Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
10. Tuan Muda Munafik


__ADS_3

"Keadaanya sudah perlahan membaik." Dokter muda itu tersenyum dan perlahan mundur. Memberikan ruang untuk Rayhan maju.Namun sepertinya Rayhan tidak peduli sama sekali dengan keadaan gadis malang itu.


Dokter muda itu menghela napas dan memilih untuk berpamitan dengan Rayhan.


"Tuan Muda. Saya sudah menuliskan resep untuk Nyonya. Saya permisi."


Rayhan tidak menjawab ucapannya membuat dokter muda itu menghela napas berat dan keluar dari kamar itu.


Glen mengikuti langkah dokter muda itu. Mengantarkannya ke depan pintu utama. Sedangkan


Rayhan menatap datar wajah Via yang terlihat pucat dan masih memejamkan matanya.


Rayhan menjangkau resep obat yang dokter muda itu tuliskan.


"Menyusahkan!" ujar Rayhan mencengkram kertas itu hingga sedikit tidak berbentuk.


"Eugh!" Perlahan kelopak mata Via terbuka, namun hampir Via berteriak ketika mendapati Rayhan


berada di depan nya dan sekarang menunggunya membuka mata dengan lebar.


"Tu-Tuan Muda .."


"Jangan bergerak. Nanti kau kembali menyusahkanku!"


Memang dasarnya keras kepala. Via tidak menggubris perkataan Rayhan dan tetap saja bergerak sehingga kepalanya pusing kembali.


"Kau mendengarku tidak?!" bentaknya.


"Iya, Tuan Muda. Maaf!" cicit Via merasa bersalah dan merasa bodoh.


Bisa tidak,pria ini mengerti sekali saja?Dirinya tengah sakit dan pusing. Malah dibentak-bentak


dan diperlakukan dengan kasar.


"Sekarang makan makananmu! Aku tidak ingin kau sekarat dan mati."


"Tuan Muda, mendoakan saya mati?" gumam Via.


"Aku belum puas melihatmu menderita."


"Iya. Saya makan ini." Via menjangkau mangkok bubur di sampingnya. Namun tidak bisa, sehingga ia Rayhan langsung mengambilkan nya.


"Menyusahkan!"


Untuk kesekian kaliannya Rayhan mengatakan dirinya seperti itu. Ketika satu sendok bubur masuk


ke dalam mulutnya. Via merasakan tenggorokan nya gatal dan ingin memuntahkan nya. Namun Rayhan langsung menatapnya sangat tajam. Bahkan matanya sudah berkilat dan bersinar.


"Habiskan!" tekannya.


Via mengangguk dan menelan bubur itu agar segera masuk ke dalam perutnya.


"Papa!"


"Kau merindukan Alfredo?"


Dengan ragu Via mengangguk lemah. Hanya Alfredo orang tua nya. Namun sekarang, Via tidak memiliki siapapun. Karena Alfredo lebih memilih perusahaan nya.


"Dia telah menjualmu bukan?" ujar Rayhan tersenyum licik.


"Siapa yang menginginkanmu di dunia ini. Tidak ada! Karena kau pembawa sial dan petaka."


Entah mengapa kalau Rayhan yang mengatakan itu semuanya. Via tidak mempermasalahkannya.


Karena sudah terbiasa. Seakan masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.


'Bagaimana ya, kalau esok aku meninggalkan tuan muda? Apakah dia akan sedih atau menunjukkan


raut wajah yang merindu. Ahhh!


Pasti itu tidak akan terjadi.' Via tahu. Rayhan tidak akan pernah mencintainya. Tapi tidak apa-apa. Via juga tidak ingin menjalin cinta dengan pria kasar.


Esok anaknya akan seperti apa?


Via bergidik ngeri membayangkannya.


"Sudah habis."


"Jangan bertingkah seperti bocah. Sekarang bersihkan mangku mu di dapur."

__ADS_1


"Tapi kan..." Via sedang sakit harus dilayani dengan baik tidak disuruh mencuci piring.


"Jangan membantahku!"


Via mengangguk. Namun tubuhnya lemas. Jangankan berdiri untuk bergerak saja ia tidak mampu.


"Tuan Muda!" panggil Via ketika hendak turun.


"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!" bentak Rayhan langsung menyuruh Via kembali duduk, dan menaruh ponselnya di atas nakas.


"Kau ingin bunuh diri, ah?!"


"Tadi Tuan Muda yang menyuruh Kenapa sekarang saya yang disalahkan."


Ceklek!


Suara pintu terbuka. Glen masuk ke dalam kamar itu. Dengan membawa buah dan susu hangat.


Mata Via berbinar melihatnya. Semua itu tidak luput dari perhatian Rayhan. Via mengulas senyumannya ketika melihat kedatangan Glen. Dan Rayhan


tidak menyukainya.


'Gadis ini memang menguji kesabarannya. Bertingkah murahan di depan Glen.'


"Makasih, Glen. Kau sangat baik dan perhatian."


"Sama-sama, Nyonya." Glen menaruh buah di atas nakas.


Dan Via tidak memperdulikan keberadaan Rayhan sama sekali.


Walaupun sedari tadi Via sangat sadar, bahwa Rayhan terlihat ingin menelannya hidup-hidup. Via


bodo amat.


"Kau tidak ingin mengupas buah untuk saya, Glen?"


"Dia mengikuti perintahku!" ucap Rayhan."Glen! Bawa kembali buah dan segelas susu itu."


"Apa?!" Via melebarkan matanya.


