Istri Kedua Tuan Ye

Istri Kedua Tuan Ye
Bab 33 Minta Maaf Ada Gunanya?


__ADS_3

Malam ini Shen Qiao bermimpi.


Dia bermimpi kejadian sebulan lalu, malam itu pria memaksa menggendong dia, lalu menciumnya, nafas yang panas dan suara nafas.


Shen Qiao berbalik badan, dengan panas membuka selimut lalu membuka mata.


Langit sudah terang, sinar matahari juga menyinari ke dalam ruangan dan ada aroma pagi hari.


Shen Qiao duduk bersandar dan otakanya sedikit bingung.


Sudah berlalu begitu lama, kenapa dia masih bisa bermimpi tentang pria itu?


Di dalam mimpi pria itu sangat kuat.


Hanya saja sudah tidak bisa mendengar jelas suaranya.


Shen Qiao menyeka keringat yang ada di dahinya, mendadak merasa tenggorokannya sangat gatal, dia batuk beberapa kali, baru kepikiran satu hal dan melihat ke arah tempat tidur.


Ye Moshen masih tidur, Shen Qiao takut mengganggu dia, jadi suara batuknya sangat kecil, tapi tenggorokannya sangat sakit, dia bergegas berdiri tanpa memakai sepatu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, setelah batuk sangat lama, kemudian Shen Qiao menyikat gigi.


Ye Moshen sangat mudah bangun, saat Shen Qiao berbalik badan, dia sudah sadar, hanya saja tidak membuka mata.


Kemudian Ye Moshen mendengar suara batuknya, tapi dengan cepat ditahan kemudian mendengar dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Kemudian dari kamar mandi terdengar suara batuk yang ditahan, seolah-olah tidak ingin membuat dia terdengar.


Tapi kamar tidak begitu besar, tidak peduli bagaimana ditahan, suara batuk pasti akan terdengar, apalagi sekitarnya sangat tenang, tidak ada suara keributan, jadi Ye Moshen akan mendengar jelas suara batuk itu.


Jadi Ye Moshen juga teringat dengan perkataan Xiao Su.


“Nona Shen sedang hamil, jika tidur di lantai pasti tidak baik.”


Meskipun sekarang bukan musim dingin tapi sudah mau masuk musim gugur, di lantai hanya dialasi selimut tipis dan dia adalah wanita, tidur lama pasti akan tidak baik terhadap kesehatan tubuhnya.


Ye Moshen membuka mata, merasa sangat berkilau kemudian menutup sejenak lagi.


Tapi dalam pikirannya semua tentang wanita itu menutup mulut dan batuk di dalam kamar mandi.


Tidak lama Ye Moshen dengan kesal membuka selimut, melirik jam yang ada di meja, masih ada waktu satu jam untuk tidur.


Selesai Shen Qiao menyikat gigi dan keluar melihat Ye Moshen sudah bangun, dia dengan malu berkata, “Maaf, apakah suaraku mengganggu kamu?”


Mendengar ini, Ye Moshen langsung mengerutkan dahi.


Wanita ini masih ada kesadaran diri, tahu bahwa dirinya sudah membuat dia merasa berisik.


Saat tidur Shen Qiao tidak ada kebiasaan memakai baju dalam, namun setiap pagi dia akan memakai di dalam kamar mandi, tapi karena hal batuk dia tadi tidak teringat dengan hal ini.


Sekarang melihat Ye Moshen, Shen Qiao baru teringat masalah ini, jadi ekspresi dia menjadi tidak nyaman.

__ADS_1


“Tahu bisa mengganggu aku, kamu harusnya mengecilkan suaramu.”


Menghadapi perkataan marah Ye Moshen, Shen Qiao tidak melawan, memang dia yang membuat Ye Moshen terbangun, jadi hanya menundukkan kepala memegang sudut bajunya dan berkata, “Maaf……”


Maaf?


Tampak dia yang lemah ini membuat Ye Moshen tidak senang.


Apakah dia tidak mengerti melawan? Batuk bukanlah hal yang bisa dikendalikan! Apakah perkataannya harus dipatuhi?


“Maaf ada gunanya?”


Shen Qiao hanya menundukkan kepala, tidak tahu berkata apa, tatapan Ye Moshen membuat dia tidak nyaman dan membuat dia ingin kembali ke kamar mandi lagi.


Ye Moshen tidak tahu dirinya kenapa, hanya merasa Shen Qiao berbeda dengan yang dia pikirkan.


Dia mengira menghadapi orang yang menyinggung dia, dia akan melawan, tidak disangka dia tidak pandai melawan dan hanya bisa menunjukkan wajah kasihannya.


