
Yesa tertegun membaca pesan dari Arka, Rusli meminta Yesa untuk memblokir nomor arka agar ia tidak menghubungi Yesa lagi.
Cinta? Cinta seperti apa yang dia miliki? Rasa sakit yang bagaimana yang ia rasakan setelah hampir membunuh nya.
Tidak ada yang tahu bagaimana senja itu arka bersikap, mencekik serta mendorong nya ke sofa. Yesa simpan semua kesakitan itu sendiri, Lalu bagian mana yang arka bilang begitu sakit? Sedangkan ia tidak pernah tahu mengapa Yesa sampai begitu ?
"Sudah Yesa, jangan menangis lagi ?" pinta Rusli duduk di hadapan putri nya.
"mungkin baik nya dia tahu seperti apa bintang, biar dia lihat wajah anak nya !" ujar Erlin.
"enggak Bu, Yesa enggak mau. Yesa takut arka ambil bintang. Yesa enggak perduli apapun komentar orang. Yesa enggak mau arka tahu tentang bintang !"
Jawab Yesa lalu Rusli kembali memeluk nya.
"Sudah ya. Sebenarnya Ayah bisa saja membawa kasus ini ke dalam hukum dan membuktikan kalau bintang anak nya, Kita bisa tes DNA. tapi untuk apa ? Toh kalian sudah berpisah, dia juga sudah menikah. Jangan anggap ucapan nya." Cakap Rusli dan di angguk kan oleh Yesa.
Setia itu bukan hanya bertahan dengan satu pasangan, namun ada di saat dimana pasangan membutuhkan, saling mengerti juga memahami, bukan mengedepankan kepentingan sendiri.
"Selama ini aku sudah berusaha sesabar yang aku bisa, memahami tanpa meminta untuk di mengerti. Namun lama kelamaan aku juga lelah, jiwa ku meringis pedih saat kau semakin tidak peduli. Aku yang rapuh dan butuh akan dirimu, namun kau tak kunjung mengerti !"
Gumam Yesa sembari menatap wajah tampan bintang.
Yesa tidak akan membiarkan Arka melihat bintang, Ia akan menganggap bahwa bintang memang tidak memiliki ayah. Sebab saat belum berbentuk pun ia tidak di akui, lantas untuk apa menganggap arka ada.
**
Arka kembali ke rumah larut malam, Ia mendatangi Endru di kosan nya. Mereka ngobrol banyak hingga arka bisa melupakan kesedihannya karena Yesa.
Ia sendiri tidak berbicara mengenai Yesa, Arka lebih memfokuskan perhatian nya pada pertandingan liga yang akan datang.
"Kamu baru pulang bang ?" Tanya asila saat arka menyembul masuk.
"Tadi ayah telepon tanyain Kamu, kenapa sih nomor nya enggak di aktifkan ?" Tanya lagi asila menghampiri Arka.
"baterai nya habis !" jawab arka lalu duduk bersama Asila.
"Ya sudah kalau gitu, Asila ngantuk bang !" Ujar asila beranjak dari sofa lalu naik ke ranjang.
Arka termenung sendirian, Asila memang langsung memejamkan mata nya.
Pernikahan nya dengan asila baru berjalan tiga bulan ini, Tapi kenapa ia masih saja meratapi Yesa dan menjadi kan asila sebagai pelarian saja. tak seharusnya itu terjadi karena rasa sakit nya terhadap Yesa hingga ia mengabaikan keberadaan Asila. Sudah cukup rasanya meratapi semua itu. Lebih baik fokus dengan kehidupan nya yang sekarang, dan melupakan mantan istri nya itu.
__ADS_1
Arka masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian, setelah itu naik ke ranjang lalu masuk ke dalam selimut bersama Asila.
"Ajari aku untuk mencintai mu Asila, ajari aku melupakan nya !" batin arka menatap wajah asila yang sudah terlelap.
**
Esok....
Ezi menghampiri sang ayah di meja makan, kondisi kesehatan nya sudah pulih namun belum kuat untuk pergi ke kantor.
"Pagi yah...!" Sapa Ezi duduk di hadapan Anggito.
"Pagi..." jawab Anggito lirih.
"gimana yah, Ezi balik ke Swiss atau mengambil cuti !?" Tanya Ezi membuat Anggito tertegun.