Apa-apaan ini? Sebelum Glen menganggukkan


"Kau boleh keluar!"


Glen permisi dan keluar dari kamar itu. Menyisakan Rayhan dan Via yang kini saling memandang tanpa ekspresi.


"Kau ingin melihat caraku menguliti?" Rayhan mengambil buah apel dan perlahan memainkan pisau buah yang berkilau sangat tajam. Irisan kulit apel terlihat sangat tipis membuat Via menelan salivanya karena takut.


"Hem," gumam Via dengan ragu menerima buah apel itu. Gadis itu memakannya. Namun tidak manis sama sekali di tenggorokannya. Mungkin karena


efek Rayhan yang menakutinya tadi.


"Daging apel itu sangat empuk dan nyaman ketika diiris dan dikuliti."


"Maaf, Tuan Muda. Bukan dikuliti. Tapi dikupas. Tuan Muda salah."


"Ya, sama saja."


"Sejak kapan? Bedalah!" kukuh Via tidak mau kalah. Soalnya kalau dikuliti itu terdengar aneh dan menyeram kan.


"Kau ingin dikuliti?"


Mulut Via menganga lebar. "Tuan Muda ingin saya kupas?"


Rayhan yang mendengarnya benar-benar merasa gemas dengan gadis ini. Niatnya ingin menakuti


nya, malah menjadi bahan candaan yang sangat tidak terdengar lucu sama sekali.


***


"Pilihan yang sangat-sangat bagus, Mas." Alfredo menyeringai mendengarnya. Biarlah Via tidak lagi mengganggu nya. Anak itu sedari kecil sangat menyusahkan.


"Yang terpenting sekarang. Perusahaan itu kembali berkuasa atas nama Mas."


"Iya, Mas. Tapi, harta Anjani hanya itu saja?" tanya Vanya.


"Tidak! Sejumlah properti atas nama Via."


Vanya melebarkan matanya mendengar perkataan suaminya.

__ADS_1


"Mas, tidak ingin merebutnya?"


"Tidak bisa. Sudah ditangani oleh pengacara almarhumah."


"Tapi Mas kan suaminya."


"Tidak semudah itu, Vanya."


"Iya, Mas. Ya sudah aku ngantuk dan capek. Ayo kita tidur."


"Vanya!" panggil Alfredo dengan suara berat menahan sesuatu.


"Iya, aku mengerti."


Walaupun Vanya tidak bisa memberikannya keturunan.


Namun Alfredo tidak mempermasalahkan nya. Karena Alfredo tidak ingin hartanya akan


diwarisi ke siapapun. 'Maafkan aku, Anjani. Kau telah


meninggalkan aku begitu cepat. Sehingga aku seperti ini.'


***


Rayhan mengelus kepala Via ketika gadis itu telah tertidur dengan sangat pulas. Rayhan meneliti wajah Via dengan perlahan. Perkataan Glen sedikit


terlihat kebenarannya.


"Kau begitu mirip dengannya."


Namun bagaimana bisa? Mereka terlihat sangat mirip. Rayhan yakin, bukan Via. Sifat mereka


terlihat sangat jauh perbedaannya.


"Aku tidak bisa memastikannya." Rayhan menyibak rambut Via dengan perlahan. Ada gerakan sedikit dari gadis itu karena terusik. Namun kembali tertidur.


Rayhan meraba tanda keunguan yang membuat Via malu.


"Ternyata! Karyaku sangat indah dan terlihat cocok berada di sini."


Tengah malam. Ada dorongan dari dirinya untuk melakukan hal itu.


Berdua di dalam satu kamar membuat Rayhan tidak bisa menahan gejolak hasratnya.


Rayhan pria normal dan dewasa. Niatnya hanya ingin mengecup leher Via. Namun ia merasa aneh


dengan tubuhnya dan membuat tanda kepemilikan di sana.


"Sial! Bahkan aku sangat sukabmelakukannya."


Rayhan membenamkan wajahnya di ceruk leher Via danbmencetaknya kembali. Biarkan saja gadis ini malu nantinya dan sampai kapanpun tidak akan


menemui pelaku nya.


Karena pelaku itu adalah Rayhan Crowel sendiri, suami dari gadis kecil dan mungil itu. Namun berhasil membuat hasrat dalam diri Rayhan meronta.


"Kau telah masuk ke dalam hidupku, Via. Bahkan begitu sangat dalam."


***


"Lo gak curiga sama, Via?" tanya Raja.


"Memangnya kenapa?" tanya Mira di balik telpon. Hingga saat ini Mira tidak bisa tidur karena memikirkan Via.


"Gue sudah lacak lokasi Via dan tempatnya di kediaman keluargabCrowel."


Sontak bola mata Mira melebar sempurna. "Bukannya itu nama keluarga yang paling berkuasa di daerah ini? Jangan-jangan Via dijual sama nyokap nya."


"Kita harus memastikannya. Semoga ada kabar dari Via besok pagi."


"Iya, Ja. Gue kasihan sama Via. Bahkan mama tirinya ngak peduli sama Via."


"Entahlah. Gue juga sangat khawatir sama Via."


Sambungan terputus. Menyisakan Mira yang kini menatap nanar foto kebersamaan mereka.


"Vi! Gue percaya sama lo. Lo gak akan buat kita kecewa dengan rahasia yang lo sembunyiin saat ini."


Mira yakin. Via tidak akan menyembunyikan apapun dari mereka. Mereka telah lama bersahabat dan bersama. Kalau memang Via menyembunyikan sesuatu dari mereka. Mungkin Mira akan sangat sakit mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2