Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
capek.


__ADS_3

Ezi memperhatikan wajah Yesa tampak sendu, mungkin kah ia salah bicara.


"kamu marah sama Abang dek ?"


Tanya Ezi sebelum menyantap nasi goreng pedas buatan Yesa.


"Aku harus kayak gimana menurut kamu bang ?"


Tanya Yesa membuat Ezi terdiam.


Ia tahu kalau Yesa mengharapkan Arka, Namun kenyataannya tak sesuai harapan.


"Abang cuma enggak mau kamu sedih, itu aja!"


Jawab Ezi. Ia sendiri bimbang dengan hati nya.


Sementara sang ayah ingin menjodohkan nya dengan seseorang.


Ezi ingin Yesa memberikan keputusan agar ia tidak galau seperti sekarang ini.


Kalau Yesa hendak berpisah dengan Arka, maka ia akan menolak perjodohan itu.


Sang ibu sudah lama meninggal dan Ezi kini hanya memiliki sang ayah dan kedua saudara kakak beradik.


"Aku enggak mau kamu ikut terbebani bang. jadi biarkan aku menjalani semua ini sendiri !"


Sergah Yesa memilih untuk bertahan dengan arka meskipun ia harus terluka.


Yesa yakin sang ibu tidak akan setuju jika ia ingin bercerai hanya karena alasan sebuah hobi.


"Abang enggak bisa lihat kamu seperti ini sendiri !" sergah Ezi menatap lekat wajah Yesa.


"Lantas aku harus bagaimana bang, Alasan untuk bercerai itu harus jelas !"


"Ya, tapi kamu tersiksa hidup dengan Arka, Apa yang kamu harapkan ?"


Sergah Ezi lalu beranjak meninggalkan Yesa dengan nasi goreng yang belum tersentuh sama sekali.


Yesa terdiam melihat Ezi langsung pergi dari kantor. Terlihat beberapa temannya masuk ke dalam.


"Aku kira kamu belum datang yes ?"


Yesa mengulas senyum lalu mulai menyantap sarapan yang ia bawa dari rumah.


Keadaan seperti ini lah yang Yesa khawatir kan dimana Ezi berharap lebih pada nya.


Hingga sore hari Ezi tidak kembali ke kantor. Yesa meminta Wina untuk menjemput nya.


Yesa memutuskan untuk menginap di rumah ibu nya setelah kemarin gagal karena kedatangan adik arka.


*


"Assalamualaikum Bu..."


Sapa Yesa saat sampai di depan pintu rumah, Ia langsung masuk ke dalam dan duduk di samping sang ibu yang tengah duduk santai bersama sang ayah.


"walaikumsalam... Kamu enggak bawa motor yes ?"


Tanya Erlina memindai wajah lelah sulung nya itu.


"Enggak Bu, tadi Yesa pergi sama teman !"

__ADS_1


"Kapan jadwal pertandingan arka, yes ?"


Tanya sang ayah membuat Yesa tertegun sejenak.


"Yesa lupa, mungkin malam ini yah.


Yesa masuk ke dalam dulu ya !"


Erlin mengangguk lalu Yesa beranjak dari duduknya.


Rusli memperhatikan Yesa yang masuk ke dalam rumah, beberapa waktu yang lalu Ia melihat Yesa tengah makan siang berdua dengan seorang pria.


Rusli tidak menegurnya karena khawatir Yesa merasa malu atau pun terganggu, dan hingga sampai saat ini Rusli penasaran dengan siapa Yesa saat itu ?


"kenapa yah ?"


Tanya Erlina memperhatikan wajah suaminya seperti tampak berpikir.


"enggak Bu, Ayah hanya khawatir dengan rumah tangga Yesa dan Arka. terkadang LDR membuat hubungan menjadi renggang."


Erlin mengangguk pahami apa yang menggangu pikiran nya.


Dekat saja Yesa selalu mengeluh tentang sikap arka yang sibuk dengan hobi nya.


Dan sekarang Arka pergi jauh demi mengejar cita cita nya.


*


"Yesa, apa kamu minum obat KB?" tanya Erlin kala itu sebab Yesa takut kunjung hamil.


