Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
berjalan sesuai harapan.


__ADS_3

Anggito tak menyangka jika ternyata Yesa lah yang membuat anak nya bimbang hingga menolak beberapa wanita yang ia sodorkan. Namun Anggito tidak keberatan karena tahu seluk beluk permasalahan Yesa dengan mantan suami nya hingga mereka berpisah. Rusli banyak bercerita tentang yesa, Namun kedua nya memang tidak pernah menunjukkan wajah yesa dan Ezi. Sebelumnya Anggito juga lama di Kalimantan, pernah bertemu dengan Yesa satu kali di rumah sakit, dan Anggito pikir yang Ezi maksud Yesa bukan anak sahabat nya.


Sesuai rencana Ezi sebelum nya, mereka akan tetap menikah nanti setelah liburan musim yang akan datang. Rusli juga ingin Yesa menyelesaikan masa nifas nya terlebih dahulu.


Yesa tersenyum menatap cincin yang melingkar di jari manis nya, pria itu kini berstatus sebagai calon suami nya. Anggito mengatakan ingin menggelar acara resepsi pernikahan untuk mereka, namun Ezi dan Yesa sepakat untuk mengadakan acara sederhana saja.


"Nanti gimana sama kolega bisnis ayah? Mereka pasti kecewa kalau ayah tidak menggelar pesta." ujar Anggito. Namun keduanya tetap ingin acara itu di selenggarakan secara sederhana, kelak ada Alma jika Anggito menginginkan acara besar.


"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti kalian harus ikut menjadi pengantin jika Alma menikah."


"Baiklah ayah....." jawab Ezi mengulum senyum.


"Rusli, coba kamu bujuk Yesa. Biar kita bisa bikin acara besar..." Ujar Anggito terkekeh kecil.


"Biarlah mereka yang mengatur nya, kita bantu persiapkan saja. pernikahan mereka lebih dulu dari rencana pernikahan Wina, kelak mereka bisa jadi pengantin lagi kalau mau."


Ezi sendiri tidak terlalu memikirkan hal itu, yang terpenting bagi nya adalah kenyamanan Yesa. Ezi tidak mau kalau Yesa terpaksa melakukan sesuatu, sedangkan masalah nya belum reda. Ezi hanya ingin membawa Yesa ke Swiss jauh dari kehidupan masa lalu nya.


Usai berbincang mengenai rencana pernikahan, Erlin mengajak mereka makan malam kemudian di lanjutkan dengan berbincang hal random, Anggito malah betah apalagi Erlin menyuguhkan nya makanan enak.


Sementara Ezi sudah mengantuk, sedangkan kedua nya asyik bermain catur sambil ngobrol panjang lebar.


Yesa kembali setelah memberikan bintang susu, ia tertegun melihat Ezi yang tertidur di sofa dengan kedua kakinya naik ke atas.


"Ezi tidur...?" tanya Erlin melihat jam menunjukkan pukul sebelas malam.


"kenapa jadi mereka yang anteng ?" ujar nya lagi membuat yesa terkekeh kecil.


"Ya udah Bu enggak apa-apa, nanti Yesa ambilkan selimut dulu." sahut Yesa lalu kembali ke kamar.


ia mengulum senyum lalu menyelimuti Ezi dengan selimut tebalnya.

__ADS_1


"Kamu mau nginep sini bang, belum ada izin dari KUA loh !" cakap Yesa membuat arka membuka mata nya.


"Hum, pulang lah." jawab Ezi bangkit membuat Yesa terkekeh.


"Besok pagi Abang pergi ke Swiss dulu ya, kamu enggak apa-apa kan Abang tinggal?" Tanya Ezi memindai wajah cantik calon istrinya itu.


Yesa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Ya, kamu fokus aja. Semua nya juga udah pasti kan !" jawab Yesa dengan wajah memerah.


"Ya sudah, Abang mau ajak ayah pulang. Kebangetan orang tua malahan dia yang asik !" Ujar Ezi membuat Yesa terkekeh.


kedua nya menghampiri sang ayah yang tengah tertawa, entah apa yang lucu hingga membuat keduanya terkekeh kecil.


