
Yesa sudah bersiap untuk pergi kerja, dan Arka sudah lebih dulu pergi.
arka seakan tak mengizinkan nya bekerja, namun Yesa tetap pergi.
Di rumah pun ia tidak memiliki kesibukan. kenapa arka tidak seperti suami Jesika, yang mengizinkan Jesika kerja.
Yesa melangkah keluar rumah lalu mengunci pintu. Ia juga sudah membereskan rumah sebelum berangkat.
Gegas Yesa menghampiri kendaraan roda dua nya kemudian melaju menuju kantor tersebut.
"bismillah Yesa, kamu tidak berniat apa apa selain kerja ? tidak salahkan mencari kesibukan ?"
Gumam Yesa sudah mulai melaju.
***
Pagi itu Arka masuk ke dalam ruangan supervisor di PT tempat nya bekerja, seperti rencana sebelum nya bulan depan ia hendak Risen dari perusahaan itu.
"kamu yakin Arka ?"
Tanya pak Budi menyayangkan keputusan Arka yang lebih memilih hobi nya.
"Ya, saya sudah yakin pak !"
Jawab arka dengan mantap.
Kesempatan itu sudah ia nanti kan sejak lama, dan arka tidak akan menyia-nyiakan nya.
"padahal saya mau promosi kan kamu jadi manager di perusahaan ini, kerja mu bagus dan kamu juga rajin !"
Sergah Budi berharap kalau Arka bisa berubah pikiran, namun ternyata Arka serius dengan keinginan nya itu.
"Saya tidak akan mundur lagi pak, ini adalah kesempatan yang sudah saya nantikan sejak lama !"
Jawab arka dan di anggukan oleh Budi.
"Baiklah arka saya akan urus uang pesangon kamu nanti !"
Arka mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut.
Arka langsung menghubungi pak Reza, beliau lah yang mengajak nya bergabung di team sepakbola bola Malang.
"pak saya sudah berhenti bekerja dan siap untuk pergi ke Malang !"
Ujar Arka di telpon.
"Baiklah arka, aku akan datang untuk menjemput mu weekend nanti!"
jawab Reza langsung memutuskan Panggilan telepon.
"Lo udah yakin mau Risen ?"
tanya Fahmi teman kerja arka.
"ya weekend ini gue pergi ke malang mi !" jawab Arka.
Ia langsung membereskan semua barang barang nya ke dalam kardus bekas, ia bahkan sudah tidak sabar ingin segera pergi.
"istri Lo gimana ? dia setuju ?"
__ADS_1
Tanya Fahmi membantu Arka membereskan barang nya.
"Ya harus setuju lah, tugas istri itu mendukung karir suami."
jawab arka singkat, ia benar benar tidak memikirkan perasaan Yesa.
saat ini yang terpenting bagi nya adalah menjadi seorang pesepakbola nasional.
"Ya sudah semoga lo sukses Ar !"
Ujar Fahmi, ia sendiri menyayangkan hal itu karena arka mendapatkan posisi bagus di perusahaan, namun ternyata hobi nya itu bukan sekedar hobi. Arka mempunyai mimpi menjadi pemain sepakbola terbaik.
Siang itu juga arka berpamitan pada teman teman nya.
"Sayang banget bang Arka malah berhenti kerja !"
ujar Nina, ia kerja bagian HRD dan sudah lama sekali mengenal arka.
"Ya, nah. Kita saling mendoakan saja !"
Nina mengangguk, kedua nya dekat karena masuk ke perusahaan itu di hari yang sama, namun hari ini arka lebih dulu Risen.
"Ya bang Arka semoga sukses. Nina titip salam buat Yesa ya !"
Arka menunjukkan jempol lalu pergi menghampiri mobil nya.
**
Sementara itu di tempat lain..
Yesa tersenyum senang karena ia di terima dengan baik di kantor tersebut. Hari pertama masuk mereka bersikap ramah pada nya.
Ujar Ibu Ajeng, ia yang menjadi pimpinan di kantor itu.
"baik Bu !"
Yesa langsung melakukan perintah dari Ajeng.
Seperti ini yang Yesa ingin kan, mempunyai kesibukan hingga ia melupakan sosok yang selalu membuat nya gundah.
