Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
bukan tidak berani.


__ADS_3

Malam telah larut...


Ezi mendorong brankar rumah sakit membawa Yesa yang tidak sadarkan diri. Ezi mendapati Yesa tergolek di ruangan seorang diri. Entah kemana suaminya?


Ezi berusaha membuat Yesa sadar, namun Yesa tak kunjung membuka mata nya hingga membuat Ezi cemas hingga langsung membawa nya ke rumah sakit.


Ezi menghela nafas panjang saat dokter meminta nya untuk menunggu di depan ruang pemeriksaan. Lekas Ezi menghubungi Luna dan Wida agar mereka ke rumah sakit waktu itu juga.


Tentu saja Ezi tidak ingin kalau ada yang bertanya mengapa ia yang membawa Yesa ke rumah sakit, bukan tidak berani berhadapan dengan Arka, tapi Ezi tidak ingin situasi bertambah sulit karena Yesa sedang sakit.


"bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Ezi menoleh ke arah Yesa yang sudah sadarkan diri.


"lambung nya bengkak dan pasien mengalami anemia. sebaiknya di rawat untuk beberapa hari sampai kondisi nya membaik. Saya juga akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut sebab ada demam, dan khawatir beliau terkena tipus." jawab dokter dan di anggukan oleh Ezi. Ia langsung masuk menghampiri Yesa.


"Ca, kamu enggak apa apa?" tanya Ezi menggenggam tangan Yesa dengan tatapan iba.


"perut Yesa sakit banget bang." jawab Yesa dengan mata berkaca-kaca.


"Itu karena kamu sering makan pedas, Abang kan sudah bilang Kamu tuh enggak boleh makan pedas terus." jawab Ezi lalu mengusap kepala Yesa.


Tak begitu lama Luna dan Wida datang.


"kenapa Yes?" tanya Luna menghampiri.


"biasa lah lambung aku kumat..!"jawab Yesa menoleh ke arah Ezi.


"Kamu hubungi orang tua kamu dek, enggak mungkin kan Abang nginep di sini sama kamu. Dokter bilang kamu harus di rawat. Nanti kalau mereka bertanya siapa yang membawa kamu ke rumah sakit, katakanlah saja Luna, dan Wida." Ujar Ezi membuat Yesa tertegun.


"bukan Abang enggak berani menghadapi Arka, kalau kamu sudah mengambil keputusan maka Abang akan maju di depan." sambung Ezi membuat Yesa dan kedua temannya tertegun.


Yesa sedikit menunduk dan tidak tahu harus berkata apa?


"ya udah kamu hubungi orang tua kamu dulu aja yes, soal perasaan kalian telaah saja dulu lebih dalam hingga kalian benar benar yakin." jawab Wida. Keduanya tidak menjudge mereka yang memiliki hubungan khusus, biarlah mereka yang menanggung segala resikonya.


Yesa tertegun karena ponsel nya di rumah, lekas Ezi memberikan ponsel nya untuk menghubungi Wina.

__ADS_1


"terimakasih bang!"


Ezi mengangguk kecil lalu duduk di kursi.


Seorang suster masuk dan mengatakan hendak memindahkan Yesa ke ruang rawat inap.


Lekas Yesa mengirimkan pesan pada Wina memberi tahu kalau Ia masuk rumah sakit.


"Lun, kalian jangan pulang dulu ya. Temani Saya di sini sampai orang tua Yesa datang."


Ujar Ezi dan di anggukan oleh keduanya.


Yesa bercerita tentang kejadian sebelum ia pingsan, Saat itu Arka mengatakan bahwa ia tidak bisa pulang karena ada acara dengan teman nya merayakan kemenangan mereka. Mungkin pagi ini arka akan kembali sebelum ia pulang ke malang.


*


Wina tertegun melihat pesan dari nomor yang tidak ia kenal, namun jelas dalam foto terlihat Sang kakak dan pria yang tidak ia kenal.


"win, bilang sama ibu kalau kakak masuk rumah sakit dan harus di rawat. Tolong bilangin sama ibu untuk datang ya Win." pesan tersebut membuat Wina terperangah, lekas ia memberi tahu ibunya.