"Pulang yah...!" Ajak Ezi membuat Anggito menoleh.


"Ya ayo pulang, sudah selesai kok. Nanti kita lanjutkan lagi !" jawab Anggito lalu keduanya bangkit dari duduk nya.


Usai itu mereka pulang setelah berpamitan pada keduanya.


Usai Ezi pulang Yesa langsung menghubungi Jesika dan memberi tahu semua nya, Jesika sebenarnya ingin hadir tapi malam itu salon sedang ramai hingga ia tidak bisa pulang cepat.


Jesika begitu senang mendengar kabar baik dari Yesa, syukurlah jika semua nya berjalan sesuai harapan.


"jadi nya kak Yesa duluan yang jadi manten, Alhamdulillah Wina ikut senang. Enggak nyangka loh kalau ternyata Ayah nya kak Ezi bersahabat dengan ayah kita. Dunia memang begitu sempit, tapi kenapa acara nya di adakan sederhana kak, padahal pak Anggito sangat berantusias.?"


Ujar Wina memindai wajah Cantik sang kakak.


"Hum, pesta memang perlu tapi kakak dan kak Ezi sepakat untuk mengadakan acara sederhana saja. Bukan karena tidak ada uang, tapi kamu tahu kan, saat ini kakak masih menghindar dari cibiran keluarga bang arka. Sebenarnya tidak ingin peduli tapi kasian ibu dek.!" Jawab Yesa dan di anggukan oleh Wina.


"Kakak ingin semua berjalan tertutup, Fokus dengan kehidupan kita dan tidak perlu menunjukkan semua nya pada mereka, kakak rasa semua akan ada masa nya. saat ini fokus dengan kebahagiaan kakak saja !"

__ADS_1


"Apa kakak sudah melupakan bang arka ?"


Tanya Wina kembali memperhatikan raut wajah Yesa.


"Kalau untuk lupa tidak akan bisa secepat itu, tapi kakak sudah tidak berharap lagi dek. kakak hanya berharap Ezi bisa menyayangi kakak dan menerima bintang seperti anak nya sendiri, kakak tidak ingin terus meratapi Arka, dan kakak tidak mau naif. Kakak tidak bisa hidup sendiri, kakak membutuhkan seseorang yang bisa menjaga dan melindungi kakak juga bintang."


Jawab Yesa dan di pahami oleh Wina. Semoga Ezi bisa menjadi pengganti yang lebih baik dari Arka.


****


Asila terdiam mengingat aldrik, Ia benar-benar takut dan tidak bisa berkutik jika sudah berada di dekat nya. Asila juga yakin kalau dia pasti akan mengincar nya.


tiba tiba ia teringat akan janin yang telah ia gugur kan tanpa sepengetahuan sang ayah, Asila memang merahasiakan semua itu dari Zidan.


"Dek, kamu tahu enggak tadi pria yang pakai jas hitam ?" Tanya arka membuat Asila tertegun sejenak lalu menggeleng kan kepala nya.


"hum... enggak bang !" jawab asila memalingkan wajahnya.


"Dia itu bos club sepakbola di sini, Bali. Kata Rafa dia yang menjadi sponsor utama. Dia yang menggaji para pemain sepakbola termasuk Abang!" Ujar arka membuat Asila termangu.


Apa keadaan nya tidak terancam ? Atau justru keadaan arka yang terancam ? Astaga... Apa yang harus aku lakukan ?


Asila tak menjawab, ia memilih diam lalu bangkit dari duduk nya dan masuk ke kamar mandi.


sementara Arka, ia terheran melihat Asila yang seperti banyak pikiran.


"Kamu sakit dek ?" tanya arka saat Asila keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur.


"Enggak, aku ngantuk bang !" jawab asila lalu naik ke ranjang.


bersambung.

__ADS_1


Happy reading..🥰😘😘


Terima kasih yang sudah like and komentar ya👍😍🥰😘


__ADS_2