"Apa yang kamu mau Zi !?" Tanya balik Anggito membuat Ezi terkekeh.
"Ezi mau balik ke Swiss tapi setelah menikah, hum... maksud nya setelah kita menikah. Ezi sudah menemukan calon yang pas untuk ayah, dan Ezi akan kembali setelah menikah. Ezi akan membawa istri Ezi ke Swiss, ayah juga menikah agar punya teman ngobrol!"
"Menikah dengan siapa kamu ini macam macam saja. Mana calon kamu ayah mau lihat !"
sergah Anggito sedikit kesal pada putranya Itu. Mudah sekali Ezi bicara.
"Janda ? Enggak salah ?!"
Ezi menggeleng kan kepalanya membuat Anggito kembali merasakan pusing.
"Ayah kenal kan kamu dengan wanita yang masih gadis, tapi kamu malah mau sama janda. Sudah punya anak lagi, apa istimewanya ? Kamu tuh masih bujangan loh !"
Sanggah Anggito menggeleng kan kepala nya.
"Ya kalau janda memang nya kenapa ? Apa salahnya menikah dengan seorang janda. Pokoknya Ezi akan tetap menikah dengan pilihan Ezi." jawab Ezi lalu pergi setelah mencium tangan Anggito. dan sang ayah hanya mampu menghela nafas panjang.
lekas ia menghubungi sahabat nya untuk bercerita sambil ngopi, Jika dalam keadaan seperti ini Anggito selalu meminta Rusli menemani nya sarapan.
"Aku butuh teman ngopi !" Pesan Anggito pada Rusli.
Yesa mengerucutkan kening nya saat melihat sang ayah tersenyum sembari membaca pesan.
"Ayah kayak orang lagi jatuh cinta, baca pesan sambil senyum-senyum." Ujar Yesa membuat Rusli tersenyum.
__ADS_1
"Kamu bisa saja !" jawab Rusli lalu menghampiri istri nya.
"Sebentar ya ngopi dulu sama Anggito !" Ujar Rusli dan di anggukan oleh Erlin.
"Ya sudah nanti ayah kembali saat jemput kamu ya."
"hum, kata nya bang Ezi yang mau jemput pulang !" jawab Yesa.
"Ya sudah ini kan weekend, ayah nanti langsung pulang ke rumah saja ya Bu !" Erlin mengangguk lalu Rusli pergi setelah mencium pucuk kepala sang ibu.
Yesa mengulas senyum melihat kemesraan mereka, hingga tua keduanya mampu bertahan dalam biduk rumah tangga. dan Yesa ingin seperti mereka, sang ayah juga memiliki hobi dan teman. tapi sang ibu tetap menjadi prioritas utama.
"Apa ibu sama ayah enggak pernah berantem ?" tanya Yesa membuat Erlin menoleh.
"pernah, tapi enggak kuat lama lama diam. Akhirnya ayah selalu mengalah dan memeluk ibu sambil meminta maaf." jawab Erlin mengulas senyum.
"Ayah mu sangat sabar dan sayang dengan kita semua. Ibu merasa beruntung karena memiliki suami seperti ayah mu. Semoga kelak kamu menemukan seorang suami seperti ayah!" Sambung Erlin lalu merengkuh tubuh Yesa.
nanti malam acara pertunangan Wina dan Akram akan berlangsung. Erlin merasa lega karena siang ini Yesa sudah bisa pulang ke rumah membawa bintang.
"Assalamualaikum..!" Yesa dan Erlin langsung menoleh pada Ezi yang menyembul masuk.
"walaikumsalam... !"
jawab Erlin dan Yesa.
"pulang jam berapa ?" tanya Ezi sambil menyodorkan beberapa bungkusan yang berisi makanan untuk Erlin dan Yesa.
"Siang, tunggu dokter anak dulu. Mau periksa bintang bang !"
Ezi mengangguk lalu mengamati wajah Yesa yang sembab.
"kamu kenapa ?" Tanya Ezi membuat Yesa menoleh pada Erlin.
Erlin memperhatikan keduanya, ia berharap kalau Ezi kelak bisa menjadi suami yang baik dan siaga untuk putri nya.
***
Bersambung.
Terimakasih sudah mampir dan setia.
__ADS_1
jangan lupa like dan komentar.😍😍😍