
Siang dalam lamunan dan malam hadir dalam mimpi.
Yesa tertegun sendiri mengingat seseorang yang mungkin tidak mengingat nya sama sekali.
Yesa tersenyum getir menatap foto nya bersama arka.
Ia menahan air mata nya mengingat rasa rindu nya yang terabaikan.
"Ya, kamu jangan diam aja dong Yes, tanya seberapa berharga nya Lo buat dia ?" Ujar Jesika saat Yesa bercerita tentang arka.
Yesa juga tidak ingin berdiam diri, namun apa yang harus ia lakukan sementara arka tetap mengutamakan kepentingan pribadi nya.
Pagi....
"yes, kamu kok melamun sih?!"
Tanya sang ibu menghampiri yesa yang berada di dapur.
"hum, enggak Bu."
jawab yesa lalu kembali berkutat dengan bumbu dapur.
seperti biasanya ia akan membawa sarapan dan makan siang untuk Ezi.
"kak, telpon tuh !"
Seru Wina menoleh ke arah ponsel Yesa berada di meja makan.
lekas Yesa menghampiri lalu menyambar ponsel nya, terlihat arka menghubungi nya.
"Halo...?"
Arka baru sempat menghubungi nya setelah beberapa jam yang lalu yesa menghubungi nya.
"Halo yes, maaf ya Abang baru sempet hubungi kamu. Oh ya uang nya belum turun, kamu pakai uang sendiri dulu lah. Enggak apa apa kan ?"
Cakap Arka membuat yesa tertegun sejenak.
"nanti kalau sudah turun Abang langsung transfer, Abang latihan dulu ya."
sambung nya tanpa meminta jawaban dari Yesa.
Yesa hanya menghela nafas panjang lalu duduk di kursi meja makan menatap ponsel nya yang mati.
Rusli dan Erlina memperhatikan Yesa dengan wajah sendu nya.
"Ada apa Yesa ?"
tanya Rusli memindai wajah Yesa dengan tatapan sayu.
__ADS_1
"enggak yah !" jawab Yesa lalu kembali menghampiri dapur. Ia tidak ingin bercerita tentang apa yang ia rasakan, ia harus benar benar menelaah keinginan hati nya untuk lanjut dengan arka atau sebaliknya.
"Apapun masalah nya selesai kan dengan kepala dingin. Kalau mau bertengkar ya bertengkar saja, karena diam justru membuat keadaan semakin memburuk !"
Cakap Erlina mengusap punggung sulung nya itu.
lekas Yesa menyelesaikan memasak nya, saat seperti ini ia hanya butuh bercerita dengan Ezi.
"kamu buat sarapan untuk siapa ?"
tanya Erlin memperhatikan makanan dengan porsi dua orang.
"Yesa sama teman Bu, ya udah Yesa berangkat sekarang !"
pamit Yesa pada Erlin lalu pamit pada sang ayah.
Ezi sudah mengirim pesan dan menunggu Yesa di depan gang.
Erlin memperhatikan Yesa keluar dari gerbang rumah, entah naik apa putrinya itu ke kantor.
Erlin tertegun mengingat wajah Yesa langsung sendu setelah mendengar arka berbicara di telpon. Mungkinkah keadaan nya sedang tidak baik baik saja ?
Erlin berharap mereka berdua selalu rukun, kalau pun ada masalah kedua nya sanggup menyelesaikan dengan baik tanpa ada pikiran ingin berpisah.
Ezi langsung membuka pintu saat melihat Yesa berjalan menghampiri mobil nya.
"Langsung masuk Ca !"
Yesa langsung duduk di samping Ezi tanpa berkata kata.
"Kamu kenapa ?"
tanya Ezi memindai wajah Yesa tampak sendu.
"Enggak apa apa bang. Ini sarapan untuk kamu !"
Yesa menyodorkan kotak nasi berwarna putih.
"Terima kasih, ini juga untuk kamu !"
jawab Ezi menyodorkan sebuah paper bag berwarna coklat.
"Apa ini bang ?"
Tanya Yesa lalu merogoh isi dalam paper bag tersebut.
Yesa tertegun saat melihat tas cantik berwarna biru muda.
"Ini buat aku ?"
