
Yesa tidak berbicara mengapa wajah nya sembab, Ia tidak ingin membahas soal arka lagi.
"enggak apa apa bang!"jawab Yesa menundukkan wajahnya.
Ezi mengangguk dan tidak memaksa Yesa untuk menjawab pertanyaan nya. sebab ada beberapa hal yang menjadi privasi.
Tak lama suster datang lalu memberikan bintang pada Yesa, suster mengatakan bahwa mereka sudah bisa pulang. Administrasi juga sudah beres dan sekarang tinggal pulang.
"Bang, terima kasih udah bayar biaya rumah sakit. Aku enggak enak...!" Tutur Yesa.
"kenapa harus enggak enak, Abang ikhlas kasih semua itu sama kamu !" Jawab Ezi lalu membantu yesa duduk di kursi roda. Tak lama hawa datang untuk membantu membawa barang mereka. Sedangkan Erlin menggendong cucunya.
Usai mengemasi barang-barang, Ezi mendorong kursi roda menuju mobil nya. Erlin tersenyum memperhatikan kedua nya. Ezi memang benar benar baik, Ia sungguh sungguh menunjuk kan ketulusan nya pada Yesa.
"Semoga tuhan memudahkan jalan mereka untuk bersama menuju halal..."
****
Rusli mengajak Anggito pergi makan di sebuah kedai kopi yang berada di pinggir jalan, kedua nya memang terkadang memilih tempat seperti itu untuk sekedar ngobrol santai.
Anggito memperhatikan kedai tersebut lengkap dengan ayam geprek serta makanan lainnya.
"Mau makan juga ?" tanya Anggito pada Rusli.
"boleh lah, sudah siang juga. Kemungkinan anak ku juga sudah pulang !" Ujar Rusli bercerita tentang Yesa yang sudah melahirkan.
"Syukur lah kalau begitu, mirip siapa anak nya ?" tanya Anggito duduk lalu meminta seseorang menghampiri untuk memesan makanan dan kopi.
"Arka...!"
__ADS_1
"Ayam geprek nya dua sama kopi nya dua, air mineral nya dua!" Pesan Anggito pada perempuan itu.
"tunggu sebentar ya pak !" ucap perempuan itu mengulas senyum membuat Anggito termangu.
"kenapa kau ini ?" tanya Rusli terkekeh memperhatikan wajah Anggito yang terus memperhatikan wanita penjual ayam geprek itu.
"anak ku ingin aku menikah lagi !" jawab Anggito melepaskan perhatian nya dari wanita itu.
"ide bagus, kau memang butuh pendamping !" jawab Rusli membuat Anggito termenung.
"Yang sudah pergi tidak akan kembali, coba lah.... kau ini masih muda dan masih kuat di ranjang !" ujar Rusli membuat Anggito melebar kan mata nya, sementara Rusli malah terkekeh kecil.
"Silahkan pak !" ucap wanita itu menyodorkan kopi dan pesanan makanan lainnya. Setelah itu Wanita itu kembali dan kedua nya langsung mencicipi makanan tersebut.
***
Siang ini arka pergi ke rumah Zidan untuk membicarakan keberangkatan nya ke Bali. Dan arka memberanikan diri untuk meminta pergi tanpa asila.
"tapi kenapa bang, aku mau ikut ke Bali. aku janji enggak akan macam macam lagi !" pinta asila di depan Zidan, dan hal itu membuat arka tidak enak hati.
"ya kalau mau ikut, jangan banyak minta. Arka kan di sana harus benar benar fokus latihan." jawab Zidan membela arka. tentu saja arka adalah aset untuk nya menghasilkan uang, jangan sampai ia mengecewakan team yang membeli nya.
"Ya, Asila janji yah. Enggak akan manja dan minta macam macam lagi. Izinkan asila ikut. Ayo lah bang, aku enggak mau jauh dari kamu !" rengek asila membuat arka menghela nafas panjang.
"Ya sudah kamu ikut, tapi kalau kamu ingkar. kamu pulang aja ya!" jawab Arka dan di anggukan oleh asila dengan antusias. Pokoknya ia harus ikut ke Bali, kapan lagi jalan jalan ke Bali ?
Usai itu mereka pamit pulang, kedua nya hendak menyiapkan barang barang yang hendak di bawa ke Bali.
**
__ADS_1
Kediaman Yesa sudah ramai kerabat, teman dan tetangga yang ingin melihat acara pertunangan Wina dan Akram. Ezi sendiri langsung pamit pulang karena ada hal yang harus ia urus di kantor.
"yes, ayo keluar! Keluarga Akram sudah datang !" ujar Erlin membuat Yesa tertegun.
"enggak Bu Yesa di dalam saja dengan bintang, Yesa enggak mau ibu malu !" jawab Yesa membuat Erlin tertegun.
"memang nya kenapa ?" tanya Erlin tidak paham.
"enggak enak lah Bu sama Keluarga nya Akram, Yesa enggak mau bikin malu ibu sama Wina. Udah Yesa di dalam saja.!"
"biarkan hawa temani Bu de?" ujar hawa membuat Erlin semakin tidak bergeming.
Padahal keluarga Akram juga sudah mendengar permasalahan itu, namun Wina menjelaskan bahwa Yesa memang mengandung Anak arka, mereka sendiri tidak mempersoalkan permasalahan itu, sebab semua punya permasalahan yang orang lain tidak pahami. Namun berbeda dengan yang lain nya kan, Yesa menjaga hal itu. Ia tidak ingin acara terhambat karena desas desus yang tidak mengenakkan.
Lepas acara selesai mereka pun pamit pulang, lekas Erlin menghampiri Yesa dan hawa di kamar nya. Terlihat Yesa tengah memberikan susu untuk bintang.
"sudah selesai acara nya Bu ?" tanya Yesa mengulas senyum.
"sudah nak, ibu sedih karena kamu tidak berfoto dengan kita !"
"enggak apa apa, nanti kan bisa di acara pernikahan nya Wina dengan Akram !" jawab Yesa lalu Wina masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ya, kak. kenapa enggak keluar sih ?" tanya Wina memperhatikan keponakan nya yang sudah terlelap.
"Ya sudah, tidak usah di bahas lagi. Enggak apa-apa !" Ujar Yesa lalu merangkul pundak adiknya itu.
"Semoga Akram bisa menjadi yang terbaik untuk kamu, dan kakak berharap kelak kamu akan menjadi prioritas utamanya !" cakap Yesa lalu Wina memeluk nya.
Usai itu mereka makan bersama, kemudian berbincang hingga tak terasa malam telah larut, Sementara Ezi baru pulang setelah mengurus proyek nya yang di luar kota.
__ADS_1
Bersambung...