
Asila menghampiri arka yang duduk sendiri di lapangan, waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Arka tak bergeming menatap gawang, ingin sekali mengingkari kenyataan bahwa ia mencintai Yesa. Namun nama itu tersemat dalam kalbu, tetapi hati nya sakit karena pengkhianatan.
Arka menoleh pada Asila yang duduk di samping nya sambil membawa bola.
"kamu jangan sedih ya bang, percaya aja kalau pengkhianat enggak akan pernah bahagia." ujar Asila lalu beranjak dari duduknya membawa bola ke gawang.
"Ayo main, Jangan mikirin seseorang yang enggak mikirin kamu. mungkin aja dia lagi sama cowok itu !" tambah asila membuat Arka terkekeh kecil.
Arka menolak untuk beranjak dari duduknya, ia malah merebahkan tubuhnya di lapangan sambil menatap langit yang gelap tanpa bintang.
*
"sayang kamu Pulang sama siapa tadi ?"
"Sama mantan...!"
*
Arka memejamkan mata nya mengingat percakapan dengan Yesa saat setelah pulang reuni, mungkin mereka bertemu saat Reuni. Arka tahu kalau Ezi adalah mantan Yesa.
Ternyata apa yang di ucapkan oleh Yesa bukan main main, Dan arka tidak menduga kalau semua yang nampak hanya pura-pura.
"Aku juga butuh perhatian kamu bang, tapi kenyataannya aku sering kamu abaikan. kamu selalu mengutamakan hobi dan hobi. Aku merasa seperti tidak berarti."
Arka menghela nafas panjang lalu kembali memejamkan mata nya dan yang terbayang adalah wajah cantik Yesa yang tengah merengek manja.
"kalau Abang cinta sama Yesa, kenapa Abang ceraikan ?" Tanya asila kembali duduk di samping Arka.
"Sakit hati, sakit sekali sil.... Mana bisa Abang menerima dia yang hamil anak pria lain." arka tetap menyangkal bahwa itu adalah anak nya.
Arka beranjak dari rebahan nya lalu duduk bersandar pada Asila.
"kamu sabar ya bang. Ada aku disini yang siap temani kamu !" Ujar Asila lalu memeluk arka.
"Kenapa kamu tidak seperti asila, dia ngerti keinginan aku ? dia dukung hobi dan karier ku ? kenapa?" gumam arka mengeluh dalam hati.
"Kita pulang udah malam, kita cari makan yuk !" ajak asila lalu beranjak dari lapangan itu.
Jauh dalam lubuk hati tak ingin berpisah, namun rasa sakit membuat emosi berkobar hingga membuat gelap. Apalagi mendapati istrinya hamil ? Sedangkan ia merasa bahwa tidak pernah meninggalkan pengaman. Sementara yang terjadi ia melupakan kebiasaan nya itu.
Dan talak tiga sudah jatuh dan tidak akan bisa di tarik lagi, mereka tidak akan bisa rujuk.
"Bang kamu masih cinta sama Yesa ?" tanya Asila membuat arka menoleh.
"Cepat atau lambat akan terkikis seiring berjalannya waktu. Abang cinta juga percuma, kenyataan nya dia enggak cinta sama Abang. Bertahan bukan pilihan dan mungkin lebih tepat berpisah. Abang enggak bisa hidup dengan perempuan yang tidak memahami Abang !" Jawab Arka senyum menoleh ke arah Asila. Lalu mobil menepi ke pedagang pecel ayam, kedua nya turun untuk makan.
__ADS_1
Bukan tidak memahami, Tapi lebih tepatnya sudah lelah karena selalu terabaikan.
***
Yesa sendiri biasa menjalani keseharian nya, Ia membantu sang ibu membuat kue. Kemarin teman teman nya datang dan makan bersama di rumah itu.
Ia sudah terbiasa hidup sendiri saat arka pergi ke malang, jadi bukan hal yang aneh ia menjalani keseharian nya tanpa arka.
Tanpa sadar Arka sendiri yang sudah melatih nya untuk terbiasa tanpa nya.
"Kapan mau periksa ke bidan? Nanti ibu antar yes !?" Tanya sang ibu yang tengah membuat kue lapis legit.
"Minggu depan Bu...!" jawab Yesa.
tok.. tok..
"Assalamualaikum...!" sapa seseorang dari balik pintu entah siapa.
"walaikumsalam.....coba lihat Yes, siapa ?" ujar sang ibu dan di anggukan oleh Yesa, lekas ia menghampiri pintu.
"Ada apa ya mas?" tanya Yesa membuka pintu lalu menilik pria menggunakan seragam PNS.
"Ini Bu saya mengantar kan surat gugatan cerai dari pengadilan agama !" jawab pria itu membuat yesa tertegun.
"oh ya, terimakasih !"
Yesa mengangguk lalu menutup pintu setelah pria itu pergi.
