
Sepulang Ezi dari kediaman nya, Erlin langsung bersiap membuat kue sebagai hidangan untuk nanti malam.
Sementara Yesa merasa khawatir dan takut jika orang tua Ezi menolaknya.
Rusli memperhatikan raut wajah Yesa seperti tengah berpikir.
"Jangan khawatir, kamu tenang saja. Ayah yang akan menghadapi nya lebih dulu. Sebenarnya Ayah ingin kamu sendiri dulu, tapi....!" Rusli menghentikan ucapan nya lalu memperhatikan Yesa.
"tapi apa yah ?"
tanya Yesa.
"seperti nya kamu tenang jika bersama Ezi, ayah melihat kamu nyaman dengan nya. Memang tidak ada gunanya jika kita terus meratapi keadaan. Ya sudah lah, kita lihat nanti malam saja. Apapun keputusan nya kamu harus siap !" cakap Rusli dan di anggukan oleh Yesa.
Rasa nya tidak sabar dan deg degan menunggu nanti malam, semua akan menjadi penentu hubungan nya dengan Ezi. Yesa sendiri tidak banyak berharap, Ia cukup sadar dengan keadaan nya yang seorang janda. Bisa saja kan orang tua Ezi menginginkan menantu yang masih singel.
"Ya, sudah. Yesa masuk dulu yah. Bintang juga sudah tidur !"
Rusli mengangguk.
***
Pagi ini Asila menemani arka latihan, Kali ini arka menyewa apartemen untuk mereka selama lima bulan ke depan.
Asila duduk di tribun penonton memperhatikan arka yang tengah latihan. Asila terperangah melihat seseorang yang ia kenal, lekas ia memalingkan wajahnya hingga pria itu tidak melihat nya.
jantung Asila berdegup kencang melihat seseorang yang sudah lama sekali tidak ia jumpai, seseorang yang pernah menaruh benih pada rahimnya, namun asila mengugurkan nya karena pria itu meninggalkan nya begitu saja.
Asila menghela nafas panjang saat pria itu turun ke lapangan menghampiri para pemain bola.
Asila berdiri dan mengamati pria bernama aldrik itu.
lima tahun tidak bertemu dan kini aldrik begitu berbeda, ia begitu gagah dengan jas berwarna hitam nya, Asila sempat dengar kalau aldrik sekarang menjadi seorang pengusaha jam tangan mahal. Asila tidak menyangka jika ia bisa kembali melihat pria itu, tentu kenangan indah bersama aldrik berseliweran di benak nya, termasuk perihal malam yang selalu mereka lewati bersama.
Lekas Asila keluar dari tribun, mungkin lebih baik pulang. Asila sendiri tidak ingin bertemu dengan aldrik.
Gegas ia mengirim pesan pada Arka dan mengatakan bahwa ia pulang duluan.
"Ah..." Asila terkesiap saat tidak sengaja menabrak seseorang, ia terbelalak saat melihat aldrik berada di hadapannya dengan netra melebar.
__ADS_1
"Asila...!" Lekas aldrik menarik tangan asila saat ia hendak pergi tanpa mempedulikan aldrik.
"lepaskan..." sahut asila mencoba melepaskan cengkraman tangan Aldrik.
"Tidak menyangka kita bertemu di sini !" balas Aldrik dengan tatapan menyidik.
"siapa kau, lepaskan aku!" Sahut Asila membuat Aldrik terkekeh lalu dengan cepat menarik tubuh Asila kemudian memaksa nya masuk ke dalam mobil.
"lepas kau gila, aldrik...aku benci !" Umpat asila mencoba menghindar saat aldrik hendak merengkuh nya.
"jangan sentuh aku, sekarang aku sudah menikah !" Ucap Asila membuat Aldrik terkekeh.
"benarkah ? Pria mana yang mau sama kamu?" tanya aldrik mencengkram erat dagu asila.
"Ah, sakit !" erang Asila meringis menahan sakit. Aldrik cukup kencang mencengkram nya.
"kenapa kau mengugurkan kandungan mu, hah ?" Tanya aldrik membuat asila terperangah, ia pikir aldrik tidak mengetahui hal itu.
"Itu karena aku tidak mau punya anak dari mu, lepas kan Aku aldrik. Kenapa kau pergi meninggalkan ku ?" hardik asila lalu mendorong tubuh aldrik kemudian membuka pintu mobil, seketika itu asila langsung berlari menuju tempat arka.
