
Arka menghampiri Yesa yang meringkuk di ranjang sambil menutup seluruh tubuh hingga kepalanya.
"Maaf kalau Abang salah sa !"
Kalau?
Sebenarnya dia sadar enggak kalau dia sudah menyepelekan perasaan Yesa.
"jangan seperti ini yesa. Abang kan sudah minta maaf !"
entah tulus atau tidak permintaan maaf nya? Yesa lebih memilih diam karena berbicara pun percuma.
Selama ini juga ia tidak pernah menang jika berorasi dan ujung ujungnya ia yang mengalah. Saat ini lebih baik memejamkan mata hingga tertidur.
Arka naik ke ranjang lalu membuka sebagian selimut Yesa dan terlihat istrinya itu sudah tertidur.
Tidur selalu menjadi pelarian dan berharap saat bangun ia amnesia. Melupakan semua kekecewaan nya,
Meski pun pada kenyataan nya semua itu hanya harapan yang tidak pernah terjadi, ingatannya tidak bisa melupakan karena apa ia menangis.
Pagi...
Yesa bangun dan melihat Arka sudah tidak berada di ranjang. Tidak ada percakapan apapun selain membiarkan ia mendekap nya dalam tidur.
Beberapa hari lagi ia akan tidur sendiri, melewati malam yang sunyi tanpa kehadiran nya.
Yesa mengigit bibirnya mengingat Arka yang lebih memilih hobinya ketimbang berada di samping nya ?
Sedangkan ia tidak ingin jauh dari arka. dalam hati tak dapat mengingkari bahwa Ia teramat mencintai arka, namun hal itu justru membuat nya terluka.
"Sayang, kamu sudah bangun ?"
Ujar arka menyembul masuk membawa satu nampan berisi bubur ayam yang ia beli di depan gang rumah mereka.
"Abang enggak bangunin karena katanya kamu lagi datang bulan !"
Tambah Arka membuat Yesa tertegun.
"Abang beli bubur untuk kita sarapan. nanti Abang antar ke tempat kerja kamu ya !"
Sambung Arka dan Yesa belum juga bersuara.
"Kamu masih marah sama Abang?"
Tanya Arka memangku wajah Yesa, dan bulir bening itu meluncur dengan bebas.
Yesa tidak mau LDR dengan arka, ia ingin arka berada bersama nya tanpa jarak yang memisahkan.
"Maafkan Abang ya !"
Ucap arka lalu memeluk istrinya itu.
sebenarnya bukan hanya masalah kemarin yang membuat nya sedih tapi juga rencana Arka. Yesa tidak berani meminta atau mengutarakan keinginan nya. sebab hal itu hanya akan memperkeruh keadaan mereka.
__ADS_1
Yesa pergi mandi lalu sarapan bersama arka kemudian bersiap pergi ke tempat kerja.
Arka sudah menunggu sambil mengelap mobil nya. Tadi sebelum mandi arka memberi tahu tentang hasil uang pesangon yang ia dapatkan dari tempat kerja nya. Arka mengatakan bahwa uang itu akan ia tabung untuk masa depan mereka, sebagian sudah arka transfer ke ATM Yesa.
"Sudah siap berangkat ?"
Tanya arka melihat Yesa berjalan kearah nya.
Cantik dengan dress kotak kotak berwarna navy dan pasmina berwarna merah muda.
Yesa mengangguk lalu masuk ke dalam mobil setelah Arka membuka pintu untuk nya.
Saat baik, maka ia akan begitu baik dan memperlakukan mu bak putri.
Tapi jika sudah jengah, Maka ia akan memperlakukan Yesa seperti tidak memiliki arti apa pun di hidup nya.
Arka seperti itu, tapi kenapa Yesa betah bersama arka ? apa yang membuat ia bertahan ?
Cinta kah ? atau memang sudah tidak ada pilihan ?
"Nanti sore Abang jemput ya, Abang mau ajak kamu ke rumah ibu untuk pamit sebelum pergi ke malang !"
Ujar Arka membuka obrolan.
Sebenarnya malas bertemu dengan ibu arka. Dimana mana ibu akan selalu memihak pada anak nya, seperti ibu nya arka.
Ia mengizinkan Arka berhenti kerja dan mendukung arka menjadi pemain sepakbola. Begitu juga dengan ayah nya yang sama sama penggemar bola, Ia tidak keberatan kalau Arka tinggal di Malang demi karir dan hobi nya.
