
Erlina memeluk Yesa yang seperti hendak menangis.
"Kamu sabar ya sa, Ibu selalu mendoakan kebaikan untuk rumah tangga kalian !"
Ujar Erlina mengusap punggung putri nya.
"Yesa cuma bisa sabar dan mengalah karena kalau Yesa melarang bang Arka akan marah Bu !"
Erlina menarik nafas dalam lalu mengusap kepala Yesa.
"ya sudah enggak apa-apa. Malang itu dekat kok, Orang lain malah ada yang di tinggal kerja ke luar negeri !"
cakap Erlin mencoba menghibur putri nya.
***
Usai magrib mereka pamit pulang, dan Arka langsung mengajak Yesa untuk bertemu dengan teman teman nya di rumah pak Zidan yang merupakan pelatih team sepakbola Arka di kota itu.
"Hai Arka ..."
Sapa Sila mengulas senyum, namun Yesa sejak tadi sibuk memainkan ponselnya.
"Udah kumpul ?"
Sila mengangguk.
Yesa menoleh lalu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya lagi. rasa nya tidak nyaman berada di tengah tengah mereka yang kebanyakan pria.
"Hai Arka?"
Seru Endra teman lama arka yang menyempatkan datang ke acara itu.
"Hai juga ndra..."
"Mana istri Lo ?"
tanya nya setelah mereka berpelukan.
"Itu istri gue !"
Jawab Arka menunjuk ke arah Yesa. Perempuan itu masih saja sibuk dengan ponselnya.
"Yesa kemari !"
Titah Arka meminta Yesa mendekati nya lalu mengenalkan Endra.
"Cantik istri Lo, kalau gue jadi Lo gue bakalan bawa istri gue ke malang. takut ada yang nyulik kalau gue tinggal di rumah."
Cetus Endra membuat Arka terkekeh kecil sambil merangkul pundak Yesa.
"bisa aja Lo !"
Teman nya saja enggan meninggalkan istri secantik Yesa, namun berbeda dengan Arka.
Dia yakin kalau Yesa mengerti keinginan nya untuk menjadi sepak bola nasional, dan jika ia mengajak Yesa ikut ke Malang, hal itu akan menggangu aktivitas nya di sana. sementara Yesa selalu manja dan ia juga kan sekarang kerja.
"Kamu chat sama siapa sih? dari tadi anteng banget !"
Tanya Arka duduk di samping Yesa.
Sila memperhatikan mereka yang tengah bersama, jujur saja ia cemburu. Sila tak bisa menampik kalau sebenarnya ia menyukai Arka.
"Aku chat Jesika !"
Jawab Yesa berbohong padahal sejak tadi ia berkirim pesan dengan Ezi. Namun cepat Yesa menghapus nya karena khawatir Arka curiga.
"Kita pulang yuk !"
Desis Arka di telinga Yesa.
"Ya sudah ayo pulang kalau acara nya udah selesai !" jawab Yesa datar lalu beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Beberapa dari mereka pamit pada arka dan memberikan dukungan serta mendoakan kesuksesannya.
Setelah yang lainnya pulang Arka mengajak Yesa untuk pamit pada Pak Zidan dan Asila.
"Sukses ya bang arka !"
Ujar Asila tersenyum tulus mendoakan kesuksesan untuk arka.
"Terimakasih asila dan Om Zidan!"
Ujar arka lalu mengajak Yesa pulang.
Yesa tidak tahu kalau Zidan lah yang menjadi manager Arka. Dia yang mempromosikan arka ke beberapa team sepakbola Indonesia.
"Kita pergi jalan-jalan dulu ya !"
Ujar Arka sebelum melajukan mobilnya.
Yesa hanya menoleh sekilas lalu diam memperhatikan jalan.
"Kemungkinan Abang pulang enam bulan sekali, setelah satu musim selesai baru Abang pulang. Paling cepat tiga bulan Abang akan pulang. Kamu enggak perlu khawatir tentang uang, Abang akan kasih seperti biasanya bahkan lebih dari biasanya."
Cakap arka lalu menjelaskan tentang aktivitas nya di sana. Yesa hanya diam saat Arka mengatakan bahwa ia tidak boleh menghubungi nya lebih dulu sebelum ia menghubungi nya.
Yesa menghela nafas panjang kemudian memejamkan mata nya. lebih baik tertidur dari pada mendengar sesuatu yang tidak dapat Ia mengerti.
Arka menoleh ke arah Yesa yang terlelap, lekas ia melajukan mobilnya menuju rumah.
"Abang berusaha untuk memberikan yang terbaik, memenuhi semua kebutuhan kamu !"