Erlin menghampiri Yesa yang tengah melihat sebuah kertas.
"Surat apa ?" tanya Erlin.
"Gugatan cerai !" jawab Yesa tersenyum getir lalu membuang nafas.
"datang saja nanti, dan bilang kalau kamu lagi hamil. Ibu yakin perceraian kalian akan di tunda sampai kamu melahirkan ?"
Ucap Erlin menatap wajah Yesa yang langsung pucat.
"untuk apa ? Tak perlu menunda waktu, datang ke pengadilan hanya akan membuat malu sendiri. Yesa yakin Arka akan membeberkan tentang Yesa yang hamil bukan anak nya. dia akan tetap menyangkal, jadi Yesa pikir lebih baik tidak usah menghadiri sidang agar proses perceraian nya cepat selesai." jawab Yesa menarik nafas lalu membiarkan kertas itu tergeletak di meja.
"Kamu yang harus menguatkan Mommy, kamu tidak usah risau karena mommy akan menjaga dan membesarkan kamu dengan segenap hati. Dan mommy yakin bahwa tuhan tahu darah siapa yang mengalir dalam tubuh mu. Maaf kan mommy yang cengeng, kelak Kamu yang harus jaga mommy." ujar Yesa memegang perut nya yang masih rata kemudian menghapus air mata nya.
"kuat Yesa, tunjukan pada arka bahwa hidup mu jauh lebih baik berpisah dari nya !"
Batin Yesa lalu mengambil ponselnya.
drrt...
__ADS_1
Drtt...
🎶Jiwa ku tak pernah merasa, bahwa kau jauh di sisiku. Apapun yang kita jalani karena cinta.🎶
Yesa tertegun mendengar potongan lagu yang menjadi nada dering panggilan telepon nya. Terlihat Ezi menghubungi nya.
Pagi, siang, sore dan malam. tak henti Ezi menghubungi nya.
"Halo, kamu lagi ngapain ?" tanya Ezi saat Yesa mengangkat telepon nya.
"Hum, abis bantu ibu bikin kue !" jawab Yesa lirih.
"Kamu kenapa? Jangan nangis, Abang kan jauh dek.!" jawab Ezi.
"enggak kok, siapa yang nangis !" Yesa menyangkal.
"Abang tahu kok meskipun jauh, dan Abang bisa menebak dari suara kamu. sabar ya, kamu tunggu Abang pulang !" Yesa senyum lalu menghela nafas.
kalau dulu ada kabar seperti sekarang, mungkin ia tidak akan menerima pria lain. Namun semua sudah menjadi skenario dari tuhan, dan saat ini ia hanya di tuntut untuk sabar dan kuat menjalani kehidupan sendiri.
Seperti rencana sebelum nya, Ezi tetap melanjutkan S2 nya di Swiss. Seperti yang di katakan Rusli bahwa keadaan itu lebih baik sebab Yesa juga harus menyelesaikan permasalah nya dengan arka.
"Masih ada enggak susu nya ? Kalau perlu sesuatu bilang nanti Abang kirimkan !"
Yesa kembali tersenyum, Ezi begitu perhatian. Lantas apa yang harus ia ratapi ? perhatian nya yang membuat Yesa kuat dan tidak ingin mengingat arka. Biarkan saja, Yesa yakin bahwa tuhan akan menunjukkan kebenaran Nya. sekarang ia hanya perlu sabar saja.
**
Rusli tertegun menatap cangkir kopi yang sudah tandas, seorang teman menghampiri sambil menepuk pundak nya.
"kenapa mukanya kusut seperti itu ?" tanya Anggito membuat Rusli mengulum senyum.
"Anak ku bercerai dengan suaminya, memang kesalahan ada pada Anak ku, dia selingkuh. Dan sekarang hamil, tapi bukan hasil dengan selingkuhannya."
"lalu ?" tanya Anggito menuggu Rusli melanjutkan bicara nya.
"Suami nya tidak mengakui anak itu, karena Yesa selingkuh dan berpikir bahwa anak itu hasil perselingkuhan, tapi Yesa bilang bahwa ia tidak sejauh itu. Aku iba pada Yesa karena anak nya tidak di akui, selain itu ia juga jadi bahan omongan orang."
Sambung Rusli. Yesa tidak tahu kalau tetangga mengetahui permasalahan nya hingga menjadikan nya bahan gunjingan.
Erlin sendiri tidak mengizinkan Yesa keluar dari rumah karena khawatir ada omongan orang yang tidak mengenakkan.
"Sabarlah... semua akan berlalu dan lihat saja nanti anak nya mirip siapa !" jawab Anggito menepuk pundak sahabat nya itu.
Bersambung...
Terima kasih yang masih setia.😍😍
__ADS_1
semoga usaha tidak mengkhianati hasil 💪💪💪💪