Arka mengernyitkan kan kening nya saat melihat asila berlari seperti ketakutan.
"Ada apa ?" tanya arka saat asila berada di hadapannya dengan nafas tersengal.
"aku mau pulang bang !" jawab asila mengalihkan perhatian nya, sementara aldrik memperhatikan Asila dari jauh bersama arka.
"Awas kamu asila....!" ancam Aldrik lalu masuk ke dalam mobil nya.
****
Usai magrib Yesa dan Erlin sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Ayahnya Ezi. Yesa semakin gugup dan gusar mengenai hubungan nya dengan Ezi. Apakah semua akan berjalan seperti harapan nya? Memang apa harapan nya?
Apa yesa berharap bisa bersama dengan Ezi? Entah lah Ia sendiri bingung.
Yesa menghela nafas panjang lalu bangkit dari duduk nya. Ia sudah berpenampilan cantik dengan dress cantik brokat berwarna merah marun.
Wina memperhatikan sang kakak yang seperti tidak tenang, terlihat kalau Yesa merasa risau.
"Kak, kok resah gitu sih. perasaan dulu biasa aja deh waktu kak arka mau melamar." ujar Wina membuat Yesa tertegun.
__ADS_1
"Eh, Wina salah ngomong ya ?" tanya Wina tersenyum kaku di hadapan Yesa.
"Ya, bedalah win. Kalau sekarang tuh kakak janda. Belum tentu kan orang tua bang Ezi mau menerima kakak ?" Ujar Yesa dengan sendu.
"Ya, Wina paham. tapi sepertinya bang Ezi akan berusaha meyakinkan ayahnya untuk menerima kakak. Percaya deh sama Wina !"
"Entah lah. Kakak tidak tahu win !". jawab Yesa lalu memperhatikan bintang yang sudah terlelap. Setiap melihat wajah bintang, ia selalu teringat Arka. Sudah beberapa waktu ini ia stop mengikuti kehidupan ayah nya bintang. Itu lebih baik untuk menghindari hal hal yang membuat nya sakit hati. Apalagi arka masih sering mengganggu nya.
*
Ezi melajukan mobilnya menuju rumah Yesa, Anggito mengerutkan keningnya saat mobil melaju menuju rumah seseorang yang ia kenal.
"Kita ke sini ?" Tanya Anggito terkejut karena rumah itu adalah tempat tinggal sahabat nya. apa mungkin perempuan itu Wina ? Tapi Wina belum menjada !
Anggito melebarkan pupil nya saat Rusli membuka pintu dan melihat mobil mereka di depan gerbang.
lekas ia Keluar dari mobil tanpa menunggu Ezi yang tengah bersiap.
"Hai...." seru kedua nya masih bingung. Rusli juga kaget saat Anggito lah yang datang ke rumah nya.
"Assalamualaikum, udah saling kenal ?" tanya Ezi pada kedua nya. Mereka melongok menatap Ezi, sedangkan Yesa, dan Erlin masih di dalam rumah.
"Kita mau besanan ? Ya ampun !" ujar Anggito paham bahwa ternyata Ezi menginginkan Yesa yang sudah bercerai dari suaminya.
"Ayah udah kenal pak Rusli ?" tanya Ezi melihat kedua nya berpelukan lalu terkekeh kecil bersama.
"Tidak usah lamaran segala, langsung menikah saja !" Ujar Anggito bersemangat masuk ke dalam rumah. Sementara Ezi mematung tidak percaya dengan keadaan itu, tak menyangka Allah SWT semudah itu memudahkan rencana nya.
"Loh, kok pak Anggito !" ujar Erlin.
"ya, Ezi tuh anak nya pak Anggito !" jawab Rusli lalu mereka berbincang tentang rencana Ezi yang ingin melamar Yesa, tentu Anggito langsung Setuju.
"Jadi kapan nikah nya zi, ayah setuju kalau besanan dengan anak nya Rusli..." Ujar Anggito mengulas senyum.
Sementara Yesa hanya termangu melihat orang tua Ezi begitu antusiasnya, tidak menyangka jika ternyata mereka berteman baik.
Bersambung...
Terimakasih yang masih setia 😍😍😍
__ADS_1