
Ketika Shen Qiao terbangun, dia berada di kamar yang bersih dan rapi.
Tatanan kamar itu terlihat sangat sederhana, namun banyak corak, dan banyak benda-benda seperti sketsa yang tertempel di dinding.
Tirai abu-abu terang tertiup angin, terasa sangat sejuk.
Di mana tempat ini?
Shen Qiao perlahan duduk, pergelangan tangannya terasa sakit, dia menundukkan kepalanya kemudian menemukan kalau tangannya terbungkus oleh perban.
“Kamu sudah bangun?”
Sebuah suara hangat datang, Shen Qiao menaikkan matanya.
Ye Linhan datang menghampirinya dan mengejutkan matanya, dia memberikannya segelas air hangat, memanggilnya kemudian menyerahkan gelas itu.
“Minumlah segelas air hangat untuk membasahi tenggorongkanmu.”
Shen Qiao menatapnya beberapa saat, kemudian mengambil gelas yang diberikannya, dia begitu kehausan sampai bibirnya sangat kering, setelah mengambil gelas air itu, Shen Qiao meminumnya tidak sabaran, glek glek.
Ye Linhan di sampingnya menyaksikannya, mau tidak mau dia berkata: “Minumlah pelan-pelan, hati-hati tersedak.”
Melihat aksi Shen Qiao, dia menghela nafas dalam-dalam mendengar suara Ye Linhan…….
Dia benar-benar seorang yang lembut!
Akhirnya Shen Qiao memperlambat minumnya, setelah menenggak satu gelas, Shen Qiao baru saja akan meletakkan gelas itu, Ye Linhan menghampirinya lalu mengusap bekas air yang ada di bibirnya.
Dia hanya menyeka begitu saja, namun hal itu membuat Shen Qiao tertegun.
Apa yang sedang dilakukannya? Menyentuh ujung mulutnya dengan jarinya?
Setelah menyadari perilaku ini, Shen Qiao tiba-tiba memalingkan kepalanya untuk menghindari sentuhannya.
Wajah Ye Linhan terlihat sangat biasa saja, dia tidak begitu memikirkan akibat dari perilakunya terhadap Shen Qiao, dia mengambil gelas dari tangan Shen Qiao lalu berkata, “Bangunlah, aku akan membuatkanmu makanan.”
Makan?
Begitu dia menyebutkan makanan, perut Shen Qiao seketika menjerit.
Wajahnya berubah kemerahan, dia segera menyentuh perutnya untuk menutupinya.
Ye Linhan tersenyum, matanya terlihat sangat lembut: “Cepat bangun.”
Matanya sama sekali tidak menertawakannya, memandang matanya membuatnya merasa tenang, hati Shen Qiao perlahan stabil, dia kemudian menganggukkan kepalanya dan mengikutinya.
Setelah bangkit berdiri, Shen Qiao terkejut ketika mengetahui pakaiannya sudah diganti.
__ADS_1
Dia secara sengaja memegang pakaiannya.
“Jangan khawatir, pelayan yang menggantikan pakaianmu.”
Ye Linhan memberikan penjelasan di waktu yang sangat tepat, Shen Qiao pun kembali tenang pikirannya, wajahnya memerah.
Dia tidak berkata apa-apa namun dia bisa membaca pikirannya, Shen Qiao begitu malu kemudian mengikutinya ke meja makan.
Ada beberapa masakan dan sup di atas meja, yang bisa dikatakan berbagai macam rasa.
Shen Qiao sudah kelaparan dalam waktu yang cukup lama, dia tidak tahan sampai-sampai menelan ludahnya sendiri, lalu duduk di meja.
“Makanlah, jangan sungkan.” Ye Linhan tersenyum, memberikannya semangkuk nasi, dan sepasang sumpit untuknya.
“Terima kasih kakak.” Shen Qiao berterimakasih lalu duduk untuk makan, dia benar-benar kelaparan.
Kemarin dia tidak makan seharian, karena dia terlalu keras kepala.
Saat masih kecil dia pernah kelaparan tiga hari tiga malam, dan dia bertahan tanpa air dan makanan!
Bagaimana mungkin dia mengalami kejadian tanpa makan lagi? Shen Qiao memasukan nasi di mulutnya sambil berpikir betapa kuatnya dirinya sendiri.
Sejak kecil dia sudah mengalami pengalaman yang sangat menakutkan.
Pengkhianatan Lin Jiang, keluarga yang tidak rukun juga sudah dialaminya.
Hanya setengah tahun, setelah setengah tahun dia bisa pergi meninggalkan tempat ini.
Setelah itu, dia harus mencari kota yang disukainya, tinggal tetap, mencari pekerjaan yang baik, dan membesarkan anaknya seorang diri.
