
"Bagaimana keadaan, Tuan Muda?"
Dokter wanita itu menghela nafas pelan."Keadaan Tuan Muda sedikit memprihatinkan. Tuan Muda kekurangan nutrisi dalam tubuhnya. Dan juga, dia terlalu banyak pikiran, sehingga pingsan dengan tangan yang berlumuran darah."
Bibi tua menatap Rayhan dengan pandangan prihatin. Beliau pasti sangat mencintai istrinya, nyonya muda yang kabur dari rumah.
"Sebenarnya, apa penyebab Tuan Muda tidak dalam kondisi baik?"
"Nyonya muda kabur dari rumah kemarin siang. Tuan Muda, mengerahkan semua anak buah mencarinya. Namun tidak ada jejak sedikitpun, yang mereka peroleh."
Dokter wanita itu terkejut mendengarnya. Apa yang membuat nyonya muda melakukan hal itu? Dia jadi semakin penasaran. Namun, dia tidak boleh dengan lancang, mengurusi hidup keluarga Crowel, atau dia akan menerima akibatnya esok.
"Silahkan kalian keluar!" perintah Glen masuk ke dalam kamar itu.
Mereka mengangguk dan keluar dari sana. Meninggalkan Glen yang sekarang menatap tuan muda, dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau telah kembali, Glen?"
Tiba-tiba suara itu muncul, ketika Glen hendak duduk di hadapan Rayhan.
"Sudah, Tuan Muda. Hasilnya sama belum ada kabar."
Rayhan mengeram. "Apa penyebab gadis itu kabur dari rumah ini? Kau harus mencari tahu semuanya."
"Saya telah menemukan alasan atas semua kesalahpahaman ini, Tuan Muda."
Glen menunjukkan sebuah kertas, yang dia temukan jatuh di bawah meja kamar tuan dan nyonya muda, ketika dia mencari petunjuk atas perintah Rayhan.
"Bacakan!"
Glen mengangguk dan mulai membuka lipatan kertas itu.
"Ketika tuan muda sedang membaca surat ini. Pasti saya sudah pergi dari rumah tuan muda. Saya tidak ingin,menjadi penghalang tuan muda bersama dengan peri kecil. Saya telah mendengarkan semuanya.Jadi,saya harap! Tuan muda bahagia setelah saya pergi dan jangan mencari saya kembali. Hiduplah bahagia bersama dengan peri kecil. Tuan muda telah memerintah Glen untuk menyiapkan hotel, kan? Untuk pertemuan kalian."
Rayhan mengepalkan tangannya. Via pergi karena salah paham.
"Glen! Gadis itu telah berhasil membuatku gila untuk yang kedua kalinya."
Sangat sulit menemukan petunjuk bahwa Via adalah peri kecil, yang selama ini dia cari. Ketika dia telah menemukannya, Via salah paham dan kembali meninggalkannya.
"Sebaiknya Anda istirahat! Saya berjanji akan segera menemukan nyonya muda."
"Itu harus!"
"Tuan Muda tidak ingin mengabari tuan besar?"
"Aku bisa menyelesaikannya. Tidak tergantung kepadanya."
Glen menghela nafas pelan mendengarnya. Tuan muda sangat keras kepala dan juga arogant.Dia tidak bisa dibantah, apapun alasannya.
"Baik, Tuan Muda."
"Jangan bertindak tanpa perintahku, Glen. Berani kau melakukannya .. kau akan menerima akibatnya."
Glen segera mengangguk. Dia tidak ingin tuan muda membuangnya. Glen telah bersumpah, akan mengabdi ke tuan muda sampai akhir hayatnya.
"Sampai kapanpun, saya akan setia mengabdi kepada, Tuan Muda."
****
"Kenapa Anda ke sini?" tanya Mira bersedekap dada, menatap Glen yang berdiri di depan rumahnya.
"Jelaskan dimana nyonya muda berada?" tanya Glen datar dan membawa anak buahnya.
"Saya tidak tahu dan tak mau tahu. Pergilah! Saya sibuk."
Ketika Mira berbalik. Glen kembali bersuara dan mengancamnya,membuat Mira kembali memutar tubuhnya menghadap pria itu.
"Anda, akan menerima akibatnya apabila berani melawan kami."
"Lah, kalian semuanya siapa? Kenapa gue harus takut."
"Saya akan memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan kamu."
