Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
pasrah.


__ADS_3

Arka menoleh ke arah Yesa yang tengah memainkan ponselnya. Sejak tadi ia tidak bersuara dan lebih memilih fokus pada ponsel nya.


"kamu chat siapa sih?"


Tanya Arka sambil mengemudi kan mobil nya menuju tempat kerja Yesa.


"Enggak..."


Jawab Yesa lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas, padahal Ia tengah chat dengan Ezi. Yesa memberi tahu Ezi kalau malam ini ia ikut dengan Arka makan malam dengan teman teman nya untuk perpisahan.


Ezi paham dan menunda makan malam bersama yang sebelumnya sudah terencana, Setelah ini juga arka akan pergi ke malang dan berikut nya ia memiliki banyak waktu dengan Yesa.


Tak berapa lama Yesa sampai di kantor, lekas ia pamit pada Arka.


"lepas Dzuhur Abang jemput kamu ya !"


Yesa mengangguk lalu keluar dari mobil setelah mencium tangan Arka.


Arka memperhatikan Yesa yang lebih banyak diam, Ia pikir Yesa akan merengek minta ia untuk tidak pergi, tapi kenyataannya tidak. Yesa bersikap biasa seakan mereka tidak akan berpisah.


Arka melajukan mobilnya menuju rumah asila untuk berbincang sambil menunggu waktu hingga siang.


*


"Hai yes, kamu tuh kenapa pagi pagi udah bete ?"


Ujar Pak Roki memperhatikan wajah Yesa tampak murung.


"Enggak kok pak !"


Jawab Yesa melempar senyum lalu mulai membuka laptopnya.


Sebenarnya ia tidak mau arka pergi, tapi Ia tidak bisa meminta hal itu pada arka.


Ia terpaksa menerima kehadiran Ezi kembali karena ia tidak sanggup sendiri.


Yesa menghela nafas berat mengingat Arka yang seperti nya sudah tidak sabar untuk pergi ? kenapa ia membiarkan nya sendiri ?


Kenapa Arka tidak memahami ia seperti Ezi yang pahami perasaan nya ?


Yesa menelungkup kan kepala nya di meja ? rasa nya pusing dan sesak trus memikirkan hal itu.


*


Waktu terus berjalan hingga tiba Siang hari..


"Hai....!"


Yesa menoleh pada Ezi yang baru datang ke kantor menggunakan pakaian santai.


Ezi duduk di hadapan Yesa lalu memindai wajah perempuan itu sedikit sembab.


"Kamu nangis lagi ?"


Yesa tertegun mendengar pertanyaan itu ?


"Abang datang untuk bertanya hal itu ?"


Tanya lagi Yesa membuat Ezi terkekeh kecil.


"Ya enggak lah. tadi nya mau ngajak kamu jalan, tapi kamu mau pergi !"


Jawab Ezi mengulum senyum.


Yesa menoleh ke arah mereka yang sudah bersiap untuk pulang. Mereka tahu nya kalau Ezi dan Yesa memang teman lama hingga mereka cepat akrab.

__ADS_1


"Pak Ezi, Yesa, kita duluan ya !"


Ujar mereka pamit keluar dari kantor.


Yesa dan Ezi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Maaf ya bang, aku harus pergi ke rumah ibu !"


Ezi mengangguk lalu berpindah duduk di samping Yesa.


"kamu mau apa bang ?"


Tanya Yesa dengan jantung yang berdebar kencang menatap Ezi yang begitu dekat dengan nya.


Ezi merangkul pundaknya lalu menyandarkan kepala Yesa pada pundak nya.


Yesa tertegun sejenak lalu sedikit menghindar karena saat ini mereka hanya berdua di ruangan itu dan Yesa tidak mau terjadi sesuatu apa lagi ada kamera cctv.


"Kalau kamu merasa hubungan kamu dengan arka sudah tidak baik baik saja, untuk apa bertahan ?"


Tanya Ezi yang tidak ingin sekedar main main saja dengan Yesa.


Yesa terdiam mencerna ucapan Ezi. Hal itu memang benar adanya, namun Ia butuh waktu untuk meyakinkan perasaan nya.


Bukan hal yang mudah mengambil keputusan itu karena Ia harus memiliki alasan kuat sementara semua terjadi karena Arka selalu mengedepankan hobi nya.


"Abang tuh serius kalo kamu berpisah dengan Arka ?"