Memikirkan hal itu, air mata mengalir di pipinya tanpa sadar, dan semakin lama matanya semakin tidak dapat membendung air mata itu, air matanya kemudian mengalir deras, dan tidak sedikit yang jatuh ke dalam mangkuk nasi Shen Qiao.
Namun aksinya itu tidak menghentikannya, dia tetap memegang mangkuk nasi itu.
Ye Linhan yang duduk di sampingnya tersenyum padanya, melihat matanya yang sedikit merah, senyumnya terhenti, kemudian dia melihat air matanya yang perlahan menetes seperti kacang polong, masuk ke dalam mangkuk yang dipegangnya.
Senyuman Ye Linhan berhenti di wajahnya.
Dalam waktu yang cukup lama, dia menghela nafas lalu mengambil sumpitnya untuk meletakkan sayuran di mangkuk Shen Qiao/
“Jangan hanya makan nasi, makanlah sayur yang banyak.”
Shen Qiao mendengus, air matanya tidak tertahankan lagi, melihat Ye Linhan mengambilkan sayuran untuknya, dia kemudian menatapnya.
Dalam beberapa saat, sepasang mata indahnya dipenuhi oleh air mata mengalir di depan Ye Linhan tanpa peringatan.
Gerakan tangannya berhenti, bibir tipisnya menekan membuat garis lurus tanpa disadarinya.
__ADS_1
Di bibir Shen Qiao masih ada nasi yang menempel, dia merasa malu karena terlihat seperti ini, tapi semakin dia memikirkan hal ini, semakin emosional perasaannya. Makanan yang ada di depannya mengingatkannya ketika dia diselamatkan dari tangan para kriminal oleh polisi ketika dia masih kecil.
Namun, orang tuanya tidak datang untuk menjemputnya, akhirnya paman polisi memeluknya dengan kasih sayang, lalu membawanya ke kantor polisi, membelikannya makanan dan membiarkannya makan.
Pada saat itu dia terdiam untuk waktu yang cukup lama, tiba-tiba saja mengambil mangkuk untuk mengambil nasi, paman polisi juga tiba-tiba menghela nafasnya dan meletakkan sayuran di mangkuknya.
“Gadis kecil, makan sayur yang banyak.”
Pada saat itu Shen Qiao masih kecil, dia pun menangis kejer.
Sekarang…..meskipun dia sudah tumbuh besar, sudah menikah, dan punya anak, dia masih merasa sedih dan terharu melihat perlakuan Ye Linhan terhadapnya.
Air matanya mengalir semakin deras.
“Maafkan aku…..Kakak, aku tidak….aku tidak ingin seperti ini…..” Menangis sesenggukkan, dia meletakkan mangkuknya dan memalingkan tubuhnya.
Perasaannya begitu tidak karuan.
Hari itu adalah hari terburuk baginya.
Dia berada di kantor polisi selama tiga hari.
Ketika semua anak hilang telah dijemput oleh orang tua mereka, dia tetap berada disana selama tiga hati, Ibu Shen Qiao datang terlambat dan terburu-buru, dia memarahinya karena ketidaktaatannya dan mempertanyakannya tentang kenapa dia berlari pergi, lalu memukul bokongnya di depan semua paman polisi.
Shen Qiao ingin menangis pada saat itu, hanya saja dia sengaja menahannya.
Dia hanya menatap ibunya dengan matanya yang besar seperti itu.
Mengapa? Apakah ibunya tidak menyayanginya? Mengapa…..semua ibu sangat sayang pada anaknya, tapi mengapa….mengapa ibunya berbeda dari yang lain?
Sebuah mantel menutupi tubuh Shen Qiao, menyelimutinya dengan nafas dan temperatur seorang pria yang aneh.
“Begitu sulitnya?” Ye Linhan duduk disampingnya, dia mengambil selembar tisu lalu perlahan mendekat untuk mengusap air mata di wajahnya: “Menangislah, lebih baik, setelah menangis lalu makan, kalau tidak….tidak baik kamu akan kelaparan.”
Tangan Shen Qiao gemetar, dia menatap wajah Ye Linhan kemudian matanya gemetaran dengan lembut dia berkata, “Terima kasih.”
Ye Linhan tersenyum:”Tidak perlu sungkan, apakah setelah menangis kamu merasa lebih baik?”
“Hmm.” Shen Qiao menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu minumlah semangkuk sup.” Ye Linhan memberikannya semangkuk sup, Shen Qiao hanya bisa menerima dan mengambilnya.
“Ketika kemarin aku pergi ke rumah sakit, aku melihat mobil Mo Shen di parkiran, apa kamu sedang bersamanya?”
Mendengarnya, Shen Qiao bergerak.
“Mo Shen itu dari wajahnya terlihat berhati dingin, dan dia selalu menutupi banyak hal, tapi jika boleh jujur, Kak Mos Shen benar-benar sangat baik padamu.”
__ADS_1