Istri Kedua Tuan Ye

Istri Kedua Tuan Ye
Bab 94 Cium Aku Lalu Kuberikan Padamu


__ADS_3

Ini membuat Ye Moshen sangat tidak senang.


Dia ingin mencari masalah dengan Shen Qiao karena dia melihatnya bersama dengan pria lain.


Perasaan semacam ini membuatnya merasa sangat gelisah, karena itu ketika dia melihatnya, tanpa disadarinya dia hanya mengucapkan kata-kata itu untuk menyakiti hatinya.


Tapi sekarang dia tiba-tiba menjadi sangat pintar dan patuh seperti sebuah boneka yang tak bernyawa. Bukannya membuat rasa kesal Ye Moshen menghilang, dia malah membuatnya menjadi semakin kuat.


Dia bisa menyuruhnya memanggil dirinya apa?


Ye Moshen mencibirnya: “Kamu biasanya selalu memanggil namaku langsung meskipun tidak memanggilnya dengan sangat riang. Sekarang kamu pura-pura untuk lucu mau diperlihatkan ke siapa?”


Shen Qiao memejamkan matanya, “Lain kali akan lebih kuperhatikan lagi.”


“Sini kamu!” Ye Moshen sungguh bisa menjadi gila olehnya.


Shen Qiao berhenti sesaat, akhirnya melangkah ke arahnya.


“Ada urusan apa aku memanggil? Dorong aku kembali.”


“Baik.” Shen Qiao berjalan ke belakangnya tanpa ekspresi apapun, lalu mendorong kursi rodanya maju.


Wajah Ye Moshen tampak sangat muram, seolah-olah seperti ada yang berhutang dengannya di seluruh bumi ini. Nafas kedua orang itu membuat udara terasa muram, dan juga tampak kesepian. Seiring berjalan melewati aula, udara di sekelilingnya menggetarkan orang lainnya.


Melihat kedua orang itu sedang dalam suasana yang buruk, para pelayan pergi untuk mengungsi secepat mungkin.


Shen Qiao mendorong Ye Moshen kembali ke dalam kamarnya, lalu mengatakan: “Sudah sampai. Jika ada urusan apa katakan saja aku akan pergi mengurusnya.”


Setelah mengatakan itu, Shen Qiao pergi menuju ke lemarinya dan mengeluarkan pakaian. Hasilnya, ketika dia membuka lemari itu, melihat semua yang telah diberikan oleh Ye Moshen, membuat ekspresi wajahnya sedikit berubah. Rasanya ingin menutupnya dengan tangannya.


Tapi sebelum sempat dia tutup, tangannya ditahan oleh seseorang.


Shen Qiao menghadap ke belakang dan melihat Ye Moshen sudah menghampirinya.


Dia menghentikannya ketika mau menutup lemari itu sambil menatapnya dengan dingin.


“Apa kamu merasa sangat jijik dengan pakaian yang aku belikan untukmu? Bahkan tidak mau memakainya?”


Shen Qiao melangkah mundur dan dengan suara kecil mengatakan: “Tuan Ye bercanda ya? Kita ini sebenarnya hanya hubungan kontrak, aku tidak bisa menerima semua pakaian ini.”


Setelah mengatakan itu, Shen Qiao berbalik dan pergi dari sana. Ketika dia melewati Ye Moshen, tangannya digenggam olehnya.


“Bagaimana kalau aku memaksamu untuk memakainya?”

__ADS_1


Shen Qiao cemberut, menundukkan kepalanya melihat ke arah tangannya yang menggenggam lengannya.


Sesaat kemudian, dia menganggukkan kepalanya: “Oke.”


Setelah Ye Moshen melepaskan tangannya, Shen Qiao maju untuk mengambil salah satunya dan pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Ye Moshen memukul pintu lemari itu!


Kurang ajar!


Dia ingin menyuruhnya mengenakan pakaian yang dia beli, tapi sekarang meskipun dia sudah setuju, dia masih merasa sangat tidak puas!


Setelah Shen Qiao pergi masuk ke dalam kamar mandi, suara air terdengar dari dalam kamar mandi. Kemudian ponsel yang ada di ranjang berdering, tapi dia tidak bisa mendengarnya dari dalam kamar mandi. Ye Moshen pura-pura tidak mendengarnya.


Sesaat kemudian ponselnya masih tetap berdering. Ye Moshen mencemoohnya sambil mendorong kursi rodanya.


Dia mengambil ponselnya dan melihatnya. Dia melihat nomor peneleponnya itu nomor asing, jadi dia angkat.


Sebelum Ye Moshen bicara, sisi lain itu tidak tahan lagi untuk membuka mulutnya dan mengatakan: “Qiao Qiao, akhirnya kamu mau menerima panggilan telepon dariku.”


Qiao Qiao? Ye Moshen menyipitkan matanya dengan sangat berbahaya. Memanggilnya sangat akrab sekali!


Akan tetapi, orang yang ada di ujung telepon itu sama sekali tidak mengetahui bahaya yang ada di sini, lalu dengan lembut melanjutkan ucapannya: “Qiao Qiao, apa kamu mau memaafkanku? Mengenai urusan yang terjadi di rumah sakit pagi hari itu aku sungguh tidak bermaksud. Kata-kata itu semua hanyalah omong kosong, kamu jangan marah lagi denganku.”


“Qiao Qiao? Mengapa kamu tidak bicara?”