__ADS_1
tanya Yesa menoleh ke arah Ezi. Ia yakin tas itu pasti mahal karena dari brand ambassador.
"Ya buat kamu lah !!"
jawab Ezi tersenyum melihat ekspresi wajah Yesa seperti tidak yakin.
"tapi aku enggak ulang tahun bang !" cetus Yesa membuat Ezi terkekeh kecil.
"Emang ngasih hadiah harus ulang tahun dulu !" jawab Ezi lalu melajukan mobilnya menuju kantor.
"simpan dek, atau langsung pakai saja. Abang lihat tas kamu udah lusuh !" cakap Ezi lalu mengusap pucuk kepala Yesa.
*
Hari hari berlalu Yesa lalui tanpa Arka, suami nya itu semakin sibuk dengan latihan dan pertandingan bola nya. yesa menerima semua perhatian dari Ezi tanpa memikirkan dampak yang mungkin akan mengancam keselamatan rumah tangga nya. Bagaimana jika Arka sampai tahu kedekatan nya dengan Ezi?
Yesa menjalani semua apa adanya, Ezi juga tidak banyak menuntut. selama ia bisa membuat perempuan itu tersenyum senang maka akan ia lakukan.
Sudah tiga bulan terakhir ini Arka tidak memberikan nya uang bulanan, Yesa juga heran dan tidak mengerti dengan alasan Arka yang mengatakan bahwa uang nya belum turun. Selalu itu dan itu yang menjadi alasan nya. Dan selama tiga bulan ini Ezi lah yang memenuhi kebutuhan nya. Sebenarnya malu karena terus menerima uang dari Ezi, tapi pria itu memang hanya memberikan uang tanpa meminta embel-embel lain selain menemani nya di kantor.
"Besok Abang main di jakarta jadi Abang bisa pulang dulu dek, Abang kangen sekali sama kamu !"
pesan Arka membuat Yesa tertegun.
Besok Arka hendak pulang dan tentunya ia harus mempersiapkan kepulangan nya.
Yesa tertegun membaca ungkapan rindu dari arka. Selama ini arka jarang sekali menghubungi nya. Alasan nya selalu sibuk dan lelah setelah latihan. Yesa kira arka tidak akan merasakan rindu pada nya. Selama ini Yesa juga jarang mengikuti kegiatan arka di pertandingan sepakbola.
Sang ayah hanya mengatakan bahwa permainan nya semakin Bagus. Jika arka ada pertandingan Yesa selalu ketiduran dan saat siang rasa nya malas nonton bola.
"kamu lagi mikirin apa sih?"
Tanya Ezi membuyarkan lamunannya.
"Hum, enggak. Arka mau pulang bang, Dia bilang ada pertandingan di jakarta."
Jawab Yesa dan di anggukan oleh Ezi.
"terus kenapa enggak semangat gitu ?" tanya Ezi duduk di hadapan Yesa.
"Kamu enggak marah bang ?" tanya Yesa memindai wajah tampan Ezi. "ya mau nya seperti itu, tapi kan aku di sini bukan siapa siapa. Aku sekedar seorang yang tidak ingin melihat kamu bersedih !" jawab Ezi membuat Yesa tertegun. "kamu enggak usah mikirin aku, aku akan pergi kalau kamu udah benar benar bahagia. Sebenarnya mudah untuk aku merebut kamu dari Arka, tapi aku berpikir ulang lagi. Aku ingin tahu sampai dimana kalian bertahan !" cakap Ezi lalu meraih tangan Yesa.
"Temui seperti biasa, Ia tidak perlu tahu tentang kita !" tambah Ezi lalu mengajak Yesa keluar untuk makan siang.
Mereka yang berada di kantor itu sudah menerka kedekatan keduanya, namun mereka tidak pernah berceloteh apapun pada Yesa. Apalagi Ezi adalah bos mereka, tentu nya mereka tidak akan berani berbicara macam macam.
Di sebuah kafe, Andin memperhatikan Yesa berjalan beriringan dengan Ezi. Ia sendiri tengah makan siang dengan teman nya.
Andin pernah sekali melihat kakak ipar nya itu dengan pria yang sama dan sekarang ia kembali melihat mereka bersama, apa ada sesuatu?
__ADS_1
bersambung..
Terimakasih sudah mampir 😍😍