Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
semakin curiga.


__ADS_3

Pagi itu Arka mengantar Yesa ke kantor nya, pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya karena Asila terus mengirim kan pesan pada nya.


"Abang langsung ke lapangan ya, kamu nanti nonton kan ke stadion bareng Andin dan teman teman Abang?"


Ujar Arka membuat Yesa tertegun sejenak.


"ya bang, nanti Yesa pergi sama teman kantor deh." jawab Yesa sambil berpikir apakah Ezi mau di ajak nonton bola?


"ya sudah kalau begitu...!" jawab arka, lalu tak lama mobil sampai di depan kantor tersebut.


"Yesa keluar ya !"


pamit Yesa dan di anggukan oleh Arka. "hati hati ya...!?"


Ujar arka membuat Yesa tersenyum.


Yesa melangkah menjauh dari mobil, dan seseorang tengah memperhatikan nya dari dalam.


mobil langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"selamat pagi...!"


Ujar Yesa pada Ezi yang duduk di sofa depan meja nya.


Yesa tertegun melihat wajah Ezi dengan tatapan sayu nya. Jujur saja Ezi cemburu melihat yesa dengan arka. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Yesa masih ingin bertahan dengan arka.


"Yesa bawa sarapan untuk kamu bang...!" ujar Yesa duduk di hadapan Ezi.


"hum, kamu marah sama aku?"


Tanya Yesa menilik wajah Ezi.


"Aku enggak berhak...!" jawab Ezi tanpa menatap wajah Yesa.


"Apa salah kalau Abang minta kamu ambil keputusan?" Tanya Ezi. Ia benar benar menginginkan Yesa. Selama ini ia berusaha untuk menahan diri nya. Rasa hati ingin merengkuh dan memeluk nya erat tanpa memikirkan orang lain yang hanya menjadi penghalang.


"Yesa sudah bilang kan, biarkan Yesa bertahan sendiri dan kamu enggak perlu ikut terlibat."


Ujar Yesa membuat Ezi terpaku sejenak.


"Tapi Abang sayang sama kamu dek...!" jawab Ezi lalu menghampiri kemudian memeluk tubuh Yesa.


"bang, ini tuh di kantor."


tolak Yesa melepaskan pelukan Ezi.


Ezi menatap lekat wajah Yesa lalu pergi meninggalkan Yesa sendiri. tak berselang lama Luna dan Wida masuk ke dalam kantor.

__ADS_1


"Ada apa yes?" tanya Luna memperhatikan Yesa berdiri mematung.


"Itu yang aku khawatir kan yes, sebenarnya aku enggak mau ikut campur dengan hubungan kalian. Aku juga paham dengan keadaan kamu." ujar Luna mengusap punggung Yesa. Sebelumnya Yesa pernah bercerita kalau suaminya sibuk dengan pekerjaan dan hobi nya.


"Aku memang salah, engkau seharusnya aku bermain api...!" Ujar Yesa lalu duduk di kursi nya.


"Sekarang apa rencana kamu yes?" tanya Wida. Keduanya duduk di hadapan Yesa.


"Aku akan bertahan dengan suami ku, entah lah rasa nya ambigu.."jawab yesa, ia belum yakin tapi sebaiknya ia mengakhiri hubungan nya dengan Ezi.


"Nanti sore suami ku main di stadion, mau ikut nonton enggak? Aku ada tiket gratis nih !"


Ajak Yesa dan di anggukan oleh keduanya. Mereka setuju untuk nonton bersama.


Sampai sore Ezi tidak kembali ke kantor, seperti nya ia benar benar marah.


"Kayaknya beneran ngambek deh pak Ezi !?" cakap Luna dan di anggukan oleh Wida.


"ya gimana dong, aku juga bingung !"


jawab Yesa lalu menghela nafas panjang.


"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang !" ajak Luna lalu keluar dari kantor dan melihat mobil Ezi menepi di depan mereka.


"enggak kuat deh jauhi kamu !" ujar Luna terkekeh kecil.


"enggak, kita mau pergi nonton bola ?" Jawab Wida lalu Yesa mengulas senyum.


"Ya sudah aku ikut !" jawab Ezi lalu membuka pintu mobil untuk Yesa.