"Lo pikir gue matre?" Enak saja dia akan disogok oleh uang. Keluarganya bukan orang miskin, dan memanfaatkan situasi untuk uang. Tidak ada info apapun dari saya. Saya juga sedang menghubungi, Via. Namun dia tidak aktif."
"Jangan berbohong!! Tuan muda bisa menghancurkan keluargamu."
"Saya tidak takut! Sebaiknya kalian semua pergi dari rumah saya. Entar dikira rumah gue penampungan penjahat lagi."
Mira lantas berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya, lalu mengunci pintu dengan sangat rapat.
Glen dan anak buahnya langsung mundur dan pergi dari sana.
Namun dia tidak akan menyerah, untuk memaksa gadis itu mengakuinya.
Mira bernafas lega ketika dia mengintip dari jendela. Lantas dia berbalik, namun terkejut dengan keberadaan kedua orang tua nya yang menatap putrinya bingung.
Mira mengelus dadanya. "Kaget Mira, Yah, Bun."
"Kenapa kamu mengintip seperti itu? Ada pacar kamu di luar?"
Astaga! Jangankan pacar. Dekat dengan cowok saja Mira tidak pernah. Entah mengapa tidak ada yang mendekatinya. Mungkin, mereka mengira Mira terlalu cantik sehingga mereka gengsi. Atau dia memang kurang cantik sehingga tidak laku.
"Tidak, Bunda."
"Terus apa yang kamu lihat?"
Mira duduk di depan kedua orang tua nya. "Itu anak buah tuan muda, dan sekretarisnya mencari Via."
Mereka sudah mengetahui bahwa Via telah menikah dengan keluarga konglomerat itu. Awalnya mereka
terkejut, namun mengerti bahwa pernikahan itu dipaksakan.
"Kamu tidak membocorkannya, kan?" tanya sang ayah.
"Tidak, Ayah! Mana mau Mira memberikannya."
Mereka saling memandang dan bernafas lega. "Biarkan Via memulai hidup di sana. Di sini terlalu keras untuk dia."
****
Via mendengus kesal, ketika tidak mendapatkan susu sapi. Sudah beberapa menit, Via memencetnya
namun tidak ada yang keluar.
"Cara kamu salah. Harus rileks."
"Sudah dari tadi. Sapinya saja yang tidak mau."
__ADS_1
Andi menggelengkan kepalanya, lantas mengambil alih sapi betina itu. Tidak berlangsung lama, dia telah mendapatkan susu sapi itu. Membuat Via melongo dan merasa bodoh.
"Dasar sapi betina genit. Giliran cowok yang pegang mau, huh."
"Astagfirullah! Tidak boleh berkata seperti itu, Non Via."
"Ya, ya, hanya bercanda saja. Kamu jangan seperti kanebo kering dong. Harus ada bercandaan dalam hidup ini."
"Sebaiknya banyak bersyukur, dari pada bercanda. Karena dunia tidaklah kekal, Non Via."
Diceramahi, membuat Via berpikir keras dan merasa bersalah. Yang dikatakan Andi ada benarnya juga. Apakah selama ini hidupnya banyak bercanda?
"Makasih, Andi telah membantuku untuk mendapatkannya."
"Sama-sama. Nenek memanggilmu."
Via melepaskan embernya, Dan mengambil alih ember yang telah terisi susu sapi di tangan Andi.
"Biar aku yang bawa."
"lya, Non Via."
Mereka masuk ke dalam rumah itu, dan menemukan nenek Imah yang sedang menyiapkan jajanan kampung itu.
"Apa itu, Nek?"
"Ini Nenek buat untuk kamu. Coba kamu makan."
Ketan dengan isi ayam di dalamnya, dan dibungkus oleh daun pisang. Sebenarnya Via pernah melihat makanan itu di internet. Namun tidak pernah dia makan.
Mereka duduk di dekat meja makan. Begitupun dengan Andi yang mulai memakannya.
"Ini cemilan yang sangat enak. Kamu makan saja kalau penasaran."
Via mengangguk dan mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Membuat nenek Imah tersenyum melihatnya.
"Enak?" tanya nenek Imah.
Via menelannya langsung, dan melebarkan matanya karena rasanya sangat lezat.
"Enak banget."
Mereka tersenyum dan menghabiskan semuanya, dan menikmati kebersamaan.
"Nenek ingin bertanya. Non Via telah memiliki kekasih?"
"Sebenarnya ... aku telah menikah,Nek. Hampir satu tahun.
Baik nenek Imah dan Andi mengangguk mendengarnya. Jadi Via tidak gadis lagi? Dan dia telah memiliki ikatan dengan pria lain.
