
Yesa terpaksa menerima tawaran Ezi untuk mengantarkan nya pulang ke rumah karena Arka tidak bisa menjemput nya.
Hujan masih deras dan Yesa memilih diam tak bersuara, kini mereka berdua di dalam mobil melaju menuju tempat tinggal Yesa.
"dek, Abang minta maaf ya !"
Ujar Ezi mulai membuka obrolan, mobil berhenti di lampu merah.
"Minta maaf untuk hal apa?"
tanya Yesa ingin tahu apakah Ezi akan membahas permasalahan mereka dulu.
"ya, soal yang dulu !"
"bukannya itu sudah berlalu, Yesa juga sekarang sudah menikah"
Jawab Yesa membuat Ezi menoleh.
"Ya,Tapi tetap saja Abang merasa bersalah karena pergi meninggalkan kamu begitu saja!"
Yesa memalingkan wajahnya dan tidak ingin mengingat masalah itu.
"Yesa sudah melupakan semua itu bang?!"
Jawab Yesa berbohong, padahal waktu kebersamaan itu tidak pernah terlupakan. memang sebentar tapi itu yang pertama untuk Yesa. tidak mudah melupakan kenangan indah bersama Ezi.
"Abang kira pas balik kamu belum nikah dek !"
Sergah Ezi, Ia tidak menampik kalau Ezi masih menyukai Yesa.
"Memang seharusnya bagaimana? aku nunggu kamu kembali?, aku bahkan enggak tahu kamu pergi kemana bang? kalau kamu pergi karena menikah dengan orang lain bagaimana ?"
Jawab Yesa menarik nafas nya dalam.
"Ya Abang memang salah dek, Abang minta maaf !"
Tak lama mobil sampai di depan rumah Yesa, Keduanya terdiam dengan pemikiran masing masing.
"Terimakasih bang sudah mengantar yesa pulang?" ujar Yesa membuat Ezi tertegun sejenak lalu
memperhatikan rumah Yesa yang cukup besar meski tidak bertingkat.
"Ini untuk kamu yesa ?!"
Ujar Ezi menyodorkan sebuah paper bag berwarna merah muda bercorak bunga sakura.
"Apa itu bang?"
Tanya Yesa saat hendak keluar dari mobil.
"Sesuatu. ambil lah !"
Titah Ezi membuat Yesa tertegun melihat isi dalam paper bag tersebut.
sebuah kontak musik berbentuk komedi putar. Yesa ingat bahwa kotak musik tersebut adalah barang yang hendak ia beli kemarin.
"Aku beli saat di mall, aku lihat kamu pilih kotak musik itu, tapi entah kenapa kamu menyimpan nya lagi. Aku beli saja dan berniat memberi kan kotak musik itu untuk kamu. meskipun aku enggak tahu kapan bisa memberikan kotak musik itu, tapi kenyataannya semesta memberikan aku jalan lebih cepat.!"
Cakap Ezi menoleh ke Yesa yang tidak bergeming.
__ADS_1
"Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerima nya!"
Tolak Yesa lalu kembali memberikan paper bag tersebut.
"Jangan di tolak Ca, Abang mohon sama kamu. Abang berharap bisa berteman dengan kamu seperti dulu!"
Yesa tertegun mendengar harapan Ezi, tapi mana bisa seperti itu? kenapa ia berbicara semudah itu.
"Abang sengaja beli untuk kamu, dan tolong di terima."
Sambung Ezi lalu kembali memberikan paper bag yang Yesa kembalikan.
"Terima kasih bang!" ujar Yesa dengan lirih.
Rasanya tidak bisa mengingkari kalau ia memang sangat menginginkan kotak musik itu, tapi Arka selalu menegaskan untuk membeli barang yang di butuhkan bukan yang di inginkan. sedangkan ia hampir setiap bulan membeli sepatu bola hingga berjejer di rak lemari, harga sepatu nya juga tidak ada yang murah.
Yesa membuka pintu lalu keluar dari mobil Ezi, rasa nya Ambigu dan salah tingkah. gegas Yesa melangkah lalu masuk kemudian menutup gerbang rumah nya.
Yesa berlari kecil masuk ke dalam karena hujan masih turun, dan Ezi masih terdiam di mobil nya.
Yesa bergegas masuk dan melihat jam menunjukkan pukul lima sore. entah Arka akan pulang jam berapa? Gegas Yesa masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan paper bag tersebut, kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Yesa menatap wajah nya yang lusuh di cermin, Rasa nya tidak menentu mengingat apa yang Ezi sampai kan tadi. teman? Seperti dulu?
