
“Bagaimana?” Kedua bola matanya Ye Moshen terlihat sangat gelap, hawa dingin dari dalamnya sangat kuat sekali, bahkan ketika berbicara dengannya, tubuh juga ikut terasa dingin.
Shen Qiao berdiri di sana, lalu dengan satu tangannya menarik selimut itu sambil melotot ke arahnya.
Kedua bola mata itu sangat tenang, bagaikan sudah membentuk permukaan es saja, akhirnya Shen Qiao melepaskan tangannya yang menarik selimut itu, lalu berkata: “Tidak apa, kalau kamu senang, silakan saja.”
Selesai bicara, dia pun berbalik badan dan pergi ke ranjangnya.
Pikir-pikir, lalu berjalan keluar sana.
Ye Moshen dibuatnya emosi sampai urat kepalanya bergerak-gerak.
Ketika Shen Qiao pergi meminta selimut pada pembantu, pembantu itu justru menunjukkan ekspresi yang sedikit sedih: “Maaf nyanya, bukannya kami tidak ingin memberikan selimut padamu, tetapi selimut hari ini, semuanya sedang dicuci, semuanya masih dalam keadaan basah, sementara kami tidak bisa memberikannya padamu.”
Mendengar itu, Shen Qiao pun mengerutkan keningnya: “Satu pun tidak ada?”
Pembantu itu menggelengkan kepala.
“Sungguh?” Shen Qiao masih tidak percaya, dia merasa curiga.
Pembantu itu merasa kaget dan langsung menundukkan badannya: “Maaf nona, ini adalah permintaan dari tuan, mohon Anda jangan membuat kami kesulitan seperti ini.”
Shen Qiao merasa sudah menduga itu semua, dia menaikkan bahunya dan berkata: “Baiklah, kalau begitu, aku tidak akan paksa untuk minta.”
Selesai bicara itu, dia berbalik badan dan pergi, lalu beberapa pembantu lainnya mulai bergosip.
“Nona dan tuan itu kenapa ya? Bukankah beberapa hari lalu mereka sangat dekat? Kenapa hari ini ribut untuk pisah ranjang?”
“Pasangan baru biasa seperti itu, ribut dulu barulah bisa semakin cinta.” Orang yang lebih dewasa berkata seperti itu.
“Begitu ya? Aku rasa kali ini mereka ribut cukup besar, tuan bahkan tidak ingin memberikannya selimut, kalau begitu bukankah nona bisa kedinginan pada malam harinya?”
“Kamu ini masih muda, ternyata benar masih tidak paham hal seperti itu. Tuan itu sedang berusaha untuk memaksa nona agar mendekatinya dan tidur di sampingnya, bukankah tuan ada selimut?”
“Ohh, ternyata seperti itu… tuan… sangat jahat!”
Ucapan mereka itu tidak terdengar sama sekali oleh Shen Qiao, ketika kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat Ye Moshen dengan tatapan mata yang dingin menatapnya, seketika merasa kesal sekali.
“Apakah kamu sudah tahu dari awal, kalau aku akan kembali dengan tangan kosong?”
Ye Moshen menggerakkan bibirnya, tetapi tidak bicara.
__ADS_1
“Ye Moshen, kamu mengambil selimut itu sudah cukup, kenapa kamu meminta mereka agar tidak memberikan selimut padaku?”
Dia menghela nafas, lalu mengalihkan tatapan matanya dan tidak menghiraukannya.
Shen Qiao merasa emosi sekali, tetapi juga tidak berdaya menghadapinya.
Keluarga Ye ini semuanya akan dengar perintahnya, tidak akan mendengarkan katanya, kalaupun Ye Moshen ingin dirinya mati, dia pun tidak ada kekuatan untuk menghadapinya.
“Baiklah, tidak kasih ya sudah.”
Lebih baik dia pakai kain tikar yang ada sebagai selimut, lalu tunggu sampai besok pagi tiba, setelah dia pulang kerja nanti, langsung pergi beli yang baru.
Lagipula selimut baru tidak akan mahal sekali, Shen Qiao masih bisa membelinya sendiri, tidak perlu sampai mohon pada orang lain.
Hari-hari berlalu, sudah masuk ke musim gugur.
Shen Qiao tidur di tempat yang dia siapkan sendiri, dia melipat selimutnya untuk menutupi kakinya saja, karena dia sendiri sudah pakai baju tidur yang tebal sekali, tidur seperti itu juga tidak ada keanehan sama sekali kok, juga tidak akan terasa kedinginan.
Hanya saja tubuh masih tidak begitu leluasa.
Awalnya dia masih merasa tangan kaki seperti terikat saja, tidak lama kemudian dia mulai merasa terbiasa, sehingga tidak merasa sulit lagi, dia mulai memejamkan mata, seketika masuk ke dalam mimpi.
Yang Shen Qiao tidak tahu, setelah dia tertidur lelap, ada sesosok tubuh tinggi berdiri di hadapannya, setelah melihatnya sudah tidur, orang itu mencoba berkata di samping telinganya.
…….
