Istri Kedua Tuan Ye

Istri Kedua Tuan Ye
Bab 168 Seperti Keledai


__ADS_3

Anggap sebagai suap?


Ekspresi wajah Xiao Yan berubah. Tampaknya kata-kata Ye Linhan dimaksudkan untuk mengakui bahwa dia memang sedang mengejar Chen Qiao.


Ya Tuhan.


Xiao Yan mengedipkan matanya beberapa kali. Jika Ye Linhan benar-benar mengejak Chen Qiao, bagaimana hubungan Chen Qiao dan Ye Moshen? Meskipun Xiao Yan tidak berpikir Chen Qiao mengandalkan Mo Yeshen sehingga bisa masuk ke dalam Perusahaan Y, tapi dia merasa identitas Chen Qiao hampir sama dengan mereka.


Tapi sekarang sepertinya dia… Identitasnya seharusnya tak sesederhana itu ya?


Kalau tidak, bagaimana bisa kedua adik kakak keluarga Ye ini bisa…


Memikirkan hal ini, Xiao Yan tidak bisa menahan diri untuk batuk pelan: “Itu, Wakil Presiden Ye, apa Anda benar-benar serius pada Qiaoqiao? Meskipun… Kami semua orang biasa, mungkin di matamu, kami gadis biasa agak… Tapi Wakil Direktur Ye, aku ingin menjelaskan, kami juga punya harga diri. Chen Qiao baru saja diturunkan jabatannya oleh Direktur Ye, dan Presiden Direktur Ye… ”


Dia ragu-ragu, kata-katanya terucapkan setengah-setengah, dia tidak berani mengatakannya sama sekali, karena takut dia akan menyinggung Wakil Presiden Direktur secara tidak sengaja.


Tapi Ye Linhan masih mengerti apa yang dia maksud, ia hanya tersenyum tipis.


“Aku tahu maksudmu, jangan khawatir, aku bukan orang seperti itu.”


Xiao Yan: “Apa kamu benar-benar tahu apa yang aku maksud?”


Setelah memikirkannya, Xiao Yan merasa bahwa Ye Linhan bukanlah orang seperti itu. Dia biasa menjadi pria yang lembut di perusahaan, tapi tak pernah melihat ada orang yang benar-benar peduli padanya. Meskipun orang-orang mengatakan jika Wakil Direktur Ye jatuh cinta, maka Wakil Direktur Yue akan menjadi kekasih yang paling lembut.


Tetapi Xiao Yan selalu merasa senyumnya tidak bisa mencapai dasar matanya, bahkan orang yang melihatnya sekilas saja bisa merasaan perasaan yang asing.


“Wakil Presiden Ye, aku pikir Qiaoqiao adalah orang yang serius saat melakukan apapun.” Setelah memikirkannya, Xiao Yan berkata lagi.


Ye Linhan tak menjawab sepatah katapun, ia hanya tersenyum. Mobil yang mereka tumpangi sudah semakin menjauh.


Chen Qiao langsung naik ke lantai atas untuk menemui Kak Jing. Chen Qiao tercengang begitu ia mendorong pintu.


Karena orang yang ada di kantor hari ini bukanlah Kak Jing, tapi… Ye Moshen.


“Kenapa kamu bisa ada di sini?”


Ye Moshen mendongak dan menatapnya dengan dingin.


“Kenapa, kontrak sudah diberikan padamu, tempatnya jadi milikmu juga kan?”


Chen Qiao: “… Bukan itu maksudku!”


Setelah berbicara, dia berjalan dan meletakkan barang-barang di tangannya ke atas meja, dia hanya tidak menyangka Ye Moshen akan muncul di sini.


Dan dia benar-benar berbicara dengannya, di rumah ia tak berbicara sama sekali.

__ADS_1


Tatapan mata Ye Moshen sangat mengejek: “Bukannya kamu ingin mengembalikan kontrak dan kartu bankmu? Kenapa kamu ambil lagi? Nyonya Pengantin Kedua, sebenarnya berapa banyak hal yang benar-benar nyata di mulutmu?”


Apa yang dikatakan ini… Chen Qiao merasakan sakit di hatinya, dia menggigit bibir bawahnya dengan ringan tanpa melihatnya.


“Apa yang kamu pikir benar ya benar, kalau kamu merasa aku bohong, ya aku juga tidak punya alasan untuk membantah.”


“Menurutmu, apakah aku salah menyalahkanmu?”


Chen Qiao tidak berbicara.


Mata Ye Moshen terus menatapnya dengan dingin.


Chen Qiao berpikir dalam-dalam, “Karena Kak Jing tidak ada di sini, aku pulang dulu ya.”


Begitu dia berjalan keluar pintu, Chen Qiao bertemu dengan Kak Jing, “Hei, Qiaoqiao, kamu datang? Aku baru saja memberi tahu Moshen kalau kamu akan segera datang. Aku tidak menyangka kamu akan terlambat hari ini. Ini adalah kopi yang baru saja saya beli di bawah. Maaf berikan satu cangkir ini untuk Moshen.”


Setelah berbicara, Kak Jing langsung menghampirinya ke sisi lain: “Aku mau melihat mereka dulu sudah bagaimana sekarang.”


Chen Qiao: “… ”


Dia langsung masuk dengan kedua cangkir kopi di tangannya.


