
Shen Qiao kembali ke kamarnya dengan rasa putus asa. Setelah dia masuk ke dalam, dia melepaskan sepatunya, kemudian menggantinya dengan sendalnya dan berjalan menuju ke ranjangnya. Dia duduk di ranjang kecilnya itu sambil melamun memandangi kartu bank itu.
Bagaimana ini? Bagaimana dia harus memberitahu Han Xueyou mengenai hal ini?
Pusing rasanya.
Masuk akal bila bicara mengenai pernikahan antara keluarga Ye dengan keluarga Han bila memiliki latar belakang dan kedudukan yang seimbang, tapi keluarga Ye yang seperti ini….
Memikirkannya saja Shen Qiao tiba-tiba merasakan udara di sekitarnya terasa dingin dan seperti ada sesuatu yang salah. Dia mengangkat pandangannya dan tertuju ke sepasang mata yang acuh dan dalam itu. Shen Qiao terkejut, lalu kartu bank itu jatuh ke lantai menghantam lantai yang dingin itu.
Kedua orang itu saling menatap di saat yang bersamaan. Wajah Shen Qiao menjadi pucat lalu dia bangkit berdiri: “Dengarkan penjelasanku!”
“Istri kedua, kamu sungguh diluar dugaanku.” Ye Moshen mencibirnya, kemudian dia mengangkat kepalanya lagi dan terlihat bayangan di bawah matanya. Tampak seperti sebuah ombak di daerah lautan yang belum pernah dijelajahinya, yang membuat hatina merasa ketakutan.
Shen Qiao menggerakkan bibirnya yang berwarna merah muda itu: “Aku….”
“Ini alasanmu menikah dengan keluarga Ye?” Ye Moshen melirik ke arah kartu bank itu lalu mengatakan, “Hah, kakek memang sangat murah hati, tapi apa kamu ini pantas dengan uang itu?”
Shen Qiao mengepalkan tangannya, sambil menggigit bibirnya dia mengatakan: “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Bisakah kamu mendengarkan penjelasanku dulu?”
“Menjelaskan bagaimana kamu meyakinkan kakek untuk mau dengan sukarela membayarmu? Atau mungkin kamu bisa menjelaskan padaku, atau…. Menjelaskan padaku dengan aksi tubuhmu.”
Shen Qiao menjadi pucat, “Apa maksudmu ini?”
Ye Moshen meliriknya dengan dingin: “Keahlianmu seharusnya lumayan bukan?”
Shen Qiao: “…. Ye Moshen, kurang ajar kamu!”
“Eh, kalau begitu mengapa kamu tidak menikah dengan kakek saja dari awal daripada menikah denganku!”
Shen Qiao akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Dia memejamkan matanya lalu berteriak: “Cukup! Aku sudah muak denganmu!”
Ye Moshen tersenyum sinis: “Akhirnya sudah merasa muak?”
Shen Qiao membungkuk dan mengambil kartu bank yang terjatuh di lantai itu, kemudian pergi menghampiri Ye Moshen dan membuang kartu itu ke tangan Ye Moshen.
“Sejak awal aku sudah memberitahumu bila aku tidak akan meminta sepeser pun. Sama artinya juga bila aku tidak akan menerima uang sedikitpun dari keluarga Ye. Ini uang kakekmu, aku kembalikan ke kamu!”
Kartu bank itu terjatuh ke tangan Ye Moshen. Ye Moshen mengangkat tangannya tanpa emosi dan menggenggam kartu itu dengan jari-jarinya.
__ADS_1
“Dasar wanita, apa kamu sungguh mau memberikannya padaku? Ini kamu dapatkan dengan susah payah, apa kamu yakin?”
“Benar, aku yakin!” Shen Qiao menggertakkan giginya: “Kamu benar, aku menemani kakek pergi. Dia merasa sangat puas, karena itu dia memberikan aku uang itu. Bila aku berkata seperti ini…. kamu baru merasa puas bukan? Ye Moshen, kamu sangat menginginkan seorang istri yang tidak setia bukan? Kamu tunggu saja, aku akan melakukannya sesuai keinginanmu!”
Setelah mengucapkan itu, Shen Qiao berbalik dan pergi keluar.
Tangan Ye Moshen gemetar sambil memegang kartu itu, urat nadi biru di kepalanya tiba-tiba berdenyut, “Mau ke mana?”
Shen Qiao tidak menjawabnya. Ketika dia berbalik, matanya penuh dengan air mata. Dia tidak tahan lagi dengan kata-kata Ye Moshen yang kejam itu. Jelas sekali bila kedua orang itu sudah membuat kesepakatan, tapi dia selalu merasa bila dia seperti tidak punya hati dan tak bisa sakit hati, lalu mengucapkan kata-kata seperti itu untuk menghinanya setiap kali!
Dia hanya ingin meninggalkan kamar ini! Pergi jauh-jauh dari Ye Moshen!
“Berhenti!! Kalau kamu berani mengkhianatiku, kamu akan mati!” Ye Moshen memikirkan kata-kata yang dia ucapkan sebelum pergi itu, hatinya tiba-tiba merasa kebingungan.
