa menampik perasaan nya bahwa ia cemburu melihat kedekatan arka dengan perempuan itu.
"Aku sama Asila....!"
Lekas Yesa merentangkan telapak tangan nya hingga Arka berhenti bicara, hujan sudah mulai turun.
"Kamu enggak pernah mikirin perasaan aku !"
__ADS_1
Ucap Yesa lalu menyalakan mesin motor nya.
"Yesa tunggu. kamu pulang sama Abang, dek. hujan sudah turun. biar motor titip di sini !"
"enggak !"
Sergah Yesa, ia benar-benar jengah lalu melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi membuat arka menganga sejenak melihat motor melaju dengan kencang di bawah guyuran hujan.
Yesa benar benar kesal karena Arka selalu meremehkan perasaan nya, entah bagaimana pemikiran nya, hingga ia menganggap hal itu biasa.
Arka berusaha untuk mengejar Yesa menggunakan mobil nya, kebetulan jalanan tidak terlalu padat hingga ia bisa mengejar Yesa.
Arka khawatir karena Yesa melajukan motornya dengan cepat dan beberapa kali menyembunyikan klakson hingga pengendara lain menyingkir dari hadapannya.
Arka memijat kening nya yang terasa pusing. seperti itu lah Yesa jika sudah marah, ia tidak akan mau
mendengar ucapan nya.
Gegas arka menyamai laju mobil nya dengan Motor Yesa, dan dengan sekali hentak kan Arka langsung menghadang motor Yesa.
Yesa menghentikan laju motor nya dengan Nafas memburu, Arka turun dari mobil menghampiri nya.
"cukup Yesa, bahaya tahu enggak bawah motor seperti itu ?"
Ucap Arka dengan telunjuk mengarah ke wajah Yesa.
"Kamu tuh bisa mencelakakan orang lain juga !"
Hujan sudah mulai reda dan tinggal gerimis yang turun.
Arka menghela nafas berat melihat pakaian Yesa yang basah hingga menampakkan lekuk tubuh nya yang indah. Ia tidak suka melihat keadaan itu dan enggan orang lain melihat nya.
"Sekarang pulang, ayo kita bicarakan baik baik !"
Ujar arka berbicara dengan nada rendah.
Yesa tak menjawab lalu kembali melajukan motornya meninggalkan arka yang mematung sendiri.
Saat sampai di rumah Yesa langsung masuk dan menyimpan tas nya yang basah di meja makan.
gegas ia pergi ke kamar untuk membersihkan diri. kala perasaan nya kacau seperti itu, Yesa lebih memilih menghindar dari pada berdebat dengan arka. sebab Ia akan kalah dan arka selalu pintar memutar fakta hingga ujung nya dia yang selalu di salahkan ?
Yesa kecewa dengan sikap Arka, semakin kesini ia kian tidak memikirkan perasaan nya ? harus sampai kapan ia mengorbankan perasaan nya ?
"Yesa...?"
panggil arka dari luar, namun Yesa tidak perduli dan memilih untuk mengguyur tubuh nya di bawah shower.
Arka menghela nafas panjang saat tidak ada jawaban dari Yesa ?
ia lebih memilih untuk mengencangkan volume air ketimbang mendengar ia yang memanggil nya berulang kali.
Arka duduk diam memperhatikan pintu kamar mandi, tubuh nya pun sedikit basah karena kehujanan.
***
bersambung..
__ADS_1
terimakasih sudah mampir 😍
jangan lupa like dan komentar nya ya biar otor semangat 😍😍😍😍🙏