
Yesa mengusap perut nya yang sedikit buncit, kehamilan nya sudah mencapai empat bulan. Tentu ia juga mendengar kabar tentang rencana pernikahan Arka dan asila yang akan di gelar weekend yang akan datang di jakarta.
Namun Yesa tidak menghiraukan, ia fokus pada kehidupan nya sendiri.
Yesa tersenyum senang saat merasakan pergerakan janin nya untuk yang pertama kali, Hana memang mengatakan bahwa di usia empat bulan janin akan aktif bergerak.
"Kamu enggak usah cemas ya nak, Ada mommy yang akan menyayangi kamu sepenuh hati, biarpun mereka tidak mengakui kamu, namun kita di sini sangat menyayangi kamu. Mommy akan berusaha sekuat tenaga menjaga dan membesarkan kamu." gumam Yesa berusaha untuk tegar, hidup seperti ini lebih baik dari pada setiap hari makan hati, untuk apa terus bertahan jika kenyataannya ia tidak pernah berubah, jika memang benar sayang maka dia akan melakukan segala cara untuk membuat pasangan nya bahagia, tanpa meminta apa lagi mengemis. Yesa justru merasa tenang tanpa ikatan meskipun ada hal yang menjadi sisa dari puing kehancuran, namun keberadaan janin dalam rahim nya justru yang membuat Yesa kuat tanpa harus memeluk luka. Membiarkan semua berjalan apa adanya, meyakinkan diri bahwa semua yang terjadi sudah menjadi ketetapan, bukan kah tuhan sebaik baik perancang.
Yesa menoleh pada ponsel nya yang berdering terlihat Ezi melakukan panggilan telepon.
"Halo... assalamualaikum bang !" jawab Yesa setelah menggeser tombol hijau pada layar ponsel nya.
"Halo, walaikumsalam....gimana kabar kamu dek hari ini ?"
Tanya Ezi, ia baru saja pulang dari kantor.
Rasanya rindu dan ingin segera pulang, tak ingin membiarkan kekasih nya itu terlalu lama sendirian.
Pagi, siang,, sore hingga malam. Ezi tak henti menghubungi nya. tak pernah telat mengirimkan susu ibu hamil. Seperti seorang suami yang mengkhawatirkan keadaan istri nya yang tengah hamil.
"masih suka mual enggak? Abang baru pulang dari kantor. kamu sudah makan ?" tanya Ezi membuat Yesa tersenyum simpul.
Pria ini tak bosan menghubungi nya, menanyakan keadaan nya dan mengatakan bahwa ia ingin segera pulang.
"Kamu tuh enggak bosen telepon aku terus ?" tanya Yesa terkekeh kecil.
"enggak lah, Abang malah enggak pokus kalau belum dengar suara kamu. Oh ya usia berapa bulan membeli perlengkapan bayi, kemarin Abang lewat ke toko yang menjual perlengkapan bayi dan teringat kamu dek !"
balas Ezi membuat Yesa tertegun sejenak. Ezi sudah sejauh itu memikirkan anak nya.
"Kamu begitu peduli sama aku dan calon anak ku bang, ini kan bukan anak kamu !"
"Emang kenapa kalau bukan anak aku, lantas aku tidak boleh peduli ? Aku peduli dan sayang, apalagi dia tidak di akui. Abang serius Ca, nanti akan Abang buktikan setahun setelah ini. Abang akan pulang dulu ke Indonesia untuk jemput kamu !"
Yesa terkekeh kecil dengan manik berkaca kaca, tak ingin terlalu berharap karena ia sendiri tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Saat ini ia hanya memikirkan kelangsungan hidup nya, soal biaya ia tidak bingung karena memiliki tabungan yang cukup untuk kebutuhan ia dan anak nya nanti. Mungkin setelah bayi ini Lahir ia akan mencari pekerjaan untuk menghidupi mereka berdua. Bukan sibuk mencari pengganti, karena sejatinya seseorang yang tersemat dalam hati tidak akan mudah terganti. akan tetapi bukan itu yang menjadi alasan yesa, yang terpenting saat ini adalah darah daging nya. calon anak nya, maka seperti nasihat hawa bahwa ia harus menjadi ibu hamil yang bahagia.
__ADS_1
**
Dua pekan berlalu..
Akad dan resepsi pernikahan telah seminggu berlalu, kini keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Acara pesta juga di gelar meriah, hampir semua teman datang memberi dukungan dan selamat pada mereka.
namun ada yang mengganjal di benak Arka, Ia mendapati Asila yang sudah tidak perawan. Padahal ia tahu kalau Asila belum pernah menikah, lalu dengan siapa ia pertama melakukan hal itu.
