
Acara syukuran empat bulanan berlangsung lancar sesuai harapan. Hanum meminta Bela mengundang ibu pengajian yang berada di daerah Itu. Mereka begitu segan melihat makanan yang tersaji di meja prasmanan, belum yang mereka bawa untuk pulang.
Tak ada yang berani bertanya kemana suami Yesa? Mereka tertib dengan undangan untuk memberikan doa, bukan untuk menanyakan hal yang bersifat pribadi.
Yesa tak menyangka jika Wida dan team liwet juga datang jauh jauh dari jakarta. Tentu saja Ezi ikut andil keberangkatan mereka ke Jogja.
Yesa begitu senang karena mereka hadir pada acara tersebut, Ia pun mengunggah acara tersebut di story'nya, berfoto bersama sahabat sahabat nya.
"Thanks for all..." isi hastag nya.
"Anak haram aja pakai acara syukuran segala, emang Lo enggak punya muka. kepala aja Lo tutup. Yang bawah aja Lo umbar sana sini." Andin langsung berkomentar saat story tersebut lewat di beranda Instagram nya.
Yesa menggertak kan gigi nya membaca komentar miring tersebut, Andin benar benar keterlaluan.
"Jaga tuh mulut sebelum gue sumpel pakai Cili pedas, hidup Lo juga belum tentu benar. Jangan suka ngasal kalau ngomong, lihat aja nanti tuhan akan tunjukkan semua nya." balas Jesika langsung membuat Yesa menoleh.
"Udah jangan di pikirin yes, si andin nanti gue culik kalau gue balik ke Jakarta. Seperti ucapan gue tadi. Nanti gue sumpel pake Cili setan."
Ujar Jesika geram.
"benar apa kata Jesika, gue bantu kerjain nanti." tambah Wida tersenyum pada Jesika. keduanya berpikir untuk memberikan pelajaran pada Andin.
"Sudah lain kali tidak usah di posting, ibu tidak ingin ada orang yang berkomentar miring." Yesa mengangguk lalu memeluk Erlin.
Ucapan Andin begitu menohok hati, mereka tidak berpikir bagaimana jika yang mereka hina adalah bagian dari keluarga mereka. Namun seperti yang Erlin perintah kan, Yesa akan merahasiakan hidup nya dari mereka.
Ia langsung menghapus postingan tersebut sesuai perintah sang ibu.
Malam itu Jesika dan teman teman yang lain nya pamit pulang, namun tidak dengan Erlin. Ia akan sepekan menemani Yesa.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi, Yesa tiba-tiba terjaga dari tidur nya saat merasa kan lapar.
Entah kenapa ia membayangkan Nasi goreng pedas yang biasa ia buat saat bersama arka.
Yesa menghela nafas panjang lalu beranjak dari ranjang. Mungkin sebaiknya mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat dua rakaat.
"Doakan agar arka berubah..." Yesa teringat akan nasehat Erlin.
__ADS_1
Ia juga sudah melakoni nya, namun kenyataannya tak kunjung membaik.
Mungkin memang jalan nya harus seperti ini.
Yesa sendiri berusaha untuk merelakan apa yang terjadi dalam hidup nya, seperti yang ayahnya katakan bahwa kelak ia akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus pada nya.
Di keheningan malam Yesa meminta kebaikan serta keselamatan untuk nya dan keluarga. Ia pasrahkan segala nya pada sang penguasa langit dan bumi.
"Terserah Engkau saja ya Robb, Engkau yang maha kuasa. Aku pasrahkan segala nya pada Mu. Aku tahu aku bukan lah hamba Mu yang baik, tapi Engkau pun tahu kebenaran Nya. Maka kuat aku menjalani kehidupan ini ya Robb, luas kan rasa sabar ku agar aku senantiasa bersyukur atas segala nikmat MU." Ujar Yesa lalu menyeka air matanya.
"Lindungilah Aku dan calon anak ku, Engkaulah sebaik-baik tempat ku berlindung..." Sambung Yesa lalu menyudahi permohonan nya.
Setelah itu lekas Yesa keluar melangkah menuju dapur. Semua bahan makanan yang ia butuhkan sudah tersedia tinggal eksekusi.
Yesa menyentuh perutnya yang sedikit membuncit, terasa sedikit pergerakan dari janin nya. Dan hal itu membuat Yesa senang.
"tunggu ya mommy masak dulu, kamu juga laper ya." ujar Yesa sendiri lalu terkekeh kecil.
Ia tak pernah menyesali apa yang sudah terjadi, biarkan semua menjadi jejak yang tidak akan pernah ia lupakan.