Yesa langsung beranjak dari duduknya karena kepala nya benar benar pening.


"Bang, Yesa belum siap untuk membicarakan hal itu. Untuk kedepannya yesa juga enggak tahu mau gimana ?"


Ujar Yesa menatap wajah Ezi.


Ezi menghelat nafas lalu mendekati Yesa kemudian menggenggam tangan nya.


jawab Ezi lalu menoleh ke arah mobil yang datang dan terparkir di halaman kantor.


"Suami kamu sudah datang !"


Seru Ezi lalu melepaskan genggaman tangan nya.


"Yesa pulang ya !"


Ezi mengangguk lalu mengusap pipi Yesa sebentar.


"kalau kamu butuh Abang, cepat hubungi ya !"


Yesa mengangguk lalu pergi keluar setelah mengambil tasnya.


Arka memperhatikan Yesa yang keluar dari kantor sendiri, kaca tersebut gelap hingga tidak menampakkan keberadaan Ezi di dalam nya.


"Assalamualaikum.."


Ucap Yesa lirih masuk ke dalam mobil.


"walaikumsalam... Kita langsung ke rumah Ibu kamu ya!"


Yesa mengangguk tanpa menoleh.


"Kamu kenapa dek ?"


Tanya Arka mendekat lalu mencium pipi Yesa singkat.


"Enggak apa-apa !"

__ADS_1


Jawab Yesa lirih lalu memalingkan wajahnya ke arah jalan.


"Udah sholat belum ?"


Arka menoleh sekilas ke arah Yesa yang trus memperhatikan jalan.


"Belum, nanti di rumah ibu saja !"


Jawab Yesa. ia memang tidak sempat sholat Dzuhur karena Ezi.


"Nanti Abang akan sering telpon kamu dek, jadi jangan merasa kesepian ya !"


Mana ada seperti itu ? Ia pikir semua cukup dengan telpon ?


Yesa enggan untuk berbicara karena percuma juga Arka tidak mengerti dan berpikir bahwa Apa yang sudah ia berikan itu lebih dari cukup.


"Abang di sana juga cuma beberapa bulan ? Mungkin kalau ada tawaran pindah ke klub lain, Abang akan pindah. Enak nya sih di Bandung, jadi Abang bisa bolak balik jakarta bandung !"


Cakap Arka dan di anggukan oleh Yesa.


Bandung atau malang sama saja, hal itu membuat jarak di antara mereka dan Yesa hanya bisa pasrah dengan keinginan suami nya itu.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah kediaman Rusli dan Erlina orang tua Yesa.


"Assalamualaikum..!"


Mumpung weekend mereka berkumpul di rumah, Arka hendak pamitan pada mertuanya itu.


"walaikumsalam... "


Jawab Rusli kemudian keduanya masuk ke dalam rumah.


Yesa dan arka menghampiri lalu mencium tangan kedua nya sebelum duduk bergabung.


"Kalian sengaja main ?"


Tanya Erlin memindai wajah Yesa tampak murung.


Apa mereka ada masalah ?


"Bu, Yesa mau sholat dulu di dalam !"


Sergah Yesa kemudian beranjak dari duduknya.


Sementara Arka langsung menceritakan maksud kedatangan nya di hadapan mereka.


Erlin beranjak dari tempat nya lalu mengambil minum dan makanan untuk mereka.


Erlin berpikir apakah wajah sendu Yesa karena keberangkatan Arka ke malang ?


"Sudah selesai sholat nya ? buatkan kopi untuk arka dan ayah !"


Ujar Erlin mengambil beberapa kue untuk cemilan mereka.


"Kamu setuju arka pergi ?"


Tanya Erlina memindai wajah cantik putri sulungnya itu.


"Harus setuju Bu. Mau tidak mau, Yesa enggak bisa melarang bang Arka, karena sudah sejak lama ia menanti kesempatan ini. Meskipun sebenarnya Yesa ingin bang arka tetap bekerja di perusahaan, tapi kalau dia lebih memilih dunia sepakbola. Yesa bisa apa ? Pasrah sajalah."


Jawab Yesa lalu membawa minuman dan makanan ke hadapan ayah dan suaminya.


Erlina tertegun sejenak mencerna ucapan Yesa, Ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa untuk kebaikan rumah tangga kedua nya.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍😍


__ADS_2