
Salsa memperhatikan layar cctv yang telah dikirim ke ponselnya.Sebuah rekaman video yang diambil dari dalam mobilnya,karena tepat menghadap ke arah tempat kejadian itu .
Dia memperhatikan video tersebut dengan hati-hati, bahkan tidak terlewatkan sedikitpun. Dirinya fokus dengan posisi Rayhan yang semakin menjauh.
"Tidak ada yang dilakukan oleh Rayhan sedikitpun. Hanya kecelakaan proyek."
Salsa tersenyum dan bernapas lega karena Rayhan tidak berniat untuk mencelakainya,berarti masih ada harapan untuk dirinya berhati-hati mengambil langkah semakin mendekat.
Wanita itu tidak bisa melupakan Rayhan. Jadi, dia akan tetap memperjuangkan pria itu,bagaimana pun hasilnya nanti.
"Bagaimana keadaan, Nyonya?" Tanya asistennya.
"Saya sudah mendingan. Tadi, hanya terkejut saja."
Asistennya mengangguk dan bernapas lega, wanita itu mundur perlahan dan meninggalkan Salsa sendirian di kamarnya untuk menenangkan diri.
"Aku coba kirim pesan saja kepadanya."
Walaupun Salsa tahu, bahwa nomor Rayhan tidak hanya satu, namun ia ingin mencobanya saja, semoga dibalas.
Sekitar dua pesan, dengan kalimat manis ia kirim pada malam ini.Salsa menunggu hingga beberapa menit,tidak ada balasan dan pada akhirnya ia menghembuskan nafas pelan karena telah gagal. Ketika hendak melepaskan ponselnya,Salsa mendengar suara notifikasi masuk. Dia mengembangkan senyumnya dan langsung membukanya pesan dari Rayhan.
Jantungnya berdetak kencang.Salsa membacanya, namun sepertinya yang membalasnya bukan Rayhan, namun sekretarisnya yang galak dan pemarah itu.Bahkan, balasan Glen sangatlah membuatnya tersinggung. Wanita itu, menarik napas panjang dan meminta maaf karena telah menganggu dan tidak ingin dikira cari perhatian.
"Sekretaris Rayhan itu, yang memegang nomornya ini ternyata."
"Kenapa dia menganggu saja, huh."
****
Hari ini jadwal olahraga untuk Via dan telah disiapkan oleh dokter kandungan,khusus keluarga tersebut.
Via telah bersiap dengan pakaiannya untuk melakukan pemanasan.
Dia mengambil napas panjang dan mengikuti setiap gerakan pemandu di hadapannya. Dan Rayhan memperhatikan itu dalam diam, sembari mengecek
ponselnya. Dia tidak mungkin,membiarkan Via melakukan olahraga tanpa didampingi olehnya walaupun di dalam rumah.
Bahkan pemandu olahraga tersebut, merasa ketakutan dengan kehadiran tuan muda yang ada di
sana. Hingga Via terlihat mengeluarkan keringat yang lumayan banyak,karena menikmati gerakan
olahraga yang membuatnya nyaman.
Rayhan berdiri dan menghampiri istrinya tersebut. Dia menyeka keringat di pelipis Via dengan lembut.
"Sudah! Sekarang istirahat. Jangan terlalu mendengarkan mama."
"Tapi kan olahraga sehat, Ray. Apalagi untuk ibu hamil sepertiku."
"Iya. Besok lagi."
Ketika Via hendak menolak permintaan Rayhan, pemandu olahraga tersebut menjelaskan langsung kepada Via agar istirahat dan cukup untuk hari ini. "Saya permisi, Tuan dan Nyonya."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, Nyonya Muda."
Via duduk di atas matras, daan memijit kakinya yang terasa pegal. Tubuhnya terasa sehat dan segar setelah olahraga.
"Kenapa tidak pergi ke kantor?" Tanya Via.
"Menunggu istriku selesai olahraga."
"Terus, kenapa ditunggu saja. Ikut lebih baik, Ray."
"Gerakan ibu hamil berbeda dengan pria, Sayang."
Gerakan ibu hamil terlalu lambat, dan juga tidak mungkin dirinya mengikutinya, bukan? Dirinya olahraga berat setiap ada waktu.
Via tertawa mendengarnya, membuat sang suami menatapnya diam dan menggelengkan kepalanya, karena mendengar tawa wanita nya yang bahagia
mengejeknya.
Rayhan tiba-tiba menggendong Via, membuat wanita itu tersentak dan ketakutan.
"Ray! Mau kemana?" Tanya Via mencoba untuk turun, namun tidak bisa. Dirinya menyerah, kalau sudah Rayhan yang memiliki tenaga. Terlalu kuat dan tidak mungkin untuk mengalahkannya.
Dan ternyata, Rayhan membawanya ke dalam kamar.
"Jangan bilang, kamu mau...
