Istri Atau Hobi

Istri Atau Hobi
Mesum.


__ADS_3

Usai sarapan Yesa dan Ezi langsung membawa Bintang ke rumah sakit untuk berobat.


"hum...dek, kamu mau KB dulu atau...."


Ujar Ezi menoleh ke arah Yesa yang berada di samping nya. Perempuan itu langsung tertegun sambil memeluk bintang.


"kita harus bicara kan ini sayang, Abang ingin kamu yang memutuskan, Perihal hamil bukan yang mudah apalagi sekarang kan ada bintang..."


Ujar Ezi sambil fokus menyetir.


"menurut kamu gimana bang!!? Aku....."


jujur saja Yesa bingung karena bintang masih terlalu kecil untuk punya adik, namun Yesa juga khawatir jika suaminya itu menginginkan anak.


"Enggak apa apa kalau kamu mau menundanya terlebih dahulu, Abang enggak masalah kok. Kita bisa kasih bintang adik kalau ia sudah berusia dua atau tiga tahun. Yang terpenting adalah kesiapan kamu."


Ujar Ezi lalu mengusap kepala nya pelan.


"bener enggak apa apa bang ?"


Ezi menganggukkan kepalanya sambil mengulum senyum.


"Ya sayang, enggak apa-apa. Kita fokus besar kan bintang saja dulu. Insyaallah nanti Dia akan mempermudah." Jawab Ezi membuat Yesa lega. Ezi cukup bijak dengan memikirkan keadaan nya, tanpa menuntut apapun dari nya.


Tak lama mereka sampai di rumah sakit, lekas keduanya masuk ke gedung tinggi itu setelah keluar dari mobil.


Ezi langsung mendaftarkan Bintang ke dokter anak.


***


Asila meminta sang ayah untuk membujuk arka agar tidak menceraikan nya, namun sang ayah hanya diam.


"Asila kayak gini juga karena bela dia yah, awalnya asila juga enggak mau. Tapi aldrik tuh maksa." elak Asila membuat Zidan menoleh ke arah nya.


"Ya, tapi tetap saja salah karena kedepannya kamu bukan lagi terpaksa. Sudah lah asila sekarang urus saja gugatan mu pada aldrik." jawab Zidan memijat keningnya sendiri.


Tak menyangka jika keadaan nya akan seperti ini, padahal ia memiliki keuntungan besar menjadi mertua sekaligus manager Arka. dan sekarang arka mengatakan ingin mengambil cuti satu musim dan seharusnya ia kembali bertandang di bandung.

__ADS_1


*


Pagi ini arka kembali ke lapangan, Besok pertandingan terakhir nya. Mungkin nanti sore ia akan berkemas. Ia belum mendengar informasi tentang aldrik, namun ia sudah meminta seseorang untuk memberi tahu kelanjutan permasalahan itu. Arka tidak akan tinggal diam lagi, keduanya sudah menginjak injak harga dirinya.


Siang...


"Arka, gimana keadaan istri kamu pasca kecelakaan itu ?" tanya Riko yang menjadi asisten coach team itu.


"Sudah sadar dan keadaan nya berangsur membaik.!" jawab arka. Ia baru saja selesai latihan dan tengah beristirahat.


"Arka, Aku dengar kamu mengambil cuti satu musim ini ?" tanya Riko.


"Ya, hum..saya sedang ada masalah, jadi tidak bisa terikat kontrak dulu, dan saya juga ingin istirahat sejenak !" jawab arka dengan jujur. Riko juga melihat arka seperti banyak pikiran. Lepas dari perceraian nya dengan Yesa, dan seperti nya pernikahan keduanya juga tidak berjalan baik.


"Ya Arka, tetap semangat !" balas Riko lalu beranjak pergi meninggalkan arka sendiri.


Arka merebah kan tubuh nya di lapangan, netra nya menatap langit yang biru dan terang karena sinar matahari hampir naik ke atas.


Arka tertegun karena wajah Yesa lah yang melintasi di benak nya, lalu bayang anak itu begitu jelas. Arka terus teringat anak itu, entah kenapa ia merasa gelisah tak menentu.


