Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
lelah berjuang.


__ADS_3

Anggito termenung sendiri memikirkan kedua putra putri nya, Ezi dan alma.


Berpikir sendiri membuat nya pusing, dulu ada sang istri yang mengatur segala nya hingga ia hanya tinggal tanda tangan saja. Namun setelah kepergian nya Anggito mengurus semua nya sendiri.


Ia heran dengan Ezi, apa sih yang membuat nya enggan menikah, sudah beberapa kali Anggito mempertemukan nya dengan perempuan, dari yang seksi sampai yang berhijab. Namun tak ada satupun yang membuat Ezi tertarik.


Sementara Alma Keukeh ingin kuliah di Swiss, sedangkan tinggal di sana itu tidak boleh sendiri.


"Hai...!" sapa seseorang membuat renungan nya usai.


Seorang teman lama berdiri di hadapan nya, Anggito langsung mengulas senyum dan memeluk sahabatnya itu.


"Rusli, gimana kabarnya?" tanya Anggito tersenyum senang bisa bertemu dengan teman masa SMA nya itu.


"Baik, aku sehat!" jawab Rusli lalu keduanya duduk berhadapan.


"bagaimana kabarmu ?" tanya Rusli memindai wajah teman bermain nya Itu. Rusli masih ingat saat mereka pergi camping bersama. Keduanya juga merupakan penggemar motor trail. Mereka selalu pergi naik gunung menggunakan motor tersebut.


"Baik tanpa seorang istri.." jawab nya sedikit pilu.


"Mau aku carikan janda ?" tanya Rusli membuat Anggito terkekeh kecil.


"Uang banyak, Kamu itu pengusaha sukses, aku tidak percaya jika kamu kesusahan mendapatkan istri baru."


sambung Rusli lagi lagi membuat Anggito terkekeh kecil.


"Ya, memang ucapan mu tidak salah. Tapi saat ini yang aku pikirkan adalah kebahagiaan anak anak ku. Yang pertama sudah menikah dan sekarang tinggal di Kalimantan. yang kedua masih Luntang lantung !" ucap Anggito mengingat Ezi yang semau hati nya.


"Luntang lantung bagaimana ?" tanya Rusli tidak mengerti maksud Anggito.


"Ya seperti itulah, aku jodoh kan dia tidak mau. adik nya minta kuliah di Swiss, aku minta dia lanjut kuliah S2 kalau tidak mau menikah, namun ia juga tidak memberikan jawaban. Kau tahu Alma tetap ingin kuliah di Swiss." cakap Anggito dan di pahami oleh Rusli.


"kau harus sabar, anak laki laki itu harus kita beri pemahaman pelan pelan, kalau pakai emosi yang ada dia malah kabur !" jawab Rusli dan di anggukan oleh Anggito.


"Apa kamu punya anak perempuan, mungkin saja kita bisa berbesan." ujar Anggito membuat Rusli terkekeh.


"Erlin memberi ku dua anak perempuan cantik, yang satu sudah menikah dan yang satu sudah punya calon. aku paling tidak bisa memaksa keinginan pada anak anak ku!" ujar Rusli. ia memang memiliki prinsip agar kedua nya memilih pasangan hidup sesuai keinginan mereka.


"seperti itu ?"


tanya Anggito dan Rusli hanya mengangguk.


keduanya lanjut berbincang hal random. Sudah lama kedua nya tidak bertemu, baru dua pekan ini Anggito berada di jakarta.


***


Yesa termenung sendiri memikirkan rumah tangga nya dengan Arka. tak ingin berpisah tapi lelah berjuang. Yesa tak menampik bahwa ia begitu menyayangi arka tapi bagaimana dengan nya?

__ADS_1


Semua berjalan tanpa perasaan, bertahan hanya akan membuat sayap nya remuk. Lalu ia harus bagaimana?


Sedangkan bukan hal yang mudah memberikan arka pemahaman tentang keinginan hati nya.


Erlin memperhatikan Yesa yang menangis sendiri sambil meringkuk.


"Yesa....?" seru Erlin mengusap kepala putri nya itu.


"sebentar saja Bu, Yesa ingin bang arka peluk Yesa,, tapi dia bergegas pergi. Rasanya ulu hati semakin perih...!" Ujar Yesa terisak.


Arka bahkan belum menghubungi nya lagi, entah ia sudah sampai atau belum.