"Kamu yakin mau nonton ?" tanya Ezi menoleh ke arah Yesa.


"ya. Bang, kamu jangan marah ya!" ucap Yesa, Ezi hanya mengulas senyum.


Dua puluh menit berlalu mereka sampai di stadion utama dimana pertandingan akan berlangsung, keadaan sudah ramai dan riuh penonton dari dalam juga sudah terdengar.


Ezi dan Yesa berjalan beriringan, Dari jauh Andin kembali memperhatikan kedua nya.


"sering banget sih lihat mereka sama sama, apa mungkin kak Yesa selingkuh ?" gumam Andin lalu memotret kebersamaan mereka.


kelak foto itu akan jadi bukti jika benar kakak ipar nya itu ada main dengan pria itu.


"kamu mau nyamperin Arka ke bawah yes ?" tanya Luna lalu Yesa menoleh ke arah arka yang seperti nya tengah bersama asila.


"enggak, aku di sini saja !" jawab Yesa lalu duduk di samping Ezi.


keadaan semakin riuh saat pertandingan di mulai, terlihat arka langsung mengiring bola untuk memasuki gawang di bantu oleh team nya.

__ADS_1


Yesa memperhatikan dari atas dan terdengar sorak ramai pendukung arka, dan kebanyakan wanita.


"Hebat ya dia punya banyak penggemar !" ujar Ezi di telinga Yesa hingga keadaan mereka terlihat begitu dekat. Lagi lagi Andin memperhatikan dan memotret kedekatan keduanya.


"Udah tahu.!" jawab Yesa mengulum senyum. Ia harus apa ? Arka seperti itu karena prestasi nya di bidang olahraga.


Keadaan semakin riuh saat arka sebagai gelandang berhasil mencetak gol hingga seisi stadion semakin ramai meneriaki nama nya.


"hebat juga !" ujar salah seorang penonton yang kagum pada arka.


yesa menoleh ke arah Ezi yang diam tanpa ekspresi, repleks tangan Yesa menyentuh pipi Ezi. Pria itu langsung tersenyum.


"Aku lapar, makan yuk. pertandingan juga sebentar lagi usai !"


Yesa mengangguk lalu mengajak Luna dan Wida untuk ikut beranjak.


Andin mengikuti mereka berempat, Ia semakin curiga saat Ezi menggenggam tangan Yesa.


"seperti nya memang ada sesuatu ?" Gumam Andin lalu pergi setelah mendapat foto lain nya.


Ia harus mencari tahu tentang hubungan mereka, tentu Andin tidak akan langsung mengaduk kan nya pada arka. apa lagi saat ini Arka tengah pokus dengan pertandingan. Jangan sampai hal itu membuat arka kehilangan konsentrasi.


Usai makan dengan Ezi dan kedua teman nya, Yesa langsung pulang di antar oleh Ezi. Seperti yang Ezi katakan bahwa arka tidak perlu tahu kedekatan mereka.


Arka mengatakan bahwa ia akan kembali ke rumah sebelum pulang ke malang.


Yesa menyentuh kening dan tubuh nya yang terasa panas. Lekas ia mengambil obat penurun panas untuk meredakan tubuh nya. Sebentar lagi arka pulang, ia bisa meminta arka mengantar nya ke klinik.


Beberapa waktu ini ia merasa sering demam, dan kali ini tubuh nya kembali menggigilnya.


Yesa tertegun saat melihat pesan dari arka yang mengatakan bahwa ia akan kembali ke rumah besok sebab saat ini ia tengah di hotel bersama teman teman nya merayakan kemenangan.


Yesa mencoba menghubungi arka untuk memberi tahu kondisi nya, namun Arka tidak mengangkat telepon dari nya.


Yesa merasa semakin lemas dan pusing, tapi arka tidak juga mengangkat telponnya.


Yesa mencoba menghubungi Wina, namun naas ia juga tidak mengangkat nya.


Tidak ada pilihan lain selain meminta tolong pada Ezi.


"Bang, tolong Yesa...!"


Ujar Yesa kemudian tidak sadar kan diri.


"Halo Yesa, ada apa ?" tanya Ezi dengan cemas namun hening. lekas Ezi pergi ke rumah Yesa, saat ia tidak mendapatkan jawaban apapun setelah mendengar ucapan itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2