Padahal anak nya tengah sakit, dan sebagai ayah biologisnya pasti lah arka ikut merasa resah, kalau saja ia sadar dan mengetahui hal itu.


Arka menghela nafas panjang lalu teringat dengan Asila, mereka akan kembali ke Jakarta setelah kontrak nya usai. Mungkin saat ini ia masih bersama nya, tapi semua akan berubah setelah masalah dengan aldrik selesai.


"Ar, ayo makan siang dulu !" Ajak Rio lalu arka beranjak dari rebahan nya. kaki nya sudah kembali normal setelah satu bulan terapi, kalau tidak, mungkin sembuh nya akan lama.


Lepas makan siang arka kembali ke apartemen sebelum ke rumah sakit, Fitri sudah kembali ke Jakarta karena sang ayah tiba tiba mengalami struk karena darah tinggi, kemarin malam Fitri langsung pulang ke Jakarta, namun tidak dengan Andin. Ia masih di Bali dengan alasan ingin menemani arka, padahal job nya banyak kalau di Bali.


Arka melangkah menuju apartemen nya, sebelum sampai arka mendengar apartemen nya ramai, entah ada apa. Arka mengintip dari pintu yang sedikit terbuka dan terlihat Andin tengah berpesta minuman dengan teman teman nya.


Alis arka bertaut sambil berpikir.


Arka tidak tahu kalau adiknya minum ? Sejak kapan Andin seperti itu ?


gegas arka masuk dengan tangan mengepal.


"Andin....!"

__ADS_1


Seru Arka kencang membuat Andin menoleh lalu menganga melihat Arka di hadapannya. Arka menggeleng kan kepala nya melihat pakaian adik nya yang terbuka seperti seorang ******.


"Lo pulang sana, ada kakak gue !"


"Astaga Din kakak Lo ganteng amat, mau dong seranjang. Gratis deh !" ujar salah satu teman Andin yang setengah mabuk lalu menghampiri arka.


"Jangan deket-deket gue, pergi kalian dari apartemen gue !" ucap arka dengan nada geram.


"Astaga galak banget, pasti di ranjang juga kayak gitu... hahaha !" balas seseorang lagi membuat arka jengah lalu menoleh ke arah Andin dengan tatapan tajam.


"bawa pergi enggak temen temen Lo ?" Ujar Arka dengan nada penekanan, lekas Andin menyuruh teman teman nya pulang. Lalu seorang pria keluar dari kamar nya menghampiri Andin.


"Nih upah Lo, bayar di muka kan ?" Ujar nya membuat Andin membeku seketika.


Lekas arka mendorong pria itu untuk pergi tanpa berkata kata.


Usai itu Arka menarik tangan Andin dan menghempaskan nya pada sofa.


"Sejak kapan Lo jadi ******, kelakuan Lo rendah Andin. Bikin malu keluarga. Lo jadiin apartemen gue tempat mesum, hah ?" teriak arka di akhir kalimat membuat Andin terkejut.


"Ya, karena sebelumnya Asila juga pakai apartemen ini untuk mesum dengan aldrik.". jawab Andin membuat arka mematung.


"Saat kak arka terapi, Asila justru asik bercinta dengan tuan muda gila itu."


"Sekarang Lo pergi dari apartemen gue, dan jangan balik lagi. sana Lo balik ke jakarta !"


Cetus arka lalu menarik tangan Andin dan mendorong nya keluar dari apartemen, ia masuk kembali dengan melempar kan barang barang Andin keluar.


brug....


Arka membanting pintu dengan keras lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dengan mulut menganga.


"Apalagi ini Tuhan, kenapa kepedihan itu bertambah perih ?" gumam arka memangku kepalanya yang terasa pusing. Ia tidak menyangka jika Andin berubah menjadi seorang wanita penghibur. Padahal keluarga nya paham agama, tapi kelakuan Andin sungguh memalukan.


Bersambung.


Happy reading 😍

__ADS_1


Sambut weekend,😍😍😍


__ADS_2