Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
19. Mengenang Peri Kecil


__ADS_3

Sejak dua minggu yang lalu. Kini Raja telah kembali beraktivitas dan mereka sedang mengobrol di bangku taman universi tas.


"Gue sama tuan muda Rayhan telah menikah."


Sontak membuat kedua sahabatnya saling memandang dan terkejut. Lebih tepatnya Raja kini


tengah menahan sakit hati mendengarnya.


"Bagaimana bisa?!" celetuk Mira dengan mata melotot tidak bisa berkata-kata lagi.


Via menghela nafas pelan. "Gue dipaksa menikah sama bokap gue. Sejak beberapa bulan yang lalu.


Waktu itu, perusahaan dalam keadaan tidak baik dan hanya tuan muda yang dapat menolong bokap gue."


Via masih mengingat kejadian beberapa bulan sebelum dia resmi menjadi istri dari Rayhan Crowel.


Flasback On!


Tok! Tok!


"Via! Papa mu ingin berbicara!" Itu suara Vanya. Tumben wanita itu bersuara di hadapannya. Via menghela nafas pelan dan melepaskan buku-buku nya.


Malam ini, Via sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Mendengar Vanya memanggil membuat Via curiga.


"Via! Kamu dengar tidak?!" teriak Vanya.


"Iya, iya, aku mau jalan ini." Via bangkit dari duduknya dan mendekati pintu kamar. Setelah


itu dengan mengambil nafas panjang, gadis itu lantas membukanya lebar.


"Turun ke bawah!"


"Aku lagi sibuk!"


"Kamu berani menentang papamu?"


"Tidak! Ini kemauan Tante, kan?"


Hingga saat itu, Via masih tidak menganggap Vanya menjadi mama tirinya. Wanita itu tidak pantas


sampai kapanpun.


"Terserah kamu, Via. Jangan salahkan saya kalau papa mu marah besar."


Vanya berlalu dari hadapannya. Meninggalkan Via yang kini mengepalkan tangannya. Via berbalik dan menutup pintu kamar. Dia berjalan mengejar Vanya.


Di ruang tengah. Via dapat melihat Alfredo sudah duduk menunggunya. Tumben sekali papa nya melakukan hal itu.


Biasanya kalau Via menyapa Alfredo, pasti papa nya tidak akan pernah melihat nya.


"Duduk!" perintahnya.


Via duduk namun pandangan nya tidak lepas menatap tajam Vanya yang sekarang berada di dekat Alfredo.


Sedangkan Via berhadapan dengan mereka.


"Papa, akan menjodohkan kamu dengan tuan muda Rayhan Crowel."


"Via, masih menempuh pendidikan. Jadi Via tidak mau."


"Kamu ingin menentang perkataan saya?!"


"Tidak! Kalau Via telah lulus, Via mau. Tapi sekarang Via gak mau."


"VIA!" bentak Alfredo dengan urat leher yang menonjol dan menatap tajam Via, yang kini tidak ingin memandang mereka. Enak saja dirinya disuruh menikah, dengan pria tidak dikenal lagi.


"Pokoknya Via tidak mau!" Gadis itu hendak bangkit, namun suara menggelegar Alfredo membuatnya


duduk kembali.


"Anak kurang ajar. Tidak pernah diajarkan sopan santun kamu, Via?!"


"Via tidak salah dengar? Kapan Papa mendidik, Via? Bukannya selama ini Papa sibuk bekerja dan liburan dengan Vanya."


"Yang sopan kamu menyebut nama mama tiri kamu!!"


"Terserah! Via tidak mau. Kenapa harus Via yang Papa suruh. Suruh saja istri Papa mengandung biar


ada gunanya."


Sebelah tangan Alfredo telah terangkat, ingin melayangkan tamparan ke wajah Via, namun


Vanya langsung menghentikannya.


"Sudah, Mas. Jangan memperumit masalah!"


Alfredo mengangguk dan kembali menatap tajam Via. "Saya akan memaafkan kesalahanmu, kalau kamu mau menikah dengan tuan muda."


"Kesalahan apa?"


"Menyebabkan Anjani meninggalkan saya selamanya."


"Bukannya Vanya, telah menggantikan posisi mama?"


"Selamanya kamu akan saya benci kalau tidak menebus kesalahanmu dan mematuhi perintah saya."


Via mendadak bungkam. Biar bagaimanapun, Alfredo adalah satu-satunya orang tua Via. Dia tidak mau dibenci dan diasingkan.


"Perusahaan akan bangkrut kalau kamu tidak melakukannya."


