
Sebenarnya ingin sekali bersikap tegas pada Asila, namun Arka merasa tidak enak hati pada mertua nya, Rizal. apalagi mereka pengantin baru, dan akhirnya arka membiarkan asila dengan keinginan nya. Dulu juga ia bersikap seperti itu pada Yesa, Tapi nanti ia akan mengambil sikap agar Asila pahami bagaimana menjadi istri yang baik.
"Hai, makan di sini Ar...!" Ujar Andik duduk di samping nya, mereka baru saja selesai latihan.
"Ya, Asila tuh enggak pernah mau masak. Jadi mending makan di sini lah aku !" jawab Arka sambil mengunyah makanan nya.
"kenapa enggak mau masak ?" tanya Andik merasa heran.
Biasanya perempuan suka memasak dan paling pandai membereskan rumah.
"enggak tahu, dia tuh tomboi. Enggak bisa masak !"
Jawab arka lalu menyudahi makanan nya.
"Tapi kalau di ranjang sama aja kan yang tomboi dan peminim !"
Tanya Andik membuat arka tertawa.
"Sama aja, malahan lebih giat yang tomboi !" balas arka membuat Andik terkekeh kecil.
"Udah ah, malah ngomongin ranjang." sambung arka lalu meneguk minuman yang berada di tangan nya.
"Kalau aja Yesa enggak selingkuh, mungkin dia jauh lebih baik. gue butuh istri yang keibuan. Yang manja nya bikin gue gemes, bukan bikin gue kesel !" Cakap arka mengingat sosok Yesa yang sudah asing bagi nya, namun kenangan indah itu tetap bersemayam dalam relung hati.
Arka tak bisa membohongi diri bahwa ia sangat menyesalkan sikap Yesa yang sudah mengkhianati nya, Padahal semua memang ia lakukan untuk masa depan mereka.
"Lo masih cinta sama mantan istri Lo, Ar ?"
Tanya Andik memindai wajah arka.
"enggak, gue benci malah. Gue balik dia malah pergi ke bidan sama mantan nya, parah kan. Ternyata mereka udah lama deket sebelum gue ke Malang. Tahu tahu hamil !" Jawab arka menghela nafas berat mengingat kembali luka itu.
"Lo sabar Ar, gue yakin semua ada balasan nya. kalau Lo enggak dzalim gue yakin akan ada balasan untuk mereka." jawab Andik yang tidak mengetahui permasalahan sebenarnya.
***
Sore itu Jesika dan Wida memperhatikan Andin yang keluar dari supermarket. Sesuai rencana mereka hendak mengerjai Mantan adik iparnya Yesa.
"Kita ikuti dia sampai ketakutan.." Ujar Wida terkekeh sendiri.
__ADS_1
Kebetulan Andin juga menggunakan kendaraan roda dua.
"Eh langsung culik aja deh, gue gemes." ujar Jesika geram melihat wajah sok cantik Andin.
"jangan lah, kita kerjain aja. Negara kita negara hukum, gue bukan takut tapi enggak mau ribet." Ujar Wida lalu merangkul pundak Jesika untuk naik ke motor karena target sudah meninggalkan tempat.
"terus gimana ?" tanya Jesika.
"Ikuti aja, nanti senggol sedikit biar jatuh. Udah ikut aja gue yang kasih arahan buat kerjain dia !" jawab Wida lalu melajukan motornya mengejar Andin.
"Di sana kan ada selokan, nah kita Pepet terus. Biar dia kecebur got !" Ujar Wida terkekeh lalu mulai mengikuti Andin.
"Nanti Lo dorong ya Jes..." ujar Wida dan di anggukan oleh Jesika.
Andin menoleh ke arah Belakang motor nya, sebuah motor terlihat terus mengikuti nya hingga ia terus menepi.
"Mereka mau apa sih ?" gumam Andin mulai takut melihat kedua nya menggunakan masker hitam dengan kaca mata, tentu saja ia tidak bisa mengenal Jessika dan Wida. Pintar nya mereka sudah mencopot plat nomor yang di belakang. Agar Andin tidak bisa melacak mereka.
"Mau apa Lo ?" tanya Andin saat motor menyamai laju motor nya.
