Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
Tegar.


__ADS_3

Malam itu arka pulang ke rumah, sebelumnya ia sudah menyuruh tukang untuk mengganti kaca jendela nya yang pecah.


Arka tertegun melihat dapur yang gelap, biasanya jam segini Yesa tengah membuat cemilan menjelang mereka tidur.


Saat Ia asyik dengan stik PS maka Yesa asik dengan spatula nya, setelah makanan tersaji Yesa akan naik ke pangkuan nya, dan arka hanya bisa menghela nafas panjang karena tingkah istri nya itu menghalangi pandangan nya dari permainan.


"Astaga Yesa aku kalah lagi dan ini gara gara kamu !" Ujar Arka dengan gemas lalu menggelitik pinggang Yesa hingga istri nya itu tertawa terbahak-bahak.


"Biarin, syukurin...!" jawab Yesa semakin membuat arka gemas.


*


Arka menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam kamar, terlihat ranjang berantakan. Tak ada yang merapikan rumah nya karena sekarang ia sendiri. Gegas arka membereskan ranjang tersebut.


Arka duduk di tepi ranjang, Teringat kebersamaan mereka sebelum tidur. mulai saat ini tak akan ada lagi yang merengek meminta jajan di tengah malam.


Arka tak tahu kenapa ia terus mengingat Yesa, semua kenangan bersama mantan istri nya itu begitu lekat di benak nya.


"Bang, mau aku pakai lingerie warna apa !?" pertanyaan yang membuat geli tapi juga menyenangkan untuk nya, namun semua berubah ketika ia memfokuskan perhatian pada sepak bola.


Wajah cantik yang selalu sumringah senang berubah menjadi wajah masam tanpa senyuman.


Arka beranjak dari duduknya lalu membuka lemari, di dalam nya masih terdapat beberapa pakaian milik Yesa. Netra nya beralih ke arah meja rias dimana terdapat sebuah tespekc tergelak begitu saja.


lekas arka menghampiri lalu membaca tulisan dalam kertas yang berseru "Alhamdulillah kelak di rumah akan ada tangis bayi."


Arka tersengal dengan nafas memburu lalu melempar tespekc tersebut ke tong sampah.


"Hanya karena aku sibuk kamu tega mengkhianati aku yes ? Kamu benar benar tega !" batin Arka lalu keluar dari kamar dan pergi meninggalkan rumah.


Arka melajukan mobilnya lalu pergi ke rumah orang tua nya.


***


Beberapa hari kemudian.


Persidangan sudah berlangsung, namun Yesa tidak pernah hadir, dan untuk sidang terakhir Arka menyerah kan nya pada pengacara.


seperti rencana sebelum nya, ia hendak pergi ke Surabaya untuk persiapan musim yang akan datang.

__ADS_1


"Gue balik merantau... Cinta gue hilang karena sebuah tuntutan, padahal semua usaha gue buat dia. Tapi yang gue dapat cuma pengkhianat."


Isi hashtag arka menggugah foto ia yang berada di bandara. Kini ia sudah bersiap pergi.


"Udah jangan mikirin Yesa lagi, fokus latihan." ujar sang ayah di angguk kan oleh arka.


Sidang berjalan lancar tanpa embel-embel mediasi atau yang lainnya nya, Yesa juga enggan mengungkapkan bahwa ia tengah Hamil. Keduanya menginginkan semua cepat selesai hingga kedua belah pihak tak banyak menuntut.


"Tunjuk kin dong sama Yesa kalau Lo bisa sukses tanpa dukungan dari nya, perempuan cantik banyak dan Lo bisa dapatkan yang lo mau !" ujar Adnan teman arka, ia ikut prihatin dengan rumah tangga teman nya itu.


"Ya lah..!" jawab arka lalu melangkah menghampiri pesawat.


**


Wina melihat unggahan arka beserta hashtag nya, seperti nya Arka begitu sakit hati karena sang kakak sudah mengkhianati nya, tapi semua terjadi juga karena dirinya sendiri. Wina ingat betul bagaimana sikap arka saat di rumah sakit.


"lihat apa ? Ada yang galau ?" tanya Yesa membuat Wina menoleh.


"Semua kesalahan ia limpahkan ke kakak, seakan jadi orang yang paling menderita. Hal itu cuma untuk cari simpati !"


Ujar Yesa dengan santai.


"kak Yesa kok biasa aja sih pisah sama kak arka ? Apa kakak emang udah enggak cinta ? baikan kak Ezi ya ?" beberapa pertanyaan Wina layangkan pada kakak nya itu dan hak itu membuat yesa mengulum senyum.