Akan tetapi, Shen Qiao sudah sangat kesal sekarang ini. Mana mungkin masih bisa mendengarkan ucapannya itu? Bahkan, meskipun dia sudah mencegahnya untuk pergi, namun percuma saja, pada saat Ye Moshen mendorong kursi rodanya untuk mengejar dia keluar, Shen Qiao dengan mudahnya berlari keluar.
“Wanita sialan, kalau kamu melangkah lebih dari ini, percaya atau tidak….” Sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya itu, tubuh Shen Qiao sudah berlari pergi meninggalkannya tanpa jejak.
Ye Moshen: “….”
Mungkin suara itu sangat kencang hingga para pelayan di dekatnya mendengar itu. Mereka sangat penasaran dan mengintip apa yang terjadi.
Ketika mereka melihat ekspresi di wajah Ye Moshen, mereka langsung menyusutkan punggung mereka.
“Aku mana tahu. Sepertinya pertengkaran suami istri?”
“Nona juga sangat hebat, tak disangka berani menyinggung Tuan Ye kita.”
“Sebenarnya Tuan Ye itu sangat baik terhadap nona kedua. Waktu itu dia membelikan banyak pakaian yang indah dan menaruhnya di dalam lemari untuk dia pakai. Tapi, nona kedua tidak menerima itu semua. Aku sama sekali belum pernah melihat dia memakai pakaian yang dibelikan oleh Tuan Ye itu.”
“Kenapa? Kenapa dia sangat tidak tahu terima kasih ketika Tuan Ye begitu baik padanya?”
“Mungkin…. Karena Tuan Ye itu cacat fisiknya?”
“Shhh, jangan sembarangan bicara!”
“Tapi yang aku katakan ini benar. Meskipun Tuan Ye itu tampan, tapi…. Bagaimanapun juga kakinya cacat. Ditambah lagi dia tidak bisa melakukan itu, wanita mana yang bisa menyukainya?”
Beberapa pelayan wanita yang bersembunyi di balik pintu itu yang sedang bergosip, tidak menyadari bila Ye Moshen telah muncul di depan pintu itu sambil mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
“Membicarakan hal buruk mengenaiku di hadapanku, apa kalian mengira aku Ye Moshen ini sudah mati?”
Seperti suara yang berasal dari bagian paling dalam di neraka, beberapa pelayan itu menjadi pucat sambil menatap ke arah Ye Moshen yang tiba di pintu itu.
“Tu, Tuan Ye….”
Beberapa dari mereka sangat ketakutan hingga mereka langsung bertekuk lutut di depan Ye Moshen, bahkan salah satu yang paling penakut hampir pingsan.
“Pergi keluar dan cari orang. Jika kalian tidak berhasil menyelesaikan tugas kalian, kemasi barang-barang kalian dan keluar dari rumah Ye besok.”
*
Shen Qiao sebenarnya tidak meninggalkan rumah keluarga Ye. Dia hanya berlari menuju ke taman di halaman belakang.
Di taman yang gelap itu, dia bersembunyi di bawah pohon yang besar, menangis tersedu-sedu sambil mengutuk Ye Moshen, pria kurang ajar itu!
Setengah tahun….
Dia harus menahan ini selama setengah tahun, setengah tahun ini…. Harus bagaimana dia melewatinya? Shen Qiao tiba-tiba merasa putus asa melihat masa depannya, hanya bersandar di akar pohon itu sambil memejamkan matanya dan membiarkan air matanya mengalir bebas.
Menangis lagi untuk terakhir kalinya. Di kedepannya nanti tidak boleh menangis lebih dari ini ketika menghadapi sesuatu seperti ini.
Dia ini seorang ibu, tidak boleh selalu kesal hanya karena ucapan seperti ini.
Tiba-tiba, sepasang tangan yang besar dan hangat mengelus ujung matanya, dengan lembut mengusap air matanya, hingga membuat alis mata Shen Qiao gemetar.
Si…. Siapa?
Suara helaan nafas datang dari atas kepalanya. Shen Qiao membuka matanya dan melihat sepasang mata yang terlihat muram sedang melihatnya dengan cemas.
Ye Linhan?
Dia…. Mengapa ada di sini? Shen Qiao menatap pria yang ada di depannya itu sambil menangis. Tidak seperti ketika dia melihatnya saat siang hari, mata Ye Linhan penuh dengan kesedihan, tampak seperti sayang dengannya.
Apa dia menyayanginya? Shen Qiao tidak pernah tahu bila masih ada orang yang bisa menyayangi dirinya.
Bagaimanapun juga, sama seperti orang tuanya yang tidak mencintainya, masih ada siapa lagi yang bisa sayang padanya?
“Bodoh.” Kata Ye Linhan dengan suara yang pelan, sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap air matanya dari ujung matanya sekali lagi: “Bersembunyi dan menangis diam-diam seperti ini, orang lain tidak ada yang tahu betapa sedihnya yang kamu rasakan.”
__ADS_1
Shen Qiao tidak bergerak, tapi Ye Linhan yang ada di depan matanya terlihat samar-samar lagi. Air matanya mengalir deras. Dia tidak bisa menahan kepahitan yang ada di dalam hatinya itu.
Ye Linhan tersenyum: “Kalau sakit keluarkan saja, kalau sedih tangiskan saja. Kalau kamu tidak menunjukkannya, orang lain selamanya tidak akan tahu.”