"mau sumpel bibir Lo yang jontor !" Ujar Jesika membuat Andin melebar kan mata'nya. Saat itu pula Andin lengah dan Jesika menyenggol sedikit hingga motor Andin jatuh ke got yang cukup besar.
"Ah sialan Lo..." umpat Andin yang jatuh kecebur got.
"Hahaha... makan tuh sampah. Mulut udah bau got !" umpat Jesika tertawa lalu pergi meninggalkan Andin yang geram.
"Awas Lo, gue cari lo berdua nanti !" Balas Jesika sambil berteriak.
lekas ia meminta tolong pada Mereka yang melewati nya.
"tolong.... bantu saya pak !" pinta Andin mengiba pada tukang sampah yang lewat.
*
"Eh kita jahat enggak sih ?" tanya Wida duduk di kafe bersama Jesika.
"Enggak lah, biar rasa. Lo tahu enggak sih, dia kan udah cerai sama suaminya. dan istri nya yang baru itu teman gue di salon. Si Andin di cerai karena emang mulut nya yang Jontor. Kali kali lah kita kerjain, dia udah menghina Yesa dan gue enggak akan tinggal diam. Kalau masuk ke got doang mah wajar lah !" Cakap Jesika lalu keduanya terkekeh.
*
__ADS_1
Andin pulang dengan kesal karena ia kecebur got, Fitri memindai putri nya yang bau dan kotor penuh lumpur.
"Kamu kenapa ?" tanya Fitri menutup hidung nya.
"Di kerjainnya Bu." jawab Andin lalu mengguyur tubuh nya dengan keran air yang berada di depan rumah.
"Siapa yang ngerjain kamu ?" tanya Fitri namun Andin tidak menjawab. Ia tidak bisa melihat wajah mereka, mengira ngira juga ia tidak bisa karena ia memang punya masalah dengan beberapa orang.
Fitri menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam rumah. Tadi pagi Arka menelpon dan mengeluh kan sikap asila yang semaunya, berharap ada yang mengurus keperluan nya, asila justru malah merepotkan nya. Kemana mana ikut dan hal itu membuat arka risih dan tidak fokus latihan.
Fitri pikir kalau Asila akan lebih baik dari Yesa, tapi nyatanya kelakuan nya seperti anak kecil.
**
Jesika dan Wida menelpon Yesa, mereka bercerita kalau sudah mengerjai Andin.
"kalian tuh tega banget..." jawab Yesa menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum.
Tidak menyangka kedua nya benar benar melancarkan rencananya, Yesa pikir mereka hanya sekedar bicara saja, tapi keduanya benar-benar menjaili Andin.
"Udah, kasihan lah Dia." sambung Yesa. Ia juga sebenarnya sakit hati, tapi ia tidak ingin mengingat hal itu lagi. Biarkan saja tangan tuhan yang bekerja. Mungkin lewat Jesika dan Wida. keduanya memang sahabatnya yang the best.
"biarin, mulutnya tuh Jontor ngomong seenak jidat." jawab Jesika masih geram.
"Ya, udah lah. nanti juga dia bakal merasakan apa yang gue rasain. Kita nonton aja." jawab Yesa.
Ia meyakini bahwa Tuhan tidak tidur, dan semua akan terbayar impas.
Yesa meraba perut nya yang semakin terlihat, kemarin ia sudah memeriksa keadaan janin nya. di usia empat bulan sudah terlihat jenis kelamin bayi nya dan Hawa mengatakan bahwa kemungkinan bayi nya laki laki.
Yesa sudah tidak sabar menunggu kehadiran anak nya, Ia akan menantikan momen menjadi seorang ibu.
"Mommy tidak ingin memikirkan apapun selain kamu. Biarkan mereka menghina, mencaci-maki. Mommy tidak akan tumbang hanya karena ganas nya mulut seseorang. Kamu lah yang kelak akan menjadi kebanggaan, dan mommy yakin Tuhan akan menunjukkan semua nya. kita tenang aja, happy happy saja ya dek." ujar Yesa senyum sendiri lalu kembali menghampiri Hanum yang tengah memetik buah jeruk yang sudah masak berwarna kuning.
Bersambung...
Terimakasih yang sudah setia, Author Lanjut nanti ya. jangan kemana mana woke 😅😅🙏😍
Terima kasih atas dukungan nya.
__ADS_1
Jangan lupa komen and like nya ya gaes 😘😘😘😘