Arka mengatakan bahwa hari ini ia akan mengajukan surat risen pada pimpinan nya. sebenarnya Yesa lebih senang arka kerja di perusahaan ketimbang menjadi pemain bola, bukan masalah uang tapi karena hal itu mereka harus LDR.
sementara Arka Juga tidak mengajak nya untuk ikut. Dia bilang kalau ia hanya akan merepotkan nya jika ikut.
Yesa menghela nafas panjang lalu duduk bersandar di kursi.
Semua pekerjaan sudah selesai dan tinggal menunggu waktu makan siang.
"Yesa, ayo pergi makan siang bersama !"
Ajak Luna mengulas senyum.
"Ya lun, tapi aku bawa bekal dari rumah. jadi makan siang di sini saja !"
sebelum berangkat ia memasak untuk mereka berdua, sebab Arka bilang kalau ia pulang siang.
Jadi semua sudah tersedia di meja makan jika arka pulang, dan sebagian Yesa bawa untuk nya makan siang.
"oh gitu, aku kira Kamu enggak bawa bekal !"
__ADS_1
Sergah Luna melihat kotak nasi yang berada di hadapan Yesa.
"ya, kak. tadi pagi Yesa masak untuk suami dan sebagian Yesa bawa aja. mau makan bersama ?"
Ajak Yesa lalu membuka kotak makan tersebut.
"enggak usah Yesa terimakasih. aku beli saja di depan !"
tolak Luna lalu beranjak pergi meninggalkan Yesa sendiri.
Seorang pria senyum melihat video pada cctv yang menampilkan aktivitas Yesa yang tengah makan, rasanya ingin sekali mendatangi Yesa, namun Ezi mengurungkan niat nya dan membiarkan Yesa nyaman berada di kantor itu. Tapi pasti nanti ia akan menemui Yesa.
*
lepas makan siang Yesa menunaikan shalat Dzuhur di musholla kantor itu, Kemana-mana Yesa tidak pernah meninggalkan Mukena nya.
Yesa teringat pada Arka, karena ego nya yang tinggi ia berbohong pada arka dan mengatakan kalau ia tengah datang bulan.
Gegas Yesa mengambil tas nya dan lekas menghubungi Arka.
"Halo bang, kamu dimana ?"
Tanya Yesa saat arka mengangkat telepon nya.
"di rumah pak Zidan.!"
jawab arka membuat Yesa tertegun sejenak mengingat kalau Zidan adalah ayah asila.
"kamu sedang apa bang ?"
Tanya Yesa ingin tahu apa yang suami nya lakukan di rumah itu.
"Aku sedang ngobrol dengan pak Zidan perihal keberangkatan ku ke malang, memang sedang apa ?"
Jawab Arka tidak suka karena Yesa banyak bertanya.
"Oh gitu ya sudah !"
Ujar Yesa lalu mematikan panggilan telepon Itu.
Di balik kata ya sudah ada secarik kecewa yang tidak terlihat, namun Yesa mencoba untuk meredam hingga padam.
Apa salah jika ia bertanya seperti itu ? tidak salah kan jika ia ingin tahu apa yang tengah suaminya lakukan di rumah asila.
Yesa menghela nafas berat lalu beranjak dari duduknya setelah merapikan mukena nya.
gegas ia kembali ke kursi untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Awal nya arka berencana untuk pergi ke malang bulan depan, namun kemarin Reza mengatakan untuk mempercepat keberangkatan Arka karena dua minggu yang akan datang akan ada pertandingan ke luar negeri.
Dan tentu nya Yesa tidak bisa menahan arka karena itu sudah menjadi impian nya sejak lama, hobi bukan sekedar hobi.
Arka juga bermimpi menjadi bintang sepak bola terbaik, namun di balik keinginan nya itu ada sosok perempuan yang harus mengorbankan perasaan nya.
Yesa mencoba untuk mendukung cita cita arka meskipun ia harus terbunuh sepi. sebenarnya ia tidak mau jauh dari Arka, tapi arka lebih memilih Hobi dan karir nya.
*
bersambung....
__ADS_1
terima kasih para reader yang sudah mampir dan bergabung dengan novel ini 😍😍