"Suami Non Via tidak diajak?" tanya nenek Imah, karena mengetahui Via liburan untuk menenangkan diri di kampung ini.
Itu yang dikatakan oleh Mira, cucu kesayangannya.
Namun tidak dijelaskan, bahwa Via telah menikah dan menenangkan diri karena urusan rumah tangga. Dilkiranya liburan seperti anak remaja biasa, karena libur dari sekolah maupun kuliah.
Via menggelengkan kepalanya membuat mereka bingung.
"Saya akan segera bercerai, Nek. Cepat
atau lambat kami akan segera pisah, karena suami saya akan segera menikah lagi."
"Non Via yang sabar! Semoga Allah memberikan Non Via kekuatan beserta keluarga."
"Walaupun kami telah menikah. Suami ku tidak pernah sekalipunnmenyentuhku."
"Kenapa?" Sekarang giliran Andi yang bertanya. Kisah Via sangat membuatnya penasaran.
"Kami menikah tidak karena cinta, namun karena kesepakatan. Perusahaan papa akan segera bangkrut, untuk itu dianmengorbankan aku, untuk
suntikkan dana perusahaan."
"Astagfirullah! Sungguh malang nasibmu Non Via."
Via mengulas senyum dan berusaha untuk tegar. Dia juga senang bisa terbuka dengan nenek Imah dan Andi, yang selalu membantunya.
"Terus ibu Non Via setuju?"
Via meraup udara sebanyak-banyaknya. "Mama telah meninggal ketika melahirkan aku. Sekarang aku memiliki mama tiri yang tak suka kepadaku.
Begitupun dengan papa, yang selalu menyalahkanku karena kematian mama."
"Kematian itu adalah takdir darinAllah. Tidak patut untuk disalahkan!" ujar Andi.
"Sudah, Andi. Kamu jangan memperburuk keadaan."
"Tidak apa-apa, Nek. Yang dikatakan Andi memang benar.
"Tidak seharusnya papa menyalah kan kehidupan."
"Terus kamu betah bersama dengan suamimu?"
"Dia memang kaya raya namun kasar. Walaupun sedikit perhatikan kepadaku. Tapi aku memutuskan untuk meninggalkannya, karena dia berhak bahagia dengan gadis yang dicintainya."
"Ada gadis lain?"
"Iya, Nek." Via mengulas senyum simpul berusaha kuat setelahnya.
"Kamu memang gadis yang istimewa, Non Via. Nenek salut kepadamu."
"Iya, Nek. Terima kasih telah menampung Via yang sangat menyusahkan di sini."
"Tidak apa-apa, Non Via. Sudah berulang kali Nenek jelaskan. Nenek sudah menganggap Non Via seperti cucu Nenek sendiri."
***
Malam menjelang. Via telah membeli sim baru untuk
ponselnya. Dia segera mengaktifkannya dan menelpon Mira langsung, untuk mengabari sahabatnya itu.
"Mira!"
"Ini siapa, ya?" tanya Miraa pura-pura, membuat Via memutar bola matanya malas dan mendengus kesal.
"Bercanda, heheh. Lo kenapa baru kabarin gue?"
"Maaf! Gue baru keluar kandang terus beli sim ponsel."
"Ya, ya, lo bahagia banget sepertinya."
__ADS_1
"Hem, gue memang bahagia disini. Udaranya adem dan juga banyak pegunungan yang sangat indah."
"Jadi pengen ke sana."
"Makanya cepetan ke sini."
"Kan, belum liburan. Terus kuliah lo gimana?"
"Gue akan ambil cuti lah."
"Ya, ya, semangat untuk berlibur. Oh ya, gue mau cerita sama lo."
"Cerita apa?" tanya Via penasaran.
"Kemarin sekretaris yang namanya Glen itu ke rumah gue. Terus ancam gue kalau gak mau kasih
tahu tempat lo berada sekarang."
"Terus lo takut?"
"Nggak lah! Gue gak takut sama sekali. Gue lawan dia malahan."
"Baguslah! Lo bisa diandalkan."
"Kan, gue si Mira cerdas dan pemberani."
"Hem."
Setelah menyelesaikan pembicaraan mereka malam ini. Via menaruh ponselnya kembali dan tertidur di tas ranjang, yang terbuat dari bambu dan sangat sederhana. Walaupun seperti itu, Via tidak mempermasalahkan nya sama sekali.