Mana bisa berteman dengan mantan!?
dulu juga mereka teman dan berubah menjadi sepasang kekasih, Tapi keadaan sekarang tidak lah sama, ia sudah menikah. Lalu bagaimana mana jika perasaan yang dulu kembali muncul?
Yesa menggeleng kan kepala nya lalu menghela nafas panjang, ia kembali mengingat Arka yang sibuk dengan pekerjaan dan hobi nya. mengapa tidak ada sedikit saja waktu untuk nya ?
Yesa kembali menghela nafas berat lalu mulai membuka baju kemudian mengguyur tubuh nya dengan air hangat.
Yesa menoleh pada kaca jendela, keadaan sudah gelap dan hujan masih turun, namun Arka belum juga kembali.
Yesa menunaikan shalat Maghrib sendirian tanpa Arka.
Rasa nya lapar dan malas untuk masak, Yesa beranjak keluar lalu melihat Arka masuk ke dalam rumah.
"Sayang kamu pulang sama siapa tadi?"
Tanya Arka mengulas senyum lalu menghampiri Yesa.
"Sama mantan !"
Jawab yesa dengan jujur dan ingin tahu apa tanggapan Arka.
"Masa sih ?"
Jawab Arka menanggapi lalu terkekeh kecil, Arka mengira kalau Yesa sedang bercanda padahal ia tengah berkata jujur.
"Oh ya sayang maaf ya tadi acara nya dadakan, pulang dari Bandung malah di ajak makan dulu, Abang bawa sate nih buat kamu !"
Ujar Arka mengalihkan pembicaraan.
"Ayo makan dulu dek, Abang udah makan. mau mandi dulu ya!"
Sambung Arka lalu masuk ke kamar.
Yesa kembali menghela nafas panjang, Arka benar benar tidak merasa khawatir sama sekali dan ia malah menganggap hal itu sebagai lelucon.
__ADS_1
Yesa tidak mau peduli dan lebih Memilih untuk menghabiskan sate yang arka bawa untuk nya.
Setengah jam kemudian arka kembali dan menghampiri Yesa di meja makan.
"Sayang kamu tahu enggak ?"
Tanya arka duduk di hadapan Yesa, tentu istri nya itu tidak paham dengan apa yang Arka maksud.
"Sayang, Abang di tawarin untuk gabung ke team sepakbola malang !"
Ujar Arka bermaksud untuk berhenti kerja dan fokus di sepakbola.
"Kamu udah cerita beberapa waktu yang lalu !"
jawab Yesa menghela nafas panjang.
"ya, tapi sekarang tuh beneran yang. Mereka minta Abang untuk fokus di bola !"
sergah arka membuat Yesa tertegun.
"Maksud nya kamu mau berhenti kerja bang ?"
Arka mengangguk pelan.
"kamu tenang aja sayang, gajih nya sama kok seperti aku kerja di PT. malahan lebih besar kalau kita ada pertandingan."
Yesa masih diam mencerna ucapan Arka.
"Malang itu jauh bang, kamu pindah ke malang ?"
Tanya Yesa tidak paham dengan pemikiran Arka.
"Ya ya lah, Kita long distance dulu !"
Jawab arka berbicara dengan mudah nya.
"Tapi aku enggak mau LDR sama kamu bang !"
Sergah Yesa membuat Arka terperangah.
"kenapa? kamu enggak percaya sama aku?"
Tanya arka dengan nada sedikit tinggi.
"Harus nya kamu tuh dukung aku Yesa, bukan mau nya di manja manja terus. kapan lagi coba mumpung ada kesempatan."
Sanggah Arka menghela nafas berat lalu pergi meninggalkan Yesa yang mematung sendiri di meja makan.
Yesa menghela nafas panjang lalu menyeka air matanya, Arka malah pergi meninggalkan rumah setelah mengambil tas nya.
Yesa menelan Saliva pahit lalu duduk menghempaskan bokong nya di kursi meja makan.
Itulah kenapa Yesa malas berdebat dengan Arka karena Arka selalu ingin menang sendiri dan tidak pernah sekalipun ia memperdulikan perasaannya.
Yesa hanya bisa menangis sendiri menyikapi sikap arka yang tidak mau di bantah.
bersambung..
Terima kasih sudah mampir.
__ADS_1
para reader yang baik hati, dukung karya author ya😍😍😍