
Arka terus memperhatikan langkah Ezi yang membawa mantan istri nya, netra nya tertuju pada Yesa yang meringis kesakitan. Bukan kah baru kemarin ia hamil, dan sekarang sudah mau melahirkan. Bertambah lah keyakinan arka bahwa anak itu bukan lah anak nya. Apalagi Ezi sudah siaga menunggu Yesa. Mungkin benar keduanya bermain gila di belakang nya.
Membayangkan Yesa di ranjang bersama pria itu membuat Arka merasakan sensasi perih yang tidak terkira. Kebencian itu kian membuncah membuat nyeri.
"Kamu masih cinta sama Yesa?" tanya Asila dengan tatapan nanar.
Ia tidak suka melihat arka memperhatikan Yesa seperti itu.
Arka bungkam lalu pergi meninggalkan Asila, perempuan berambut panjang itu melebarkan matanya.
"Bang... Kamu tuh keterlaluan ya!" teriak Asila berjalan cepat mengejar Arka. Ia menghentikan langkah nya saat melihat mobil Ezi melaju pergi membawa Yesa.
"Kita langsung ke rumah sakit aja!" ujar Ezi pada Hawa yang mengemudi kan mobil nya.
"Ah sakit banget !" Rintih Yesa menggenggam tangan Ezi erat. Nafasnya tersengal menahan rasa mules yang begitu hebat.
beberapa kali Yesa mengambil nafas lalu membuang nya sesuai arahan dari Hawa.
"Kamu sabar ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Ujar Ezi berusaha untuk tenang meskipun sebenarnya ia juga panik.
Yesa tak menyangka jika Ia mengalami kontraksi di usia kandungan nya yang baru tujuh bulan. Dan rasanya begitu sakit luar biasa.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit, lekas Ezi keluar dari mobil dan meminta suster membawa brankar.
"Cepat sus, hum... istri saya mau melahirkan !"
Tak apalah, kelak Ezi memang akan menikahi Yesa.
Gegas suster membawa Yesa ke ruang persalinan, namun Ezi berhenti sampai di depan pintu dan meminta Hawa untuk menemani Yesa.
"Nanti Abang hubungi Ibu nya Yesa dulu !" Ujar Ezi dan di anggukan oleh Hawa.
Ezi menggambil tas Yesa yang berada di mobil nya lalu menghubungi Erlin.
"Assalamualaikum Bu, ini Ezi. Yesa sekarang di rumah sakit hendak melahirkan !" Ujar Ezi membuat Erlin terperangah.
"walaikumsalam...kamu tunggu ibu di sana!" jawab Erlin membuat Rusli dan Wina menoleh.
__ADS_1
"Yesa sekarang di rumah sakit hendak melahirkan, Ada Ezi dan Hawa di rumah sakit !" Ujar Erlin lalu beranjak dari duduknya.
"kita langsung ke rumah sakit aja Bu !" ujar Rusli lalu meminta pada Wina untuk menunggu di rumah, sebab ada beberapa orang dari WO tengah menghias rumah untuk acara besok malam.
"Ya sudah hati hati Bu !" Pesan Wina dan di angguk kan oleh Kedua nya.
dokter kandungan langsung memeriksa kondisi Yesa, lalu mengatakan kalau Yesa sudah pembukaan tujuh. Sebentar lagi akan melahirkan.
Ezi menunggu di depan ruang persalinan dengan tidak tenang, kalau mereka sudah menikah mungkin ia lah yang menemani Yesa di dalam ruangan, namun saat ini ia hanya bisa menunggu di depan pintu.
"Ah,, sakit sekali....!" rintih Yesa memegang tangan Hawa dengan erat.
"Kamu harus sabar dan kuat yes!" Ujar Hawa mencoba menenangkan Yesa.
Sementara Arka saat ini berdiam diri di kamar, menoleh ke arah Asila yang mengemas barangnya.
Asila benar benar kesal karena sikap arka yang masih memperdulikan Yesa.
Arka beranjak dari duduknya lalu menghampiri asila kemudian memeluk nya dari belakang.