Mengeluh ? pernah! tidak salah bukan? ia manusia biasa dan bukan robot yang tidak memiliki perasaan, namun setelah itu Yesa menyemangati diri nya sendiri untuk Tabah dan menerima apa yang terjadi dalam hidup nya.
"bikin nasi goreng Bu, laper!" jawab Yesa sambil mengulum senyum.
"kenapa enggak bangunkan ibu ?" tanya Erlin lagi berdiri di samping yesa. Hatinya terasa pedih saat membayangkan bagaimana jika nanti kalau Yesa sudah hamil besar. Ia tahu betul bagaimana rasanya hamil besar. susah tidur, bergerak pun badan terasa berat. Dan tangan suami lah yang harus siaga membantu istri nya. tapi Yesa ?
Erlin menundukkan kepalanya lalu menyeka air matanya yang jatuh.
"Ibu kenapa ?" tanya Yesa merengkuh tubuh sang ibu.
"Kamu kuat ya nak, ibu tahu kamu pasti bisa melewati semua ini." ujar Erlin membuat Yesa tertegun.
"Ya, Bu. Doakan terus Yesa ya Bu !" Erlin mengangguk lalu memeluk erat tubuh putri nya.
"Semoga Tuhan menjadi kan mu Hambanya yang beruntung !"
**
__ADS_1
Seperti permintaan Asila, Arka mencari pembantu untuk membereskan rumah mereka. Arka merasa heran karena asila juga tidak mau memasak, setiap hari ia makan di mes. Kalau di rumah mereka selalu order makanan dari luar. kalau seperti itu terus, ia tidak akan bisa menabung. Belum lagi di lapangan, Asila tak henti membeli makanan di supermarket.
"Aku berangkat latihan dulu yah !" pamit arka pada Yesa yang tengah memainkan ponsel nya di ranjang.
"ATM yang kemarin berapa kode pin nya bang." tanya asila membuat arka tertegun. Ia lupa belum mengganti pin ATM itu. Pin nya tanggal pernikahan ia dan Yesa. ATM tersebut biasa di pegang oleh yesa, dan kini menjadi milik asila.
"Hum, Abang belum ganti pin nya dek. Kamu tahu kan, sebelum nya Abang sudah kirimkan pin nya !"
Jawab arka membuat asila tertegun.
"kenapa sih belum di ganti juga bang, kamu ingat trus sama mantan istri kamu itu ?" tanya asila membuat arka tertegun sejenak.
"enggak dek, Abang belum sempat. Udah ya Abang pergi !" balas Arka lalu pergi meninggalkan Asila.
setiap hari kerja nya malas malasan, Rizal memang mengatakan bahwa ia harus memahami dan memaklumi Asila yang manja, tapi Apa harus seperti itu ? Yesa juga manja, tapi semua pekerjaan ia selesai kan sendiri tanpa mengandalkan orang lain.
Apalagi urusan dapur, ia selalu memasak untuk nya, Yesa malah enggan membeli makanan dari luar. Dia bilang sayang uang nya dan kebersihan nya juga tidak terjamin.
Arka memijat kepala nya yang terasa pusing, semalam ia kembali bermimpi tentang anak laki laki yang berlarian sendiri. Namun lagi lagi ia menganggap itu hanya bunga tidur.
Arka dengar kemarin Yesa menggelar acara empat bulan kandungan nya, namun ia tidak mau tahu. Apa lagi sekarang dia sudah menikah, untuk apa memikirkan perempuan yang sudah bukan siapa siapa nya lagi. lebih baik fokus pada karir dan rumah tangga nya yang baru.
Menghapus semua kenangan indah bersama Yesa, dan menganggap bahwa semua tidak pernah ada.
"Hai arka...!" Seorang perempuan cantik menyapa saat ia keluar dari mobil.
"Hai juga, boleh enggak aku minta foto !" Ujar perempuan itu yang merupakan fans nya.
"boleh...!" jawab Arka lalu berfoto dengan perempuan cantik itu.
"Terimakasih arka. Aku fans kamu, semangat ya cetak gol nya. Ini kartu nama aku, semoga kita bisa berteman !" Ujar perempuan bernama Reisa itu. ia mengulas senyum lalu pergi meninggalkan arka yang mematung memperhatikan body nya yang ramping seperti Yesa.
"Ah lagi lagi yesa...." gumam arka lalu masuk ke dalam stadion.
Bersambung....
Terimakasih yang sudah mampir. mohon dukungan nya ya, semoga selalu setia dan menanti. Semoga terhibur.
__ADS_1
Happy reading 😍