Ye Moshen mencemoohnya, ternyata ini adalah mantan suaminya yang mencari dia untuk mengenang masa lalunya. Ye Moshen membawa ponselnya menjauh, melihat nomor yang ada di layar itu, lalu meletakkan ponselnya kembali ke telinganya, dengan nada yang sinis berkata: “Apa kamu ingin aku memberimu kesempatan untuk mati?”


Orang yang ada di ujung telepon sana terhenti sesaat. Kemudian nada sibuk terdengar dari ponselnya.


Tentu saja, pihak itu taut olehnya hingga langsung menutup teleponnya. Ingin mengulang kembali bersamanya, namun tidak berdaya apa-apa.


Hah, bagaimana bisa wanita bodoh ini rela mati demi pria semacam ini?


Sudah menikah lagi, masih juga memberikannya seorang anak, apa tidak punya otak?


Anak….


Tatapan Ye Moshen sedikit berubah ketika menyadari bila dia masih memiliki anak mantan suaminya di dalam perutnya itu. Alasan mengapa dia tetap masih merawat anak dalam kandungannya itu pasti karena dia masih mencintai mantan suaminya.


Kalau mantan suaminya mengajaknya untuk kembali bersama lagi, akan dia memberikannya kesempatan?


Membayangkan dia mungkin kembali lagi dengan mantan suaminya yang kurang ajar itu, Ye Moshen mendapati dirinya seperti mau meledak.

__ADS_1


Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Xiao Su.


“183XXXXXXX, tolong kamu selidiki alamat lokasi dari nomor ini. Nomor ini juga milik mantan suami Shen Qiao, lalu berikan aku semua informasi mengenai dia.”


Sebelum Xiao Su pergi, dia menerima panggilan telepon dari Ye Moshen, lalu menyelidiki informasi mengenai mantan suami Shen Qiao, yang membuatnya terkejut: “Tuan Ye, apa yang dilakukan oleh mantan suami Asisten Shen? Kita tidak punya urusan dengan pria itu bukan?”


“Kalau aku suruh kamu selidiki, maka selidiki saja. Untuk apa kamu masih bicara yang tidak penting?”


Ye Moshen kemudian langsung menutup telepon Xiao Su. Xiao Su hanya bisa menelan kembali ke dalam perutnya meskipun dia masih memiliki banyak pertanyaan untuknya.


Shen Qiao mandi dengan sangat cepat. Ketika dia keluar, suasana di luar sangat hening, tapi tak disangka Ye Moshen berada di ranjangnya. Dia lalu menghampirinya untuk melihatnya.


Pandangan Ye Moshen tertuju ke arahnya.


Tubuhnya mengenakan sebuah rok sutra es berwarna merah muda, garis lehernya yang lurus memperlihatkan tulang selangkanya yang cantik, kulit putihnya yang baru dibilas itu bersinar luar biasa. Hanya sekali lirik saja, pandangan Ye Moshen menjadi gelap.


Akhirnya, melihatnya mengenakan pakaian yang dibelikan olehnya, Ye Moshen tidak tahu harus menggunakan apa untuk mendeskripsikan perasaannya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Shen Qiao berjalan menghampirinya dan menyadari ponselnya yang berada di ranjang itu hilang.


Begitu melihatnya lagi, ternyata dipegang oleh Ye Moshen.


“Untuk apa kamu mengambil ponselku? Kembalikan padaku?” Shen Qiao terkejut dan tanpa disadarinya berjalan dua langkah untuk mengambil ponselnya kembali. Gerakannya ini terlihat mendesak dan sangat kebingungan.


Shen Qiao sangat cemas hingga membuat Ye Moshen menyipitkan pandangannya dengan berbahaya, lalu menyembunyikan ponselnya dalam lengannya.


“Mengapa kamu sangat cemas? Apa ada sesuatu yang tidak boleh diperlihatkan padaku di dalam ponselmu?”


Setelah mendengar ini, Shen Qiao menyadari sesuatu. Dia menggigit bibirnya dan mengatakan: “Tuan Ye, kamu tidak mungkin akan menyita ponselku, bukan?”


Di dalamnya terdapat rekaman pembicaraan dia dengan Han Xueyou. Jika sampai dia mendengar pembicaraannya dengan Han Xueyou, bisa-bisa cerita mengenai anaknya akan terbongkar bukan? Membayangkan sampai di sini membuat wajah Shen Qiao menjadi pucat.


“Kalau disita memang kenapa?” Tatapan Ye Moshen terlihat dingin, “Sekarang ini kamu sudah ditempelkan dengan label namaku, Ye Moshen. Kamu merupakan wanita milikku, Ye Moshen ini. semua benda milikmu berarti milikku juga, milik Ye Moshen ini. Kalau aku mau menyita ponselmu, lalu kenapa?”


Shen Qiao: “Kamu tidak bisa seperti ini, kembalikan ponselku.”


“Kembalikan?” Ye Moshen menyeringai: “Bukannya tidak boleh.”


“Apa persyaratannya?” Shen Qiao melihat ekspresinya, dia langsung tahu bila dia pasti memiliki suatu persyaratan, “Aku akan melakukan apapun asalkan kamu mengembalikan ponselku.”


Dia tidak boleh membiarkan orang ketiga tahu bila dia memiliki anak dengan pria asing.


“Sungguh apapun bersedia? Baiklah kalau begitu, kemarilah lalu cium aku, baru aku akan mengembalikan ponselmu.”

__ADS_1


__ADS_2