
Yesa termenung menatap hujan yang turun tanpa awan mendung, terik panas matahari namun, tiba-tiba saja hujan turun membasahi tanah yang kering.
Adakah kasih yang mampu menghilangkan dahaga yang tengah melanda jiwa nya, layaknya hujan yang turun membasahi tanah yang kekeringan.
"Abang mau pergi kuliah lanjut S2 dek, Tapi Abang cemas sama kamu!"
ujar Ezi memberanikan diri menghampiri Yesa. Ia bahkan tidak mengindahkan ucapan Yesa yang meminta nya untuk pergi.
"Abang enggak tenang karena keadaan kamu....!"
"kenapa Abang seperti itu sama Yesa?"
Tanya Yesa memindai wajah tampan Ezi yang duduk berjongkok di hadapannya.
"Abang cinta sama kamu...!"
Jawab Ezi membuat Yesa menitikkan air mata nya.
*
"boleh kah aku berandai andai tuhan ?"
batin Yesa meringis merasa kan perih. Benar kah ia masih mencintai Arka ? Sedangkan hati terasa pedih saat Ezi mengatakan bahwa ia akan pergi. Lalu bagaimana dengan dirinya ? Apa ia harus tetap dalam lingkaran memuakan?
Yesa menoleh pada ponselnya yang berdering, terlihat arka melakukan panggilan telepon.
tumben ?
"Halo...!"
Lirih yesa menjawab telpon tersebut.
Arka tertegun mendengar suara Yesa nampak lesu. Apa Yesa masih sakit ?
"Yes, kamu masih sakit ?"
Tanya Arka membuat Yesa tertegun sejenak.
"memang kamu peduli sama aku ?" tanya Yesa spontan tanpa berpikir ulang, sebelumnya ia selalu menimbang nimbang jika hendak berbicara dengan arka. Intinya Yesa selalu menjaga perasaan arka. Tapi kali ini tak ingin lagi berpura pura.
"kenapa kamu bertanya seperti itu ?" tanya arka menghela nafas panjang.
"Sebenarnya kamu sayang enggak sih sama aku ?" tanya Yesa sambil terisak membuat Arka tertegun.
"Ya sayang lah, aku juga usaha buat kamu !"
benarkah ?bulsyit
"Kamu kenapa sih ? sakit lagi ?" tanya arka mencoba melunak agar mereka tidak bertengkar.
"Aku sakit juga kamu enggak peduli kan, jadi kamu enggak perlu tahu keadaan aku !"
"Yesa, apa sih mau Kamu ? Aku telpon tanya keadaan kamu, salah. Aku enggak telepon lebih salah lagi, mau kamu apa ? Bosen kamu sama aku ?"
Yesa tak menjawab mendengar perkataan arka. Selalu seperti itu!
tutur kata selalu menyayat hati dan ujung ujungnya ia lah yang harus minta maaf.
__ADS_1
"Aku kerja keras untuk kamu, masa depan kita, tapi apa balasan kamu ? Anggap aku enggak peduli lah. Enggak sayang lah. Apa sih mau kamu ?" tanya arka mulai geram lalu mematikan panggilan telepon tersebut.
Yesa bersandar pada bantal yang bertumpuk lalu menangis.
"Aku mau kamu tuh ngerti aku, bukan cuma aku yang harus ngertiin kamu !" cakap Yesa sambil mencabik cabik guling. Layak nya hati yang tercabik mendengar ucapan arka.
*
"kenapa bang ?"
Tanya Asila yang sudah bersiap pulang ke jakarta.
"Yesa.....!" jawab Arka lalu bercerita apa yang terjadi barusan dengan mereka.
"oh yah, Sila bukan mau ngadu yang enggak bener. Tapi sila pernah lihat Yesa sama cowok. Mereka lagi makan siang di sebuah kedai mie ayam jamur. Sila lihat mereka mesra gitu bang, mungkin istri Abang selingkuh. Tapi sila juga enggak tahu pasti, coba aja Abang selidiki."
Cakap Asila membuat Arka tertegun.
"Sila pulang dulu ya !"
pamit sila lalu pergi meninggalkan Arka yang mematung sendiri.
"semoga kamu sadar bang, kalau yesa tuh enggak cocok sama kamu !" gumam asila lalu pergi meninggalkan kota malang.
mendengar hal itu justru membuat Arka semakin panas dan ingin pulang. Namun urung karena ia teringat akan kontrak yang masih tersisa enam Minggu lagi.
Arka menghela nafas lalu masuk ke dalam kamar nya.
"kenapa Lo Ar, muka kusut kayak gitu ?!" Tanya Rahman yang merupakan teman seteam Arka.
"istri gue....!"
