Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
berebut tas.


__ADS_3

Yesa merebahkan tubuhnya yang lelah di ranjang, Wajah nya sumringah tersenyum sendiri mengingat kebersamaan nya dengan Ezi.


Usai Main ice skating Ezi mengajak Yesa dan Jesika makan bersama.


Mereka berbincang apa saja hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul sembilan malam.


Akhirnya Ezi mengantar mereka pulang, Yesa tersenyum senang lalu menatap gelang cantik yang Ezi berikan untuk nya sebagai kenangan, karena pria itu sebentar lagi akan pergi.


Memang gila, ia tidak mengindahkan peringatan sang ibu untuk menjauhi Ezi. Bagaimana lagi jika pria itu lah yang bisa membuat nya tersenyum senang. Terpuruk pada keadaan pun hanya akan merusak mental nya.


Apa salah jika ia berusaha mencari kebahagiaan nya? Sedangkan seseorang yang ia harapkan Hanya membuat nya kecewa.


Yesa menoleh ke arah ponselnya yang berdering, lekas Yesa beranjak dari ranjang lalu menyambar ponselnya.


Terlihat dua puluh panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan dari Arka.


"kenapa sih kamu enggak angkat telepon nya?"


"Sayang kamu marah sama Abang ?"


"Kita harus bicara, enggak akan selesai masalah jika kamu terus seperti ini dek?"


"Mau nya kamu apa sih dek ?"


Yesa menghela nafas panjang membaca pesan arka sejak sore.


Yesa sudah lelah dan sudah memutuskan untuk tidak mengemis lagi pada Arka.


Terserah ia mau bagaimana, Yesa sudah jengah dengan semua itu. Jika ia bisa bahagia tanpa arka, lalu apa yang mau di harapkan lagi?


drttt drrttt


Arka kembali menghubungi Yesa, Ia melihat kalau Yesa sudah membaca semua pesan nya dari centang biru.


"Kamu masih marah sama Abang ?"


Ucap arka saat Yesa mengangkat telponnya.


level tertinggi sebuah kekecewaan adalah diam, maka itu yang akan Yesa lakukan.


"Abang minta maaf kalau ada salah, dek !" ujar Arka di sebrang sana. Ia benar benar gusar karena Yesa tidak menerima panggilan telepon nya.


Namun Yesa masih tetap diam tidak menjawab penuturan arka.


"Abang sayang sama kamu, Abang takut kehilangan..."


"Ya tapi apa yang nampak dari sikap tidak mencerminkan apa yang kamu katakan bang, Aku merasa tidak berharga. Aku serasa menjadi pengemis, Aku berusaha sabar sesabar yang aku bisa, tapi apa? Kamu malah terus mengabaikan aku !"

__ADS_1


"Ya dek, Abang minta maaf. Abang janji enggak akan seperti itu lagi. Musim depan Abang pindah ke Surabaya, dan Abang akan ajak kamu. kita enggak akan LDR lagi !" Ujar Arka membuat Yesa tertegun.


Mencoba menelaah hati, justru orang lain yang kini tersemat dalam hati. mengapa semua terjadi di saat ia tidak menginginkan nya lagi.


dan apa yang Yesa rasakan pada arka seperti mati rasa.


"Kamu sabar ya dek, satu bulan lagi Abang pulang kok !"


"Ya...!" jawab Yesa lalu mematikan panggilan telepon nya.


Yesa merasa lelah dan mengantuk. Tak ingin memikirkan arka.


**


Seminggu berlalu...


Karena kondisi Yesa sudah pulih akhirnya Yesa memutuskan untuk pulang ke rumah nya. Erlin mengatakan akan sering sering menengok nya di rumah.


Seminggu ini juga arka rajin menghubungi nya, namun Yesa bersikap biasa saja sebab Yesa sudah setengah hati, membiarkan semua berjalan apa adanya.


Yesa menghentikan langkahnya saat memasuki rumah, dan terlihat Fitri berada di dalam nya.


"eh kamu sudah pulang ?" tanya Fitri tersenyum palsu menghampiri Yesa.


"Ibu sedang apa di rumah ini ?" tanya Yesa tanpa menatap wajah mertua nya itu.


