
Rusli segera datang ke rumah sakit saat Erlin memberikan kabar tentang keadaan Yesa. Anggito juga ikut karena ingin melihat keadaan anak teman nya itu.
"Assalamualaikum Bu, gimana keadaan yesa ?" tanya Rusli masuk ke dalam ruangan bersama Anggito. Terlihat Yesa tertidur meringkuk hingga Anggito tidak bisa melihat dengan jelas wajah putri sahabat nya itu.
"walaikumsalam..." jawab Erlin mengulas senyum pada Anggito. Mereka juga sudah lama saling mengenal.
"Baru tidur yah, tadi tuh demam tinggi tapi sekarang udah turun." jawab Erlin menoleh dengan rasa iba. ia masih berpikir apakah harus bercerita tentang kedatangan Mertua Yesa yang tidak bersahabat, serta sikap arka yang kurang perhatian pada istri nya ?
"Sakit apa ?" tanya Anggito.
"kata dokter tipes !" jawab Erlin dan di anggukan oleh Anggito.
"beri ramuan cacing saja, saya pernah dengar kalau cacing bisa mengobati sakit tipes !"
"ya itu termasuk obat herbal !" jawab Rusli lalu mengusap kepala putri nya yang sedikit hangat.
Rusli juga berpikir seharusnya Arka berada di samping Yesa, namun sepertinya Arka tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya di team.
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang dulu !" ujar Anggito lalu memberikan buah tangan yang ia bawa untuk yesa, satu buah cake strawberry ukuran besar.
"terima kasih ya nggi, kapan kapan kita makan bersama di rumah !"
ujar Rusli dan di anggukan oleh Anggito. pria itu langsung pamit pada Erlin.
Ezi menghentikan langkahnya saat melihat sang ayah berjalan di hadapan nya, gegas Ezi bersembunyi dan tidak ingin Anggito melihat nya. Tapi sedang apa sang ayah di rumah sakit ?
Luna dan Wida serta yang lainnya menoleh ke arah Anggito yang merupakan pimpinan mereka.
"kalian ngapain ke sini ?"
tanya Anggito yang mengenal Ajeng sebagai salah satu karyawan setia nya.
"jenguk teman pak !" jawab Ajeng sambil membungkuk kan tubuh nya. Anggito mengangguk lalu melengos pergi.
Ezi menghela nafas panjang lalu cepat bergabung dengan teman yang lain nya.
Luna dan Wida terkekeh melihat tingkah bos nya itu, Mereka tahu kalau Ezi bersembunyi saat melihat big bos.
__ADS_1
"Assalamualaikum..!" sapa mereka saat sampai di ruang perawatan yesa.
"walaikumsalam..." jawab Erlin senyum lalu menyuruh mereka untuk masuk.
Netra keduanya bertemu, Ezi tertegun melihat tatapan sayu dari manik milik Yesa, terlihat air mata mengenang di pelupuk mata nya. Ingin sekali rasanya merengkuh tubuh Yesa, namun Ezi hanya diam sebab mereka tidak sedang berdua.
"Terima kasih sudah datang menjenguk Yesa, doakan ya Yesa cepat sembuh !" ujar Erlin sembari menghidangkan minuman dan makanan untuk mereka.
"Ya, Bu. Enggak usah repot-repot. kalau ada lagi keluarin aja kue nya !" Celoteh Riko membuat semua yang berada di ruangan itu tertawa termasuk Yesa, ia tertawa sambil menyeka air matanya.
Tinggal Jesika yang belum datang, sebab ia masih kerja dan mungkin nanti malam ia menjenguk sahabat nya itu.
Suasana semakin hidup saat yang lain nya membuat candaan agar Yesa tertawa dan tidak sedih lagi.
"Wina, ibu pulang dulu untuk ambil pakaian ganti kakak mu. Nanti ibu balik lagi. Arka bawa pakaian nya tidak lengkap !" Ujar Erlin dan di anggukan oleh Wina. Erlin dan Rusli pamit pada teman teman Yesa.
Saat itu lah Ezi mendekati Yesa yang duduk bersandar di ranjang.