“Aku tidak berniat untuk membangunkanmu.”, kata Shen Qiao, akhirnya Shen Qiao menengadahkan kepala melihat Ye Moshen.


Ye Moshen hanya merapatkan bibirnya menjadi satu garis.


“Sini.”


Ke sana? Ekspresi Shen Qiao langsung berubah, kemudian menyusutkan bahunya.


Dia belum memakai pakaian dalam.


Ye Moshen menahan emosinya dan berkata, “Tuli ya?”


Shen Qiao baru berjalan ke arahnya, tapi setiap langkah dia seperti menginjak pisau, sangat aneh membuat Ye Moshen yang melihat ini merasa tidak berdaya.


Saat berjalan ke depan Ye Moshen, tubuh Shen Qiao tidak bisa tegak, hampir saja menjongkok.


Ye Moshen menyipitkan mata, ingin menarik dia, Shen Qiao terkejut dan langsung jongkok.


Tangan Ye Moshen juga berhenti di udara, suasana sekejap menjadi sangat dingin.


Kemudian Ye Moshen mengerutkan dahi berkata, “Apa yang kamu lakukan?”


Shen Qiao hanya jongkok di sana.


“Iya?”


“Aku…… sakit perut.” Akhirnya Shen Qiao mencari alasan, bagaimanapun dia tidak ada rencana untuk berdiri.


Ye Moshen mengerutkan dahinya lebih dalam, “Sakit perut?”


Kemudian teringat dengan perkataan Xiao Su, apakah karena kedinginan jadi sakit perut?


Terpikir kemungkinan ini, Ye Moshen merasa sangat kesal.

__ADS_1


Ye Moshen tidak berbicara, Shen Qiao juga tetap jongkok.


Tidak tahu lewat berapa lama, mereka masih dalam posisi yang sama.


Ye Moshen tidak bisa berjalan, jika tidak ada bantuan Xiao Su dia hanya bisa duduk, Shen Qiao juga tidak berani berdiri, jadi mereka hanya bisa meneruskan gerakan ini.


Sudah lupa berjongkok berapa lama, kaki Shen Qiao menjadi kebas, namun dia hanya bisa melihat Ye Moshen saja.


Tapi dia tidak bergerak, jadi dia juga tidak berani bergerak.


“Ngapain lihat aku? Jangan berharap aku menggendong kamu.”


Perkataan Ye Moshen membuat Shen Qiao teringat sesuatu.


Iya ya, Ye Moshen tidak bisa jalan, tidak mungkin bisa berdiri, Shen Qiao berkata, “Kamu…… ngapain memanggilku?”


Ye Moshen tidak berbicara.


“Bilang saja.”


“Kamu bukannya sakit perut?”


Wajah Shen Qiao menjadi pucat lalu menganggukkan kepala, “Iya, namun…… sekarang sudah baikkan, kamu ada masalah apa?”


“Bantu aku dorong kursi roda ke sini.”


Tatapan dia melihat ke arah kursi roda, Shen Qiao sekejap mengerti, rupanya dia ingin duduk kursi roda, baru dengan pelan berdiri, “Kamu tunggu sebentar.”


Kemudian dia mendorong kursi rodanya ke sini.


“Gandeng aku.”


Ye Moshen melihat wajah dia, “Bisakan?”


Melihat jarak tempat tidur dengan kursi roda tidak jauh, Shen Qiao baru mengangguk kepala dan berkata, “Seharusnya bisa.”


Tidak ada cara lain lagi, Shen Qiao hanya bisa pergi membantu dia.


“Kakiku tidak bertenaga, kamu sedikit jongkok lalu pinjamkan bahumu.”


“Baik.”, kata Shen Qiao. Terhadap cara dia, Shen Qiao tidak menolak, kemudian dia membungkukkan badan.


Tangan Ye Moshen memegang bahunya, tinggi badan Ye Moshen 185 cm ke atas, Shen Qiao sangat mungil tidak sampai 165 cm, jadi baru ditekan oleh Ye Moshen, pinggang dia menjadi tidak bisa tegak.


Dahi Ye Moshen penuh dengan keringat, lalu menarik kembali tangannya, “Jika kamu tidak bisa tidak apa-apa.”


Mendengar ini, Shen Qiao menggigit bibirnya, “Tidak apa-apa, aku bisa, tadi hanya tidak berdiri stabil saja, sekali lagi.”


Selesai bicara Shen Qiao mengganti postur, kemudian menepis bahunya, “Aku bisa, kamu coba sekali lagi.”


Namun Ye Moshen tidak bergerak, hanya menatap dia.

__ADS_1


Shen Qiao baru menyadari dan mengikuti tatapannya melihat, baru tahu dia menatap ke arah sana.


__ADS_2