Yesa menghela nafas panjang, ia tidak mengerti apa maksud Arka. Yesa yakin arka yang menyuruh ibu nya.


tidak mungkin perempuan tua ini tiba tiba ingin tinggal di rumah mereka, sedang kan ia memiliki rumah yang lebih besar.


"Ya sudah terserah ibu saja !" ujar Yesa lalu masuk ke dalam kamar.


Yesa terperangah melihat lemari nya yang terbuka dan gegas Yesa melangkah, Yesa mencari cari kotak musik yang tidak berada di tempat nya.


tas pemberian Ezi juga tidak ada, lekas Yesa keluar menghampiri Fitri yang tengah duduk santai di ruang tengah.


"Bu, siapa yang geledah lemari Yesa ?" tanya Yesa pada Fitri yang langsung beranjak dari duduknya.


"Enggak tahu, ibu cuma lihat Tas branded ini di depan. Gila ya kamu beli tas segini mahal nya. Ibu tahu kalau tas ini harga nya dua puluh juta."


Ujar Fitri membuat Yesa termangu sejenak. Tidak mungkin Yesa bercerita jika tas mahal itu pemberian Ezi.


"kamu ngabisin duit arka hanya untuk membeli tas seperti itu, bener bener ya gaya kamu itu selangit. kamu pikir suami kamu itu sultan, beli tas semahal itu."


Cakap nya lagi lagi membuat Yesa sakit hati. Ingin sekali rasanya mengatakan bahwa ia mampu membeli nya sendiri tanpa uang dari arka. namun sang ibu mengingat kan nya untuk tidak melawan orang tua apalagi mertua.


"Udah pokoknya tas nya buat ibu !" cetus nya membuat Yesa menganga.

__ADS_1


"Apa kamu ? Ibu lapor arka mau ?" ancam Fitri membuat Yesa geram, namun kali ini Yesa tidak mau kalah. Apalagi tas itu pemberian dari Ezi.


"Enggak Bu ini milik Yesa !"


jawab Yesa menarik tas itu dari tangan Fitri. Tentu ia harus mempertahankan apa yang menjadi milik nya.


enak saja !


gumam Yesa lalu masuk ke dalam kamar meninggalkan Fitri yang geram pada nya.


Gegas Fitri menghubungi Arka dan mengadukan semua nya pada arka.


"Enggak mungkin Yesa seperti itu Bu !"


sergah arka memijat keningnya lalu menghela nafas panjang. Beberapa waktu ini ia tidak fokus latihan karena masalah itu. Ia juga berusaha memberikan perhatian lebih pada Yesa, dan sekarang masalah tas.


"tanya saja istri mu yang tidak sopan itu!"


Arka memang sengaja meminta Fitri untuk berada di rumah itu untuk menemani Yesa, namun yang terjadi mereka malah berebut tas.


gegas arka menghubungi Yesa, namun Yesa tidak menjawab telpon arka.


Yesa tahu kalau mertua nya itu mengadu pada Arka, dan dia tidak akan memberikan tas itu.


"sayang, coba kamu angkat dulu telepon Abang !"


Yesa menghela nafas panjang lalu mengangkat telponnya.


"Ada apa sih dek !"


tanya arka lesu.


"Aku berhak mempertahankan milik ku, jadi kamu jangan minta aku kasih tas itu ke ibu !"


Ujar Yesa membuat arka tertegun sejenak


"dari mana sih kamu dapatkan tas itu, aku tahu tas itu harga nya mahal. Dan gaji kamu di kantor juga tidak seberapa. Kamu macam macam di belakang Abang ?" sergah arka mulai naik pitam. Ia benar benar ingin sekali pulang dan menyelesaikan masalah itu.


Yesa tertegun mendengar pertanyaan dari Arka.


"Apa sih mau kamu yes, aku udah berusaha seperti keinginan kamu, aku juga kerja jauh untuk kamu ?" ujar Arka namun Yesa tak juga bersuara.


"Aku enggak suka ada ibu kamu di rumah, Kamu sengaja nyuruh dia untuk awasi aku begitu?" tanya Yesa mengalihkan pembicaraan.


kalau sudah seperti itu hanya pertengkaran yang tidak berujung, dan lagi lagi keduanya adu mulut.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir, tolong author ya untuk yang mampir jangan skrol doang, baca sampai selesai ya.🙏🙏🙏👍😍


__ADS_2