"kamu sudah makan ?" tanya Ezi mengusap air mata yang menetes di pipi Yesa. Erlin yang kembali hendak mengambil cucian kotor tertegun melihat Interaksi mereka yang begitu dekat.
"Makan ya, Abang suapi. Jangan menangis terus, lihat tuh jadi jelek !" ujar Ezi membuat Yesa terkekeh kecil. Ia pun menerima suapan dari Ezi.
*
*
Erlin berjalan di koridor rumah sakit sambil memikirkan Yesa dan teman pria nya, apa mungkin mereka ada sesuatu?
Erlin harus membicarakan hal itu dengan Yesa, itu adalah suatu kesalahan dan Yesa berdosa jika benar menyeleweng dari arka.
"ya tuhan lindungi lah anak ku dari godaan setan." batin Erlin lalu menyeka air matanya.
Apapun masalah nya, seperti apapun alasannya selingkuh tetap lah salah. Dan itu hanya akan membawa kita pada kemudharatan. Erlin tak akan membiarkan Yesa pada jalan yang salah.
Sungguh ia merasa lalai dalam mengawasi putri nya, jika benar itu terjadi maka keluhan yesa selama ini bukan main main.
***
__ADS_1
Tak begitu lama mereka pamit pulang dan yang tersisa hanya Ezi. Ia masih ingin menemani Yesa dan mengobrol banyak hal dengan Wina.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Akhirnya Ezi memutus kan untuk pulang karena Sang ayah sudah menelepon nya.
"Kamu baik baik ya. Ingat ya jangan memikirkan hal yang membuat kamu sedih. Ingat kesehatan kamu lebih utama." Yesa mengangguk dan membiarkan Ezi mengusap kepala nya.
Jesika yang masuk ke dalam tertegun melihat interaksi keduanya, ia rasakan ada sesuatu yang berbeda.
"Hai, sorry gue baru datang." ujar Jesika senyum ke arah Yesa dan Ezi.
"Udah ada yang gantikan tuh,Abang pulang ya." Yesa mengangguk lalu Ezi melenggang pergi setelah tos dengan Jesika.
"Kalian dekat? Lo selingkuh?"
Yesa hanya mengedikan bahu nya lalu Jesika duduk di tepi ranjang.
"sakit apa? hamil kali Lo?" tanya Jesika terkekeh kecil laku memeluk sahabatnya itu.
"Sabar yah !" ujar Jesika. Ia iba saat membaca pesan dari Yesa yang mengatakan bahwa Arka tetap pergi meninggalkan ia yang tengah sakit. Pada Jesika Yesa mencurahkan apa yang berada dalam benak nya. Dan jujur saja Jesika ingin sekali menyuruh sahabat nya itu meninggalkan arka. Toh ada Ezi yang benar benar menginginkan nya, lalu untuk apa bertahan ? Hal itu hanya akan membuat gila.
"Gue nginep deh temenin lo, biar nanti kalau ngelindur ada gue sama Wina !" ucap Jesika membuat Yesa tertegun.
sebenarnya bukan hanya Yesa yang tengah remuk, hal yang sama terjadi pada rumah tangga nya bersama Yuda. Namun tak menunggu lama, Jesika langsung mengambil tindakan untuk bercerai saat tahu kalau Yuda memiliki yang lain.
"Nanti Yuda gimana ?" tanya Yesa memperhatikan wajah Jesika yang menarik alisnya.
"Gue tuh udah pisah sama Yuda, kasus nya tuh beda. Dia kawin lagi, gila kan. gue langsung gugat cerai aja !" Cakap Jesika santai tanpa beban. Sementara Yesa yang tidak mengetahui apa apa hanya menganga.
"kenapa enggak pernah cerita kalau lagi punya masalah ?" tanya Yesa menyentuh tangan Jesika.
"Lo juga lagi sedih dan gue enggak mau menambah nya !" jawab Jesika lalu memeluk sahabatnya itu dan akhirnya keduanya menangis bersama dalam dekapan. Dan Wina hanya tertegun melihat kedua nya menangis dengan pilu.
Bersambung..
Nanti author balas komentar nya satu satu ya 🙏👍
terima kasih sudah mampir 👍🙏😍
__ADS_1