
Beberapa hari berlalu...
Yesa termenung sendiri menatap kotak musik yang berada di depan nya. Sinar matahari mulai memasuki ruangan rumah nya. Yesa tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya, Satu Minggu ini arka tidak menghubungi nya. Lebih parah nya arka selalu menolak panggilan telepon nya.
"kenapa keadaan bertambah sulit saat aku ingin memperbaiki semuanya, kenapa rasa perih kian mendera jiwa nya. Apa yang harus aku lakukan tuhan ?" Batin Yesa meringis sendiri.
sejak kejadian lalu Fitri, ibu mertua nya itu tidak pernah kembali ke rumah. Erlina dan Rusli juga sibuk, mereka mengatakan bahwa hari ini mereka akan pergi ke Bandung untuk menghadiri acara pernikahan partner kerja sang ayah.
Kalau saja keadaan nya tidak seperti ini, mungkin yesa akan ikut. tapi Erlina mengatakan bahwa sebaiknya ia beristirahat di rumah saja. Yesa juga belum memberi tahu mereka kalau Ia hamil. Yesa ingin Arka menjadi orang yang pertama tahu kalau ia hamil. namun entah kapan ia pulang ? Kenapa arka mengacuhkan nya seperti itu ?
Yesa menyeka airmata nya lalu beranjak dari duduknya.
rasa nya benar benar penat dan membosankan.
"Dek, besok Abang pergi ke Swiss. Apa kamu enggak mau pergi jalan-jalan dulu sama Abang ? Kita pergi ke Bandung atau kemana kek !" Pesan Ezi tadi malam.
Namun Yesa tidak berani apalagi ia sudah mendapatkan peringatan dari sang ayah.
Sampai kapan seperti itu ? Sedangkan harapan menjadi bayangan semu.
Dan kenyataan nya sekarang ia sendiri ? pahit ia telan sendiri. Lalu hal apa yang membuat nya agar semangat ?
Yesa melajukan motornya entah mau kemana, Ia juga masih menggunakan piyama tidur.
Yesa menghubungi Jesika, namun sahabat nya itu masuk kerja, hingga tidak bisa menemani nya.
Yesa melajukan motornya menuju stadion xx, keadaan ramai karena menjelang weekend. Banyak yang berolahraga atau sekedar nongkrong.
Entah kenapa hatinya merujuk ke dalam stadion, lekas langkah nya mengikuti keinginan hati.
Yesa tertegun melihat seseorang yang ia kenal tengah bersama seorang perempuan.
bukan kah ia berada di malang ? Atau ia salah lihat ? Yesa melangkah semakin dekat namun bersembunyi di balik tubuh seseorang yang tengah berdiri.
Ya, itu arka !
Arka tengah duduk berdua di lapangan bersama Asila. Suaminya itu tengah bersenda gurau, kapan ia kembali ke Jakarta ? Kenapa ia tidak ke rumah ?
Yesa mengepal kan tangan nya, perih itu kian mendera saat mendapati kalau arka lebih memilih orang lain bersama nya, ia bahkan tidak langsung pulang ke rumah.
Kenapa ?
__ADS_1
Yesa membalikkan tubuhnya dengan derai air mata, perih kian menusuk luka nya yang masih basah.
lagi lagi mual itu menyerang membuat muak, padahal Yesa ingin sekali memberikan kejutan pada arka, tapi kenyataannya ia seperti tidak peduli.
Yesa menghampiri motor nya dan merasa kan perutnya keram dan sakit. Lekas Yesa melajukan motornya menuju rumah.
lima belas menit kemudian Yesa sampai di rumah, rasa sakit itu semakin terasa dan Yesa mencoba menghubungi Arka, namun pria itu malah menolak panggilan nya. Saat seperti ini ia sangat membutuhkan arka, tapi pria itu mengabaikan nya dan terpaksa Yesa menghubungi Ezi. Yesa sudah tidak peduli dengan ucapan sang ayah, saat seperti ini ia hanya butuh Ezi.
**
Sebenarnya sudah seminggu ini Arka berada di jakarta, namun ia tidak langsung pulang ke rumah. Ia tinggal di rumah orang tua nya, Andin sudah membeberkan semua nya hingga arka benar benar merasa sakit hati. Andin mengatakan untuk menyergap Yesa bersama pria itu, hingga beberapa hari ini arka mengawasi Yesa dari kejauhan. namun selama satu Minggu ini ia tidak mendapatkan apa-apa. Yesa juga selalu sendiri.
