
Shen Qiao memberitahu lokasi tempatnya berada lalu menunggunya di luar.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, barulah Han Xueyou mengendarai sampai di depannya. Setelah mobilnya berhenti, Shen Qiao langsung maju ke depan, membuka pintunya lalu duduk di dalam.
“Apa yang terjadi?”
“Pergi ke kantor dulu, aku hampir terlambat. Aku akan menceritakannya di jalan.”
Mendengar ini Han Xueyou hanya bisa dengan cepat berputar balik.
“Kenapa Ye Moshen tiba-tiba menyita ponselmu? Apa kamu membuatnya kesal? Atau mungkin, apa kamu membongkar dirimu?”
Setelah mendengar ini, Shen Qiao menggelengkan kepalanya: “Tidak, aku tidak membongkar apapun, hanya saja kemarin malam kita bertengkar.”
“Bertengkar? Ceritakan padaku apa yang terjadi.”
Pada saat pertengkaran antara Shen Qiao dan Ye Moshen, dia tidak berani banyak bicara mengenai ini, karena itu hanya memberitahu Han Xueyou mengenai alasan pertengkaran mereka itu.
“Aku pergi, dia sungguh tidak menyukaimu. Selalu mengucapkan kata-kata beracun seperti itu padamu.”
Mendengar kata dia tidak menyukaimu itu, hati Shen Qiao merasa kebingungan dan menganggukkan kepalanya: “Memang benar, dia pasti sangat membenciku.”
“Berdasarkan situasinya saat ini, kamu tidak membongkar kedokmu atau mengatakan sesuatu yang aneh. Kalau begitu dia seharusnya tidak menemukannya. Bagaimanapun juga…. Hanya kita berdua yang mengetahui mengenai masalah ini, bukan?”
Shen Qiao menganggukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh: “Aku hanya memberitahumu seorang.”
“Baguslah kalau begitu, aku rasa dia hanya ingin mempermainkanmu dengan mengambil ponselmu. Bagaimanapun juga…. Dia ingin kamu membayarnya, pasti ingin membuatmu merasakan semua penyiksaan ini.”
“Xueyou, sekarang ini bukan waktunya untuk menganalisa ini. Ponselku sedang berada di tangannya, dan rekaman pembicaraan kita yang ada di dalamnya itu bisa ditemukan olehnya.”
“Gila, mengapa kamu tidak menghapus rekaman pembicaraan yang penting seperti itu?”
Shen Qiao juga merasa dirinya kurang berhati-hati, “Sebelumnya pernah, tapi yang terakhir kali ini tidak. Aku juga tidak tahu mengapa dia tiba-tiba bisa mengambil ponselku.”
“Kalau begitu sekarang bagaimana? Ponselnya sudah diambil olehnya, lalu dia juga menolak untuk mengembalikannya. Kamu hanya bisa berharap supaya dia tidak melihat ke dalam ponselmu.”
Shen Qiao merasa pusing kepalanya, lalu meraih dengan tangannya untuk meraba-raba di sekitar alisnya yang terasa sakit itu. Han Xueyou melihatnya tak berdaya lalu mengatakan: “Aku bisa menjadi gila olehmu. Kalau sejak awal sudah menghapus rekaman itu, sekarang ini juga tidak perlu mengkhawatirkannya.”
Shen Qiao berhenti bicara.
“Aku antar kamu ke kantor dulu. Kamu jangan sembarang lagi, dan bersikaplah sesuai dengan situasinya.”
Setelah mengucapkan itu, Han Xueyou memberikan ponselnya: “Ini ponselku, kamu gunakan saja dulu.”
Shen Qiao menganggukkan kepalanya: “Oke! Bagaimana denganmu?”
“Kamu bodoh ya. Ini ponsel cadanganku, aku juga punya ponsel utamaku sendiri.”
__ADS_1
“Oke.”
“Sebentar lagi sudah mau sampai. Jika ada urusan kamu hubungi saja aku, urusan lainnya kamu sendiri yang tentukan, dapatkan ponselmu secepat mungkin.”
Setelah turun dari mobil, Shen Qiao menghadap ke belakang melihat Han Xueyou dengan cemas. Han Xueyou melambaikan tangannya ke dia: “Masuklah.”
Setelah itu, barulah Shen Qiao berjalan masuk ke dalam.
Dia mengambil nafas yang dalam, memberitahu dirinya untuk tetap bersikap tenang dan tidak sembarangan.
Setelah masuk ke dalam kantor, Shen Qiao menuju ke lantai atas ke mejanya. Melihat suasana di dalam kantor itu sangat hening, dia bangkit berdiri lagi untuk membuat secangkir kopi, lalu mengantarnya ke dalam.
Pada saat dia mendorong pintu untuk masuk, mata Ye Moshen sedang dengan tenang melihat ke layar komputer. Jari-jarinya mengetik keyboard, terlihat sangat teliti.
Shen Qiao menggulingkan matanya, mengecap bibirnya, lalu meletakkan kopi itu di atas mejanya.
“Tuan Ye, silahkan kopi anda,”
Ye Moshen tidak menjawabnya. Shen Qiao menggerakkan bibirnya, dia hampir keceplosan mengenai kapan dia akan mengembalikan ponselnya.
