
Ezi langsung mengajak Yesa ke dalam kamar nya, Yesa menghentikan langkahnya saat sampai di ambang pintu. Kamar tersebut begitu besar, mungkin dua kali lipat dengan kamarnya. terlihat ranjang yang besar dengan sprei berwarna biru salur putih. Kamar itu terlihat rapih dengan properti mewah nya, bercat warna putih terang.
"Ayo sayang masuk." Ajak Ezi meraih tangan Yesa untuk melangkah masuk.
"Kenapa kayak yang sungkan gitu, sekarang kamu tuh istri Abang !" Ujar Ezi mengajak yesa duduk di sofa dekat ranjang.
Yesa hanya mengulas senyum lalu netra nya menoleh ke arah jendela besar yang menampakkan kolam renang dengan air yang jernih.
"Mau berenang ?" Tanya Ezi lalu memeluk Yesa dari belakang dan membuat tubuh Yesa bersandar pada nya.
"Enggak ah bang, malu nanti ada tukang kebun masuk !" jawab Yesa membuat Ezi terkekeh.
"Ya, enggak lah. Mereka tidak di perbolehkan masuk jika tidak ada Izin atau Perintah. Ada pakaian renang Alma. Mau enggak ?"
Yesa menoleh ke arah Ezi, ingin menolak tapi sepertinya Ezi berharap. Mungkin maksud Ibu meminta bintang untuk tidak ikut agar Ia dan Ezi bisa berduaan.
Yesa pahami maksud sang ibu, hingga ia pun mengangguk kan kepala nya menyetujui ajakan Ezi untuk pergi berenang.
"Ya sudah, Abang ke kamar Alma dulu ya sayang !" Yesa mengangguk dan membiarkan Ezi beranjak dari duduknya.
Suaminya itu pergi keluar dari kamar untuk meminjam pakaian renang pada Alma.
Yesa memperhatikan ke sekeliling kamar itu, Ezi memang menyukai warna terang, tak aneh jika semua barang nya berwarna cerah.
Tak begitu lama, Ezi kembali. Terdengar suara Alma yang tengah berada di dapur. Seperti nya ia baru keluar dari kamar nya.
"Ini sayang, Ganti dulu pakaian nya !" Ujar Ezi menyodorkan pakaian renang muslim pada istri nya itu.
Yesa mengulas senyum lalu mengambil pakaian tersebut, lekas Yesa masuk ke ruang ganti bersama Ezi.
***
Asila duduk termenung di kursi roda, Arka benar benar tidak memperdulikan nya. Ia yakin kalau arka tahu hari ini ia akan pulang dari rumah sakit.
Asila sadari kesalahan nya, tapi apa tidak ada sedikit saja simpati nya. Mereka juga belum resmi bercerai, dan tentunya ia masih berstatus sebagai istri nya. Harus nya Arka peduli tapi kenyataannya ia seperti orang amnesia.
__ADS_1
"Sudahlah asila jangan memikirkan apapun tentang arka, Ayah pasti memihak mu."
jawab Zidan. Ia merasa sakit hati karena arka mengabaikan Asila. Padahal mereka belum resmi berpisah, dan asila masih menjadi tanggung jawab nya sebagai suami.
Zidan terdiam mengingat percakapan nya dengan arka terakhir kali nya. Zidan menawarkan solusi atas permasalahan yang terjadi dengan mereka.
Zidan akan berhenti menjadi manager arka jika Ia bercerai dengan Asila, Zidan juga tidak akan mempromosikan Arka ke team yang lain nya.
Namum arka menjawab bahwa ia tidak peduli karena bagi arka kesalahan asila sangat patal dan membuat luka hati nya kembali menganga.
Saat itu juga Arka dan Zidan memutuskan kerja sama, namun Arka tetap bersedia memberikan kesaksian perihal kesalahan Aldrik.
"Asila kira arka akan memaafkan asila yah, tapi ternyata tidak. Mungkin itu karena ia tidak mencintai asila yah." ujarnya membuat Zidan tertegun.
