
Rusli tertegun saat Erlina membawa Bintang ke luar. Lahir dengan berat 2.5 dan dokter mengatakan bahwa Bintang lahir dengan normal. Suatu anugerah terindah bagi Rusli karena tuhan memberikan nya cucu laki laki yang tampan.
Rusli menitikkan air mata nya, saat Erlina meminta nya untuk mengadzani bayi tampan itu. Wajah nya begitu mirip dengan arka, sedangkan pria itu tidak mengakui bayi ini.
"Allahu Akbar........"
Rusli mulai mengadzani cucu nya itu. Ezi berdiri tak jauh dari Rusli dan Erlin. Terlihat wajah Erlin juga merah seperti sehabis menangis.
"Jadilah anak yang Soleh, hebat dan jaga mommy ya !" Lirih Rusli lalu mencium pipi bayi Itu.
lalu suster datang dan meminta bintang untuk di bawa ke ruang bayi.
"Kenapa ayah sedih ?" tanya Erlin memindai wajah suaminya.
"Entah lah Bu, ayah kasihan pada anak kita !" Jawab Rusli lalu Erlin mendekap erat tubuh Rusli.
"Aku jaga dan besar kan Yesa dengan kasih sayang, tapi orang lain begitu mudah nya menyakiti...!" sambung Rusli membuat Ezi tertegun.
Rasa ingin menjaga itu semakin besar, Ezi merasakan kepiluan yang di rasakan oleh mereka.
Tak lama Yesa keluar bersama Hawa, suster hendak membawa Yesa ke ruang perawatan.
"Bu, perlengkapan bayi nya ada di Jogja !" ucap Yesa menoleh ke arah Ezi. Pria itu beranjak sambil mengulum senyum.
"Ya, ibu sudah minta eyang kirimkan lewat paket express. Kemungkinan besok juga sampai, nanti untuk di sini beli saja. Sayang kan kalau yang di Jogja tidak terpakai. Ezi beli jauh di Swiss.!" ujar Erlin dan di anggukan oleh Yesa.
"Abang pulang dulu ya yes, nanti Abang kemari lagi.!"
"Ya terimakasih bang !" jawab Yesa.
"Terima kasih nak Ezi !" Ujar Erlin.
Ezi mengangguk lalu pamit pada Rusli.
**
Ezi langsung menghampiri sang ayah yang berada di kamar nya, Anggito menelpon dan mengatakan bahwa kondisi kesehatan nya menurun.
"Yah...." Seru Ezi menghampiri Anggito di ranjang.
__ADS_1
"Kamu dari mana ?" tanya Anggito memindai wajah putra kedua nya itu.
"Ada lah.. ayah kenapa?"
"kondisi ayah menurun, sebenarnya ayah tidak ingin kamu pulang sampai kamu lulus. Tapi kondisi ayah malah seperti ini !"
"menikah lagi saja, Ezi yakin ayah hanya butuh teman hidup !" jawab Ezi membuat Anggito terperangah.
"Alma kan ada Tante Hera, ya sudah lah Ezi akan mengambil cuti kuliah sampai kondisi ayah benar benar pulih. ayah tenang saja, Ezi akan menyelesaikan S2 seperti keinginan ayah. Tapi Ezi ingin ayah menerima pilihan Ezi nanti." Cakap Ezi membuat Anggito tertegun.
"Calon istri ? Mana kenalkan pada ayah !" ujar Anggito.
"nanti, belum saatnya nya. Ezi juga nanti akan Carikan ayah calon istri !" sambung Ezi mengulasnya senyum lalu pergi keluar.
"kantor dulu...!" ucap nya sebelum meninggal kan kamar tersebut.
"benarkah aku butuh pendamping ?" gumamnya lalu menghela nafas teringat pada almarhum istri nya yang sudah tiada.
Ezi melajukan mobilnya menuju kantor, waktu sudah sore namun ada beberapa berkas yang harus ia tandatangani.
Ezi bersyukur karena Yesa sudah melahirkan. Ezi berencana akan meminang Yesa setelah kondisi nya benar benar pulih. Ezi akan mengajak nya tinggal di Swiss nanti.