"kamu harus bantu aku melupakan yes,, sil. Jangan pergi! Kamu harus tahu kalau aku membencinya, aku semakin yakin kalau itu bukan anak ku. Baru kemarin ia hamil dan sekarang sudah mau melahirkan !" cakap Arka membuat Asila menoleh ke arah arka.
"Aku cemburu kalau kamu seperti itu sama Yesa bang, hargai perasaan ku !" Ujar asila lalu mendekap erat tubuh Arka.
Arka memangku wajah sila lalu mencium bibir nya penuh hasrat, Asila menggiring Arka berjalan ke ranjang dengan bibir yang masih berpaut. Arka langsung merebahkan tubuh Asila lalu mencumbu nya penuh gairah.
Saat Yesa merasakan sakit tak terperih, Arka justru tengah menyelam lautan penuh cinta bersama Asila. Rasa bencinya pada Yesa hingga membuat arka melampiaskan hasratnya pada Asila.
Besar rasa bencinya sebanding dengan rasa cinta nya pada Yesa, hanya arka tidak sadar bahwa ia masih mencintai Yesa hingga rasa sakit itu semakin merajam hati nya, namun ia terlalu naif untuk menyadari hal itu hingga ia rasakan hanya lah kebencian terhadap Yesa.
Tak lama Erlin dan Rusli sampai di rumah sakit, tanpa bicara Erlin langsung masuk ke dalam ruang persalinan.
Sementara Rusli berdiri mematung di hadapan Ezi yang menunggu di depan pintu.
"Ah sakit sekali Bu !" Rintihan Yesa sembari meneteskan air mata nya.
"sabar ya sayang, setelah ini kamu akan lega !" ujar Erlin lalu menggenggam tangan Yesa.
__ADS_1
"Ah... Bu !" Rintih Yesa saat merasakan ketuban nya pecah.
dokter menghampiri lalu mengetakan Yesa sudah boleh mengejan saat rasa mulas kembali datang.
"Astaghfirullah..sakit Bu !" Ujar Yesa menggeleng kan kepala nya menahan sensasi nikmat yang luar biasa sakit nya.
"Ayo sayang kamu pasti bisa sayang!" Ujar Erlin menyemangati Yesa yang hendak mengejan.
Saat bersamaan Arka justru tengah merasakan nikmat nya bercinta dengan Asila. Memang tidak salah karena mereka sudah menikah, Namun berbanding dengan Yesa yang justru merasakan kesakitan karena melahirkan anak nya.
"Terimakasih sudah membawa Yesa ke rumah sakit !" Ujar Rusli dan di anggukan oleh Ezi. Saat ini lebih baik berdamai dengan keadaan.
Rusli percaya dengan kesungguhan pria yang berada di samping nya, Erlin juga banyak bercerita tentang Ezi sepulang dari Jogja.
Oa..Oa..
keduanya tersenyum saat mendengar suara tangis bayi dari dalam ruangan, Alhamdulillah Yesa sudah melahirkan.
Yesa menghela nafas panjang saat ia berhasil melahirkan bayi nya, netra nya berkaca kaca saat melihat sosok bayi mungil berada di atas dada nya dengan berlumur darah.
"Anak nya laki laki !"
Ujar Erlin ikut menitikkan air mata nya.
"Bintang nya mommy !" lirih Yesa lalu mencium bayi yang bergerak gerak di atas nya. Semua kesakitan itu lenyap melihat buah hati nya terlahir di dunia.
"Kita mandikan dulu ya, ayah nya boleh masuk untuk mengadzani !" ujar dokter membuat Yesa tertegun.
"Biar Kakek nya saja yang mengadzani dokter, biar nanti Saya bawa ke luar..." jawab Erlin lalu memeluk Yesa yang langsung menangis.
"Anak ibu hebat, kamu harus kuat sayang. Kita akan rawat dan besar kan bersama. kamu jangan cemas, ada Kakek yang akan menyayangi nya sepenuh hati." Ujar Erlin mengerti perasaan Yesa yang hancur karena arka.
"siapa nama nya Yes?" tanya hawa menghampiri.
"Bintang... Mahendra, seperti nama Belakang ku. Ayesha Mahendra. Rusli Mahendra !"
Bersambung.
__ADS_1
terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍😍