Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
bertahan.


__ADS_3

Yesa duduk sendiri di kursi meja makan sembari menatap hujan yang turun.


Sejak arka pergi Yesa memilih menghabiskan waktu dengan tidur hingga ia merasa sanggup untuk bangun meninggalkan tempat tidur.


"kamu harus dukung Abang ya !"


Ujar Arka masih terngiang di telinga nya.


Bukan tidak ingin mendukung arka, tapi Yesa ingin arka mengajak nya tinggal di Malang.


Apa salahnya nya? Mereka bisa menyewa rumah di sana. Tapi Arka mengatakan bahwa Yesa lebih baik di jakarta. Sebab ia tidak ingin Yesa mengganggu latihan nya.


Yesa menoleh pada ponselnya yang berdering, terlihat Ezi menghubungi nya lagi.


Sebenarnya ingin sekali menghindari Ezi, tapi justru keadaan seakan mendukung Ia bersama Ezi.


"Halo....!"


Seru Yesa lirih membuat Ezi tertegun.


"Kamu lagi dimana ? Kita pergi keluar yuk !"


Ajak Ezi membuat Yesa terdiam.


"Kita enggak berdua. Ajak teman kantor yang lain nya. Kita pergi ke pantai dek !"


Hujan memang sudah reda dan seperti nya Ezi sengaja pergi sore karena ingin melihat sunset.


"Gimana dek, kamu mau ikut enggak?"


Tanya Ezi lagi.


"Ya sudah bang, aku mau ikut !"


Jawab Yesa. Toh mereka tidak pergi berduaan.


"Ya sudah Abang jemput sekarang juga. kamu siap siap ya dek !"


tambah Ezi lalu memutus kan panggilan telepon tersebut.


Gegas Yesa bersiap untuk pergi.


Di rumah juga ia gabut, mungkin lebih baik pergi bersama Ezi dan teman teman nya.


Yesa menoleh ke arah ponsel yang kembali berdering terlihat Arka menghubungi nya.


"Halo...!"


Seru arka saat Yesa mengangkat telepon tersebut.


"Ya, halo bang !"


"Yesa, Abang sudah sampai di Malang. Kamu lagi ngapain ?"


Tanya arka membuat Yesa tertegun sejenak lalu terdengar suara klakson mobil Ezi yang sudah berada di depan rumah.


"Syukur lah kalau Abang sudah sampai. Yesa mau pergi sama teman kerja !"


Jawab Yesa jujur pada arka.


"kamu mau pergi kemana ? Ini sudah sore !"


Jawab Arka mengerutkan kedua alis nya.


"pergi ke pantai bang. Yesa mau lihat sunset !"


Jawab Yesa lalu beranjak dari duduknya keluar dari rumah mengunci pintu.

__ADS_1


"Sudah ya bang !"


Ujar Yesa mematikan sambungan telepon nya dengan arka.


Arka menghelat nafas panjang lalu menghampiri seorang pria yang menjadi pelatih di team nya. pak Reza.


"hai yes, Ayo kita mantai !"


Ujar Dika duduk di kemudi. Ezi duduk di sampah Dika memperhatikan cantik nya Yesa.


Gegas Yesa masuk dan yang lainnya langsung menyapa Yesa.


"Sengaja pergi sore sore bisa bisa lihat sunset !"


Ujar Wida dan luna yang duduk di samping Yesa.


Yesa juga sudah lama sekali tidak main ke pantai. kalau tidak salah saat dua tahun yang lalu bersama Arka.


Yesa memperhatikan jalan yang basah karena air hujan. Dulu arka selalu mengajak nya pergi traveling. Tapi semua berubah saat Ia masuk team sepakbola.


Yesa tahu kalau Arka memang menggilai bola, namun ia tidak menyangka jika keinginan nya sampai ke tahap nasional.


"Yesa, suami kamu ngizinin kamu pergi ?"


Tanya Wida membuat Yesa menoleh ke arah nya.


"Arka pergi ke malang. Jadi aku ikut kalian, kalau ada aku yakin ia tidak akan mengizinkan aku pergi !"


Jawab Yesa membuat Wida berpikir.


"Kerja atau lagi liburan yes ?"


Tanya nya lagi kepo.


"Arka tuh pemain bola dan satu musim ini dia ikut team sepakbola malang !"


Jawab Luna membuat Yesa mengulum senyum.


Ezi memperhatikan raut wajah Yesa di kaca spion.


Yesa justru seperti sedih karena hal itu, Ezi tahu dan paham apa yang Yesa rasakan. Ia pasti tidak ingin Arka pergi.


Ezi tidak suka melihat Yesa sedih, tapi entah kenapa Yesa masih saja bertahan ? Apa ia terlalu mencintai Arka ?


Tak berapa lama mereka sampai di pantai, Wida dan Lina meminta Yesa membantu nya membawa makanan untuk mereka makan di tepi pantai.


"Kamu masak apa wid ?" tanya Yesa mencium wangi nasi liwet.


"Nanti lihat di sana deh, pokoknya mantap. Ini tuh request nya pak Ezi !"


Jawab Wida memperhatikan Wajah mereka berdua yang saling menoleh.


"oh gitu."


Jawab Yesa singkat lalu membantu Wida dan Dika membawa makanan tersebut.


Yesa melangkah ke pantai dimana Air mulai pasang dan angin berhembus kencang.


Udara begitu dingin mungkin karena sehabis hujan.


Yesa berdiri di tepi pantai membiarkan air membasahi sepatu nya.


Ezi berdiri di samping nya sambil merentangkan kedua tangannya ke atas menghirup udara bebas dari Laut.


"ayo kita makan dulu !"


Ajak Ezi merangkul pundak Yesa melangkah menghampiri mereka yang tengah mempersiapkan makanan untuk mereka makan bersama.

__ADS_1


"Wah bener nasi liwet !"


Ujar Yesa lalu duduk di bawah. Wida dan Luna menata nasi liwet dan makanan lain nya pada daun pisang.


"Ayo makan !"


Ujar Wida menghempas kan pantat nya di karpet yang tergelar.


Ezi duduk di samping Yesa. perempuan itu langsung melahap makanan tersebut tanpa sungkan di samping Ezi.


Mereka makan sambil berbincang hal random dan Beberapa kali Ezi membuat candaan hingga Yesa tertawa.


Usai makan mereka bermain di sisi pantai, Ezi mengajak Yesa duduk di tepi pantai menuggu momen seperti sunset yang memukau penglihatan.


"Apa alasan kamu bertahan Ca ?"


Tanya Ezi menoleh ke arah Yesa.


"Ibu bilang yang terpenting bang arka enggak selingkuh !"


jawab Yesa menunduk kan wajah'nya.


"Seperti itu? kamu nyaman dan bahagia dengan keadaan ini ?"


Tanya Ezi membuat Yesa tertegun.


"Lebih bersyukur aja bang, kata ibu orang lain malah ada yang di tinggal kerja ke luar negeri.!"


"Lalu bagaimana dengan aku yang terlanjur berharap?" Tanya Ezi membuat Yesa membeku.


"Abang tidak akan memaksa ca, kalau kamu ingin bertahan maka bertahan lah dan Abang akan selalu ada untuk kamu. Biarlah keadaan nya seperti ini dan aku akan pergi saat yakin melihat arka memberikan mu kebahagiaan !"


cakap Ezi menggenggam tangan Yesa.


Kedua nya sama sama terdiam hingga matahari tenggelam dan semesta berubah menjadi gelap gulita.


Senja menjadi saksi akan hati yang tidak menentu, Yesa sendiri bingung dengan keadaan hati nya.


"Ayo kita pulang !"


Ajak Ezi lalu menghampiri mereka yang duduk di saung gazebo.


Mereka biasa saja melihat kedekatan keduanya. Mereka tidak ingin terlalu mengurusi hal pribadi orang lain. Mereka rasa keduanya tahu mana yang benar dan salah, selebihnya mereka juga yakin keduanya tahu dengan segala resiko yang akan mereka dapatkan dari segala perkara.


satu jam berlalu Yesa sampai di depan rumah nya.


"Nanti Abang hubungi ya !"


Yesa mengangguk lalu keluar dari mobil.


lekas ia melangkah masuk ke dalam rumah.


Yesa terpaku di ambang pintu, rasa sunyi menyeruak menyisakan sepi dan dingin yang membuat tulang nya ngilu.


Yesa melangkah masuk lalu menyalakan semua lampu hingga semua ruangan menjadi terang.


Yesa menarik nafas dalam-dalam lalu membuang nya perlahan.


Arka memang terkadang menyebalkan tapi sebentar saja Ia merasa rindu pada suami nya itu.


***


Bersambung.


Terimakasih sudah mampir 😍😍😍


Dukung aku ya para reader 😍😍

__ADS_1


__ADS_2