Wina yang baru sampai tertegun melihat Yesa yang tengah menangis.


"capek bu, rasanya tuh semakin parah. apa salah kalau Yesa menuntut perhatian?"


Erlin tertegun sendiri, ia tidak tahu kalau hal itu membuat Yesa sakit dan tersiksa. Sedangkan yang tahu hanya Wina, bagaimana arka bersikap.


"Kamu harus sabar Yesa, minta petunjuk sama Tuhan nak !" ujar Erlin lirih memeluk putri nya itu.


"saat seperti ini Yesa ingin bang arka perhatian, sedikit saja."


Ujar Yesa menangis memeluk Erlin.


Wina menyeka air matanya lalu memeluk sang kakak.


Bukan tentang pengkhianatan, tapi tentang seberapa berharga dirimu untuk pasang mu?


"istighfar, kamu enggak boleh mengikuti ego kamu. Kamu harus sabar."


"Panas Bu, enggak kuat." ujar Yesa membuat Wina terisak.


"Badan Yesa rasanya remuk Bu, sakit semua.!"


Gegas Erlin memanggil dokter agar memberikan obat untuk Yesa.


"kasihan kak Yesa Bu, harus nya bang arka temani kak Yesa."


ujar Wina memeluk pundak Erlin.


"sudah, kamu jangan memperkeruh keadaan." ujar Erlin lalu dokter datang memberikan obat.


Erlin mengusap kepala Yesa yang masih hangat, namun ia sedikit lebih tenang setelah dokter memberikan obat.


"kamu harus sabar nak !"


batin Erlin iba melihat kondisi Yesa. Sejak tadi panas nya terus naik turun.

__ADS_1


gegas ia menghubungi Rusli dan mengabarkan tentang keadaan Yesa.


Tak selang lama datang Fitri dan Andin menjenguk Yesa, sebenarnya malas datang, tapi Arka tadi menelpon dan meminta mereka melihat keadaan Yesa.


"Ayo masuk?" Ujar Erlin mengulas senyum kaku, sebab melihat wajah kedua nya tidak ramah.


"kamu sakit? Sakit apa?" tanya ibu mertua membuat Yesa membeku.


"kalau cuma demam aja enggak perlu di rawat di ruangan VVIP segala, kecuali kamu sakit kanker." ujar Fitri membuat Yesa menitikkan air mata nya.


"astaghfirullah..."


Namanya bagus Fitri yang artinya suci, tapi ucapan bak Pedang yang menyayat hati.


"Enggak apa-apa lagian yang bayar perusahaan tempat kak Yesa kerja kok ?" jawab Wina dengan geram mendengar ucapan keduanya.


"Yakin perusahaan? gue sih cemas !" jawab Andin membuat Wina mengepal kan tangan nya.


"sudah cukup !"


ujar Wina lalu keduanya memberikan buah tangan yang mereka bawa untuk Yesa, sebuah parsel yang berisi buah buahan.


"semoga isi nya enggak ada yang busuk. Cepat sembuh deh !"


ujar Andin lalu mengajak Fitri pergi meninggalkan ruangan itu.


Erlin tidak tahu kenapa sikap mereka seperti itu? Sebelumnya mereka bersikap baik pada Yesa.


"Memang yang bayar rumah sakit bos kamu ?" tanya Erlin membuat Yesa tertegun.


"Ya, Bu. tahu enggak sih kalau Bang arka tuh minta kak Yesa untuk pindah ke kelas tiga. Dia bilang uang nya bisa habis karena bayar rumah sakit."


jawab Wina membuat Yesa kembali menangis.


"Astaga...!" jawab Erlin menoleh ke arah Yesa yang menangis tergugu.


belum habis rasa pahit karena arka dan tadi mereka datang membawa kepedihan. Maksudnya apa sih?


"Mereka tuh keterlaluan, udah pisah aja deh sama bang arka ?" ujar Wina membuat Erlin melebar kan mata'nya.


"jangan bicara seperti itu Wina !"


balas Erlin masih merengkuh tubuh Yesa.


"sudah sayang, biarkan saja. Kamu enggak usah pikirkan !"


Bersambung...

__ADS_1


Akhir akhir ini begitu menyesak kan, namun aku mencoba berdamai dengan kenyataan tanpa menyalahkan keadaan.😅😅😍😍🤭


terimakasih sudah mampir 😅😍🤭


__ADS_2