Seperti nya memang begitu, Arka masih selalu mencari tahu tentang Yesa. apalagi Anak itu begitu mirip dengan arka, tentu hal itu membuat arka penasaran, namun semua percuma karena Yesa juga sudah menikah dengan selingkuhannya itu. Kalau pun itu anak nya, Zidan yakin arka tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu, sebab sebelumnya juga arka sudah membuangnya.
"Sudah, jangan memikirkan Arka." Ucap Zidan lalu mendorong kursi roda ke dekat ranjang.
"Beristirahatlah..." Titah nya lalu membantu asila naik ke ranjang.
*
Namun pikiran arka terus tertuju pada bintang, Ia terus memikirkan anak itu dan ingin sekali bertemu jika ia pulang ke jakarta. Tapi apa mungkin sedangkan saat ini ia dan Yesa seperti musuh.
"Ar, setelah ini rencananya apa ? Lo beneran mau cuti ?"
"Ya, gue harus urus masalah gue dulu !"
"Ya, Ar Lo harus tetap semangat ya !" ujar coach memberikan semangat untuk arka.
**
Sementara Yesa dan Ezi kini tengah berada di dapur. Mereka sudah selesai berenang sejak tadi dan kini tengah membuat makan siang berdua.
"Kamu enggak suka udang bang ?" tanya Yesa yang tengah mengolah daging menjadi steak.
__ADS_1
"Bukan enggak suka, cuma enggak terlalu berselera..."
"kalau aku yang masak gimana ?" tanya Yesa membalikkan tubuhnya menghadap Ezi yang berada di belakang nya. Pria itu tersenyum menatap wajah cantik istri nya yang menggoda.
Cup..
Satu ciuman mendarat di pipi Yesa. Perempuan cantik itu langsung termangu dengan wajah merona.
"Kamu tuh bang, kalau ada Alma gimana ?"
Ujar Yesa membalikkan tubuhnya kembali menghadap wajan dan spatula.
"Abis nya kamu gemesin !" jawab Ezi kembali memeluk istrinya itu.
Singkat cerita..
Malam itu mereka tengah bersiap untuk pergi melamar ibu Arum. Yesa sudah memberi tahu Sang ibu tentang itu, dan Erlin mengatakan pada mereka untuk menginap saja dan membiarkan Bintang bersama nya.
Erlin ingin mereka menikmati masa berdua setelah menikah, sementara biarkan bintang bersama nya.
Saat itu pula arka tengah berada di pertandingan melawan team Surabaya, seperti keinginan nya, ia ingin memberikan yang terbaik untuk laga terakhir nya di team itu. Tak sadar jika seseorang sejak tadi mengintainya, ia tidak menyukai arka dan ingin arka tidak pernah muncul lagi di dunia persepakbolaan Indonesia. Tentu ia akan membuat pelajaran agar arka beristirahat lama dari sepak bola.
Dan seseorang ikut andil dalam hal itu, gegas Ia mencari peluang untuk menyerang arka. Netra nya terus memindai gelandang tampan itu.
lekas Ia berlari menghampiri arka lalu menyerang kaki nya yang dulu sempat cedera. Arka terkesiap saat salah satu lawan nya tiba tiba menyeleding nya, bukan hanya itu saat ia terjatuh pria itu menginjak kakinya dengan keras. Pria itu juga menyikut punggungnya hingga arka terhantam ke depan.
"Ah.....!" kaki nya yang dulu cedera kini kembali sakit dengan rasa perih yang lebih parah.
Saat itu pula Pluit dari wasit menghentikan permainan lalu team keselamatan menghampiri arka. beberapa teman membela arka, bahkan mereka hendak berkelahi jika team keamanan tidak menghampiri. Saat itu pula arka langsung pingsan karena tidak kuasa menahan kesakitan, mobile ambulan langsung membawa arka ke rumah sakit terdekat untuk penanganan. suasana riuh stadion itu dapat terkendali saat beberapa team keamanan turun ke lapangan.
Seseorang tersenyum dari kejauhan lalu pergi meninggalkan lapangan, sedangkan pria itu hanya mendapatkan kartu merah dari wasit.
Bersambung...
Happy reading..
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir 😍😍