
Andin menghempas kan tubuh nya di ranjang, Ia tersenyum memegang uang seratus ribuan yang cukup banyak. Kini ia bekerja melayani pria hidung belang, Andin berpikir pekerjaan seperti itu cepat mendapatkan uang banyak di banding bekerja di kantor atau butik semacam itu. Ia hanya cukup membuka paha dan uang akan berjatuhan dengan cepat.
Ia sudah resmi bercerai dengan suaminya, dan Andin tidak mendapatkan uang sedikit pun dari penjualan rumah mereka. dan yang lebih menyakitkan adalah suaminya itu langsung menikah lagi setelah resmi bercerai dengan nya. Andin merasa sakit hati dan prustasi hingga ia jatuh ke lembah hitam dunia malam, dan kedua orang yang nya tidak mengetahui apapun tentang hal itu. Ia juga tidak mengikuti perkembangan sang kakak, hingga Andin tidak mengetahui jika arka mengambil cedera.
"Andin...!" seru Fitri dari balik pintu kamar nya.
lekas Andin bangkit lalu menyembunyikan uang tersebut. Gegas ia membuka pintu dan melihat Fitri sudah rapi.
"Mau kemana Bu ?" tanya Andin membuat Fitri menghela nafas panjang.
"kita berangkat ke Bali sekarang, Kakak kamu tuh cedera kaki nya. Ibu khawatir kalau Asila tidak bisa merawat nya dengan baik.!"
"Astaga ibu, biarkan saja. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Mana mungkin asila mengabaikan kak arka." Andin menghela nafas panjang.
"Terserah kamu, pokoknya ibu mau ke Bali sekarang !" Ujar Fitri kekeuh dengan keinginan nya.
"Ya, tapi Andin enggak bisa antar Bu !"
Jawab Andin membuat Fitri menganga.
"kamu harus antar ibu, pokoknya harus !" sergah Fitri tak menerima penolakan dari Andin.
"Astaga, gue mau cari duit aja selalu ada halangan nya !" batin Andin lalu masuk ke dalam kamar mandi. Kalau sudah seperti ini mana bisa ia membantah perintah sang ibu.
__ADS_1
***
Arka menjauh kan mangkuk yang berisi sup daging yang tadi asila pesan. Rasa nya tidak enak dan jauh sekali dengan buatan yesa.
"kenapa bang?" tanya asila memindai wajah Arka yang redup.
"enggak enak, aku mau kamu yang masak dek !"
"ya, tapi rasa nya akan lebih rendah. Kamu kan tahu bang kalau aku enggak bisa masak !" cetus Asila duduk di hadapan arka.
"aku tidak mau makan, buatkan nasi goreng saja !"
Ujar Arka membuat Asila menganga kesal.
Arka menghela nafas panjang lalu menoleh ke arah asila yang masuk ke dalam kamar.
"Nih, Yesa buatkan sup daging kesukaan kamu. daging nya tuh empuk banget.....!"
Arka menunduk kan kepalanya teringat dengan Yesa, ia paling bisa menyenangkan hati nya. Yesa juga bisa masak berbagai macam makanan yang ia suka tanpa harus membeli. Dan di saat seperti ini Yesa juga telaten mengurus nya.
dulu juga ia pernah cedera dan Yesa begitu sabar merawat nya hingga sembuh, membasuh tubuh nya tanpa sungkan. Melayani nya sepenuh hati tanpa mengeluh. Tapi Asila ? Belum apa apa ia sudah mengeluh.
Arka menghela nafas panjang lalu memijat kepala nya yang terasa pusing. tubuh nya juga sedikit demam, Arka berharap Fitri cepat sampai hingga ia tak perlu mengandalkan Asila.
__ADS_1
lekas ia beranjak mengambil obat lalu meminum nya, setelah itu arka merebah kan tubuh nya di Sofa.
memang seharusnya ia tidak menikah dengan asila, seharusnya aku sendiri sampai keadaan hati ku membaik. Percuma ada asila jika keadaan nya ia masih mengingat seseorang yang ia benci, harus nya ia lekas melupakan Yesa, tapi nyatanya ia justru tidak bisa melupakan Yesa. Arka juga masih penasaran dengan bayi Yesa, bagaimana jika anak itu memang anak nya ? Lagi lagi arka menggeleng kan kepala nya dan mencoba melupakan Yesa. Tak seharusnya ia terus memikirkan seseorang yang sudah menghancurkan rumah tangga mereka. Untuk apa lagi? Tak akan pernah ia berpikir untuk kembali, semua sudah terkubur jauh dalam memory nya.
***
"ibu sudah kasih tahu teman ibu besok acara aqiqah bintang ?" ujar Erlin duduk di samping Yesa yang tengah memandikan bintang.
"Ya Bu, catering nya siap kan ?" tanya Yesa lalu tersenyum memperhatikan bintang.
"Sudah, pak Anggito juga mau datang. ibu juga udah pesan makanan yang lain nya, ayah kamu undang teman yang lain nya juga !"
"Ya sudah Bu, enggak apa-apa.!"
"pak Anggito tuh baik loh yes, ibu tahu betul istri nya. Beliau juga baik dan ramah, mereka orang kaya tapi tidak sombong. Mereka bahkan senang berbagi.!" ujar Erlin bercerita tentang almarhum ibu nya Ezi.
"Ayah dan pak Anggito itu hobi traveling pakai motor trail. Tapi mereka tidak pernah mengabaikan kami para istri. kita sering di ajak, tapi ibu lebih memilih di rumah membuat kue. jika weekend kita berkumpul untuk makan bersama, sampai pak Anggito pindah ke Kalimantan untuk kepentingan bisnis nya, sejak saat itu ayah mu tidak pernah pergi traveling lagi. waktu libur nya ia fokus kan untuk ibu hingga memiliki kalian berdua. Ayah merupakan suami yang siaga, Dia selalu siap saat ibu dan kalian membutuhkan. Sesekali ia pergi bermain badminton dengan teman nya, namun tetap ibu menjadi prioritas utama nya. Semoga Akram dan Ezi bisa menjadi suami siaga untuk kalian berdua. Ibu tidak pernah lelah mendoakan kebahagiaan kalian !" cakap Erlin panjang lebar. Gegas Yesa memeluk sang ibu setelah meletakkan bintang di bok nya.
"Terima kasih Bu, Yesa tidak khawatir dunia runtuh selama masih ada ibu yang memeluk Yesa. Yesa tak akan bisa membalas semua kebaikan ibu, Yesa berharap ibu selalu sehat hingga kita bisa terus bersama !"
bersambung.
terimakasih yang masih setia 😍😍😘
__ADS_1