Hasilnya, ketika kata-kata itu sampai ke ujung mulutnya, Shen Qiao tiba-tiba merespon bila dia harus tetap tenang.
Dirinya tidak boleh sampai kacau.
Dengan mengingat ini dalam pikirannya, Shen Qiao meletakkan kopinya lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Tak disangka mencarinya bukan untuk meminta ponselnya?
Ye Moshen menyipitkan matanya lalu mengeluarkan ponsel Shen Qiao dari dalam sakunya.
Ponsel ini sudah sangat kuno, terlihat seperti sudah beberapa tahun. Meskipun hilang juga tidak perlu khawatir. Hanya saja kemarin malam dia sangat kebingungan ketika melihat ponselnya hilang, yang membuatnya penasaran rahasia di dalam ponsel ini.
Tapi dari awal hingga akhir dia masih tidak membukanya.
Dia, Ye Moshen ini tidak tertarik mencari tahu rahasia orang lain.
Jika mantan suaminya tidak menghubunginya kemarin, Ye Moshen tidak akan menyita ponselnya.
Jika ponselnya dikembalikan ke dia, kalau begitu mantan suaminya akan menghubunginya, lalu berhubungan, kemudian….
Memikirkan hal ini, Ye Moshen tidak ragu-ragu lagi, lalu dia menghubungi Xiao Su.
“Kamu belikan kartu nomor ponsel yang baru, jangan lupa juga bawakan pin kartunya.”
Meskipun Xiao Su yang ada di sana tidak mengerti apa-apa, tapi masih melakukannya.
Ketika Shen Qiao kembali ke tempatnya, dia menghela nafasnya.
__ADS_1
Ponselnya berdering, lalu Shen Qiao mengeluarkannya dan melihatnya. Dia mendapat pesan singkat dari Han Xueyou yang menanyakan bagaimana kondisinya?
Shen Qiao mengatakan sesuatu menurut pandangannya. Han Xueyou memujinya, lalu menyuruhnya untuk terus melanjutkannya, jangan sampai macam-macam dengan Ye Moshen setidaknya selama satu hari ini. Tentu saja harus mencuri kesempatan ketika kesempatan itu muncul juga.
Shen Qiao meletakkan ponsel itu lalu merasa lesu selama sepanjang hari itu.
Dia sangat khawatir bila Ye Moshen menemukan rahasianya. Akan tetapi, ketika dia bertemu dengan Ye Moshen, dia mencoba untuk tetap bersikap tenang dan tidak memintanya atau menyinggung mengenai ponselnya.
Ditambah lagi sepertinya Ye Moshen juga sudah lupa mengenai hal ini.
Tidak sampai jam pulang kantor, Ye Moshen tiba-tiba memintanya untuk menemaninya datang ke acara pesta makan.
Shen Qiao sedikit mengangkat alisnya.
“Yang ingin Tuan Ye hadiri ini adalah acara pesta pribadi bukan? Bukankah tidak ada hubungannya denganku?”
Ye Moshen cemberut mengatakan: “Hadirlah sebagai pendamping wanitaku. Saat pulang nanti baru aku akan mengembalikan ponselmu.”
Mendengar itu Shen Qiao hanya bisa menggigit bibirnya.
Kurang ajar, tidak disangka dia mengancamnya lagi.
Dia menatap ke arah matanya, lalu mengatakan: “Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu tidak berbohong denganku? Bagaimanapun juga….” Kemarin malam dia baru saja membohonginya.
Menyuruhnya untuk menciumnya lalu mengembalikan ponselnya.
Hasilnya, dia menciumnya dua kali, dan masih belum mengembalikan ponselnya.
Ini sudah keterlaluan!
“Tidak mau lagi?” Ye Moshen mencibirnya, “Aku akan melewati Danau Xing Shui dalam perjalanan menuju ke pesta nanti. Kalau tidak datang, aku akan membuangnya ke sana.”
Setelah mengatakan itu, Ye Moshen mendorong kursi rodanya keluar ke depannya.
Mata Shen Qiao terbuka lebar, butuh sepuluh detik hingga akhirnya dia bereaksi, dengan cepat mengejarnya: “Apa aku masih harus pergi denganmu?”
Ye Moshen membayangkan wanita yang seperti marah namun tak berdaya di belakangnya itu, bibir tipisnya tak bisa dia tahan untuk sedikit tersenyum.
Xiao Su menyerahkan sebuah kotak untuk Shen Qiao.
“Asisten Shen, ini gaun untuk dipakai saat pesta nanti.”
Setelah menerimanya, Shen Qiao pergi menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan dengan enggan dia berjalan menghampiri Ye Moshen.
Dalam mata Ye Moshen yang gelap itu terlihat sedikit cahaya, lalu melirik ke arah Shen Qiao yang berdiri di depannya.
Gaya korsetnya membuat pinggangnya terlihat anggun, menunjukkan pinggangnya yang kurus, menonjolkan lekukan tubuhnya. Ye Moshen tahu bila wanita ini memang memiliki tubuh yang bagus. Hanya saja ditutupi oleh gaya berpakaiannya di hari-hari kerja.
__ADS_1
Kemudian setelah dia merabanya…. Barulah dia tahu…. Ternyata dia tidak serata seperti yang terlihat di permukaannya.