"bang, kita berangkat sekarang ke Surabaya ?" tanya Asila yang masih menggunakan lingerie seksi.
"Dek, boleh enggak Abang tanya sesuatu ?" tanya arka memindai Asila yang langsung termangu.
"Apa bang ?" tanya asila duduk di hadapan arka.
"jangan marah ya dengan pertanyaan Abang ?"
Asila mengangguk.
"Setahu Abang kan kamu belum pernah menikah, jadi wajar kan kalau Abang tanya seperti itu !?"
"Emang itu penting ya bang untuk kamu, apa yang aku dapatkan juga bukan yang pertama."
jawab Asila membuat arka menghela nafas panjang.
"Ya kan kamu tahu kalau Abang duda!"
balas arka mengusap kepala Asila agar perempuan itu tidak marah.
"ya itu terjadi dengan mantan asila yang sudah meninggal, waktu itu kita berencana untuk menikah, tapi kecelakaan merenggut nyawa nya. Hubungan kita memang sudah jauh hingga ke tahap itu, asila pikir ia tidak akan meninggalkan?" jawab asila menundukkan kepalanya berpura pura sedih.
"oh seperti itu, maaf ya dek. Enggak apa-apa Abang terima kamu apa adanya, asal kamu enggak berlaku sama seperti Yesa. Memahami pekerjaan Abang seperti apa ?!"
balas Arka dan di anggukan oleh Asila.
__ADS_1
Asila berbohong pada arka, padahal pria yang sudah merenggut mahkota nya masih hidup namun pria itu pergi meninggalkan nya begitu saja setelah puas menikmati nya. Hingga saat ini asila tidak tahu dimana mantan kekasihnya itu berada.
Setelah itu keduanya berkemas untuk pergi ke Surabaya, sebelum nya arka sudah menyewa rumah yang akan mereka tempati selama tiga bulan ini. lanjut musim yang akan datang arka berencana untuk bertandang di Bali.
Arka juga bersyukur karena ia sudah tidak merasakan mual dan muntah lagi, namun beberapa kali bermimpi tentang anak laki laki yang berlarian sendiri. Tapi arka tidak terlalu memikirkan dan beranggapan bahwa itu hanya bunga tidur.
**
Erlin berencana untuk melihat keadaan Yesa di Jogja, kali ini Jesika ikut dengan mereka. Mumpung ia mendapatkan cuti dari bos nya.
Erlin juga mengetahui kabar pernikahan arka dan asila. Beberapa kali menghubungi Yesa karena khawatir Yesa kepikiran hal itu, namun Yesa menegaskan bahwa ia baik baik saja. Yesa juga mengatakan pada ibu nya untuk tidak mencemaskan keadaan nya.
"Kalau Jesika jadi Yesa belum tentu kuat, tapi memang harus kuat ya Bu. Pas lagi hamil tuh mau nya di manjakan, di perhatikan sama suami. Tapi keadaan begitu pahit." ujar Jesika berbincang di dalam mobil.
"Ya sebenarnya ibu juga setengah hati mengizinkan Yesa di Jogja, tapi dia yang mau. ibu khawatir dia kenapa kenapa. perempuan hamil kan sensitif." jawab Erlin.
sebentar lagi juga Ia akan menggelar acara pertunangan Wina dengan Akram. keluarga Akram ingin mereka segera menikah, Namun benak Erlin terus berfokus pada yesa hingga meminta acara pernikahan berlangsung setelah Yesa melahirkan.
Mobil melaju menuju kota Jogja, namun Rusli tidak ikut karena sedang banyak pekerjaan.
Ia tidak bisa meninggalkan kantor karena beberapa waktu sudah mengambil cuti, dan yang pergi hanya Erlin dan Jesika.
*
"Gimana rus, sudah beres perceraian anak mu dengan suami nya ?" tanya Anggito duduk di hadapan Rusli. Seperti biasa nya, kedua nya selalu ngopi bersama di jam makan siang.
"sudah, malah kemarin mantan suaminya sudah menikah lagi!"
Jawab Rusli yang juga mengetahui kabar tersebut.
Arka seorang sepakbola nasional, tentu nya kehidupan nya di sorot media. Bahkan kabar perceraian nya tempo lalu juga menjadi berita hangat. Namun Rusli tak mengindahkan, biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya saja.
"kebanyakan pria memang seperti itu, setelah bercerai mereka akan cepat mencari pengganti, berbeda dengan wanita. jika sudah punya anak maka mereka akan memikirkan kelangsungan hidup ia dan anak nya, bukan sibuk mencari pengganti !"
bersambung...
__ADS_1
terimakasih semoga terhibur ya membaca tulisan author yang remahan ini, tapi author butuh kan dukungan para reader. jangan lupa like serta komentar. 😍😍😍😍🙏