Meskipun bisa mimpi indah, tetapi besok paginya ketika dia bangun, dia merasa tubuhnya itu terasa pegal-pegal, seluruh uratnya terasa tegang sekali, bahkan tangan kaki menjadi sulit digerakkan, dia tidur dalam keadaan yang tidak begitu nyaman semalaman, mau tidak mau harus merasakan hal itu semua.
Tidak sengaja dia melihat kedua matanya sedikit gelap, lalu Shen Qiao pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Ketika dia keluar, Ye Moshen sudah tidak ada di dalam rumah.
Shen Qiao mengeluarkan kalender kecil dari dalam tasnya, dia baru mengetahui jika dirinya berada di dalam Keluarga Ye ini sudah hampir satu bulan lamanya.
Mengikuti waktu yang berjalan, anak di dalam kandungannya itu juga sudah mau dua bulan, jarak dari waktu yang mereka sepakati, masih ada lima bulan lamanya.
Bertahan dan melaluinya, begitu sajalah, Shen Qiao berkata seperti itu di dalam hatinya.
Shen Qiao baru pergi kerja, langsung berhadapan dengan masalah kontrak kerjasama dengan Grup Han Ji Tuan, pihak terkait akan segera datang ke perusahaannya.
Shen Qiao merasa dirinya menjadi salah satu penanggung jawab proyek itu, pagi-pagi buta sudah menyiapkan banyak berkas, bersiap-siap untuk keperluan nanti.
__ADS_1
Sampai dirinya mendapatkan sebuah pesan, jika pihak terkait sudah berada di bawah, Shen Qiao mengambil semua berkasnya dan bersiap-siap turun, tetapi kebetulan ada Ye Moshen dan Xiao Su yang juga berjalan keluar dari dalam kantornya, Shen Qiao pun berpikir, lagipula ini adalah proyek bersama, jadinya dia pun menunggu mereka untuk bersama-sama jalan.
Tetapi siapa sangka, ketika mereka berdua sampai di depannya, Xiao Su pun mendekati Shen Qiao dan berkata: “Asisten Shen, berikan saja padaku.”
Mendengar itu, Shen Qiao merasa kaget sekali: “Apa?”
Xiao Su dengan canggungnya membuka mulut dan berkata: “Berkas proyek kali ini, apakah kamu sudah menyiapkannya?”
Shen Qiao menganggukkan kepala: “Iya, aku sudah siapkan semua, semua ini…” Dia menyerahkan semua berkas itu padanya, lalu tersenyum dan berkata: “Nanti aku akan jelaskan pada Han Zong sejenak, kerjasama kali ini seharusnya tidak ada masalah.”
“Tidak perlu.” Xiao Su menjawabnya dengan cuek, lalu menekankan nada bicaranya: “Rapat kali ini, kamu tidak perlu pergi.”
Mendengar itu, Shen Qiao merasa sedikit kesal, dirinya pun terdiam di sana.
“Tidak perlu pergi?”
Kenapa? Berkas itu semua dia dengan susah payahnya menyiapkan satu per satu, lagipula bukankah proyek kali ini, Ye Moshen sendiri yang menyerahkannya padanya? Sekarang kenapa berubah lagi?
Xiao Su menggerakkan bibirnya, tidak menjelaskan pada Shen Qiao, hanya saja tatapan matanya itu melihat ke arah Ye Moshen sejenak.
Oleh karena itu, Shen Qiao pun mengerti, jika itu semua adalah perbuatan Ye Moshen, dia berjalan ke depan dan berkata: “Kenapa? kenapa aku tidak boleh ikut rapat?”
Ye Moshen menaikkan alis matanya secara perlahan, di balik kedua bola matanya itu seperti terlihat perasaan yang tidak senang, lalu berkata: “Apa status kamu? Kamu juga ingin masuk ke ruang rapat? Kenapa? rindu pada hari-hari di mana kamu masuk untuk menuangkah teh?”
“…” Mengungkit hal itu. seketika wajahnya berubah menjadi pucat.
Saat itu dia baru masuk ke dalam Keluarga Ye, dia diminta untuk menjadi asistennya Ye Moshen, lalu dia terus menindasnya, dia memintanya untuk menuangkan teh untuk dirinya ketika di dalam ruang rapat.
Ingin membuat dia mundur secara perlahan.
“Jika kamu rindu dengan kerjaan itu, aku tidak akan sungkan untuk memberikan kesempatan itu padamu.”
Shen Qiao mengepalkan tangannya.
Jika ada martabat diri, maka tentu dirinya tidak akan ikut masuk.
Tetapi, berkas proyek kali ini, dia siapkan dengan susah payahnya, berdasarkan apa dia harus berdiam diri di luar saja? Daripada seperti itu, lebih baik dia tetap masuk meskipun hanya menuangkan teh, dengan begitu dia masih bisa mendengarkan apa yang mereka bahas, kalau ada yang tidak sesuai, dia juga bisa keluar untuk membantu menjelaskan.
Terpikir itu, Shen Qiao menatap ke arah Ye Moshen.
“Baiklah, kalau begitu aku minta pada tuan agar memberikanku kesempatan untuk menuangkan teh lagi.”
__ADS_1
Ye Moshen tersenyum dingin: “Ingat, di dalam ruang rapat kamu adalah si bisu, tidak ada hak untuk bicara.”