Gumam Arka menoleh ke arah Yesa yang sudah tertidur.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah, namun Yesa masih terlelap dalam tidur nya.
Gegas Arka mengangkat tubuh Yesa dan membawanya ke dalam rumah mereka.
Arka melangkah membawa Yesa ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Arka kembali untuk mengunci gerbang dan pintu rumah kemudian kembali masuk ke kamar.
Arka memperhatikan wajah Yesa yang tertidur pulas. Lekas ia naik ke ranjang lalu memeluk tubuh istri nya itu.
"Aku pasti akan sangat merindukan mu !"
Gumam arka lalu mendarat kan ciuman pada kening kemudian turun ke bibirnya.
Yesa membuka mata dan melihat wajah arka berada di atas wajah nya. bibir pria itu menempel pada bibir nya.
"Apa kamu tidak mau memberikan sesuatu yang membuat abang rindu ?"
Ujar Arka membuat Yesa tertegun sejenak.
Yesa paham maksud keinginan Arka, pria itu beranjak lalu mengungkung tubuh nya.
Yesa memejamkan mata nya saat bibir arka kembali meraup bibir nya.
Mencumbu leher nya hingga menciptakan tanda kepemilikan nya. Yesa hanya pasrah di bawah Kungkungan suaminya itu.
Yesa tak menampik kalau Arka cukup pintar dalam urusan ranjang, Ia begitu mahir membuat nya terbuai dengan cumbuan nya.
"Bang, sebenarnya aku enggak mau kamu pergi !"
ucap Yesa lirih membuat Arka menghentikan gerakan nya.
"Aku pergi untuk kita juga, kamu harus mengerti oke !"
Jawab arka tetap pada rencana nya.
Dan Yesa tidak bisa membantah dan pasrah dalam permainan suami nya itu.
**
__ADS_1
Pagi...
Arka memperhatikan Yesa yang tengah membuat sarapan untuk mereka berdua. handuk masih menggulung rambutnya yang basah.
Terlihat beberapa ruam tercetak pada leher nya yang putih dan jenjang.
Yesa hanya diam dan membiarkan Arka terus memperhatikan nya.
"Kamu kenapa ?"
Tanya arka yang masih menggunakan Koko dan kain sarungnya.
Arka mendekat lalu memeluk Yesa dari belakang. Semalam Yesa membuat ia lebih senang dari biasanya dan sungguh hal itu membuat ia candu.
"bang, nanti aku bakal kesepian kalau enggak ada kamu !"
Ucap Yesa membiarkan arka memeluk nya dari belakang lalu kembali menciumi leher nya.
"Yesa, Abang tidak mau menyiakan kesempatan ini. kapan lagi coba Abang masuk team nasional !"
Jawab Arka lalu membalikkan tubuh Yesa agar menghadap nya.
"Kamu dukung Abang dong !"
Sambung Arka dan di anggukan oleh Yesa.
Arka memeluk pinggang nya kemudian kembali meraup bibir istrinya.
Semalam sudah main dua kali dan pagi ini Arka memintanya lagi pada Yesa.
****
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Yesa menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka dan terlihat arka menyembul keluar.
"dek, kalau kamu lelah enggak usah ikut ke bandara. Abang nanti pergi sama ayah dan pak Zidan!"
Ujar Arka duduk di tepi ranjang menatap wajah cantik istri nya.
"Ya sudah !"
jawab Yesa singkat masih memeluk bantal nya.
Arka naik ke ranjang lalu memeluk tubuh istri nya.
"Kamu baik baik ya di rumah dan di tempat kerja. jangan keluyuran terus kalau enggak ada Abang !"
pesan Arka lalu mengajak Yesa untuk duduk sembari memegang selimut yang menutupi seluruh tubuhnya yang polos.
pria itu memangku wajah Yesa kemudian mencium nya lagi.
"Kalau ada apa apa minta bantuan sama ibu saja ya, kamu jangan sungkan."
Cakap Arka lalu merengkuh tubuh Yesa yang tidak bergeming.
"Abang berangkat sekarang ya !"
Yesa mengangguk lalu mencium tangan arka.
"hati hati bang !"
Cakap Yesa lirih dengan berat hati melepas arka untuk pergi.
Yesa terpaku saat arka melangkah pergi meninggalkan nya, satu bulir bening meluncur bebas membuat Perih tenggorokan nya.
"Bolehkah aku meminta mu untuk tetap tinggal di sini bang !"
Rintih pedih Yesa meringkuk memeluk bantal nya. Sedangkan arka sudah pergi dari rumah bersama ayah dan pak Zidan.
Sementara Arka di malang, mobil di bawah oleh ayah nya.
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 😍😍😍
Dukung karya ku ya😍😍😍