Harus nya masa trimester pertama itu suami memberi kan perhatian penuh, tapi sang kakak menjalani nya sendiri.


Mual, muntah dan pusing ia telan sendiri. terkadang ia lah yang mencari kan makanan yang kakak nya idamkan.


"Sekarang langkah selanjutnya apa kak ?"


tanya Wina memindai wajah Yesa.


"Pasrah aja, terserah gimana tuhan. Dan kakak cuma jalani aja kedepannya seperti apa, biar Tuhan yang menentukan. Karena kakak yakin semua sudah di rancang dengan baik oleh tuhan." jawab Yesa mengulas senyum.


Hancur memang, tapi ia berusaha untuk mengumpulkan kepingan itu sendiri hingga kembali utuh, meskipun tak akan sama seperti semula, tapi setidaknya ia kembali bangkit untuk calon bayi yang ada dalam rahimnya.


"pergi jalan jalan yuk kak !" ajak Wina dan di anggukan oleh Yesa. Beruntung ia memiliki adik hingga ia memiliki teman.


"Mau pergi kemana ?" tanya Erlin saat kedua nya hendak keluar.

__ADS_1


"Main Bu, cari angin !" jawab Wina.


"kakak kamu enggak usah, di rumah saja istirahat !" balas Erlin membuat Yesa tertegun.


"Kenapa Bu ?" tanya Yesa menilik wajah Erlin yang terlihat sedih.


"Ibu enggak mau Kamu dengar omongan orang yang tidak mengenakan, jadi lebih baik di rumah saja ?"


"siapa yang ngomongin Yesa Bu?" tanya Yesa membuat Erlin bungkam.


*


"ya, di cerai kan karena selingkuh. udah gitu hamil lagi, berati berbuat zinah ya !" ucap salah seorang ibu yang tengah memilih sayur.


"Ya suka aneh, kurang apa ya suaminya? Seorang pemain sepak bola nasional, berprestasi dan tentunya banyak uang. Tapi ya gitu nama nya manusia kurang bersyukur ya seperti itu. udah ada yang halal tapi tergoda sama yang haram. Kamu tahu kan pak Rusli paham agama, tapi kelakuan anak nya minus !"


Erlin menitikkan air mata nya mengingat gunjingan mereka.


"Ibu malu ya punya anak seperti Yesa ?" tanya Yesa dan cepat Erlin menggeleng kan kepalanya.


"Mereka enggak tahu apa apa, jadi biarkan mereka menilai Yesa sesuka hati. Mereka juga bukan manusia suci, yang enggak pernah melakukan kesalahan. Lantas dengan mudah mereka membicarakan aib seseorang, tanpa sadar bahwa mereka juga tidak lebih baik dari Yesa. menilai orang lain itu mudah tapi menilai diri sendiri lupa. Yesa enggak tumbang karena mulut mereka Bu, Yesa yang merasa kan semua nya, apapun yang mereka katakan Yesa enggak peduli !"


"Ya tapi ibu sakit hati mendengar omongan mereka, kamu anak ibu." jawab Erlin lalu memeluk Yesa.


"Ibu sangat menyayangi kalian, ibu merasa hancur karena masalah ini, ibu sakit hati mendengar anak ibu jadi bahan omongan orang !"


"biarkan saja mereka, jangan di pikirkan. Enggak tahu aja kalau ngomongin kejelekan orang sama aja makan bangkai, udah gitu pahalanya transfer ke kita. Sabar aja !" ujar Wina memeluk keduanya.


"Semua akan berlalu dan lama kelamaan juga mereka bosan, tapi kalau lama juga enggak apa-apa. Habis kan pahala kebaikan nya karena ngomongin kita !" sambung Wina membuat Erlin mengusap pipi nya.


"ambil positifnya aja Bu, di jaman seperti sekarang ini kita harus menulikan telinga dari omongan ganas para netizen yang sok tahu. Biarkan saja mereka mau bicara apa ? Kita diam dan lihat saja sampai mana mereka puas. wajar sih mereka tahu karena kak arka kan banyak di kenal orang, jadi ceritanya banyak di cari apa lagi unggahan nya jelas banget lagi sakit hati !"


Ujar Wina panjang membuat Yesa mengulas senyum.


Adik nya ternyata pintar dan cukup dewasa menyikapi masalah.


"Bu, Yesa tinggal di rumah Mbah sama eyang aja di Jogja, gimana ?" tanya Yesa membuat Erlin tertegun mengingat kedua orangtuanya.


Bersambung......

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mendukung author 😍😍😍👍💪🙏


Lanjut malam ya, author nginem dulu 😅😅😅🤭👍🙏


__ADS_2