"Hanya beberapa bulan dan kamu akan mendapatkan segalanya. "

__ADS_1


Via menatap Alfredo dengan wajah sendu dan menganggukkan kepalanya. "Via mau asalkan


perusahaan jangan bangkrut dan Papa memaafkan Via."


"Iya, pasti itu. Papa akan memaafkan kesalahan Via."


Ketika Via menuruti semua perintahnya. Sejak saat itu, Alfredo mulai mengubah kosa katanya seperti seorang papa yang sangat sayang kepada putrinya.


Namun nyatanya, hal itu tidak berlangsung lama. Papa nya kembali ke sifat aslinya. Tidak akan pernah menyayanginya.


Flasback Off!


"Lo yang sabar, Vi. Maaf! Kalau kita belum bisa bantu."


"Gue sudah menerima takdir ini."


"Memangnya perusahaan butuh dan berapa dulu?" tanya Raja.


Kalau dia mampu, kenapa tidak membantu Via dan bahkan Raja sangat mau menikah dengan Via. "Gue gak akan bisa sebutkan nominalnya."


Raja menghela nafas pelan. Dia telah terlambat dan sekarang Via telah menjadi milik orang lain, bahkan lebih berkuasa dari keluarga nya.


"Terus tuan muda menjadikan lo ratu di istananya?" tanya Mira.


Jelas Via menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau


berbohong lagi.


"Setiap hari dia menyiksa gue. Dan sangat kasar ke gue. Gue boleh pergi kalau sudah menyelesaikan


semua pekerjaan."


"Astaga Via, kenapa hidup lo sangat malang, sih."


Terus lo gak ada niatan kabur dari dia?"


"Sebelum gue jawab, gue mau meluruskan semuanya dulu. Tuan muda melarang gue bergaul sama kalian, karena dia tahu hanya kalian yang baik ke gue. Dia mau buat gue gak mendapatkan kasih


sayang dari siapapun. Agar gue menderita."


"Sialan! Dia sudah keterlaluan, Via!" sentak Raja mengepal tangannya.


Via mengangguk dan menatap Raja dalam. "Gue minta maaf kalau buat lo merasakan kesakitan, Ja."


"Maksudnya bagaimana, Vi?


"Kapan lo buat gue kesakitan?"


"Dia yang mengerahkan anak buahnya untuk keroyok lo. Karena waktu itu dia melihat gue dan lo di taman."


"Bukan salah lo. Jelas salah manusia kejam itu."


"Jangan meninggikan suara, Ja."


Raja tidak peduli, bahkan dia akan melawan mereka kalau perlu.


"Gue mohon! Jangan buat gue merasa bersalah lebih dalam lagi."


"Lo nurut, Ja. Jangan banyak tanya lagi!" ujar Mira.


"Terus lo belum menjawab pertanyaan Mira yang tadi."


"Soal itu gue lagi merencanakan nya. Dia memiliki peri kecil yang menyelamatkannya dulu ketika


hampir tenggelam di danau yang kita kunjungi."


"Jangan bilang ... dia yang membangun proyek di danau itu?" tanya Mira. Via menganggukkan kepalanya.


Dari mana Via megetahuinya? Karena Rayhan jelas-jelas jujur kepadanya, sangat amat menyayangi peri kecilnya. Membuat nafas Via tercekat dengan perih di hatinya.


"Terus dia lagi mencari peri kecil yang bertumbuh dewasa?"


"Iya, dan nyarinya sangat sulit banget. Gue pernah nyoba, malahan orang yang menjadi petunjuk utama, lihatin gue terus.


Kan, gue takut dan langsung kabur."


"Seorang wanita?" tanya Raja. Via menganggukkan kepalanya.


"Kita akan membantu lo nyari dan setelah mendapatkannya. Lo akan pergi kan dari hidup tuan muda?"


"Iya, gue janji kalau soal itu. Karena tuan muda pasti akan segera menceraikan gue."


Raja bernafas lega mendengarnya.


Dia memiliki kesempatan untuk mendekati Via dan


membahagiakan gadis itu.


"Tapi satu hal yang gue mohon banget sama lo berdua. Mulai besok jaga jarak sama gue. Dia


bukan orang sembarangan."


"Oke!" Mereka berdua serempak menganggukkan kepalanya. Via mengulas senyuman dan menghela


nafas lega.


***


Rayhan sangat tidak menyukai orang yang bertele-tele.


"Berapa yang kau inginkan?"

__ADS_1


Pria yang menjabat menjadibpemimpin daerah itu tertunduk, karena tujuannya telah terbaca


sangat jelas.


"Seikhlas yang Tuan Muda berikan."


"Glen! Berikan dia 100 juta!!"


"Baik, Tuan Muda." Glen menuliskan nominal itu ke sebuah kertas dan menyerahkan nya kepada pria berseragam itu.