"Bu, ayam geprek nya dua !" Ujar Ezi memesan.
"Ezi, Lo kan ?" Tanya Jesika menghampiri. Seorang ibu mengulas senyum menyiapkan pesanan Ezi.
"kapan Lo balik !?" tanya Jesika mengajak Ezi untuk duduk.
"kemarin... Yesa sudah melahirkan tadi !" ujar Ezi lalu menceritakan kejadian tadi di bandara sampai Yesa melahirkan.
"Alhamdulillah, nanti gue ke rumah sakit. Gue belum lihat hp, kemungkinan Yesa kasih kabar !"
jawab Jesika ikut lega meskipun sedikit kaget karena usia kandungan nya baru tujuh bulan.
"Ini ayam geprek nya !" ujar ibu Jesika menyodorkan makanan.
"Ibu Lo ?" tanya Ezi mengulas senyum pada perempuan itu.
"Ya, udah lama jual ayam geprek. Setelah Bokap meninggal, ya gue suka bantu kalo udah balik dari salon !" jawab Jesika.
__ADS_1
Ezi pun tersenyum dalam hati, ibu Jesika boleh juga. Ia juga terlihat mandiri dan pekerja keras.
Seperti yang Ezi katakan pada Anggito tadi, bahwa ia harus mencari pengganti sang ibu. Karena kebanyakan pria tidak akan sanggup sendiri, berbeda dengan perempuan yang bisa mengurus diri nya sendiri tanpa pria.
"udah makan, Jangan ngelamun terus. Eh anak nya Yesa mirip siapa ?" tanya Jesika saat Ezi mulai mengunyah makanan nya.
"Mirip arka lah, kalau anak gue ya pasti mirip gue !"
"Oh gitu !" jawab Jesika terkekeh.
"gue lega deh kalau Yesa udah lahiran !" Ucap Jesika dan di anggukan oleh Ezi.
"Eh Lo mau enggak jadi adik tiri gue !" tanya Ezi membuat Jesika melebarkan netra nya.
"kenapa Lo kaget gitu, ibu Lo cantik. Mau enggak sama bapak gue !"
"ih apaan sih, Lo. Makan tuh sambel!" cetus Jesika membuat Ezi terkekeh kecil.
"Gue serius jes, biar nanti Lo jadi adik ipar Yesa !" tambah Ezi membuat Jesika mengedikan bahunya.
Setelah selesai makan Ezi langsung pamit lalu mengedipkan mata nya pada Jesika yang langsung melotot.
"dasar gila calon suami Yesa !" ujar Jesika yang tidak sadar di perhatikan oleh ibu nya.
"Siapa itu Jes, kamu kenal ?" Tanya Sang ibu membuat Jesika langsung menoleh.
"Calon suami yesa Bu !" jawab Jesika lalu memperhatikan raut wajah sang ibu nampak lelah.
"Ya sudah, Jesika mau ke rumah sakit dulu. Yesa sudah melahirkan !" Ujar Jesika dan di anggukkan oleh Mira.
***
Yesa memperhatikan wajah tampan bintang, bayi mungil nya itu begitu mirip dengan arka. tentu saja karena arka adalah ayah nya. dan mungkin sebaiknya Arka tidak tahu, Yesa justru takut arka akan mengambil bintang jika mengetahui ialah ayah biologis putra nya.
seperti permintaan Erlin, Yesa tidak mengunggah foto bintang di sosmed. Yesa pikir arka tak perlu tahu karena sejak awal juga bintang tidak di akui. Lalu untuk apa lagi mengharapkan arka, dia sudah memiliki kebahagiaan lain dan Yesa pikir sudah waktunya untuk menghilang menjadi asing.
Bersambung....
Weekend terasa berat untuk ku, seorang seperti ku harus bekerja keras bertahan di tengah keramaian. Aku yang terbiasa sunyi dengan kehaluan ku harus menghadapi bising nya suara tawa dan cengkrama. tentu tidaklah mudah sebab aku lebih menyukai tempat sunyi tanpa gangguan siapapun. 😅😅😅😅😅
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia 😍