Namun ada hal yang membuat Wina penasaran, siapa sih pria yang bersama dengan kakak nya itu.


"Bu, yah. kak Yesa masuk rumah sakit..." ujar Wina membuat kedua nya terbangun. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Kok bisa sih win!?" tanya Erlin dan Wina hanya mengedikan bahu nya.


"Ya sudah kita ke rumah sakit sekarang bu." ajak sang ayah lalu mereka beranjak.


*


Sementara itu arka masih asik kumpul dengan teman teman nya dan juga asila, perempuan tomboi itu sejak tadi terus menempel pada arka. Ia tidak tahu kalau istri nya kini berbaring di rumah sakit.


*


"Makan dulu Ca, setelah itu kamu minum obat nya biar perutnya enggak sakit lagi." Ujar Ezi saat suster mengantar kan makanan dan obat.

__ADS_1


"ya yes, biar cepat sembuh." ujar Luna. Sedangkan Wida sudah tertidur pulas di sofa. Ezi sengaja meminta ruang VVIP agar yang menunggu nyaman berada di ruangan terpisah dengan pasien lain nya.


"Eneg banget bang, rasanya tuh lemes dan perut Yesa perih..." jawab Yesa meringis sakit.


Saat seperti ini dimana Arka? Hal itu semakin membuat nya sakit, seharusnya Arka yang berada di samping nya, tapi kenyataannya arka bahkan tidak tahu ia masuk rumah sakit.


Tak berapa lama kedua orang tua Yesa dan Wina datang. Rusli masuk dan tertegun melihat Ezi yang duduk di kursi menghadap Yesa. Sebelumnya Rusli juga pernah melihat Yesa dengan pria ini.


"Yesa kamu kenapa nak ?" tanya Erlin mendekati Ranjang, dan Ezi langsung beranjak dari tempat nya.


Ezi menjelaskan kalau Yesa pingsan di rumah, ia mengatakan bahwa ia dan kedua teman Yesa membawa nya ke rumah sakit. Luna dan Wida pun berkenalan dengan kedua orang tua Yesa dan juga Wina.


Terpaksa Ezi berbohong karena Yesa belum mengambil keputusan perihal hubungan mereka berdua.


"Terima kasih ya kalian sudah menolong Yesa!" ujar Rusli menoleh ke arah Ezi. Jujur saja ia masih penasaran. Begitu juga dengan Wina, ia tertegun menatap wajah Ezi. dalam foto justru kedua nya berfoto mesra, apa mungkin mereka ada sesuatu ?


"Ya sudah kita mau pulang, sekarang kan sudah ada ayah'dan ibu ?" Erlin dan Rusli mengangguk.


Sedangkan Wina terus memperhatikan Ezi.


"Minum obat nya ya !" pesan Ezi dan di anggukan oleh Yesa.


Usai itu mereka pulang dan meninggalkan Yesa dengan keluarga nya.


"Siapa itu kak ?" tanya Wina duduk di tepi ranjang.


"Teman..!" jawab Yesa singkat.


Dulu yesa memang belum sempat mengenal kan Ezi pada keluarga nya, jadi mereka tidak tahu kalau Ezi itu mantan pacar Yesa.


"Arka mana ?" tanya Rusli membuat Yesa tertegun sejenak.


"Bang Arka lagi sama teman teman nya, dia enggak tahu Yesa masuk rumah sakit karena dia enggak angkat telepon Yesa waktu Yesa minta tolong...!" jawab Yesa membuat mereka tertegun.


Yesa menceritakan kejadian sebelum ia pingsan, Ia juga baru sampai di rumah sehabis Nonton pertandingan. Ia pikir arka akan pulang, tapi ternyata ia memilih merayakan kemenangan nya dengan teman teman nya. Yesa acungkan jempol akan prestasi yang di raih oleh suaminya itu. ia menjadi top skor sebagai pencetak gol terbanyak, tapi saat seperti ini Yesa ingin arka hanya untuk nya. Namun keinginan itu hanya sebatas angan. Karena orang lain lah yang berada di samping nya saat ia butuh.

__ADS_1


bersambung...


Terima kasih yang sudah mampir, dukungan kalian begitu berarti 😍


__ADS_2