"Istri Lo cantik, wajar sih kalau ada yang mau. kalau gue jadi Lo Ar, gue ajak kemana pun gue pergi. Gajih kita kan gede, cukup kok untuk kontrak rumah kalau cuma enam bulan. Gue salut sama Lo yang bisa tahan jauh dari istri, kalau gue sih mana bisa seperti Lo. Enggak akan tenang lah gue ninggalin nya. Istri juga butuh perhatian Ar. Jangan sampai dia terbiasa tanpa Lo, itu artinya kehadiran Lo enggak berpengaruh di hidup nya." cakap Rahman panjang lebar membuat Arka tertegun. Dan keinginan untuk pulang semakin menggebu.
"Udah Lo baikan deh sama istri Lo, apalagi dia baru sembuh kan!"
Sambung Rahman lalu memejamkan mata nya.
lekas arka menyambar ponsel nya lalu kembali menghubungi Yesa, namun tidak ada jawaban.
Arka semakin gusar saat beberapa kali melakukan panggilan telepon namun tidak ada jawaban dari Yesa.
Usai arka mematikan panggilan telepon nya, Jesika datang menghampiri Yesa yang tengah menangis sendiri.
"Udah jangan nangis lagi, sayang air mata Lo nangisin cowok yang cuma mau menang sendiri. Udah ikut gue, kita senang senang!"
Ajak Jesika semakin geram pada arka.
Saat ini Yesa dan Jesika tengah menonton film komedi, tanpa romantis. Komedi doang, udah muak dengar kata romantis.
hehe...
Keduanya tertawa dengan lepas melepas kan beban yang akhir akhir ini membuat penat.
Usai nonton kedua nya pergi ke tempat game, mereka bermain bermacam game hingga kedua nya puas tertawa.
"Udah ah capek !"
__ADS_1
Ujar Jesika lalu mengajak Yesa keluar dari area permainan.
"Ke bawah yuk, haus !" ajak Yesa lalu melangkah dari tempat itu di ikuti oleh Jesika.
Yesa mengerutkan keningnya saat melihat Ezi bersama seorang wanita tengah memilih pakaian.
"Hum...siapa tuh !?" tanya Jesika membuat Yesa menoleh. Saat itu pula Ezi melihat keberadaan Yesa yang tidak jauh dari toko dimana ia tengah memilih pakaian bersama Alma.
lekas Ezi menghampiri Yesa yang hendak pergi dengan Jesika.
"nanti kamu samperin Abang ya!" ujar Ezi pada Alma.
Yesa melangkah menjauh dari tempat itu saat melihat Ezi hendak menghampiri nya.
"Eca,,, tunggu !" seru Ezi berlari kecil mengejar Yesa yang berjalan cepat dengan Jesika. Namun dengan cepat Ezi meraih tangan Yesa.
"Abang panggil juga !" cetus Ezi lalu Alma menghampiri.
"Kamu enggak kasih tahu Abang ada di sini!" ujar Ezi memindai wajah cantik Yesa.
"enggak bawa hp, lagi di charger !" jawab Yesa memalingkan wajahnya.
"Ini adik Abang, Alma !" ujar Ezi membuat Jesika mengangguk paham.
"mumpung lagi di sini, ikut Abang !" Ajak Ezi lalu menarik tangan Yesa ke area bermain ice skating.
"Ayo kita main... Alma, sama Jesika Juga !" ujar Ezi dan di anggukan oleh Alma.
Berbeda dengan Yesa dan Jesika yang langsung menggeleng.
"Yesa enggak bisa bang !" Ujar Yesa membuat Ezi terkekeh.
"Ayo Abang ajari !" ajak Ezi menarik tangan Yesa masuk ke dalam arena.
mungkin Ia sudah gila, namun Ezi tidak memperdulikan keadaan mereka yang terhalang sekat.
Ezi berpikir kapan lagi menyenangkan Yesa karena sebentar lagi ia akan pergi.
"pegang tangan Abang. Kelak kalau kita berjodoh Abang akan ajak kamu ke jepang untuk lihat salju beneran !"
Ujar Ezi membuat Yesa tertegun sejenak lalu membiarkan tangan Ezi menarik nya ke wahana bermain salju.
"kamu tahu kenapa kita bertemu di sini ?" Tanya Ezi di belakang yesa.
"Aku berharap akan banyak kesempatan untuk kita bersama Eca, dan akan aku pinta kamu lewat jalur langit." Cakap Ezi lalu melaju di depan Yesa sambil melempar senyum.
Pria itu sebentar lagi akan pergi, entah apakah akan ada momen seperti ini lagi ?
Yesa mengulas senyum lalu mengejar laju Ezi.
"hum, katanya enggak bisa." ujar Ezi membuat Yesa terkekeh.
Sedangkan di sana seseorang tengah gusar tidak menentu sebab terakhir komunikasi mereka adalah pertengkaran. Sementara Yesa melupakan apa yang telah terjadi karena Jesika dan juga Ezi.
Bersambung.
Terima kasih untuk para reader setia, dan tolong ya gaes author minta yang mampir tolong baca cerita author jangan cuma skrol doang.😅😅😅
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mendukung, semoga terhibur.😍😍😍👍🙏