"Kamu pulang jam berapa ?"
"jam empat bang. kalau kamu enggak bisa jemput, Yesa minta beritahu lebih awal agar Yesa tidak menunggu kamu !"
jawab Yesa lalu meraih tangan Ibra untuk mencium nya.
Sebenarnya malas dan setan terus berbisik untuk melengos pergi. Jujur saja Yesa masih kesal, namun sekuat tenaga ia mengesampingkan ego nya.
Ternyata tidak mudah menjadi istri yang baik dan patuh. Apalagi saat Ego meninggi, namun sebisa mungkin Yesa mengalah dan tetap bersikap hormat pada arka.
"Yesa kerja dulu !"
Pamit Yesa tersenyum dengan getir mengingat keadaan hati nya yang tidak baik-baik saja.
Benarkah ia harus seperti mereka yang mendukung suaminya dalam berkarier? dan salah kah ia yang tidak mau jauh dari arka?
"ya sudah hati hati ya, nanti Abang hubungi kamu lagi !"
Yesa mengangguk lalu keluar dari mobil.
Mobil langsung meninggalkan Yesa yang berdiri di depan kantor tersebut, Rasa nya ingin sekali mengatakan pada arka. "jangan pergi !"
Yesa menghela nafas panjang lalu menyeka air matanya berjalan masuk kedalam kantor.
"Assalamualaikum, selamat pagi !"
__ADS_1
sapa Yesa tertegun melihat seorang pria yang tidak asing lagi bagi nya.
Kenapa pria itu berada di kantor ini ?
"walaikumsalam... Nona Yesa Adelia !"
Jawab Ezi mengulas senyum ke arah Yesa yang mematung.
Yesa tidak tahu kalau kantor pemasaran itu milik perusahaan keluarga Ezi.
Sebenarnya Ezi menahan diri untuk muncul di hadapan Yesa, namun hati nya memaksa untuk segera menemui mantan kekasihnya itu.
"Jadi perusahaan property ini milik kamu bang ?"
Tanya Yesa setelah Ezi menjelaskan kenapa ia berada di kantor itu.
"Bukan milik Abang, tapi milik orang tua. Abang enggak punya apa-apa hanya meneruskan usaha mereka !"
Jawab Ezi lalu menjelaskan kenapa dulu ia menghilang begitu saja dari Yesa.
Ezi tahu kalau ia salah, namun saat itu perusahaan sangat membutuhkan nya hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain pergi tanpa berpamitan karena keadaan begitu mendesak, sebab sang kakak mengalami kecelakaan.
"Ya udah bang, enggak usah bahas masa lalu lagi. semua sudah berlalu dan Yesa juga sekarang sudah menikah !"
jawab Yesa tidak ingin mengingat lagi kisah mereka yang telah usang.
"apa kamu bahagia dengan suami kamu?"
Tanya Ezi memindai wajah Yesa yang terlihat sendu.
"Bahagia itu kita yang menciptakan, kalau kita banyak bersyukur pasti bahagia !"
Yesa tidak mungkin bercerita pada Ezi tentang kehidupan rumah tangga nya dengan Arka, meskipun sebenarnya ia tidak bahagia.
Yesa masih berharap kalau Arka berubah hingga ia tidak harus mendambakan kasih sayang dari pria lain.
Yesa meminta Ezi untuk tidak membahas lagi tentang hubungan mereka. Percakapan usai dan Yesa fokus pada pekerjaan nya.
Sementara itu Ezi penasaran dengan mantan kekasih nya itu, Ia merasa bahwa Ada sesuatu yang Yesa sembunyikan dari nya. Ezi tahu kalau Yesa tidak akan bercerita, namun Ezi yakin kalau kelak ia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi, di balik wajah sendu yang selalu nampak pada Yesa.
"Maaf dek Abang enggak jemput ya. tadi teman teman team sepakbola ngajak ketemu sebelum Abang pergi ke malang. kita ke rumah ibu malam aja, kamu pulang aja naik ojol ya sayang !"
Yesa menghela nafas berat membaca pesan singkat dari Arka.
Ia sudah menduga nya, itulah kenapa ia tidak mau berharap? Karena pada akhirnya ia akan memilih teman teman nya di banding dengan istri nya.
*
*
**
bersambung...
__ADS_1
terima kasih sudah mampir 😍😍😍
jangan lupa like dan komentar nya ya, Author sangat butuh dukungan nya 🙏🙏😍😍😍