Pada akhirnya, dia hanya bisa berbalik dan meletakkan kedua cangkir itu di depan Ye Moshen.


“Bawa pergi barang-barangmu.” ucap Ye Moshen dingin.


“Hanya satu cangkir milikku.”


Chen Qiao: “… Menurutmu kamu kekanak-kanakan tidak!”


Dia marah, setelah mengambil cangkirnya, dia berjalan keluar, mata Ye Moshen menatap tajam ke punggungnya: “Setelah mal itu diserahkan kepadamu, kinerjanya benar-benar menurun.”


Chen Qiao: “Aku tahu, kamu tidak perlu mengingatkanku, aku sedang memikirkan jalan keluarnya.”


Ye Moshen: “Memikirkan cara untuk membuat kinerja bisnis mal ini semakin menurun?”


Chen Qiao mengepalkan tinjunya dan berbalik untuk menatap mata Ye Moshen.


“Kamu tidak perlu mengejekku seperti ini. Aku sudah belajar keras dengan Kak Jing baru-baru ini. Jika kamu merasa bahwa aku tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan ini, kamu bisa membatalkan kontraknya. Aku pasti akan menawarkannya dengan senang hati, dan aku tidak akan kabur untuk membayar semuanya!”


Ye Moshen menatapnya, setelah mengatakan beberapa patah kata untuk mengembalikan barang-barangnya kepada dirinya, setelah sekian lama, temperamennya masih belum melembut sama sekali, dia masih keras kepala seperti keledai.


Melihat dia berhenti berbicara, Chen Qiao tidak repot-repot memperhatikannya lagi.


Ketika Kak Jing datang, suasana di ruang ini sudah sangat kaku, tidak ada yang berbicara. Dia bolak-balik memandang Ye Moshen dan Chen Qiao, kemudian berbicara, “Ngomong-ngomong, haruskah kita pergi keluar untuk makan bersama?”

__ADS_1


Mendengar ini, hati Chen Qiao bergerak, dan tanpa sadar sudut matanya memandang ke arah Ye Moshen.


Jika kita bisa pergi makan bersama, mungkin itu bisa meredakan suasana antara dirinya dan Ye Moshen. Lalu dia bisa menjelaskan kepadanya apa yang terjadi pada hari itu? Meskipun beberapa hari telah berlalu, Chen Qiao masih menahan hatinya. Bagaimanapun, kata-kata itu… Terlalu berlebihan.


Setelah sekian lama, dia masih merasa bahwa kata-kata itu terlalu berlebihan.


Jadi Kak Jing mengajak mereka untuk makan bersama, dan Chen Qiao merasa ajakan ini sangat pas dan bagus sekali.


Sudut matanya menatap penuh harap ke arah Ye Moshen. Pada saat ini, suara dingin Ye Moshen pun terdengar.


“Tidak mau.”


Dia langsung menolak.


Hati Chen Qiao terasa dingin, rasa kecewa tersirat dari kedua matanya.


Kak Jing memutar matanya, “Kenapa menolak? Moshen, ayo kita pergi bersama, Chen Qiao juga ayo pergi.”


Setelah selesai berbicara, Kak Jing mendorong Chen Qiao: “Benarkan Chen Qiao?”


Dia menolak, dan Chen Qiao hanya menjawab: “Terserahlah.”


Nada bicaranya buruk, seolah dia tidak peduli sama sekali.


Dia sebenarnya kecewa, bagaimanapun Moshen tidak mau pergi, ada urusan apa lagi dengan dirinya? Kenapa dia harus terus mengkhawatirkannya, membuatnya marah pun sudah tak peduli lagi.


Hal-hal ini jatuh ke telinga Ye Moshen, dia merasa Chen Qiao tidak peduli apakah dirinya mau pergi makan sendiri atau tidak. Mungkin permintaan Kak Jing masih menjadi permintaan untuknya, oleh karena itu seluruh tubuh Ye Moshen menjadi semakin dingin dan keras lagi. Setelah beberapa saat, terdengar suara cibiran dari mulut Ye Moshen.


Kak Jing: “… Benar-benar tidak mau pergi?”


Ye Moshen dan Chen Qiao tidak menanggapinya. Kak Jing merasa tidak dianggap, jadi dia menjawab: “Oke, kalau begitu aku akan pergi sendiri.”


Chen Qiao yang sedang tertegun merasa sedikit kesal, ia berdiri: “Aku ada janji pergi keluar bersama teman, pergi dulu ya.”


Tanpa menunggu mereka berdua bereaksi, ia langsung melangkahkan kakinya dan meninggalkan kantor.


Jadi hanya Ye Moshen dan Kak Jing yang tersisa di kantor. Kak Jing jelas merasa kalau napas Ye Moshen menjadi lebih intens. Dia tidak bisa menahan diri untuk menyesap kopi dan kemudian meliriknya: “Moshen, ada apa ini? Kalian bertengkar ya?”


Ye Moshen menatapnya dengan tatapan dingin dan tegas, ia tidak mengatakan apa-apa.


Kak Jing tersenyum bangga: “Sepertinya hubunganmu lebih dekat dari yang aku kira ya~”


Begitu suara itu jatuh, Ye Moshen memutar kursi rodanya ke luar.


Kak Jing: “… ”

__ADS_1


Siapa yang menyinggung perasaannya?


__ADS_2