"Mandi!" Perintah Rayhan, hendak menggendong Via ke dalam kamar mandi, namun wanita itu beringsut mundur dan merasa heran dengan suaminya ini.
"Mandi? Maksudnya bagaimana? Gumam Via menatap suaminya yang telah membawa handuknya.
"Aku mandiin kamu."
"Kenapa?"
Karena melihat tatapan berbeda dari suaminya, membuat Via mengerti, bahwa memang Rayhan berniat untuk menggodanya saja.
"Aku sudah melihat semuanya juga, kan? Jadi, apa yang harus disembunyikan?"
Via menggelengkan kepalanya dan malu, dia meraih handuknya dari tangan sang suami, lantas berlari ke dalam kamar mandi.
"Jangan lari, Via! Nanti kamu jatuh. Hati-hati!!"
"Siap, Sayangku yang tampan."
***
Salsa memperhatikan Rayhan dan Via, yang kini makan siang di restoran dekat kantor pria itu. Dia berdehem dan mendekati meja mereka. Terlihat Rayhan sedang menyuapi istrinya dengan hati-hati dan meraba perut wanita itu.
"Boleh saya gabung, Tuan Muda? Semua meja telah terisi penuh."
Via memperhatikan ke selilingnya dan benar saja, meja kosong tidak ada yang tersisa.
"Boleh, Bu Salsa. Silahkan duduk! Pasti Anda sangat lelah bekerja hari ini, karena mengurus proyek besar."
Salsa tersenyum dan mengambil tempat duduk di dekat Rayhan, namun pria itu langsung menggeser kursi menjauh darinya beberapa meter.
__ADS_1
Via yang memperhatikan itu,hanya bersikap acuh karena memang suaminya biasa menghindari wanita manapun.
"Silahkan memesan Bu Salsa."
"Iya, Nyonya."
Pelayan menghampiri mereka.Salsa memesan teh hangat,begitupun dengan Via beserta makanan paling enak di restoran tersebut.
"Wah! Ternyata kesukaan suamiku dengan Bu Salsa sama, ya? Suka daging sapi."
"Daging sapi?" Tanya Salsa bingung. Istri dari Rayhan tidak seperti wanita berkelas sedikitpun.
Kata-katanya, terdengar tidak seperti wanita terhormat. Bahkan,tidak pantas menjadi nyonya muda.
"Kenapa diam, Bu Salsa?" Tanya Via.
"Ah! Tidak ada, Nyonya. Saya bingung saja dengan kata-kata Anda."
"Maafkan, kalau tidak enak didengar."
"Tidak seperti itu, Nyonya. Maafkan saya."
Rayhan menatap tajam Salsa, membuat wanita itu gelagapan dan segera membujuk Via agar tidak menampilkan wajahnya yang sedih. Namun terlambat. Wanita itu tidak lagi melihat ke arahnya.
"Ini pesanannya, Tuan, Nyonya."
Salsa mengambil pesanannya, begitupun dengan Rayhan yang mengambilkan istrinya. Namun, selang beberapa detik Salsa merasakan bagian tubuhnya terbakar, karena tehnya yang tumpah ke pahanya, membuat dress yang digunakannya basah.
Seseorang tidak sengaja menyenggolnya, bahkan terlihat sengaja melakukannya.
"Maafkan saya! Saya tidak sengaja."
Salsa mengambil tisu sebanyak-banyaknya, dan segera membersihkannya.
Orang yang menabrkan nya itu langsung begitu saja pergi. Tanpa, kembali meminta maaf dan berusaha bertanggung jawab.
"Bu Salsa, Anda tidak kenapa-kenapa?" Tanya Via mulai perihatin. Salsa menatap Via dan menggelengkan kepalanya. "Saya sepertinya harus pulang. Saya permisi!"
Salsa membayar pesanannya dan keluar dari restoran itu dengan mata yang merah, bahkan sakit
hati.
Entah mengapa, setiap ia berusaha untuk dekat dengan Rayhan.Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.
Pertama kejadian kemarin, yang hampir merenggut nyawa nya dan sekarang, teh panas yang tumpah ke pahanya karena seseorang yang menyenggolnya. Salsa mengusap dress, karena
merasakan kulit nya yang perih dan melepuh. Dia menggepalkan tangannya dan masuk ke dalam mobil.
Via memperhatikan mobil Salsa yang telah menjauh. Lantas,menatap suaminya yang kini
menatapnya juga dalam diam.
"Untuk yang kedua kalinya.Bahkan, semesta mencoba untuk menghukumnya secara langsung."
"Tapi, bukan kamu yang melakukannya kan?" Tanya Via.
__ADS_1
Rayhan terdiam, dan tidak menjawabnya. "Dia yang melakukanya, Sayang. Kesalahanbyang berulang."
"Mungkin besok, hanya tinggal nama."