Waktu seminggu ini ia habiskan bersama Asila dan mengacuhkan Yesa, tak menghubungi dan menolak panggilan telepon dari Yesa.
*
Ezi tertegun saat melihat Yesa menghubungi nya. ia sendiri tengah mempersiapkan kepergian nya esok,
gegas Ezi mengangkat telepon nya.
"Bang....." ujar Yesa sambil menangis membuat Ezi melebarkan matanya.
"Ada apa ca? kamu kenapa ?"
"Bang, tolong perut Yesa keram !" pinta Yesa sambil terisak.
Tanpa berkata lagi Ezi langsung melajukan mobilnya menuju rumah Yesa.
lima belas menit ia memacu mobil nya dengan cepat agar segera sampai di depan rumah Yesa.
"Dek...!" seru Ezi mengetuk pintu dan Yesa berusaha membuka pintu.
"kamu kenapa ?" tanya Ezi saat Yesa memegang tangan nya erat.
"Aku mau ke rumah sakit bang !"
Ezi mengangguk lalu menuntun nya kemudian melajukan mobilnya menuju klinik bidan seperti permintaan Yesa karena rumah sakit cukup jauh. Bersamaan dengan itu mobil Arka sampai di depan rumah dan melihat mobil keluar dari rumah nya. Gegas Arka mengikuti laju mobil tersebut.
"Kamu kok minta ke bidan sih dek!"
tanya Ezi menoleh ke arah Yesa yang mengigit bibirnya.
__ADS_1
"Yesa hamil bang !" jawab Yesa membuat Ezi tertegun sejenak. justru Ezi lah orang pertama yang mengetahui bahwa ia hamil, bukan arka.
"Makanya Yesa bingung harus apa bang ?!"
Ujar Yesa membuat Ezi menghela nafas berat.
tak lama mobil sampai di depan klinik, gegas Ezi keluar membukakan pintu. Dan dari jauh Arka mengepal kan tangan nya. Rasa sakit pun sama ia rasakan melihat istri nya bersama pria lain, benar ternyata kata mereka kalau istri nya itu selingkuh.
lekas arka meninggal kan tempat itu dan kembali ke rumah.
"Usia kehamilan nya baru delapan Minggu, tidak boleh stress ya Bu. pak tolong ibunya di jaga ya !" Ujar Bidan membuat Ezi termangu. Sementara Yesa memalingkan wajahnya dari Ezi.
"Abang berharap kalau itu anak Abang, Tapi itu hanya angan angan."
Mereka memang dekat Namun keduanya tak sampai berbuat sejauh itu.
"Abang tidak tahu apa maksud tuhan, tapi Abang masih berharap jika kelak ada suatu masa untuk kita bersama !" Ujar Ezi lalu mengajak Yesa untuk pulang.
Ezi tak menyangka kalau Yesa hamil, apa mungkin tuhan tak mengizinkan mereka berpisah ? Apa desakan dari sang ayah juga suatu firasat akan kenyataan ini ?
Sungguh Ezi kecewa karena ia benar benar menginginkan Yesa, ia berharap mereka bisa bersama merajut asa bukan hampa.
Lantas bagaimana dengan keadaan ini ?
"Abang ikhlas kamu bahagia dek !" ujar Ezi menundukkan kepala nya, menyembunyikan wajah nya yang basah.
"Maaf kan yesa bang !"
Ezi tak menjawab dan menelungkup kan wajah nya di setir mobil.
"Abang benar benar menyesal karena dulu sudah meninggal kan kamu begitu saja, Abang menyesal dek !" Ujar Ezi sambil menarik ingus nya.
Keadaan mengatakan bahwa ia kalah dan harus menyerah, tentu saja hal itu membuat ia sakit. Ia sungguh mencintai perempuan yang berada di samping nya, ia bahkan menolak puluhan wanita yang datang, namun keadaan begitu memilukan.
"Abang antar kamu pulang, besok Abang pergi ke Swiss dan berjanjilah kamu akan baik baik saja dek. Bagaimana Abang menjalani hidup karena keadaan pun tak menjamin kamu bahagia !"
Cinta itu tulus hingga rasa cemas serta khawatir merayapi benak membuat resah dan gusar.
Menggenggam pun ia tidak mampu, lalu pergi pun rasanya sulit ?
Bersambung...
__ADS_1
Jangan pergi dulu... tunggu kelanjutannya ya 🙏🙏🙏🤭😍