"Enggak Bu, tapi bang arka yang pakai pengaman. Dia bilang enggak mau punya anak dulu karena belum siap. Mengingat aktivitas nya yang cukup banyak, ia berpikir untuk menunda nya hingga dua tahun yang akan datang."


Jawab Yesa dengan wajah sendu.


*


"kita doakan yang terbaik saja untuk mereka !"


Ujar Erlin berharap keduanya sama sama memiliki keinginan kuat untuk bertahan, sebesar apapun badai yang menghadang rumah tangga mereka.


Yesa langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. hari ini ia benar benar lelah karena dua kali meninjau lokasi perumahan yang hendak di bangun.


Drrttt...


Tiba tiba ponsel nya berdering dan berharap kalau itu arka. Namun lagi lagi ia harus menelan kekecewaan. Ternyata Ezi yang menelpon nya, Yesa pikir Arka.


"Halo bang !"


Jawab Yesa menerima panggilan telepon tersebut.


"kamu dimana dek ?"


Tanya Ezi. Ia baru pulang dari luar Kota melihat lahan yang hendak ia beli untuk membangun rumah hunian yang nyaman dan asri di daerah Garut.


"Di rumah bang, di rumah ibu !"


Jawab Yesa. Ezi pasti ingin bertemu dengan nya.


"Abang baru pulang dari Garut dan rasa nya tuh capek banget, tapi pengen ketemu kamu dek !"


Cakap Ezi membuat Yesa tertegun.

__ADS_1


"kenapa bukan Arka yang berbicara seperti itu pada nya? kenapa harus pria lain ?"


gumam Yesa menghela nafas panjang.


"kalau di rumah ibu kayaknya enggak bisa bang, kita ketemu di kantor aja besok. nanti Yesa buatkan udang saus tiram ya!"


Di seberang sana Ezi tersenyum mendengar penuturan Yesa.


"Ya udah Abang mandi dulu, besok Abang tunggu janji kamu ya !"


"hum...!"


Jawab Yesa lalu mematikan panggilan telepon tersebut.


Yesa kembali memainkan ponsel nya dan berusaha menghubungi Arka, namun nomor nya tidak aktif.


"Sibuk banget sih bang, kamu tuh.Apa harus aku mengemis perhatian dari kamu !?"


Gumam Yesa lalu beranjak ke kamar mandi.


Arka memang benar benar sibuk menjelang persiapan liga Champions musim depan. Ia harus menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. makan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup.


Ia bahkan tidak sempat menghubungi istri nya saking fokus nya pada persiapan menjelang pertandingan.


hal itu membuat Yesa sedih, Biasa nya Arka akan menghubungi nya pagi hari dan menjelang tidur, tapi sekarang tidak lagi.


Jelang tidur arka langsung merebahkan tubuhnya yang lelah lepas latihan.


"Yes, ayo makan dulu !"


Panggil Erlina mengajak Yesa untuk makan malam. sejak tadi sore Yesa tidak keluar dari kamar nya.


"ya Bu...!"


Jawab Yesa keluar dari kamar nya.


"Kamu sedang apa Yes ?"


Tanya Erlin memindai wajah Yesa tanpa ekspresi.


"Enggak Bu, rebahan aja sambil main hp. Soal nya tadi tuh capek banget."


"ya sudah kamu berhenti saja kerjanya, Arka kasih uang cukup kan buat kamu !"


Terka Erlin membuat Yesa tertegun.


Entah lah seharusnya kemarin sudah transfer, makanya Yesa ingin tanya soal itu juga. Tapi arka selalu mematikan ponsel nya.


Yesa melangkah ke meja makan dan memilih diam lalu melahap makanan yang berada di hadapannya.


Mungkin lebih baik tidak bercerita soal itu pada kedua orang tua nya, mungkin arka lupa transfer uang untuk nya. jadi saat ini Yesa hanya berusaha untuk sabar sesabar yang ia bisa.


Bersambung..


terimakasih para reader yang sudah mampir dan bergabung dengan author.


Dukungan para reader sangat berarti untuk semangat author.


Jangan lupa like dan komentar ya.


😍😍😍😍

__ADS_1


salam sehat selalu 😍.


__ADS_2