Kemarin Andi memasang kipas di kamarnya, agar dia tidak mengeluh kepanasan dan banyak nyamuk,
atas perintah nenek Imah.
"Mereka sangat baik."
Via perlahan memejamkan matanya. Namun entah kenapa, sedari tadi hatinya merasa ditekan dan tak enak. Detak jantungnya memang normal, namun Via dapat merasakan sesak di dada nya.
"Gue kenapa? Gak mungkin mikirin tuan muda? Kenapa gue harus mikirin dia, yang jelas-jelas akan segera menceraikan gue."
Namun sekelebat bayangan Via ketika dia dulu mengingat ucapan bibi tua. Bahwa tuan muda hanya
akan menikah dengannya untuk selamanya, karena keluarga Crowel tidak akan pernah mengingkari
janji pernikahan.
"Hem, apa benar?" gumam Via merenung.
Via segera menggelengkan kepalanya. "Gue pokoknya harus melupakan dia. Harus itu! Masak
gue capek-capek ke desa ini, mana jauh lagi dan sekarang... nggak bisa melupakan dia."
Via akhirnya perlahan menutup matanya, dan dijemput alam mimpi. Semoga saja hari-hari nya di lalui dengan begitu indah.
****
Via menghela nafas pelan, ketika mengelilingi desa sendirian menggunakan motor yang kemarin dibeli bersama dengan Andi.
Sekarang dia tidak mengajak pria itu, karena dia ingin sendirian menghirup pemandangan desa.
Namun ketika Via asyik dengan pemandangan desa. Dia tidak melihat seorang anak kecil menyebrang dan hampir ditabrak.
Sontak Via berhenti dan turun dari motornya, menuju anak kecil yang sekarang terjatuh di pinggir jalan.
"Astaga! Adek gak apa-apa?" tanya Via khawatir.
"Kamu apakan anak saya?!" bentak seorang ibu, yang membawa sayuran dan menatapnya tajam
bahkan menghempaskan tangannya.
"Say-saya..."
"Kamu penculik anak dari kota, ya?" tuduh ibu itu, membuat Via melebarkan matanya.
'Gue cantik seperti ini dikira penculik anak.'
"Kamu harus tanggung jawab!"
"Iya, Bu. Tenang saja." Via merogoh uang dari saku celananya. Dia langsung mengulurkan tangannya memberikan uang sejumlah dua ratus ribu untuk ibu itu.
"Terima kasih, Mbak!"
Mereka akhirnya pergi dari hadapan Via. Membuat gadis itu melongo dengan kening berkerut.
Lah, tadi marah-marah dan sekarang senyum kalau di kasih uang Wah-wah modus banget tuh ibu-ibu tak waras.
Via tidak ingin berpikir jauh sebelum mereka kembali. Gadis itu langsung menyalakan motornya,
dan melanjutkan jalannya yang tertunda.
***
Rayhan sekarang mengelilingi jalanan kota sendirian tanpa ada pengawal yang dibawa. Tidak
butuh waktu dua hari, tubuhnya perlahan membaik.
"Via!" Suara Rayhan mengeram dan mencengkram stir mobil.
Dia tidak bisa menahannya. Tetesan air mata akhirnya jatuh menimpa wajah nya. Rayhan sangat merindukan gadis itu.
Rayhan merindukan tingkah cerewet nya. Bagaimana wajah polos itu selalu menyambut nya
setiap saat. Bahkan ketika dia hendak bangun tidur.
Kemana lagi Rayhan akan mencari nya? Kenapa gadis itu tidak mengerti tentang perasaannya?
Atau memang Rayhan sendiri yang sangat bodoh mengekspresikan perasaannya.
Rayhan menepikan mobilnya. Dia menunduk dan menghembuskan nafas kasar. Pria itu sangat menyesal telah memperlakukan Via sangat kasar selama ini.
Dari awal menikah, di menatap gadisnya dengan kebencian dan memberikannya siksaan yang bertubi-tubi. Hanya karena dia ingin membalaskan dendamnya kepada Alfredo.
Rayhan tiba-tiba tersenyum miring dengan tatapan yang menyeramkan. Alfredo pasti sekarang sangat bahagia karena Via telah memberikan nya uang,
walaupun dia telah melarang gadis itu.
"Siap untuk hukumanmu, Alfredo!" Rayhan kembali menyalakan mesin mobil dengan kecepatan penuh menuju kediaman pria tua itu.
Tbc
__ADS_1
Jan lupa ritual, hari senin vote Abang Rayhan masih kosong astaga đđ