"Kau tahu, Tuan Muda telah membayar tanah di dekat danau itu dengan harga yang sangat


banyak." Glen memperjelas nya.


"Dan sekarang, kau berlagak mencari celah untuk memeras Tuan Muda?!"


Pria itu langsung menggelengkan kepalanya, namun sebenarnya ia memanfaat proyek pembangunan


itu.


"Kau tahu, Tuan Muda siapa? Kau bosan hidup?" Glen semakin menekannya.


"Maafkan saya, Tuan Muda. Namun Anda harus meminta izin terlebih dahulu ke saya, sebelum ada pembangunan."


"Membangun sesuatu di tanah sendiri, harus meminta izin kepadamu? Kau hebat sekali pak tua."


"Glen! Biarkan dia bersuara. Kasihan sekali pria tua ini," ujar Rayhan.


"Ada kata-kata untukku kembali?" tanya Rayhan lagi. Pria tua ini sangat berani mengirimkan surat


kepadanya. Dan membuang waktu Rayhan sia-sia untuk mendengar omong kosong nya.


"Silahkan Anda pergi. Saya sudah mengizinkannya!"


"Setelah mendapatkan uang?"


Rayhan terkekeh menyeramkan. Membuat dia merinding dan ketakutan.


"Glen! Coba ceritakan kepadaku, kinerja pria tua ini."


"Tubuhnya berisi karena uang yang terlalu banyak dia makan."


"Kalau terjebak selamanya di jeruji besi, apakah itu seru, Glen?"


"Menurut saya, tidak Tuan Muda. Karena lebih menyakitkan itu terbaik."


"Idemu sangat bagus!


"Apa rencanamu, Glen?"


"Menghancurkan hal kecil terlebih dahulu."


Deg!


Tubuh pria itu menegang hebat. Bagaimana kalau mereka mengancamnya balik?


"Kau berselingkuh dengan seorang wanita? Bahkan telah menikah siri diam-diam, dibelakang istri mu


yang selama ini sangat setia."


"Apa yang kalian katakan?!" bentak pria itu marah. Bagaimana mereka bisa mengetahui rahasianya?


"Jangan pernah bermain-main dengan Tuan Muda. Atau hidupmu akan sangat menyakitkan."


Glen mencengkram kerah seragam pria tua itu, hingga dia kesulitan bernafas. Dengan entengnya, Glen menghempaskan tubuhnya sangat kasar.


"Tidak berguna!!"


***


Rayhan duduk sendirian di bangku dekat danau. Menatap datar ujung danau yang terlihat jauh ujungnya.


Sekelebat bayangan itu kembali muncul. Kemana dia harus mencari gadis kecil itu? Semesta seakan mempermainkannya. Tidak ada petunjuk, seakan semuanya telah direncanakan.


Apakah sedari dulu, Rayhan banyak berbuat dosa? Sehingga semua orang menertawakannya, ketika dia hendak mencari kebahagiaannya.


Tidak ada yang mendukungnya. Bahkan kedua orang tua nya, menyuruh Rayhan melupakan dia, dan fokus ke Via.


Rayhan meraup wajahnya dengan sangat kasar. Dia mengepalkan tangannya sangat kuat. Dengan nafas yang menahan gejolak emosi dan juga urat leher yang menonjol.


"Tidak! Kalian pikir, aku akan menyerah? Salah besar!" Rayhan terkekeh.


Rayhan bangkit dan merapikan jas nya. "Kau telah masuk ke dalam hidupku. Maka jangan bermimpi


aku akan melepaskanmu."


Rayhan meninggalkan danau yang kini kembali sunyi, hanya terpaan angin yang mampu membuat air bergerak beriringan.


***


Via menatap Rayhan yang kini telah kembali. Tidak biasanya Rayhan pulang dalam keadaan sepatu kotor, seperti terkena lumpur.


Pria itu tidak bersuara dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Via menghela nafas pelan. Tidak ada perintah untuk


menyiapkan air hangat dan lainnya? Syukur Via telah menyediakan semuanya. Bahkan segelas air putih di samping tempat tidur.


Via duduk di tepi tempat tidur sembari mengayunkan kakinya.


"Gak sabar, mau secepatnya pergi dari sini. Tapi kalau gue pergi, besok gue bisnis apa, ya?" gumam Via masih bingung memikirkan masa depannya.

__ADS_1


"Pasti papa gak akan nyariin gue,kalau gue hilang."


"Siapa yang akan menghilang?!" sentak Rayhan sekarang berada di belakangnya. Via refleks berbalik dan menemukan Rayhan yang kini menatapnya datar tanpa ekspresi.


__ADS_2